PERFECT (Brian & Azlea)

PERFECT (Brian & Azlea)
part 19




Selama perjalanan pulang aku hanya diam memandang ke depan, sedangkan Brian fokus menyetir. Kalau Clarisa? Dia tidur dalam pangkuanku sekarang.


Ngomong-ngomong soal fitting gaun pernikahan, apakah aku terlihat seperti malu-malu kucing saat di ruang ganti ya? Saat Brian datang dan memelukku dari belakang. Tindakan itu sangat mengejutkan!


Pasti pipi ini memerah karena malu sendiri, tidak peduli saat di Boutique Lovella Almerane maupun sekarang, di mobil. Azlea! Coba kamu hitung. Sudah berapa kali dia menciummu? Satu? Dua, tiga atau lebih?


Semua itu membuatku malu! Oh tidak, tidak. Untuk apa harus malu? Aku tidak melakukan kesalahan. Maksudnya bukan aku yang menciumnya dulu, malah dia yang nyosor duluan kek bebek.


Datang tak diundang. Pulang main diam-diaman.


Brian benar-benar tidak bisa kupahami dari cara dia bertindak dan juga cara ia menatapku. Jadi, untuk apa malu jika Brian sendiri terlihat santai.


Ck! Ini membuatku gila. Tiap kali Brian melirik lewat ekor matanya aku tidak bisa mengatakan apa pun untuk menghakiminya. Apakah rasa cemas ini bisa dinamakan semacam gejala fobia? Atau ini efek dari debar jantung?


Sekarang aku percaya, kalau dia pria mesum seperti kata kakaknya. Jadi jangan bersikap seolah kamu yang salah, Azlea. Jangan!


Akan tetapi, tetap saja. Kenapa aku jadi malu begini? Ya Tuhan! Aku harus bagaimana sekarang?!


Kejadian di Boutique Lovella Almerane setengah jam lalu masih sangat membekas. Sampai menghantuiku terus menerus tiap kedepitan.


Bagaimana bibirnya mengecup bibir ini sampai caranya merengkuh. Bayangan itu seperti kaset yang baru saja diputar. Terus berulang-ulang sampai membuat penontonnya gemas sendiri.


Rasanya, entahlah--mungkin ada manis dan juga perpaduan permen nano-nano. Aigoo!


Tanpa sadar jemari ini menyentuh permukan bibir dan meraba sekali lagi sensasi yang terlalu tabu untukku. Getaran dan juga euforia yang Brian kirim lewat jemarinya. Bahkan caranya bermain atas diriku. Dia mengklaim aku miliknya. Hanya miliknya.


Entah masa lalu ataupun sekarang.



Brian memarkirkan mobil saat aku baru sadar dari lamunan panjang, dan selama itu juga tidak ada percakapan berarti antara aku dan dia. Kami lebih memilih diam dengan alasan takut membuat Clarisa bangun.


Dia membawaku ke rumahnya. Rumah yang dulu pernah membuatku hampir gila karena punya tangga yang luar biasa.


"Biar Clarisa bersamaku," pinta Brian.


Dia membuka pintu mobil dan meraih Clarisa yang masih tertidur. Sementara aku tetap diam. Menunggu ia pergi supaya aku bisa keluar dari mobil lalu mengekorinya.


"Hitung semua tangga sepuasmu. Aku akan sangat senang jika kamu menikmati tur dadakan yang kuberikan setelah ini." Brian berbisik.


Sebelum dia menarik lengan ini untuk segera keluar ia tersenyum tipis. Seperti biasa, tindakan tak terduganya hampir membuatku kaget bagaimana dia menggenggam jemari ini.


"Hmm … ya. Waktu itu aku tidak sempat mendapatkan tur istimewa dari pria mesum sepertimu."


"Siapa yang mesum?"


"Kamu. Emang siapa lagi?"


"Aku bisa sangat mesum setelah kita menikah."


"Oh ya?"


"Mau bukti?"


Tidak! Bukti apaan? Ngawur.


Cerita singkatnya Brian langsung menidurkan Clarisa di kamar anak itu. Tidak butuh waktu lama untuk menemuiku yang berdiri memandangi satu per satu bingkai foto.


"Ikut aku." Dia memerintah seenaknya.


"Ke mana?"


"Berkeliling."


Brian pasti sangat menjaga pola hidupnya. Mau tidak mau aku bisa melihat roti sobeknya ketika dia mengganti jas hitam dengan kaos pendek yang ketat. Dari caranya turun dari tangga saja seperti menonton adegan Mrs Grey.


"Kemarilah calon Nyonya Wijaya."


Huh?


"Nyonya Wijaya?" Aku terkekeh pelan saat mendengar panggilanya.


"Nyonya muda."


"Aku nggak mau, Brian."


"Harus."


"Tidak mau. Aku lebih suka kamu memanggilku Azlea, Honey atau Cherìe. Itu terdengar lebih manis daripada Nyonya Wijaya."


"Alasannya?"


"Karena aku tidak setua itu!"


Sekarang malah Brian yang terkekeh. "Terima saja."


"No way! Kamu ingin aku saingan dengan mamamu? Oh tidak, Brian. Tidak. Itu terdengar aneh."


"Tidak ada yang aneh setelah kita menikah."


"Ugh!" Sialan.


Dia menarik lengan ini pelan, membawaku ke sebuah taman yang tidak jauh dari gazebo miliknya. Aku baru tahu kalau rumah ini punya taman dan gazebo. Dasar. Ke mana saja kamu Azlea?



Benar apa kata Brian. Kalau siang menjelang sore ia mengajakku mengelilingi rumah megahnya. Dari taman, gazebo kemudian masuk ke rumah lewat pintu belakang. Ada beberapa pekerja yang sibuk dengan tugasnya. Sesekali mereka menyapa dan kami berhenti untuk berinteraksi. Meski Brian lebih banyak diam.


"Aku benci harus melewati tangga itu."


"Kamu tidak akan mati karena kelelahan, Azlea."


"Kita tidak tahu, Brian. Kamu membangun banyak tangga. Jika Clarisa berlarian, kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku tidak bisa membayangkan hal itu."


"Aku akan menyuruh orang untuk merenovasi semua tangga," putusnya.


Sombong!


"Karena itu permintaan Nyonya Muda."


"Apaan?"


"Ini semua untukmu."


"Heleh! Gombal."


"Ingin bukti?"


"Maksudmu? Dari tadi ngomongin bukti dan bukti mulu."


"Ulurkan tanganmu."


"Untuk apa?"


"Lakukan saja. Kamu banyak tanya."


Aku mengulurkan tangan. "Jangan aneh-aneh."


"Sekarang tutup mata."


"Tidak."


Untuk apa menutup mata? Dia membuatku takut saja. Jika aku menutup mata, tiba-tiba dia membunuhku bagaimana? Maksudnya bukan 'membunuh' dalam artian yang sebenarnya. Karena Brian itu mesum. Aku jadi agak ragu menuruti perintahnya.


"Azlea?"


Percuma! Aku tidak bisa menolak. Percaya padanya, Azlea. Percaya.


"Tiga puluh detik saja ya. Jika selama itu kamu melakukan tindakan tidak kusuka aku akan menendangmu atau melakukan hal gila lainnya."


Tanpa di perintah lagi mata ini langsung tertutup. Selama sepuluh detik aku belum merasakan apa-apa. Sampai genggaman tangannya jatuh pada kedua tanganku yang saling bertautan. Kini dia ikut bergabung membelai tangan mungil ini. Apa yang sedang Brian lakukan?


Tunggu! Dia--


"Open your ayes."


Bibirku tetap bungkam setelah membuka mata, lalu tatapan itu jatuh pada genggaman tangan Brian yang menggenggam tanganku. Hanya saja, kenapa degup jantung ini semakin tidak karuan saja dibuat olehnya.


"Apa ini?"


"Cincin."


"Aku tahu! Maksudku untuk apa?"


"Marry me."


"Huh?!"



Dia baru saja melamarku. Dia! Brian Nanendra Wijaya. Nenek Kunti, apa yang baru saja kamu bisikan sampai dia bisa melakukan itu.


Brian bahkan memelukku lagi dan lagi. Seperti yang lalu-lalu. Dia memberiku pelukan paling menyenangkan karena reflek memukul dadanya sambil mengomel tentang kejutan gila yang dia buat sampai tingkahnya yang membuatku ingin mati mendadak.


"Kamu terlambat, Bodoh! Terlambat."


"Daripada tidak sama sekali."


"Harusnya sebelum kita bertunangan dan tanggal pernikahan sudah ditentukan kamu lebih dulu melamar. Nggak ada romantis-romantisnya sama sekali. Dasar! Memang, sih. Kita dipertemukan oleh perjodohan. Tapi nggak gitu juga kali!"


Jangan menangis, Azlea. Jangan. Kenapa aku jadi cengeng seperti ini coba? Kenapa aku tidak bisa marah dengan semua yang Brian lakukan padamu hari ini?


Aku memang memimpikan sebuah lamaran romantis seperti dalam novel atau film-film. Itu wajar, bukan? Aku yakin semua perempuan ingin mendapat impian yang hampir sama seperti cerita dalam novel atau kisah pengantar tidur.


Bicara soal pangeran, ia tidak harus berkuda putih, bermahkota atau berjalan dengan diiringi prajuritnya.


Karena kita tahu, itu hanya sekadar cerita meski dalam angan membayangkan bagaimana jika mereka adalah Catherine Middleton.


Brian masih harus belajar dari Baim Wong, bagaimana dia memberi surprise pada istrinya, Paula Verhoeven.


Tidak harus pakai acara liburan ke luar negeri lalu menaiki kapal pribadi yang berlayar di sepanjang pantai yang dikelilingi pulau-pulau.


Yang penting itu--dia mencintaimu.



Brian sudah turun dan melakukan aksi berenang dengan beberapa gaya. Dari gaya punggung, gaya katak dan juga gaya bebek. Hahaha. Maksudku, dia terus saja menggangguku dengan bermain air sampai berbunyi kecipak. Membuat dres putih pucat basah kerenanya.


"Ingin mendengar cerita dariku?"


Brian mendekat. Ia mendaratkan kedua tangannya ke kakiku yang terbenam di kolam. Sesekali Brian menepuk pelan dan menggodaku dengan menarik pelan ke bawah sampai aku berteriak karena ulahnya.


"Hei! Aku nggak mau."


"Tidak apa. Ada aku di sini."


"Tidak."


"Kalau begitu ingin dengar satu cerita?" tanyanya lagi.


"Kalau ceritanya happy ending aku mau."


"Tidak jadi."


"Kenapa gitu? Katanya mau cerita."


"Cerita seperti itu hanya ada dalam kisah dongeng pengantar tidur, Cherìe."


"Ya, ya. Aku ngerti. Maksudku, Brian. Kalau kita bisa memilih ending kek gimana, kita nggak perlu berpusing ria untuk menceritakan sesuatu yang tidak ingin kamu dengar."


"Ngeles."


"Bukan ngeles! Intinya, kalau bisa bikin cerita happy ending kenapa harus bikin cerita yang menyedihkan?"


Bukannya merespon pernyataanku dia malah asyik memainkan cincin yang baru saja melingkar di jemari manis mungilku. Cincin dengan satu permata.


"Turun," pintanya.


"Untuk apa?"


Tiba-tiba Brian melepas ngenggamannya. Ia menjauh dan kembali menyelam. Kukira dia berniat melanjutkan kegiatannya sendiri dan pamer akan kepiawainya, sampai sebuah tarikan kuat membuatku jatuh ke dalam air. Brian biangnya.


Karena perbuatannya yang tiba-tiba itulah aku berakhir mengenaskan. Tidak siap untuk menerima tekanan air.


"Brian!"


"Kita bermain air."


"Oh tidak. Aku tidak mau bermain air. Bawa aku ke atas, Brian."


"Aku akan melepaskanmu."


"Jangan--" Terlambat.


Aku tidak sempat bernapas saat tubuh ini malah tenggelam lebih dalam. Lalu kembali pada permukaan. Terus begitu, sampai kaki ini terasa sakit. Kram!


"Brian! Tolong! Aku takut. Aku tidak bisa berenang--"


Aku kembali tenggelam kemudian naik ke permukan sambil memberi kode pada Brian.


Apakah dia tidak melihat bagaimana keadaanku? Aku berharap Brian sadar dan segera membantuku. Namun, percuma. Dia berpikir aku tengah membuat lelucon dengan berpura-pura tenggelam.


"Tenanglah."


Tidak. Aku tidak bisa tenang.


"Ini tidak lu-cu, Brian. Aku tidak bisa. Aku takut--"


Oh tidak! Tidak. Jangan lagi.


"Brian--ugh!"


Demi remahan Khong Guan.


"Azlea!"


Mungkin karena terlalu banyak menelan air, dada ini rasanya sangat sesak. Tinggal menunggu waktu saja kesadaran ini akan menipis.


Apakah aku akan mati di kolam ini? Sial! Kenapa ini semakin sulit. Aku tidak bisa menahannya lagi.


"Sss ... aku meraihmu."


♡~♡


"*Hai Kakak Ganteng! Namaku, Ajlea Maheswali. Umulku masih enam tahun."


"Nggak nanya."


"Kakak tahu, dulu hobiku makan loh, tapi sekalang udah tidak. Soalnya kalau lihat kakak kek lihat apel. Jadi lapal! Tapi malas makan. Maunya dekat-dekat kakak telus*."


"*Ck!"


"Oh ya, kata mama kalau belum kenal halus kenalan dulu. Siapa namamu? Kalau aku panggil saja, Lea. Bukan Ajlea*."


Tunggu. Gadis kecil itu, aku? Tidak mungkin.


"Kok diam. Apa dia bisu ya? Atau dia tuli? Masa iya ganteng-ganteng kek gitu buta. Kakaaak! Kakak Ganteng!"


"*Menjauh dariku. Aku nggak suka gadis kecil sepertimu ada di sini."


"Kenapa? Lea baik."


"Ck*!"


"*Lea udah besal kok. Benelan. Hehehe."


"Kamu masih kecil."


"Lea udah besal!"


"Belajar dulu yang benar. Ngomong aja masih cadel*."


"*Tapi imyut 'kan?"


"Dasar tukang adu."


"Lea bukan tukang adu, hiks."


"Ck! Menyebalkan."


"Huahaaa! Mamaaaa ... Lea takut. Kakak itu mau gigit Ajlea*."


"*Siapa yang menggigit bocah sepertimu! Dasar cengeng."


"Lea nggak cengeng!"


"Jauh-jauh dariku!"


"Nggak mau!"


"Kalau gitu aku yang pergi*."


"Padahal Lea cuma mau belmain."


Siapa mereka? Lalu, ingatan siapa ini. Aku tidak pernah ingat punya kenangan seperti ini. Sedangkan gadis kecil itu, apakah dia aku? Tidak. Tidak mungkin itu aku dalam versi kecil. Akan tetapi, dari matanya, wajah dan juga caranya tersenyum, bahkan gadis kecil itu menyebut dirinya Azlea Maheswari. Jika gadis itu aku terus siapa laki-laki itu? Ravi kah? Atau siapa?


"Aku bukan anak kecil!"


"Bagiku kamu tetap anak kecil. Tidak peduli saat umurmu enam tahun maupun sekarang."


"Kenapa? Kenapa kamu dingin sekali, sih? Padahal aku sudah berumur dua belas tahun jika kamu lupa. Aku selalu bersikap baik. Apa sesusah ini hanya untuk menjadi temanmu? Aku bukan lagi anak kecil, cengeng, ngomongnya cadel dan suka mengadu. Ngomong kek biar aku ngerti."


"Ingin tahu?"


"Ya!"


"Karena aku membecimu!"


"Membenciku?"


"Sangat membencimu!"


"*Tapi--"


"Jangan datang lagi. Aku nggak suka*."


Dada ini. Kenapa aku bisa sesakit ini hanya mendengarnya? Apakah ingatan itu punya kisah sama seperti yang pertama? Namun, dalam versi lebih remaja?


"*Aku sangat membencimu! Lupakan aku dari semua ingatanmu, dan jangan pernah kembali lagi dalam hidupku. Bila perlu mati saja!"


"Nggak mau! Untuk apa aku melakukan itu, huh*?!"



"Azlea! Please ... sadarlah, Sayang. Jangan membuatku takut."


Samar-samar kesadaranku mulai kembali. Meski pusing mendera lebih menyakitkan dari sebelumnya. Aku tidak bisa menahannya lagi. Sadarlah, Azlea. Sadarkan dirimu sendiri. Kamu tidak ingin mati mengenaskan seperti ini bukan?


"Azlea." Seseorang berbisik.


"Tuan, kenapa dia belum bangun juga? Padahal ia sudah mengeluarkan air yang ia telan."


"Ck! Cepat hubungi dokter untuk segera datang. Katakan padanya ini darurat."


"Ya Tuan."


"Siapkan handuk dan nyalakan pemanas ruangan di kamar."


"Kamar?"


"Kamar utama!"


"Y-ya!"


"Azlea," bisik Brian. Aku yakin itu suaranya.


"Apa yang sudah kulakukan. Bangun, Azlea. Jangan membuatku cemas seperti ini, Cherìe."



Bersambung