
Hari mulai sore saat suara dering smartphone milik Ravi mengintrupsinya sejenak. Dia terlihat sibuk sedangkan aku menyandarkan tubuh ke sofa sesaat setelah berhasil memisahkan dua orang beda generasi beradu klitikan.
Hanya saja, aku dibuat jengkel saat melihat benda pipih tergeletak di meja. Aku mendengkus kesal. Brian sialan! Dia benar-benar melakukannya. Dia tahu kalau aku punya ego yang tinggi. Tidak mungkin menghubunginya. Tidak akan!
"Aku harus pulang," ungkap Ravi.
"Ya udah."
"Aku mau pulang, Lea."
"Ya udah. Pulang sana! Siapa suruh milih ke sini dulu daripada ke rumah sendiri. Sekarang kena omel Tante Resna kan?"
"Diusir, nih?"
"Ya!"
Capek juga menjadi wasit di antara Ravi dan Clarisa. Kalau saja Mama dan Papa mau bantu. Sayangnya, mereka lebih memilih berkutat dengan pekerjaan rumah masing-masing.
"Beneran? Kamu nggak mau aku tinggal di sini lebih lama gitu?"
"Nggak. Udah pergi sana. Aku capek dari tadi cuma ngurusin perkelahianmu dengan Clarisa. Dia anak-anak, dan kamu udah segede gajah masih aja kek anak kukang," omelku.
Ravi terkekeh mendengar omelanku. "Yang penting banyak yang suka."
"Dih. Pede banget."
"Pria ganteng kek aku itu harus pede, Lea. Kalau nggak, apa kata dunia coba?"
"Heleh. Ngakunya ganteng tapi masih jomlo gitu kok bangga. Apa kata nyamuk-nyamuk coba?"
Ravi mendengkus. "Kamu tuh nggak ada manis-manis ya jadi perempuan."
"Karena aku bukan Le Mineral yang lagi nongol di tv."
"Ya, ya. Aku pulang. Kalau kangen jangan dipendam. Ngomong sama aku."
"Ogah banget."
Ravi hanya terkekeh lagi sebelum berpamitan dengan semua orang. Termasuk pada musuh barunya, Clarisa.
Setelah berpikir lama akhirnya Ravi memutuskan untuk pulang dalam artian sebenarnya. Ibunya mengomel tidak jelas. Ya iyalah! Rumahnya mana dan orangtuanya siap, eh! Dia malah minta pulang ke rumah ini dulu. Salahnya sendiri.
"Oke, Bayi Kukang. Aku pulang."
Bibirku langsung merengut sebal saat dia menyebut bayi kukang. Semoga dia kena jewer seperti yang aku ingat dulu. Itu pasti. Lalu Tante Resna akan menatap dia jengkel. Aku membayangkan beberapa hal yang akan Ravi sesali seumur hidupnya.
Paling dia diusir dari rumah. Terus jadi gelandangan di bawah kolong jembatan. Atau dia dikurung di kamar selama seminggu. Menurutku, opsi terakhir itu yang akan Tante Resna pilih.
Setelah kepergian Ravi aku mendesah panjang. Melihat tragedi perseteruan antara dia dengan Clarisa membuatku hampir kesal setengah mati beberapa jam terakhir.
Tapi tadi itu sangat menyenangkan untuk dilewatkan begitu saja.
Dia memang menunjukkan tampang tidak suka, dari menyubit pipi Clarisa gemas setelah berpamitan dengan yang lain. Sedangkan aku hanya diam dan berharap, semoga Ravi segera pergi. Aku tidak tahan jika keduanya harus berlama di rumah ini. Soalnya, harus ada yang menjauh dan, Clarisa bukan pilihan yang tepat jika Ravi--yang lebih dewasa itu pilihan yang benar untuh mengalah.
Kalau tidak, ruang keluaga akan berantakan. Persis seperti habis kena tanah longsor.
"Mama sakit," adu Clarisa. Dia menunjuk pipi sebelah kanan yang agak memerah.
Aku menarik Clarisa lebih dekat. Ravi tidak membenci Clarisa, dia hanya gemas sendiri dengan bocah satu ini.
"Udah. Jangan nangis. Nanti hidungnya pesek gimana?"
"Mama kek Tante, seling bilang kalau hidung Clalisa pesek."
"Bagus dong."
Bukannya marah, Clarisa malah tertawa. Sebelum perkataan selanjutnya membuatku sedikit kecewa.
"Kalau kata Ibu, Clalisa punya hidung mancung sepelti Ibu."
Clarisa langsung menutup hidungnya dengan kedua tangannya. Dia menggelengkan kepala sambil bergumam kalau hidungnya mancung.
"Ibu?"
Clarisa mengangguk dan ia langsung menceritakan banyak hal tentang sosok 'ibu' yang sangat ia banggakan. Apa wanita itu benar-benar sesayang itu? Astaga. Apa yang sudah merasuki otakmu, Azlea. Mana mungkin aku cemburu dengannya. Jelas-jelas dia ibunya. Di mana pun anak akan tetap lebih sayang dengannya.
♡
"Ibu suka masak, nasi golengnya paling enaaak sekali, Ma! Clalisa juga suka saat Ibu membacakan celita sebelum tidul."
Entah kenapa, aku merasa begitu kesal. Perasaan apa ini? Mana mungkin aku cemburu dengan kedekatan mereka? Itu wajar, Azlea. Wajar. Mereka anak dan ibu. Sedangkan kamu?
Aku hanya akan menjadi ibu sambung yang kedudukannya di bawah ibu kandungnya. Jelas aku tahu ini akan terjadi. Namun, kenapa aku sesedih ini sekarang?
Seperti ada sisi posesif yang ingin--hanya aku yang pantas menjadi ibunya. Ya Tuhan? Ini menyebalkan.
Rasanya campur aduk. Meski ada sedikit kekecewaaan kalau Clarisa begitu bahagia saat menceritakan sosok Ibunya.
"Ceritakan padaku, Sayang, apa yang Pamanmu bisikan sampai kamu bertingkah seperti tadi?"
Aku mengalihkan pembicaraan. Ya, ya. Cara itu lebih baik daripada harus mendengarkan setiap kata yang Clarisa ucapkan.
Tentu aku merasa rendah diri. Jangankan masak nasi goreng, masak air saja pernah sampai gosong. Aku tidak jago-jago amat kalau urusan dapur.
Pembicaraan tentang ibunya hanya akan membuatku sedikit melenceng jauh. Ya kan?
"Paman?" tanya Clarisa.
Aku mengangguk.
Pasti Kak Dimas habis mengatakan sesuatu yang aneh sampai Clarisa bertingkah over padaku. Melihat Clarisa marah, membuatku membayangkan sosok Brian. Membayangkan seperti apa dia saat marah karena cemburu?
"Clalisa udah janji sama Paman," jawab Clarisa membuyarkan lamunan.
"Janji?"
"Itu lahasia kami beldua. Jadi, Mama nggak boleh tahu."
Oke. Aku tidak bisa memaksanya untuk menjawab. Lagi pula dia sudah tenang sekarang. Bahkan Mama dan Attala ikut nimbrung di ruang tamu. Mereka duduk dan mengajak Clarisa bermain sebentar. Sedangkan Papa, keknya sibuk kerja di kamar. Entah.
"Ngelamunin apa, Lea?" tegur Mama.
"Bukan apa-apa, Ma."
Attala memberikan Clarisa beberapa balon, dan anak itu terlihat sangat antusias saat Attala meniup balon sebesar semangka. Wajah Clarisa begitu menggemaskan. Mata bulatnya terbelalak saat Attala tidak sengaja membuat balon berwarna merah miliknya meletus. Dia langsung tersentak kaget.
"Muehehehe. Dia kaget, Kak Lea," tunjuk Attala padaku.
Kemudian gelak tawa menggema di rumah ini. Baik tawa Attala atau pun Clarisa. Bahkan Mama pun bergabung bersama mereka untuk meniup balon dengan warna yang berbeda.
"Kakek juga ikutan dong!"
Astaga! Papa. Mereka begitu kompak sekali kalau urusan kek gitu. Baiklah! Pada akhirnya aku pun bergabung membentuk lingkaran di atas karpet berbulu abu-abu. Masing-masing memegang balon. Namun, aku tahu Clarisa tidak bisa meniupnya.
"Sini Mama bantu," pintaku padanya.
Clarisa langsung berdiri dan aku menunjuk lewat mata agar ia duduk di sana--sofa. Sedangkan aku di bawah.
"Pegang ini dan--"
Bunyi notifikasi WhatsApp menghentikanku sejenak. "Bentar ya, ada WA. Mama mau lihat dulu dari siapa."
Kalau seandainya itu pesan aneh dari Dina atau Vinda, bisa dipastikan aku bakal memarahi mereka habis-habisan nanti. Pernah aku dibuat kaget, saat tautan aneh masuk, dan isinya hanya tentang bagaimana menjadi istri idaman untuk suami.
Juga gambar tidak jelas yang memperlihatkan sisi keseksiannya.
Tapi tunggu? Ini bukan Vinda atau Dina. Melainkan Tuan Sombong? Brian. Dia mengirim sebuah foto roti sobek--opss! Aku menutup mulut dengan cepat sebelum sebuah kata meluncur begitu saja.
Crazy!
Attala dan Clarisa memperhatikanku sejak tadi. Mereka dengan kompak diam sambil memegang balon dengan kedua tangannya.
Sesekali Attala menyipitkan mata seolah mengatakan 'kakak bersikap aneh'.
Sial. Ini semua karena Brian. Buat apa dia mengirim foto model begituan? Atau jangan-jangan dia mau aku merasa terpukau dengannya? Pasti ceritanya mau pamer roti sobek.
Aigoo! Kalau boleh jujur Captain America bakal kalah.
[Kudengar Clarisa bersamamu.]
[Ya. Dia bersamaku sekarang.] Tahan, Azlea. Tahan.
[Aku lagi mau mandi.]
Terus! Aku harus ngapain, Brian?! Salto? Mau mandi pakai acara bilang-bilang segala.
"Siapa, Kak?" Attala mencoba melirik, dan aku langsung menjauhkan smartphone darinya.
"Kepo!
"Dih! Pasti Kak Brian," tebak Attala.
Aku kembali pada chat dari Brian dan mengabaikan semua orang untuk sejenak.
[Terus?] balasku.
[Siapa tahu mau ikutan.]
[Dih! Ogah. Kejauhan keles!] Dasar.
Dia di Jepang, Man! Ya kali hidup itu semudah film Harry Potter dalam satu kali teleportasi langsung sampai di tempat tujuan.
[Oke. Aku screenshot chat ini.]
Maksudnya?
Tunggu. Aku membaca ulang isi chat dan terbelalak. Asem! Bagaimana bisa aku membalas chatnya tanpa berpikir panjang.
[Satu hari lagi.]
Brian kembali mengirim chat. Tidak. Aku tidak mau membalasnya. Ini memalukan. Akan tetapi, sebuah chat terakhir darinya membuatku mengaga dengan sangat tidak elit.
[Satu hari lagi kamu bakal mandi denganku. Catat.]
Percaya diri sekali.
Hampir aku mematikan smartphone. Akan tetapi satu notifikasi mengurungkan niatan itu. Kupikir Brian sudah selesai ternyata dia masih mengirimiku satu pesan lagi.
[Jangan berani selingkuh dariku.]
What the hell? Selingkuh? Sejak kapan Brian jadi seperti itu? Aha. Mungkin dia rindu berat jadi dia mulai menunjukkan sifat yang sebenarnya. Mungkin.
Memang susah menolah pesona Azlea Maheswari. Aku harus berbangga diri dong.
Dengan sengaja membalas Brian sambil tersenyum misterius. Padahal membayangkan apa yang akan dia pikirkan setelah membaca pesan itu.
[Selingkuh? Keknya itu tawaran yang sangat menggiurkan.] Terkirim. Hahaha. Rasain.
"Mama. Ini gimana niupnya. Clalisa belum bisa?"
"Di cium, Sayang."
Eh!
Brian brekele! Buat apa dia pakai acara ngirim foto hampir bertelanjang kek gitu coba? Sial. Sepertinya otak ini sudah terkontaminasi dengan kemesuman Brian satu dari tingkat paling dasar.
"Apanya yang dicium? Balonnya?" tanya Attala mewakili Clarisa.
Namun, sebelum aku menjawab Attala lebih dulu angat bicara. Ah! Tidak. Lebih tepatnya dia seperti emak-emak kompleks.
"Kakak tuh kalo ngomong disaring dulu. Kalo balon sekecil ini di cium langsung buncit kek cewek lagi bunting. Itu simsalabim namanya."
"Aku tahu Atta--"
"Di tambah, Kakak ngomongnya sama Clarisa yang masih berusia empat tahun. Apa kata Iron Man coba? Kalau putrinya disuruh nyium balon? Harusnya itu ditiup, Kak. Ditiup."
Kenapa bawa-bawa Morgan Stark coba? Nggak nyambung tuh anak.
"Banyak ngomong kamu, Attala."
"Daripada calonnya Kakak. Kek patung hidup. Atau boleh aku sebut kulkas berjalan. Aku yakin, jika berlama-lama sama tuh kutub utara, Kakak bakal jadi asinan beku."
"Rasanya aku ingin melempar mulutmu dengan bantal ini, Attala."
Aku sudah mengambil bantal sofa dan bersiap melemparkannya pada Attala, dia langsung berlindung pada Mama dan Papa.
Dasar anak Mama!
"Jangan bermain curang, Attala. Kamu pikir aku bakal diam saat kamu nyerocos plus nyablak sesuka dengkulmu, huh?!"
Mama langsung bangkit dan menjadi penengah antara kami.
Sedangkan Papa hanya diam saja, tapi ikut bergabung duduk di sofa dan lebih memilih bermain bersama Clarisa.
"Saat hamil Kakak dulu, Mama tuh ngidam apaan, sih? Kok aku punya Kakak yang super duper galak kek Thanos," tanya Attala pada Mama.
Mama malah mengerucutkan bibir persis seperti donald duck di kartun Mickey Mouse. Yah, kurang lebih seperti itulah.
"Kalian tuh sama-sama bikin Mama nggak bisa ngapa-ngapain. Nyusahin banget saat masih di perut Mama. Terutama kamu, Attala," tunjuk Mama dengan dagu.
Sementara aku mengejek Attala dengan sengaja. Papa-lah yang jadi pelindungnya saat aku ingin menyubit lengannya.
"Ada Clarisa, Lea. Papa nggak mau nanti dia pikir kamu kek monster di film superhero ultraman yang sering Attala tonton. Kamu nggak malu?"
Ini semua gara-gara kiriman foto Brian. Dia jelas yang pantas untuk dijadikan kambing hitam di sini. Namun, mana mungkin aku mengatakan hal itu pada mereka semua.
Kalau baru saja Brian mengirimiku sebuah gambar roti sobeknya? Mau ditaruh di mana ini muka, huh? Tidak. Aku tidak akan mengatakan apa-apa. Tetap simpan rapat-rapat kejadian ini dalam diam.
"Kadang Mama juga heran kok bisa-bisanya hobi banget ngejar tikus saat kamu masih berumur empat bulan dalam kandungan, Attala. Mama makin heran lagi, saat hamil kakakmu. Mama suka banget bikin Papamu ogah-ogahan."
Attala langsung menggelengkan kepala tidak percaya. Sedangkan aku terkekeh pelan.
"Kalau aku ngejar tikus. Masa Kak Lea cuma ngidam gitu doang." Attala mencibir kesal.
"Tapi bukan ngidam biasa. Kakakmu itu suka bikin Papa jantungan. Salah satunya Mama ngidamnya mau ketemu sama mantan Mama dulu. Dia jelas lebih ganteng dari Papa."
Mama kembali berbicara betapa menyusahkan kami dulu. Belum lahir sudah buat Mama dan Papa ngelus dada saking anehnya.
"Yang terpenting sekarang. Mama sayang kalian."
"Tapi, dulu saat masih di dalam perut diajak ngomong. Giliran udah lahir diomelin." Aku bergumam sambil meraih tangan Clarisa.
Dia sudah tertidur pulas. Benar-benar tepar di atas sofa. Seperti pesan Kak Dimas. Clarisa akan tidur bersamaku malam ini.
"Aku tidur dulu."
♡
Bersambung