
Pernah ada yang bilang kalau aku tidak akan pernah menikah jika terus saja sok jual mahal. Itu karena alasan yang sama, menolak pernyataan cinta. Salah satu dari mereka adalah teman satu angkatan di kampus.
Dari ketua futsal bernama Andre, sampai Joan, si Kutu Buku. Apakah aku harus menerima salah satu pernyataan cinta mereka? Tentu tidak. Intinya aku sama sekali belum tertarik dengan namanya pacaran apalagi berkomitmen.
"Jadi gimana, Lea?" tanya Vinda sebelum kami duduk dan memesan sesuatu.
"Apanya yang gimana?" Aku malah balik bertanya.
Apalagi setelah sidang skripsi selesai. Vinda adalah orang pertama yang gencar-gencarnya memperkenalkanku dengan seorang pria mapan kenalannya. Katanya, dia punya rumah dua lantai beserta kolam renang dan taman. Belum lagi posisinya di kantor. Hanya saja dalam pertemuan kami untuk pertama kali, dia terus saja bercerita tentang hal konyol yang tidak kumengerti.
"Kamu nggak menolaknya, 'kan?" tanya Vinda. Kali ini dengan raut muka yang sulit kubaca.
"Aku menolaknya."
"Kamu gila. Bram itu cocok buat kamu. Dia tampan dan juga--ah kamu tahulah apa yang aku maksud."
"Aku nggak lihat seseorang dari cover atau materinya, Vin."
"Oke. Sekarang aku tidak tahu lagi harus bagaimana agar kamu membuka sedikit saja peluang supaya kamu mengerti. Sendirian tanpa kekasih itu tidak enak," ucap Vinda kesal.
"Aku tidak memikirkan soal kekasih sekarang. Asal kamu tahu saja, sendiri itu lebih bebas. Bukan berarti sendiri itu nggak enak."
"Serah kamulah. Pokoknya aku sebagai teman terbaikmu sudah memberi sedikit nasihat."
"Ya, ya. Terus aku harus gimana? Aku belum siap."
"Sampai kapan kamu akan siap jika tidak mau mencoba?"
"Vinda, Sayang. Dengarkan aku kali ini. Berhenti menjodohkanku dengan kenalan atau siapa pun itu yang kamu lihat cocok denganku. Aku akan menikah jika benar-benar menginginkannya. Atau, aku bisa menunggu Iron Man pensiun."
"Gila! Nggak usah bawa-bawa Iron Man. Dia udah mampus."
"Biarin."
"Mau sampai kapan? Aku tahu kamu itu terlalu sibuk dengan banyak hal."
"Sampai aku bertemu orang yang mampu membimbingku."
"Macam anak pramuka. Harus ada pembimbing segala," cibir Vinda.
Vinda mendesah setelah mendengar pernyataan yang sama berulang kali dari bibirku. Aku tersenyum karena berhasil membuatnya mundur satu langkah dari obsesinya agar aku segera menyusulnya menikah.
"Meski pun dia duda beranak lima?" tanya Vinda dengan nada skeptis.
"Vinda! Ya enggak segitunya kali. Suka banget doain sahabatnya kek gitu," omelku.
"Bukan doain. Katanya yang mampu membimbingmu. Artinya yang sudah punya anak. Benar 'kan? Aku nggak salah dong?"
"Susah ngomong sama kamu."
"Emang susah ngomong sama aku. Apa lagi ngomong sama kamu. Ya kan? Karena semua perempuan itu susah," kekeh Vinda di sela omelannya.
"Begitulah perempuan. Susah dimengerti."
"Kata siapa?"
"Joya."
"Benar-benar ya. Kalau semua cowok itu satu pemikiran. Soalnya Ryan juga sering bilang begitu."
Akhirnya kami diam dan menikmati satu cup es krim yang sudah terlalu lama menjadi saksi percakapan kami. Selain itu dia terlalu lelah dan aku terlalu bosan. Bukannya tidak mau menikah. Akan tetapi ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum melangkah lebih jauh. Apalagi membahas tentang pernikahan.
"Teruslah menutup diri sampai bosan. Suatu saat kamu akan tahu bagaimana hidup jika sudah menemukan orang yang kamu cintai."
Lagi-lagi aku hanya mengangguk sambil mengaduk-aduk dengan malas es krim yang sudah mencair. Sekarang aku tak lagi bernafsu untuk memakannya. Tidak dengan situasi yang membosankan seperti ini.
"Seperti kamu dan Ryan. Begitu? Ya, ya. Aku tahu. Sahabatku ini sudah menemukan belahan jiwanya. Dan aku iri padamu," kataku dengan nada bercanda.
"Ini bukan untuk candaan, Lea. Aku sedang menguliahimu."
"Oke, aku mendengarmu, Miss."
"Nah! Gitu dong. Jadi murid yang baik."
"Serah kamu. Yang penting happy."
♡
Keesokan harinya aku bangun cukup pagi untuk melanjutkan aktifitas sebelum berangkat ke kampus. Dari membersihkan kamar, setelah itu mandi dan berdandan sampai menandai tanggalan satu persatu dengan coretan. Kurang satu bulan lagi acara wisuda akan berlangsung.
Aku selalu berharap yang terbaik untuk semuanya. Pertama-tama aku akan merayakan kelulusan bersama kedua orangtua. Selanjutnya membuat planning kedepannya. Dari menyiapkan diri, lalu melamar pekerjaan dan yang terakhir tentu saja menyiapkan mental.
"Hai, Sayang. Sudah siap untuk berangkat?" tanya Mama sesaat setelah aku duduk di dekat Papa.
Aku mengangguk. Melirik Papa sebentar sebelum mengambil satu suapan nasi goreng. Setelah itu aku tersenyum tipis ketika Papa meletakkan tabletnya di meja.
"Pa, nanti aku pulang agak sorean. Soalnya ada acara dengan teman kampus."
"Sampai jam berapa?"
"Sebelum magrib aku sudah ada di rumah. Tenang saja."
Papa hanya mengangguk dan melanjutkan acara makannya.
"Morning, Mom and Dad," sapa Attala.
"Aku nggak di sapa nih?" Dia malah melengos begitu saja. Iss ... adik tidak tahu diri.
"Aku udah kerja, Kak. Siapa juga yang mau minta uang ke Kakak," cibirnya.
Attala benar-benar membuatku kesal pagi ini. Awas saja, semoga cepat wisuda tuh anak. Biar aku tak melihatnya di rumah tengah asyik bermain PS.
Sebelum beranjak pergi dan berpamitan, Papa berpesan untuk berhati-hati seperti biasanya. Papa sempat menawarkan diri untuk mengantarkanku ke kampus, tapi aku menolak. Lagi pula jarak dari rumah ke kampus tidak memakan waktu yang banyak.
"Lain kali motor kamu akan Mama jual, Lea," cetus Mama.
"Kok gitu, sih? Attala saja nggak diomelin. Lagi pula Lea lebih nyaman pakai motor, Ma. Nggak ribet kek mobil kalau mau lewat gang kecil."
Mama selalu cari alasan untuk memerahiku. Ah ya. Aku lupa, Mama itu sayang sama anaknya. Saking sayangnya dia overprotektif dengan semua hal yang berhubungan dengan kami.
"Oh ya, nanti ada teman Mama dan Papa akan datang. Jangan lupa beli sesuatu yang bagus untuk kamu pakai. Baju kamu dari dulu itu-itu terus. Bosan Mama lihatnya."
"Oke, Ma," balasku singkat. Kalau tidak, aku yakin Mama akan terus mengomel panjang lebar. Tidak akan kelar sampai tujuh turunan.
♡
Singkatnya, jam lima sore aku pulang ke rumah dan langsung dibuat bingung saat Mama memasak begitu banyak hidangan dari rawon, opor ayam dan pekedel kentang. Bahkan ada capcay yang sudah matang di atas meja makan. Sampai segitunya Mama. Sebenarnya, tamu dari mana? Bukan anak pejabat pemerintahan, kan?
"Cepat mandi," titah Mama.
Sebenarnya aku tidak terlalu suka berdandan. Bahkan untuk menggunakan pensil alis pun aku tidak bisa. Payah! Aku melirik jam dinding sebentar, setelah memastikan jika baju berlengan panjang dengan bahan kain bruklat berwarna baby blue selutut sudah pas saat kukenakan. Setelah itu mendapati satu pesan via WA dari Mama. Tumben. Biasanya langsung berteriak dari lantai dapur.
Lucu saja.
Ketika menuruni anak tangga, aku dibuat malu saat beberapa tamu sudah datang dan tengah berbincang seru. Tentu mereka langsung menjadikanku pusat perhatian.
"Ayo sini, Lea."
Mama memintaku untuk segera mendekat sementara beberapa pasang mata melihatku. Ada delapan orang yang duduk, lima orang di antaranya terlihat begitu asing dan sisanya tentu Attala, Papa dan Mama. Papa langsung memberiku isyarat lewat mata untuk cepat duduk di samping Mama. Ada apa? Itulah pertanyaanku sekarang.
"Ini putri sulung kami. Kakaknya Attala." Mama memperkenalkan.
Mereka tersenyum dan melihatku dengan tenang, sebelum wanita seumuran Mama yang duduk di samping wanita yang lebih muda itu berkata kalau beliau adalah sahabat Mama.
"Ternyata putrimu sudah besar dan cantik, Sya."
"Ya iyalah. Mamanya aja cantik masa anaknya tidak. Gimana, sih kamu, Maretha."
Ah! Tante Maretha. Ya. Aku ingat sekarang saat Mama menyebut nama itu. Jadi, wanita yang mengenakan baju yang cukup modis itu Tante Maretha? Aku meringis kecil saat memori masa kecil berputar seperti kaset usang. Yang kuingat hanyalah bagaimana beliau menciumi pipiku saat masih kecil dulu. Membuat pipi ini memerah, lalu aku menangis saking takutnya jika pipi ini akan di makan olehnya seperti bakpo. Ya ampun Azlea!
"Lea, coba tebak. Itu di samping Tante Maretha siapa?"
Seorang wanita muda yang duduk dengan anggun itu tersenyum dan menyapaku seperti seorang kakak pada adiknya.
"Siapa?" tanyaku polos.
Aku tidak mengenalnya. Bisa jadi putrinya 'kan? Kalau dua pria muda lainnya aku lupa siapa. Atau malah aku tidak tahu siapa pun.
"Dia Martha, istrinya Dimas. Kalau yang itu siapa," tunjuk Mama.
Seorang pria muda yang duduk paling ujung itu tetaplah asing. Dia melihatku dengan datar. Lalu aku berbalik melirik mereka satu persatu. Mungkin saja ada yang mau memberiku satu bocoran. Akan tetapi tidak ada.
"Mama, ini sedang wawancara atau apa?" bisikku.
"Jawab aja."
"Aku nggak tahu, Ma."
Untungnya Papa langsung turun tangan. Menjawab kebingunganku. Jadi, mereka adalah keluarga besar Wijaya. Di mana kedatangan mereka ingin bersilahturahim setelah beberapa tahun tidak bertemu. Mereka membicarakan banyak hal. Sementara aku memperhatikan mereka satu persatu dan tatapanku jatuh pada Brian, putra bungsu Paman Romi yang lebih tua dariku empat tahun.
"Sepertinya kita langsung saja, ya? Tujuan kami sekeluarga datang ke sini," kata kepala keluarga Wijaya. Paman Romi.
Sebelum melanjutkannya beliau tersenyum padaku, "Aku dan Fendi ingin mempererat persaudaraan dua keluarga dengan menjodohkan putraku, Brian dengan Azlea."
Tunggu. Apa? Aku langsung berdiri saking kagetnya. Memandang Mama dan Papa yang nampak biasa saja. Lalu melihat mereka semua. Brian? Pria itu bahkan terlihat tak tertarik dengan perkataan Papanya. Malah dengan terang-terangan memandangku tak peduli.
"Pa--"
"Tidak, Sayang. Ini sudah keputusan Papa. Kamu akan menikah dengan Nak Brian," kata Papa to the poin.
"Harusnya Papa memberiku kesempatan untuk mengetahui hal semacam ini, paling tidak mempertanyakan kesediaanku. Sebelum mengambil keputusan."
Aku sudah tidak peduli dengan namanya sopan santun. Bukan ini yang aku harapkan. Tidak dengan cara yang menurut beberapa orang perjodohan hanyalah kedok untuk menjerumuskan anaknya. Meski aku tahu, mereka tidak mungkin tega melakukannya padaku. Karena pernikahan bukanlah permainan anak-anak.
Sebelum bibirku kembali membuka suara. Seorang baby sister datang menggendong bocah perempuan yang kutebak berumur empat tahun. Dia mendekat ke kursi Brian. Pria yang Papa bilang akan menjadi calon suamiku. Itu pasti keponakannya.
"Dia merengek ingin bertemu Anda, Tuan Muda."
"Papa," panggilnya pada Brian.
Wajah anak itu terlihat sangat bahagia. Menggemaskan. Akan tetapi, aku dibuat kaget saat caranya memanggil Brian. Apalagi saat kedua tangan Brian mengambil alih anak itu sambil mengatakan, "Papa ada di sini."
Bibirku langsung terkatup rapat. Tidak tahu harus mengatakan apa. Sedangkan pria itu, Brian, masih membenarkan cara duduk bocah menggemaskan itu di pangkuannya.
"Dia siapa?" Aku memberanikan diri untuk bertanya. Walau pun aku tahu dia akan menjawab apa. Karena pendengaranku masih berfungsi. Yang jelas aku ingin tahu apakah tebakanku benar atau tidak.
"Dia--"
"Putriku," kata Brian memotong perkataan Tante Maretha.
Ya Tuhan. Apa-apaan ini? Dia seorang duda beranak satu? Dan Papa ingin aku menikah dengannya? Mimpi apa aku semalam? Astaga!
♡
Bersambung