
Brian tengah berdiri di depan kasir dan sibuk mengatakan sesuatu entah apa itu. Sementara aku menggendong Clarisa.
Ketika berjalan lebih dekat padanya, aku bisa melihat ia mengulurkan kartu. Karena bosan kuputuskan melihat-lihat pajangan klasik yang di tata sedemikian detail di setiap sudut dan dinding seperti, piringan hitam, telepon kuno dan lukisan tua. Sampai boneka usang yang terlihat sangat menyeramkan.
"Putri kalian sangat menggemaskan," ungkap kasir sebelum kami pergi.
Sedangkan aku melongo mendengar ungkapan kasir tersebut. Apa dia tidak lihat kami hampir bertengkar di dalam tadi?
Mereka hanya mengikuti prosedur, Azlea. Ya, ya. Tentu mereka pikir kamu dan Brian adalah keluarga harmonis dengan satu putri yang saat ini ada dalam gendongan.
Meski tidak hentinya aku bergumam dan berdecak sejak tadi. Bahkan tak peduli Brian mendengarnya apa tidak. Aku masih kesal! Bagaimana bisa mereka berspekulasi dengan sangat mudah. Apalagi saat melihat Clarisa tengah tertidur dalam pangkuan, aku menyadari satu hal. Aku mulai menyukai anak ini.
Menyukai cara dia tersenyum.
Apalagi duduk dan melihat cara Brian menyetir mobil. Tentu tidak ada bedanya dengan pria di luar sana. Hanya saja siapa pun yang melihat kami, mereka akan berpikir kalau kami sepasang suami istri.
Meski aku tidak peduli dengan pemikiran mereka.
Apa kamu mulai menyukainya, Azlea? Oh, tidak. Tiga kali bertemu dengannya belum ada satu pun yang membuatku tertarik padanya. Entahlah.
"Tidur," kata Brian memecah kecanggungan.
"Aku?"
"Bukan. Setan," balas Brian.
Brekele banget dia jadi orang ganteng.
Huh! Ganteng? Aku langsung memandanginya. Dia memang tampan, sih. Hanya heran saja, baru kali ini dengar nada bicaranya sedikit bersahabat. Catat, sedikit. Apa karena aku sedang direpotkan oleh putrinya, itulah kenapa dia bersikap baik?
"Suka melihat pemandangan menakjubkan di sini?"
Aku berdecak. Ternyata dia punya kepercayaan diri yang tinggi. Kupikir dia pria antisosial yang hanya akan menjadi pendengar yang baik, memikirkan dirinya sendiri atau paling tidak dia tipe orang yang apatis, ternyata tidak.
Coba kulihat lagi. Apanya yang menakjubkan darinya? Tubuhnya?
Tunggu. Aku memperhatikan Brian sekali lagi, dari jemarinya saat memegang kemudi, lengannya yang terlihat sampai siku, atau bahkan rahangnya. Sial! Dia punya postur tubuh yang tegap. Tidak heran dia membanggakan diri, tapi lihatlah tatapannya sekarang. Menyebalkan.
"Penasaran dibalik kemeja ini?" tanya Brian. Dia tersenyum remeh.
""Siapa? Jangan ge-er!"
"Jangan lirik-lirik."
"Siapa yang lirik-lirik?"
Brian tetap diam.
"Aku hanya bingung denganmu. Apa kamu nggak kesal sama sekali? Mereka berpikir yang tidak-tidak tentang kita."
Aku kembali angkat bicara sambil bertanya-tanya. Dia melihat gelagatku tidak ya?
"Apa?"
"Yang tadi," balasku cepat.
Dia menggelengkan kepala. Lalu melihatku dan Clarisa.
"Apa lihat-lihat? Fokus menyetir sana. Jangan berpikir apa yang kulakukan ini untuk mengambil keuntungan ya? Aku melakukannya karena aku memang ingin. Lagi pula Clarisa tidak menyusahkanku."
"Hm." Dia cuma bergumam? Parah.
Setelah memastikan posisi Clarisa agak lebih nyaman, aku membiarkan tubuh mungilnya tenggelam dalam pelukan. Dengan sengaja memainkan helaian rambutnya yang lembut dan agak licin. Clarisa benar-benar menggemaskan saat aku memainkan pipinya.
"Kamu beruntung memiliki seorang putri seperti Clarisa, apalagi dia sangat menggemaskan saat tidur. Pipinya, bahkan matanya. Aigoo! Omong-omong dia mirip siapa?"
Bukannya sok ramah. Aku hanya tidak ingin cuma mendengar suara deru mobil dalam kesunyian bersamanya yang lebih banyak diam. Itu sangat membosankan.
"Kalau dia mirip denganmu orang akan berpikir yang tidak-tidak," kata Brian langsung membungkamku.
Sialan! Tahu begitu aku tidak mau ambil pusing untuk membuka percakapan dengannya. Dia langsung membuatku mati kutu dengan sangat mudah. Aiss … sadar Azlea. Dia itu bukan manusia. Dia itu patung hidup!
"Aku akan mengantar Clarisa lebih dulu baru dirimu."
"Bukankah aku sudah bilang tadi, aku bisa pulang sendiri," tungkasku.
Brian tidak membalas perkataanku sampai mobilnya masuk ke rumah besar berpagar besi yang menjulang tinggi. Apakah itu rumahnya? Bisa jadi.
Baru saja kaki ini akan melangkah keluar sambil menggendong Clarisa setelah mobil berhenti di garasi, sebuah lengan langsung menarikku ketika aku hampir terjatuh.
"Makasih."
Setidaknya untuk mengurangi ketidaknyamanan di antara kami, aku berdehem pelan dan Brian langsung menjauhkan lengannya.
Dalam beberapa langkah selanjutnya aku berbalik menghadap Brian yang berada di belakang.
"Rumahmu ini seperti sedang mengerjaiku atau memang orang yang mendesainnya begitu percaya diri? Lihat, aku bahkan sudah menghitung ada berapa banyak anak tangga hanya untuk mencapai pintu," omelku.
"Rumah adalah gambaran dari pemiliknya," balas Brian angkuh.
"Ah ya! Aku paham. Rumah ini memang menjulang tinggi dengan sangat angkuhnya. Akan tetapi tidak diimbangi dengan cara kita berpikir praktis."
"Kita punya pemikiran yang berbeda. Semakin banyak melewati tangga artinya kamu berhasil melalui satu tingkat lebih tinggi. Itulah filosofinya."
"Terserah kamu. Yang jelas aku akan menghabiskan air dingin di kulkas. Aku haus!"
Aigoo! Tangga apa tangga tuh? Satu, dua, tiga, empat dan ... banyak.
Setelah masuk dan sampai ke lantai atas, aku agak kesusahan berjalan. Pokoknya tidak ada kesempatan untuk melihat detail rumahnya. Karena tumitku berdenyut-denyut.
Brian sengaja membuka pintu kamar. Hanya saja, Clarisa hampir membuatku sesak napas, dia sama sekali tidak mau melepaskan atau melonggarkan tangannya dari leher.
"Clarisa," panggil Brian.
"Sssst … biarin dulu. Dia masih ngantuk."
Agak susah memang. Lagi pula anak ini terus bergumam dan menyebutku mama. Aku yakin Brian tidak mendengarnya. Diam-diam aku mengelus kepalanya saat mengekori Brian masuk ke kamar lebih dalam, lalu ia berbalik mendekat untuk mengambil alih tubuh mungil Clarisa.
"Ini kamarnya?"
"Bukan."
Makanya, dindingnya tidak cocok untuk Clarisa. Masa abu-abu? Kelam hidupnya tanpa warna.
"Terus?"
"Lebih tepatnya ini kamarku."
Oh! Aku tidak bisa membaca caranya berpikir. Jadi ini kamarnya? Luar biasa kamu, Azlea.
♡
Sudah larut malam saat Brian mengantarkanku pulang. Ternyata dia orang yang keras kepala. Padahal sudah berulang kali kukatakan aku bisa pulang sendiri. Bukankah itu memudahkannya, karena dengan itu dia tidak berkewajiban mengantarkanku dengan selamat sampai ke rumah.
Akan tetapi, lihat sekarang, dia duduk dengan tenang dan fokus ke depan. Bagaimana dengan Clarisa? Dia ditemani baby sister. Meski tadi agak susah memisahkan kedua tangannya dariku.
Dalam perjalan pulang hanya ada keheningan. Tidak ada dari kami yang berusaha untuk memecah kecanggungan. Sampai suara rem menyadarkanku. Ada apa?
"Kenapa berhenti di sini?"
Padahal kurang dua perempatan untuk sampai ke rumah. Ketika meliriknya, dia ketahuan mencuri padang sebentar sebelum benar-benar menghentikan mobil di sekitar kompleks perumahan. Lalu tubuhnya memutar.
"Apa tujuanmu?" tanyanya langsung.
"Tujuan? Tujuan apa yang kamu maksud? Aku nggak mengerti."
"Kamu jelas nggak mengerti, Azlea. Sekarang kamu berhasil melakukanya," ujar Brian.
"Tunggu. Katakan yang jelas. Apanya yang berhasil?"
"Bagaimana kalau aku berniat serius denganmu?"
Apa? Apa dia baru saja terbentur sesuatu?
"Meski hanya untuk membahagiakan Clarisa," lanjutnya.
Dia gila! Seenaknya dia mengatakan itu padaku. Apa dia tidak memikirkan perasaanku sedikit pun?
"Jujur. Aku sama sekali tidak ada niatan untuk menikah. Tidak peduli bagaimana mereka terus mendorongku sampai sejauh ini. Sejak awal kita bertemu, aku sudah memberimu peluang untuk menjauh. Memberitahukanmu, bahwa aku tidak tertarik denganmu! Dari berpakaian sampai caraku memperlakukanmu. Dan sekarang, dengan caramu yang tak terduga. Malah membuat Clarisa tertawa bahkan menerima kahadiranmu."
Bolehkan aku menggambarkan suasana malam ini? Bagaimana cara Brian mengatakan dengan jelas bahwa ia sama sekali tidak tertarik denganku? Seolah-olah akulah dalang di balik itu semua. Mencoba meraih dengan mata tertutup berharap mendapatkan apa yang telah lama diingankan. Bukan itu yang aku harapkan. Bukan!
Dia salah paham. Jika dia memang tidak tertarik untuk apa dia mengatakan akan serius denganku jika semua itu hanya untuk membahagiakan salah satu pihak. Walau pun untuk putrimu! Dia egois.
"Sejak awal ini memang salah," gumamku.
"Ya. Sejak awal ini memang salah," Brian membenarkan, "akan tetapi kamu mengambil risiko itu tanpa tahu apa yang akan terjadi dikemudian hari."
"Jadi apa maumu?"
"Kamu akan bertanggung jawab atas semuanya," kata Brian.
"Maksudmu?"
Tanpa kata dia melajukan mobil dan langsung berhenti di depan gerbang rumah setelah beberapa menit. Sedangkan aku memukul-mukul tas yang tak bersalah. Menunjukkan padanya bahwa aku tengah kesal. Bingung. Seperti seekor anak kucing yang kehilangan induknya.
"Tidak bisakah kamu mengatakan dengan jelas tanpa kode atau isyarat seperti dalam film Mission Impossible-nya Tom Cruise?"
Brian mengabaikanku.
Tiba-tiba sebuah dering telepon berbunyi. Joya? Untuk apa pria satu ini menghubungiku malam-malam begini?
"Ya?"
Aku melirik Brian sebentar sebelum melanjutkan, "Yup. Besok aku akan membawa beberapa buku. Oh ya, Jo. Tunggu aku dan kita berangkat bersama ke sana. Oke. Apa? Tidak. Ya, aku tahu kamu cowok menyebalkan nomor kesekian," cetusku sambil melirik Brian sekali dengan sengaja.
"Siapa?" tanya Brian.
"Lahacia."
Papa sudah berdiri di depan pintu ketika kami datang. Tidak biasanya dia melakukan itu. Ah! Aku tahu. Pasti karena Brian. Dasar Papa. Aku langsung keluar saat mobil sudah terparkir di garasi depan. Mengabaikan Brian begitu saja.
"Hai, Sayang. Gimana makan malamnya?"
"Dia nyebelin, Pa."
Papa hanya mengangguk, maklum. Setelah masuk ke rumah dan hampir menaiki tangga aku baru ingat. Meninggalkan smartphone di dalam mobil Brian. Aku langsung berputar arah sambil berdoa semoga saja Brian belum pulang. Sebelum sampai aku mendengar suara Papa, karena takut mengganggu akhir aku putuskan untuk mengintip.
"Mau duduk dulu sebentar?" tawar Papa.
Brian mengangguk dan mereka berjalan menuju kursi dekat pintu rumah. Samar-samar aku masih bisa mendengar percakapan mereka. Dari keseharian, pekerjaan sampai Clarisa masuk ke dalam pembicaraan itu.
"Kamu masih yakin padanya?" Aku tidak bisa melihat dengan jelas apakah Brian mengangguk atau tidak.
"Dasar. Anak itu terbentur sesuatu dan mengalami amnesia sampai tidak mengingatmu."
Lalu aku mendengar Papa terkekeh pelan sampai Brian menjawab pertanyaannya.
"Aku tahu."
"Sekarang apa yang akan kamu lakukan, Nak Brian?"
"Entahlah. Sejak hari itu aku tidak pernah membayangkan untuk menikah. Sekarang Clarisa adalah tujuanku. Dia bergantung padaku. Setelah mengambil keputusan tersulit, aku tahu konsekuensi apa yang akan aku tanggung nanti. Dalam benakku dia--gadis itu berdiri tanpa wajah dan nama. Hanya itu. Lalu sekarang, saat semua hal sudah kembali. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Dia berhasil melakukan hal gila."
"Bagaimana perasaanmu?"
"Tetap sama. Dia segalanya."
Papa mengangguk pelan. Sedangkan Brian memergokiku tengah mengintip. Tatapan itu terlihat sendu atau aku hanya salah lihat? Akhirnya aku bersembunyi dibalik tirai. Menunggu beberapa menit untuk keluar. Sayangnya aku ketahuan.
"Apa yang kamu lakukan, Lea?" Teguran Papa membuatku langsung membuka tirai sambil tersenyum polos.
"Dia sudah pulang, Pa?"
Aku langsung mengalihkan pembicaraan. Papa hanya bergumam lirih untuk menjawab pertanyaanku. Sebelum berlari ke arah tangga Papa sempat mengatakan sesuatu.
"Papa harap kamu mau belajar menerimanya, Lea. Cobalah mengenalnya dahulu. Papa sangat yakin, Nak Brian mampu membuatmu mengerti suatu saat nanti. Kenapa Papa ingin kamu menikah dengannya."
♡
Aku menatap langit-langit dengan malas. Padahal sudah berapa kali membenarkan posisi tapi tetap saja mimpi tak mau menyambut. Lihatlah, jam menunjuk pukul 12 malam. Nyatanya aku masih teringat bagaimana sosok Brian yang sebenarnya bukanlah pria dingin seperti yang kuperkirakan sejak malam kami berjumpa. Dia hanya membangun dinding. Berusaha membuat jarak. Memastikan tidak ada siapa pun menyentuh daerah teritorialnya.
Satu lagi yang masih terngiang dalam ingatanku. Tentang siapa yang menjadi pembicaraan Papa dan Brian tadi?
Apa mungkin Papa tahu siapa mantan istrinya Brian? Akan tetapi kenapa Papa tidak mengatakan sesuatu padaku?
"Brian. Siapa dirimu sebenarnya?"
Dia punya tatapan familier. Aku yakin. Apa mungkin dulu kami pernah bertemu? Bukankah keluarga Wijaya pindah rumah saat aku masih berumur sepuluh tahun waktu itu? Artinya kami pernah bertegur sapa, 'kan? Harusnya begitu.
Akan tetapi, kenapa aku tidak bisa ingat apa pun? Tidak ada ingatan tentang keluarga Brian kecuali Tante Maretha yang pernah membuatku menangis dulu.
Aku akan bertanya dengan Mama nanti. Kalau Papa, aku tidak yakin akan memberiku jawaban sekali pun mengetahuinya.
"Ais! Kenapa aku terus ingat wajah Brian, sih?!"
♡
Bersambung