PERFECT (Brian & Azlea)

PERFECT (Brian & Azlea)
part 5




"Siapa yang datang pagi-pagi sekali, Kak?"


Attala memandangku, berharap menjawab pertanyaannya karena kami bisa mendengar suara mobil yang terparkir di garasi. Di mana letaknya tidak jauh dari dapur.


"Coba kamu lihat. Apa itu tukang servis AC. Kemarin Mama minta Pak Dana datang," titah Mama pada Attala.


Ya kali, tukang servis AC datang saat jarum pendek menunjuk angka enam pagi. Bukannya apa. Mana mungkin Pak Dana--langganan kami jika ada sesuatu yang rusak dia akan turun tangan, datang membawa mobil. Dia bukan tipe orang yang bakal buat dirinya susah sendiri. Jalanan macet apalagi komplek perumahan ini cukup dekat dengan mall.


"Kak," panggil Attala setelah dia mengintip lewat pintu belakang. Apaan, sih?


"Kak Lea, bukain pintu depan. Ada tamu," seru Attala seperti toa masjid.


Mama terkekeh pelan sedangkan aku langsung melepaskan apron dan bergumam kesal. Tidak bisakah dia membukanya sendiri tanpa memerintah orang lain? Ketika aku melewati ruang tamu Papa sedang menuruni anak tangga dan melihatku mengomel sambil membawa sendok di tangan.


"Siapa yang datang pagi-pagi sekali ke rumah orang! Tidak bisakah dia bersantai di rumah atau bergumul dengan selimutnya sebentar dan datang ke sini setelah matahari benar-benar terlihat?"


Saking kesalnya aku harus menarik napas panjang. Tidak mau memperlihatkan kekesalanku pada tamu. Tamu adalah raja. Itu yang selalu Papa tekankan. Mottonya seperti di kafe-kafe biasa aku nongkrong bersama Vinda, pelanggan adalah raja.


"Siapa ya--"


Dia. Brian? Aku mematung sebentar. Setelah sadar dengan pelan aku melangkah mundur dan memberinya ruang supaya bisa masuk. Dia sendirian. Memangnya ada urusan apa sampai dia datang pagi sekali?


Sebelum aku bertanya pada Brian, Papa datang dan menyambut pria itu dengan ramah. Bahkan aku, putrinya sendiri seperti orang asing yang berdiri menonton mereka. Oh astaga!


"Papa yang mengundang Nak Brian untuk datang. Sekarang, ajak dia ke ruang tamu dan temani dia sebentar. Papa harus mandi sebelum kita sarapan."


Menemaninya? Dia bahkan tidak menyapa, Pa. Tidak melirik padaku. Apakah aku berharap dia menyapa? Ya, paling tidak bersikap ramah. Ah! Sudahlah. Tanpa kata aku berjalan, dia pasti mengikutiku. Ketika melihat lemari kaca samar-samar bisa melihat pantulan Brian yang sedang menatap punggungku.


Dengan cepat aku berbalik untuk memastikan. Namun, ekspresi datar itu malah membuatku berdecak. Mana mungkin dia bisa melihatku dengan begitu lembut. Sedangkan caranya melihatku barusan sangat dingin.


"Aku akan membantu Mama dan--"


"Tetaplah di sini bersamaku, Azlea," potong Brian.


"Tapi ... ah! Baiklah."


Akhirnya aku mengalah. Duduk berseberangan dengannya. Lalu aku baru sadar jika sejak tadi membawa sendok. Ya ampun, Azlea. Tahu tidak, Brian bisa mengira kalau kamu begitu antusiasnya menyambut dirinya sampai lupa meletakkan sendok segala.


"Hm ...." Aku menggantung gumaman, berpikir sebelum mengatakan sesuatu padanya. Sebenarnya aku mau bertanya di mana Clarisa. Kasihan kalau dia sudah di tinggal sendirian di rumah meski pun ada baby sister padahal ini masih pagi.


"Jika ingin bertanya soal Clarisa. Dia sedang bersama Ibunya."


Aku merengut. Apa jangan-jangan Brian bisa membaca pikiranku? Kenapa dia tahu apa yang ingin aku tanyakan padanya.


Tunggu. Barusan dia menyebut ibunya? Maksudnya itu ibunya Clarisa, bukan? Itu artinya mantan strinya. Untunglah dia masih peduli pada Clarisa. Terus, kenapa sekarang aku merasa kecewa? Tidak, tidak.


Tepat saat aku ingin membalasnya, lagi-lagi ada yang datang. Kali ini Mama yang tadi sibuk dengan bahan adonan terlihat lebih rapi. Attala juga, dia sudah bersiap dengan setelan almamater kampus.


"Astaga! Aku sampai lupa hari ini ada kegiatan di luar kampus. Aku harus ganti baju, Ma. Tidak lama kok," kataku sambil berlalu begitu saja.


Mama mengangguk dan langsung menemani Brian. Sedangkan Attala duduk sambil bermain hp-nya seperti biasanya.



Aku tahu, ini semua rencana Papa. Dia mengundang Brian untuk datang dengan alasan pekerjaan. Lalu semua terjadi begitu cepat, dengan alasan yang berbeda yaitu karena motorku mogok. Maka Papa meminta Brian mengantarkanku ke kampus. Padahal kemarin, sepulang dari kampus motor itu dalam keadaan baik-baik saja. Namun pagi ini, tidak hanya mogok tapi ban belakang juga kempes.


"Azlea," panggil Brian.


"Ya." Aku menunggu dia melanjutkan akan tetapi malah diam tanpa kata. Lalu aku menatapnya.


"Apa?" tanyaku balik.


"Tidak ada."


Brian kembali fokus mengemudi. Sedangkan aku kembali melihat jalanan sambil menebak. Apa yang ingin Brian katakan.


"Hm, Brian."


Dia langsung menatapku.


"Menurutmu bagaimana?" tanyaku ambigu.


"Apanya yang bagaimana?"


Aku bingung harus mengatakan apa. Jelas, aku tidak pandai mengungkapkan sesuatu yang ingin sekali kukatakan pada seseorang yang saat ini berstatus calon tunangan. Katakanlah begitu.


"Soal perjodohan ini," lanjutku.


Karena dia mengabaikanku. Kuputuskan untuk membuka pintu mobil dan mengucapkan terima kasih. Sebelum aku melangkahkan kaki untuk yang kedua kalinya. Dia memanggil.


"Kemarilah," pinta Brian.



"Apa? Kamu yakin, Lea? Dia 'kan duda," celetuk Vinda.


Sejak awal Vinda memang tidak terlalu suka jika aku berakhir dengan Brian Wijaya suatu saat nanti. Padahal aku belum memutuskan apa pun. Meski pun dia sendiri belum pernah melihat sosok Brian seperti apa. Dia sudah mengambil kesimpulan sendiri.


Aku pernah bercerita bahwa Brian adalah pria hangat jika bersama Clarisa. Dia memang agak kaku tapi punya sisi penyayang yang baru kulihat akhir-akhir ini. Sayangnya Vinda malah menggelengkan kepala dengan cepat sambil bertanya, apakah aku tahu rahasia terbesarnya? Tentu aku menjawabnya dengan jujur. Tidak.


"Sekarang dengarkan aku, Lea, sahabatku yang polos. Jika dia memang serius denganmu--bukan untuk membahagiakan seseorang tentunya--seharusnya dia mau bercerita soal masa lalunya. Dari siapa mantan istrinya, bahkan tanyakan kenapa mereka berpisah."


Perkataan Vinda sedikit menyubitku. Bicara soal membahagiakan seseorang tentu membuatku mengingat bagaimana Brian pernah mengatakan hal itu. Clarisa adalah tujuannya.


"Tidak, tidak. Aku tidak mau melangkah terlalu cepat, Vin. Biarlah dia bercerita nanti jikalau memang dia ingin."


"Kalau ternyata dia hasil di luar nikah bagaimana?"


Tanpa menunggu lagi aku langsung memukul lengannya dengan daftar menu. Brekele.


"Mulutmu, Vin. Nggak bisa dikonsikan apa?"


"Itulah kenapa banyak orang di luar sana akan berpikir sebagaimana aku berpikir. Kita tidak tahu bagaimana masa lalunya, Lea. Tentu dengan porsi yang sesuai. Kita hanya bisa menebak-nebak."


Sejak awal perkenalan kami yang sudah direncakan oleh kedua keluarga, aku tidak memikirkan sampai sejauh itu. Yang aku tahu bahwa dia sudah memiliki Clarisa. Tanpa tahu bagaimana kisah lengkapnya.


Lagi pula tidak ada satu pun dari mereka yang memberiku titik terang.


"Kamu ingin tetap percaya padanya boleh-boleh saja. Pendapatku, sebelum mengambil keputusan. Tenangkan dirimu. Tanyakan pada dirimu, akankah kamu siap?"


Apa mungkin karena situasi yang aku alami berbeda dengannya?


"Jadi, pria yang tadi mengantarkanmu itu si Papa Muda?"


Dahiku mengkerut, "Siapa?"


"Tadi. Masa kamu lupa, sih. Papa muda."


Aku mendesah. Lalu bangkit menghindari pertanyaannya. Mungkin sekarang pipiku tengah merona. Bagaimana tidak. Brian benar-benar mampu melakukan sesuatu di luar imajinasiku. Dia--agak mesum.


Sekarang aku malah mengingat-ingat kembali kejadian dua jam yang lalu. Sesaat sebelum aku melangkah lebih jauh dari mobilnya, dengan sengaja Brian memanggilku. Dia masih duduk di dalam dan lengannya bersandar pada jendela mobil.


Aku bisa melihat bagaimana alis serta matanya yang tajam membuatku berdiri canggung. Wajahnya memang tidak sedingin pertama kali kami bertemu, setidaknya ada senyum tipis di sana. Tipis sekali.


"Kemarilah," pinta Brian.


Aku mendekat sedikit. "Ada apa?"


"Satu langkah lagi, Azlea."


Aku berdiri di hadapannya dan dia ingin aku menunduk, agak ragu memang. Akhirnya aku putuskan untuk menurut dan tanpa aling-aling sebuah kecupan mendarat di pipi. Dia? Astaga.


"Apa yang--"


"Aku akan menjemputmu nanti. Karena Clarisa terus mencarimu," potongnya.


Bibirku langsung beringsut sebal. Memangnya apa yang kamu harapkan, Azlea? Selain karena malu pasti wajahku saat ini seperti kepiting rebus.


Tidak, tidak. Azlea! Apa yang sudah kamu lamunkan, huh? Ini tidak bisa dibiarkan. Jangan pernah mengingatnya lagi. Jangan. Kamu harus tahu, tidak ada waktu untuk memikirkan itu sekarang. Fokus pada tujuanmu.


Begitu aku tersadar, Joya sudah berada di hadapanku dan menyapa seperti biasanya. Aku membalas sapaannya dengan ramah.


"Kenapa? Lehermu sakit?" tanya Joya.


"Bukan apa-apa kok, hahaha."


Aku tertawa bodoh. Kemudian sadar, beberapa pasang mata melihat ke arah kami. Pasti mereka tengah bergosip tentang kami yang menjalin hubungan. Gosip murahan. Tidak bisakah mereka mengurusi dirinya sendiri?


"Lea, handphone-mu hilang ya? Soalnya aku sempat menghubungimu. Yang mengangkat seorang pria."


Ah! Aku lupa belum mengambil benda persegi itu. Tunggu? Jadi Brian yang mengangkat telepon Joya?


"Dia tidak mengatakan hal yang aneh 'kan?" tanyaku pada Joya.


"Kamu kok tahu?"


"Memangnya dia mengatakan apa padamu?"


Joya berbisik padaku.


"Apa! Kamu yakin?"


Joya mengangguk bingung.



Saat kegiatan kami berakhir aku kembali ke kampus bersama yang lainnya. Vinda memang menungguku di kelas. Kami lebih banyak bercerita banyak hal. Dari dia yang bingung membahas persoalan ibu mertuanya yang ingin agar ia tidak menunda momongan. Sementara Vinda masih ingin menikmati bulan madu mereka. Soal momongan, itu bisa dipikirkan nanti katanya.


"Kamu akan tahu setelah menikah. Agak sakit memang, dan ... berdarah. Rasanya tubuhmu remuk setelah melakukannya untuk pertama kalinya," celetuk Dina tiba-tiba.


Dia langsung duduk dan ikut nimbrung.


"Benarkan?" tanyanya pada Vinda.


Vinda hanya mengiyakan saja dalam satu anggukan.


"Apalagi saat malam pertama. Kudengar sensasinya begitu luar biasa. Biasanya pria tidak tahan saat melihat istrinya setelah menikah. Tentu selain karena sudah sah, dia sudah menantikan malam itu."


Dina terus berceloteh tentang ini dan itu. Bagaimana rasa dan caranya--itunya--aku tidak bisa menggambarkannya. Wajahku pasti sudah memerah saat ini. Sialnya! Hanya aku yang masih single.


Aku terlalu takut membayangkan hal itu.


Setelah hampir dua jam kami membicarakan hal yang sama, akhirnya kuputuskan untuk pulang. Saat itulah aku bisa melihat beberapa mahasiswa berbisik tentang siapa yang bersandar pada mobil hitam.


"Brian," gumamku tak percaya.


Tidak ada hal yang harus diceritakan selain betapa kesalnya aku dibuatnya. Dia mengatakan hal yang paling menjengkelkan pada Joya.


Di dalam mobil, tanpa henti aku menyebutnya gila. Setelah Brian mengantarkanku dia langsung berpamitan pergi. Ada rapat di tempatnya bekerja katanya. Tentang perkerjaannya, aku belum tahu apa pun.


"Lea," panggil Papa.


Aku mendekat dan mencium punggung tangannya. Duduk dan sedikit bersandar pada sofa. Kepalaku, rasanya seperti ada beban yang belum terangkat.


"Apa kamu sudah mulai membuka diri untuk mengenal Nak Brian? Bagaimana tanggapanmu tentang dia?"


"Pa, sungguh aku tidak tahu apa pun."


"Berceritalah. Papa akan mendengarnya."


Jujur. Aku ingin mengungkapkan apa yang saat ini masih samar-samar dalam pikiranku. Soal apa aku nyaman saat di dekatnya? Ya. Aku mengakui itu. Alasannya? Entahlah. Begitu aku berada di dekatnya seperti ada sesuatu yang membuatku terikat. Seolah ada banyak benang yang meraihku untuk menerima kehadirannya.


"Papa."


Papa langsung menatapku.


"Sepertinya aku mulai menyukai kehadirannya. Aku sungguh tidak percaya ini. Dalam beberapa hari mengenal Brian, aku seperti sudah lama mengenalnya. Dia tidak sedingin itu. Dia punya sisi yang membuatku begitu aman dan damai."


Apakah itu artinya aku mencintainya? Atau hanya ketertarikan saja?


"Menurut Papa aku harus bagaimana? Kemarin aku tidak sengaja bertemu dengan Tante Maretha. Beliau memberiku sebuah surat."


"Surat?"


"Ya."



Bersambung