PERFECT (Brian & Azlea)

PERFECT (Brian & Azlea)
part 17




"Aku punya banyak alasan untuk membuatmu jatuh. Salah satunya dengan meminta kamu hidup denganku seumur hidup." (BRIAN)



"Listen to me, Azlea."


"I don't want to listen to you, Brian." Aku masih mengabaikan Brian dengan tidak menatap kedua matanya. Aku tahu. Dia akan marah.


"Azlea. Look it me."


"Apalagi? Kamu ingin bilang kalau aku nggak perlu tahu? Iya kan. Tentang siapa kamu dan apakah kalian saling mengenal? I'm not stupid, Brian! Nggak sebodoh itu sehingga tidak menyadari bagaimana Ravi melihatmu. Juga reaksimu saat dia ada di rumah."


Aku mencengkeram seat belt sebagai pelampiasan. Ingin marah dan membuang sumpah serapah pada pria yang duduk dengan tenang sambil memegang kemudi. Lalu aku melirik ke belakang. Menebak reaksi apa yang akan Clarisa perlihatkan. Terkejutkah atau bagaimana saat aku membentak papanya.


Namun, bukan tatapan sedih atau kecewa yang aku dapat. Clarisa malah tertawa seperti melihat pertengkaran dalam kartun Tom and Jerry. Anggap saja seperti itu, Azlea. Dia Tom dan aku Jerry-nya.


"Aku akan menceritakan semuanya." Brian menyentuh tangan ini. Menggenggamnya erat. Sedangkan aku menatapnya penuh harap.


"Tapi tidak sekarang." Namun, kalimat selanjutnya membuatku ingin membenturkan dahi ke kaca mobil saat itu juga.


"Aku baru tahu kalau kamu suka bikin cewek baper duluan. Setelah itu di hempas macam ini. Kamu nyebelin banget, Brian! Please, deh. This is not funny!"


Sungguh. Ada banyak ketakutan yang tidak mampu diutarakan pada setiap jiwa yang kukenal. Terutama pada sosok Brian. Tidak peduli pada apa dan siapa. Bahkan, aku sempat terlalu percaya diri. Akan ada waktu yang paling sempurna untuk membicarakan hal paling sensitif sekali pun. Sayangnya, hari itu tidak pernah ada. Atau belum?


Ketika Brian datang dan sempat terjadi ketegangan yang aneh antara ia dan Ravi. Aku berharap perkara itu tidak ada hubungannya denganku. Tidak ada.


Namun, di sisi yang lain aku tidak mengharapkan mereka punya ketegangan khusus akan seorang wanita selain diriku.


Papa dan Mama menyaksikan semua. Bagaimana dengan sangat dingin Brian menatap Ravi beberapa detik sebelum aku memecah kebekuan itu. Di tambah dengan seruan Clarisa.


Aku tidak pernah merasa semelegakan ini. Setidaknya, dengan kehadiran Clarisa di antara kami. Membuat semua orang sadar. Ada hal yang harus tetap dijaga di hadapan anak seusia Clarisa.


Meski banyak sekali pertanyaan yang melambai untuk segera menemukan jawabannya. Aku hanya diam membisu saat Brian kembali fokus membelah jalanan.


Clarisa nampak tenang di kursi belakang.


Sedangkan aku menatap pantulan diri ini dari kaca mobil. Ya. Walau pada kenyataannya lamunanku melayang jauh.


"Katakan sesuatu, Azlea."


"Apa?" Aku tidak harus memutar kepala dan mendapati bagaimana Brian tengah memandangiku. Karena aku bisa melihat dirinya dari pantulan kaca. Bagaimana ia menunggu reaksi berarti dariku selain sikap sok tidak peduli padahal mengharapkan sesuatu. Ia mau bercerita tentang semuanya.


"Kamu ingin tahu bagaimana aku mengenal Belalang Sembah?"


"Siapa Belalang Sembah yang kamu maksud. Ravi? Oh, Brian. You are funny. So cute! Kemarin kamu sebut aku pendek, Clarisa juga--" Aku melirik Clarisa yang asyik bermain dengan mainan pemberian Brian.


"Clarisa?"


"Yup. Anak sama bapak sama saja. Dia menyebut Ravi dengan sebutan Om Jelek. Kukira karena dia punya paman Kak Dimas, ternyata turunan dari bapaknya. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya itu pepatah yang sangat menyebalkan bagiku sekarang."


Karena bagaimanapun juga aku membayangkan seorang anak dan kemungkinan besar seperti kata pepatah tersebut. Azlea! Kamu baru saja memikirkan seorang anak sementara kalian belum memiliki rasa sedikit pun. Aku tidak pernah menyangka kalau punya pemikiran sampai sejauh itu. Anak? Nikah saja belum.


"Apa?" Aku bertanya saat Brian tetap diam namun, sesekali melirikku sebentar sebelum mengalihkan tatapan kek depan.


Brian mengedipkan mata lalu terkekeh. Aku tidak tahu sedekat apa ia dan Ravi. Akan tetapi, Belalang Sembah? Sumpah. Tidak adakah sebutan yang keren untuk Ravindra Lee?


"Intinya aku dan dia hanya sebatas kenal. Tidak lebih. Selebihnya kita bisa bicarakan ini lain waktu."


"Hanya itu? Sebatas kenal saja? Aku nggak percaya. Berhenti main-main denganku, Brian."


"Tidak sekarang, Azlea."


"Katakan padaku. Apa alasan kalian jadi seperti tadi. Semisal merebutkan sesuatu? Perempuan atau barang mungkin? Ayo jawab aku."


Aku masih mencecar Brian dengan banyak pertanyaan. Bahkan memaksanya. Tetapi, hasilnya sama saja.


"Tidak."


"Katakan."


"Will not, Azlea."


"Brian!"


"Hmm."


"Apa aku harus menciummu supaya bisa ngomong dengan jujur?"


"Jangan merayu. Kamu tidak lihat aku lagi ngapain?"


"Lagi nyetir. Terus apa hubungannya? The Falcon bisa terbang sambil ngomong dan nembak Hulk. Masa kamu enggak."


"Kamu bisa membunuh kita semua," ungkapnya.


"Oh ya? Itu artinya kamu nggak bisa nyetir mobil."


"Azlea!"


"What? Mau bilang aku cerewet? Yes! Itu aku. Atau mau ngomong kalo aku jelek, nggak ada cantik-cantiknya jadi cewek? Nggak cocok dengan Brian Nanendra Wijaya yang punya sejuta pesona? It's oke. Nggak apa! Aku udah biasa disebut macam itu. Cerewet, menyebalkan dan nggak cantik-cantik amat."


"Stop, Azlea. Kamu nggak ngerti apa yang kamu katakan. Kamu itu cantik. Terlepas dari tubuhmu yang pendek, sama hidung yang pesek."


"Aku membencimu."


Brian terkekeh. "Aku menyayangimu."


"Bullshit!"


"Aku bisa sangat menyayangimu, Azlea. More than anyone."


Brian melirikku sebelum ia memutar kemudi menuju suatu tempat. Aku tidak tahu. Bagaimana dia mampu menggetarkan hati ini sedemikian rupa. Rasanya sungguh di luar ekspektasi.


"Aku nggak pendek. Aku mungil. Hidungku tidak pesek, hanya telat mancung. Tahu kan apa bedanya?"


Brian hanya diam untuk merespon pertanyaanku. Namun, tangannya menggenggam jemariku dengan lembut.



Brian tidak mengatakan apa pun saat kami tiba di depan Boutique Lovella Almerane. Akan tetapi aku tidak akan turun dalam keadaan seperti ini. Setelan baju tidur, rambut dikucir kuda terutama aku belum mandi. Perpaduan yang pas di pagi hari untuk bersantai.


"Kita turun."


Aku menggelangkan kepala untuk meresponnya.


"Atau kamu ingin digendong?"


"Dih. Ogah banget!"


"Kalau gitu turun."


"Aku bau, Brian. Belum mandi. Kamu tidak bisa lihat bagaimana dua perempuan cantik yang kamu bawa secara mendadak ini masih seperti Koala baru bangun dari tidur panjangnya di atas pohon?"


Clarisa tetap diam selama aku menengok ke belakang dan memintanya untuk mendekat. Oh ya Tuhan. Bahkan kami pun punya bau yang sama. Dia tersenyum saat aku merapikan helaian rambut yang jatuh didahinya. Tidak lupa menjawil sedikit pipi serta hidung Clarisa dengan gemas.


"Mama geli," ujar Clarisa. Aku tersenyum.


"See? Mau aku harus jelasin pakai cara ilmiah segala agar kamu ngerti? Ayolah, Brian. Masa iya kita harus ke sana dalam keadaan seperti gembel." Aku menatap mata Brian dengan lembut.


Sengaja.


"Kalian bisa mandi di dalam."


Memangnya di sana ada kamar mandi? Akan tetapi, sebelum Brian membuka pintu mobil aku menarik kemeja biru miliknya dengan cepat.


"Apa?"


"Aku nggak mau--"


"Aku tidak menerima penolakan dalam bentuk apa pun, Cherìe."


Ck! Menyebalkan.


"Jika sekali lagi kamu memanyunkan bibir. Aku akan memakannya, Azlea."


"Apanya?"


"Memakanmu."


"Me?"


Aku membeku saat Brian mendekat dan mengecup bibir ini selama beberapa detik. Hanya kecupan. Tidak ada namanya mencium yang sering novel gambarkan atau yang pernah didiskripsikan Vinda. Namun, getarannya masih sangat menganggu. Terutama bagaimana jantungku merespon tindakannya.


"Jangan lupa bernapas," bisiknya. Sebelum aku melontarkan banyak omelan yang siap meluncur untuknya. Brian sudah lebih dulu pergi dan meninggalkan kami di dalam mobil. Sialan!


Bangun, Azlea! Oh tidak. Apa aku baru saja terlena dan jatuh dalam namanya ilusi tipu daya yang Brian buat?


"Pipi Mama melah," celetuk Clarisa.


"Mama tahu, Sayang."


"Mama kek kue bolu buatan Ibu yang balu matang."


Ibu-ibu dan ibu. Aku jadi penasaran seperti apa sosok ibu yang sering Clarisa sebut. Dari gambaran Clarisa, aku bisa tahu kalau sosok ibunya adalah wanita yang sempurna. Maksudku, dia bisa memasak, membuat kue dan juga menyayangi Clarisa.


Sekarang aku mempertanyakan kenapa Brian melepaskan wanita sesempurna itu dan memilih hidup duda dengan predikat most wanted di mana wanita di luar sana siap memangsa dirinya.


Terlebih. Berapa wanita yang sempat Brian kencani? Aku hanya tahu satu wanita yang datang di pesta pertunangan. Wanita yang sama, datang dan melabrak saat aku di kantor.


"Mama, ayo kita tulun. Ayo!"


"Kita turun."


Pekerjaan rumahmu sekarang adalah mengorek banyak hal dari seorang Brian. Cari tahu semuanya, Azlea. Harus!



Saat aku masuk, sosok Brian menghilang tertelan dinding. Namun, saat aku melangkah lebih dalam. Ada beberapa orang berdiri dan membicarakan sesuatu dengannya.


Aku membiarkan Clarisa berlarian. Karena aku tidak bisa berkata apa-apa selain terperangah dengan apa yang kulihat.


"Dia calon istriku."


Brian melingkarkan lengannya pada pinggulku. Lalu memperkenalkanku pada seorang wanita yang kuyakini sebagai desainer terkenal bernama, Almerane Lovella.


"Hai. Panggil saja Almee. Oke?"


Aku mengangguk. "Ya."


"Azlea Maheswari," ucapnya. Dia tersenyum.


Awalnya aku menaikkan alis penuh tanya. Bagaimana dia bisa tahu nama lengkapku bahkan kami baru bertemu hari ini. Ah! Mungkin Brian bercerita banyak sebelum aku masuk butik ini. Itu pikirku.


"Senang bisa bertemu langsung denganmu. Jangan kaget bagaimana aku mengenalmu, Lea. Karena aku harus tahu siapa yang akan mengenakan gaun rancanganku yang paling spektakuler tahun ini."


Pertama bertemu sosok Almee, aku tahu dia wanita ceria yang hangat.


"Ayo. Aku akan menunjukkan beberapa koleksi terbaik dari Boutique Lovella Almerane ini. Sementara dia," tunjuknya pada Brian, "duduk manis di sofa itu. Aku harus membawa calon pengantin wanitamu."


Aku menertawakan keberanian Almee memerintah Brian.


Sebelum Almee membawaku pergi Clarisa datang dan berseru kalau dia ingin memakai gaun berwarna putih di dekat etalase.


Sedangkan Brian mengatakan sesuatu lewat mata. Yang membuat Almee menjauh untuk sementara waktu.


"Ada apa?" Dia semakin dekat.


Sedangkan Brian tetap diam. Apa ada yang salah dengan wajahku. Ah! Ya. Aku belum mandi. Jadi maklum saja jika wajah ini tidak sebening kristal ala iklan Korea.


"Aku ingin melihatmu mengenakan gaun pernikahan. Pilih yang kamu suka, Pendek."


Dih!


"Atau aku akan--"


"Ya, ya. Aku tahu. Tapi, Brian. Aku harus mandi."


Dia terkekeh. "Pasti."


"Clarisa?"


"Gampang."


"Apanya yang gampang? Maksudmu ada yang akan memandikan Clarisa? Begitu?"


Sebelum aku kembali berbicara panjang lebar, Brian sudah lebih dulu memukul kepala ini dengan setangkai bunga yang ia ambil dari meja.


"Cerewet."


"Aww! Jangan asal pukul kepala orang. Kalau aku nggak cantik lagi kamu sendiri yang rugi. Lagi pula aku hanya bertanya. Kasar sekali jadi orang."


Brian malah mengusirku dengan dua kali kibasan tangan. Tidak sopan sama sekali. Dia pikir aku ayam apa?


"Waktu kalian habis! Kalian bisa beromatis ria nanti. Oke?"


Almee membawaku masuk ke salah satu ruangan. Di sana aku akan mandi lalu berlanjut pada sesi pemilihan baju.


"Aku senang bisa bertemu denganmu, Lea."


"Kamu mengenalku?"


Dengan ragu Almee tersenyum dan mengatakan sesuatu.


"Tidak. Aku hanya mengenal Martha saat masih kuliah di Australia dulu. Maksudnya, aku tahu bagaimana Brian darinya, kalau ia tidak pernah melupakan nama berisial A.M lebih dari siapa pun yang pernah dekat dengannya. Kupikir itu nama kerabat atau ibunya. Ternyata bukan. Itu namamu, Azlea Maheswari."


"Tunggu. Maksudmu Brian sudah mengenalku sebelum ini?"


Sebelum kami dipertemukan dalam perjodohan?


"Dia mencintaimu."


Cinta ya?


"Hanya itu yang aku tahu. Perihal bagaimana dia bisa mengenalmu, aku tak tahu. Sorry, Lea."


Almee menepuk pundak dengan pelan syarat akan dukungan yang tidak tahu untuk apa. Aku tidak butuh dukungan. Yang aku butuhkan adalah kebenaran.


"Percaya padaku. Brian akan menatapmu penuh dengan binar kekaguman setelah ini," ujar Almee.


Sebelum dia pergi. Aku tersenyum kemudian masuk ke dalam untuk melakukan rutinitas yang sempat tertunda karena Brian. Sekaligus menenangkan diri.


Sebenarnya, aku bukan perempuan yang membutuhkan waktu lama hanya untuk mandi. Namun, tidak untuk sekarang. Aku tidak peduli pada Brian. Biarkan pria itu menunggu lebih lama.



Almee terkekeh. "Aku merasa bangga telah membuatmu terkagum seperti itu."


"Ini memang mengagumkan," balasku.


Bagaimana tidak. Apa yang kulihat sekarang benar-benar nyata. Ada banyak gaun dengan berbagai jenis.


"Pilih beberapa potong gaun, minimal di atas sepuluh. Maksimal tergantung kamu."


Aku menatapnya tidak percaya.


"Kamu gila. Aku nggak akan mencoba semua gaun itu, Almee. Itu akan memakan waktu."


"Lakukan saja. Kadang pengantin pria lebih pemilih. Apalagi Brian. Aku yakin dia ingin yang terbaik untukmu."


Lupakan soal semua pertanyaanmu, Azlea. Sekarang waktunya memilih sesuatu yang akan menjadi saksi hari terpenting nanti.


"Apa aku harus mencoba semuanya?"


Tidak. Tidak semua. Bisa-bisa aku mati duluan sebelum pulang ke rumah.


"Aku akan mengambil gaun untukmu dan menunjukkan satu rancangan terbaik tahun ini. Dengan begitu kamu akan--"


"Almee." Aku memotong perkatannya.


"Ya?"


"Aku gugup."


Entah kenapa aku malah mengatakan itu padanya.



Bersambung