
Aku kembali bermimpi tentang masa kecil. Di mana semua orang tua duduk dan mengobrol sementara anak-anak mereka berkeliaran di hamparan rumput hijau.
Di sana. Di balik pohon besar, gadis yang mirip sepertiku tengah mengintip. Siapa?
Entahlah. Namun, saat aku melangkah lebih dekat untuk melihatnya sendiri. Sebuah suara dan tepukan lembut serasa seperti alunan pengantar tidur malam itu, membangunkanku seketika.
"Azlea. Kita sudah sampai, Sayang."
Bahkan aku bisa mendengar suara bisikan dari samping kiri. Siapa? Akan tetapi, aku terlalu malas untuk membuka mata dan mencari tahu siapa pemilik suara itu. Lagi pula aku masih mengantuk dan juga lelah. Rasanya seperti mau patah di semua persendian. Oh! Seandainya aku bisa bermimpi indah bertemu Oppa Lee Min Ho. Aku akan lebih memilih tetap terlelap sampai nanti pagi. Kapan kita bisa bertatap muka selain dari layar laptop?
"Sepertinya Nyonya Azlea kecapean, Tuan. Lebih baik beliau langsung digendong atau bagaimana?"
"Ambil semua barang kami dan masukkan ke dalam bagasi. Biar saya yang membawa istri saya ke mobil."
"Oke, siap Tuan."
"Oh ya, Pak Gede. Jangan lupa siapkan apa yang udah saya minta di Villa nanti."
"Sudah kami siapkan."
"Hm."
Aduh! Kenapa berisik sekali, sih. Tunggu! Kenapa tiba-tiba tubuhku melayang? Aku menggeliat dan sedikit membuka mata. Namun, sebuah tepukan pelan semakin membelaiku ke alam mimpi lagi.
"Masih terlalu pagi buatmu bangun, Cherìe."
Sebelum aku kembali pada alam bawah sadar alias bermimpi, lengan kokoh melingkari tubuhku. Rasa hangat ini seperti selimut yang mampu membuatku melayang. Aneh. Apakah aku tengah bermimpi bertemu dengan seorang malaikat?
♡
Aroma petrikor di bulan Januari menguar membuatku lebih bermalas-malasan. Menarik selimut dan menenggelamkan diri ke dalam sambil mendesah lega. Akan tetapi, ada yang aneh di saat aku mencium bau dupa.
Ketika membuka mata. Terkejut bukan main.
"Duh! Jam berapa sekarang? Dan, aku ada di mana ini?"
Aku gelimpungan di atas ranjang king size dengan empat tiang berkelambu penuh lace bermotif unik. Kainnya menjuntai ke bawah layaknya tempat tidur ala film kolosal dari China yang pernah kutonton. Bedanya kelambu berwarna putih gading ini terasa lembut saat di sentuh. Punya ciri khas tersendiri.
"Terus. Brian ke mana? Dia kok nggak ada. Jadi siapa yang sudah membawaku ke sini? Bukan Brian yang menggendongku, kan?"
Aku terus mengomel dan mengingat-ingat sekali lagi. Sayangnya ingatakanku begitu buruk.
Apa jangan-jangan memang Brian? Ya Tuhan! Kemarin sebelum berangkat ke gedung pernikahan aku sudah cek berat badan. Hasilnya? Turun. Semoga saja nanti Brian tidak mengatakan apa-apa.
Tunggu. Kenapa aku malah menghawatirkan masalah itu. Yang paling penting sekarang adalah siap yang sudah mengganti pakaianku?
"Tidak apa, Azlea. Lagi pula aku ini istrinya. Nggak perlu segugup ini," sugestiku.
Tidak, tidak. Tetap saja. Kalau benar Brian yang melakukannya?
Dengan cepat aku melempar selimut putih dari tubuh ini. Namun terkejut saat suara pintu terbuka dan munculah Brian. Ia mengenakan kaos abu-abu tipis. Membuatku diam-diam meringis karena malu sendiri. Lihat roti sobeknya itu. Apakah dia sengaja melakukannya?
"Pagi, Cherìe," sapa Brian.
Dia berjalan sambil membawa dua gelas mug berwarna putih gading. Aroma teh tercium oleh indera penciuman saat Brian meletakkan kedua mug ke atas meja yang berjarak dua meter dari ranjang.
Rasa dingin menjalar dari telapak kaki saat aku turun sebelum Brian bertindak dari sekadar membangunkanku. Jangan tanyakan kenapa? Ingatkan aku untuk membuat jarak. Takutnya Brian bertindak seperti semalam.
Aku belum siap.
"Pagi. Jam berapa sekarang?"
Brian melihat sejenak pada jam di tangannya. "Jam lima pagi."
Sekarang apa? Bingung.
"Teh," tawarnya.
Brian memintaku untuk duduk di dekatnya. Bukan. Dia memintaku untuk duduk pangkuannya.
"Aku mau ke kamar mandi--"
"Nggak perlu."
Aku gugup saat Brian menarik tubuh ini mendekat. Mendudukanku di atas pahanya. Menyandarkan tubuh mungilku ke dada bidangnya dengan sengaja. Sama-samar aku bisa merasakan bagaimana Brian tersenyum melihat gelagat aneh dari gesture yang kutunjukkan.
"Jangan gugup, Cherìe."
"Aku hanya berpikir ini agak berlebihan, Brian."
"Apanya? Aku melakukannya pada istriku sendiri. Bukan orang lain. Ini wajar."
Wajar. Itu benar!
"Tapi--"
"Tidak ada tapi-tapian."
"Bukan itu. Maksudku--"
"Kamu tahu apa yang paling disukai seorang suami terhadap istrinya?"
Aku tidak berani menjawab pertanyaannya.
"Sikap pembangkang dan keras kepala. Dan kamu punya itu."
Pembangkang? Dia menyebutku pembangkang. Kalau keras kepala ya, aku mengekuinya.
"Aku suka caramu marah, mengomel dan memberontak. Kamu ingin tahu alasannya?"
"Tidak. Aku tidak mau. Untuk apa?"
Sial. Aku langsung memalingkan muka saat Brian tersenyum saat dia sadar aku memperhatikan dirinya. Atau lebih tepatnya roti sobeknya.
"Yakin?"
"Nggak."
"Pernah aku mengatakan kenapa aku mencintaimu?"
Dengan ragu aku menjawab. "Be-lum pernah."
"Karena Azlea yang kukenal adalah gadis keras kepala. Alasan itulah yang membuatku terjebak sekarang. Tidak peduli bagaimana aku ingin marah dan memukuli semua pria yang berani mendekatimu. Aku bukan orang yang lapang, Cherìe. Aku egois untuk sesuatu yang sudah kuanggap penting."
Pipi ini bersemu. Ya ampun! Bagaimana ini? Kenapa jadi panas sekali. Aku butuh air dingin!
"Azlea--"
Ya Tuhan! Aku bisa kena diabet gara-gara dia. Kenapa sekarang Brian jadi pria penuh dengan madu. Bukan racun seperti dulu. Punya mulut pedas yang suka menyudutkan orang. Suka menyanjung setelah itu dihempas olehnya. Kenapa dengan mudahnya ia berubah?
♡
Next part 33