
Pagi sekali kami keluar untuk menghirup udara pedesaan. Tempat yang kami sewa sampai satu minggu ke depan memiliki panorama dan juga keunikan tersendiri. Pepohonan hijau ada di mana-mana. Bahkan aku bisa melihat persawahan dari jauh. Burung berterbangan di angkasa sementara beberapa kicauannya terdengar begitu merdu.
Tempat ini jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Jauh dari semua kebisingan metropolitan. Aku merasa sangat damai. Tenang dan menyenangkan. Terlebih lagi seperti bebas.
"Aku berencana membangun rumah di sini," ungkapnya tiba-tiba.
"Untuk apa? Kamu udah punya istana penuh anak tangga di ibu kota. Pekerjaan dan juga keluarga."
"Bukan untuk tempat tinggal, Cherìe. Untuk tempat kita bisa berduaan," bisik Brian.
Aku mendorong tubuh Brian. Karena dia sengaja berbisik lalu mengecup pipi ini. Sebelum Brian berbuat lebih jauh lagi aku harus membuat jarak.
"Jangan dekat-dekat. Atau aku akan berteriak lalu--eh!"
"Makin hari makin cerewet."
Entah bagaimana bisa. Kali ini tidak hanya cara Brian tersenyum atau bagaimana mata hitam miliknya melihatku. Namun, caranya menyentuh dan memelukku terasa lebih hangat dari sebelum-sebelumnya.
"Mau lihat sesuatu yang indah?"
Sesuatu yang indah?
"Kamu akan suka. Sekarang kita pergi sebelum Pak Gede datang dan mengacaukan semuanya. Atau kita akan berakhir mendengar ocehannya lebih lama lagi."
Siapa Pak Gede yang Brian maksud? Apakah dia salah satu pegawainya atau hanya penduduk desa sini?
"Kita akan pergi?" tanyaku.
"Hm."
"Tapi tunggu, Brian. Aku belum mandi." Aku mencegah Brian melangkah saat itu juga.
"Kita bisa mandi di sana. Berdua."
Berdua. Ya, ya. Berdua, Brian.
♡
"Kamu yakin?" tanyaku sekali lagi.
Mau bagaimanpun juga. Aku tidak berani melihat mata kecokelatan yang menatapku seperti orang asing. Maksudku, lihatlah. Bagaimana hewan berkaki empat dengan surai kecokelatan yang panjang itu bergerak.
"Namanya Troya, dia kuda yang pernah kubeli saat menghadiri acara di London. Dia tidak akan memakanmu, Cherìe."
Kuda itu tidak akan berani memakanku selama ada tuannya. Tapi tidak dengan tuannya. Brian bisa memakanku kapan pun dia mau.
Akan tetapi, pergi dengan menunggangi kuda bukanlah bagian dari liburan ini. Aku takut jika nanti kuda itu tersentak, akulah yang akan mati karena jantungan.
Lebih parahnya lagi jika terjatuh. Aku tidak mau membayangkan bagaimana rasa sakitnya.
"Tidak. Aku tidak bisa. Dia menatapku seolah aku ini musuh, Brian. Dia tidak mau aku menaiki punggungnya."
"Dia akan terbiasa."
"Dia cemburu," cetusku.
Brian malah tertawa mendengar celetukanku barusan. Untuk pertama kalinya aku bisa melihat bahkan mendengar sendiri Brian tertawa lepas.
"Mana mungkin dia cemburu. Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?"
Menggelengkan kepala.
Brian mengambil rumput lalu memberikannya pada kuda cokelat yang ia beri nama Troya. Kuda itu langsung memakannya dengan lahap. Sementara Brian mengambil alih salah satu tanganku untuk ikut meraih rumput.
"Dia hanya ingin mengenalmu. Mungkin, dia berpikir bidadari dari mana yang saat ini ada di hadapannya."
Aku mendengkus mendengar penuturannya. Bidadari? Yang benar saja, suamiku tercinta. Masa iya kuda bisa berpikir demikan?
Tunggu. Benar juga ya. Kuda mana bisa cemburu.
"Kita berangkat. Sebelum matahari benar-benar naik."
Tanpa menunggu persetujuanku, Brian sudah meraih pinggang ini dan mengangkatku ke atas pelana bersamanya. Brian menarik tali kekang sebelum akhirnya Troya berputar arah.
Bisa kurasakan bagaimana kedua lengan kokohnya melingkari tubuh ini. Meletakkannya di atas perut dan menyandarkan kepalanya ke atas pundak. Dia bergumam lalu berbisik.
Tidak hanya itu, Brian juga mengatakan sesuatu tentang bukit yang letaknya tidak terlalu jauh dari persawahan dekat kaki gunung.
"Kamu sering ke sini?"
"Hm."
Troya semakin kencang berlari. Sementara aku terlalu takut untuk membuka mata. Alhasil samar-samar aku hanya mengfokuskan diri pada pendengaran. Namun, indera yang lain malah lebih tajam dari sekadar pendengaran.
"Kita hampir sampai. Buka matamu," kata Brian.
Aku terbelalak saat melihat sesuatu yang indah di hadapanku. Pepohonan ada di semua sisi. Kami masuk lebih dalam ke hutan yang dipenuhi rerumputan liar sekaligus melihat bagaimana burung-burung itu berlenggak lenggok.
"Aku menemukan tempat ini empat tahun yang lalu. Tepat di hari kedua kepulanganku dari Australia. Dua bulan setelah Clarisa lahir. Kamu ingin tahu kenapa aku bisa di sini?"
"Apa?"
"Mengacaukan hidupku sendiri."
"Apa maksudmu, Brian?"
"Jangan salah paham dulu. Bukan 'mengacau' yang sebenarnya, Sayang. Aku hanya menenangkan diri."
Brian turun. Ia meraih tangan ini dan membawaku padanya.
"Hari itu, setelah dia meninggal. Kupikir aku bisa menemuimu. Meminta maaf dan memulainya lagi dari awal. Tapi aku tidak bisa, Cherìe. Kamu ingin tahu alasan terbesarku pernah mengatakan 'kamu akan menyesal' jika menerima perjodohan itu?"
Tidak. Aku tidak tahu.
"Selain karena rasa bersalah. Aku merasa tidak pantas menjadikanmu milikku. Setelah apa yang pernah kukatakan dan apa yang sudah terjadi denganku."
Brian membelai kedua sisi wajahku dengan kedua tangannya. Dia kembali bercerita tentang ketakutan terbesarnya selain penyesalan yang ia alami. Dia takut. Jika aku merasa jijik setelah kenyataan bahwa dia sudah memiliki seorang putri hasil dari kebebasannya.
"Selama empat tahun itulah, aku memperhatikanmu dari jauh. Berharap suatu hari nanti bisa berdiri di hadapanmu. Aku hanya tidak ingin kamu terluka."
Setelah Brian melepaskan tali kekang Troya, ia membawaku menjauh ke semak-semak belukar. Aku sempat berpikir, apa tidak apa meninggalkan kuda cokelat itu tanpa mengikatnya.
"Aku menantikan hari-hari seperti ini," gumamnya.
♡
Bersambung
PERFECT (Brian & Azlea)