PERFECT (Brian & Azlea)

PERFECT (Brian & Azlea)
part 3




Sekitar jam 7 malam aku sudah datang ke kafe Blaster. Duduk dan menikmati angin malam dengan harapan dapat menenangkan pikiran. Entah kenapa wajah Brian malah terus menghantuiku. Aku bertanya-tanya apa alasannya mengatakan bahwa aku harus menolak perjodohan itu.


Tentu dia tidak menyukaimu, Azlea. Itu poin pertama. Kedua, dia sudah memiliki orang yang dia cintai. Mungkin.


Aku merasa lega. Jika pada akhirnya kami--setidaknya Brian dengan terang-terangan menolak perjodohan ini. Itu artinya aku punya alasan untuk menolaknya juga.


Sayangnya, tidak semudah yang aku bayangkan. Aku malah mendapatkan sebuah pesan dari Papa, bersamaan dengan seruan penuh energik dari Joya. Dia meletakkan sebuah gitar ke atas meja lalu tersenyum saat aku duduk dengan satu gelas es teh manis yang tinggal sedikit. Aku membuka dan membaca pesan Papa dalam hati. Isinya soal makan malam berdua. Aku dan dia. Brian! Ya Tuhan. Really?


[Sekarang, Pa?] Balasku.


[Sekarang, Sayang. Masa tahun depan.]


[Aku ada acara lain sama teman-teman, Pa.]


[Pokoknya kamu harus datang, Sayang.]


Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aduh! Bertemu pria itu lagi? Apa yang harus aku katakan setelah tiba di sana? Apa aku diam saja?


"Ada apa, Lea? Kamu kek lagi banyak pikiran gitu. Ada masalah?" tanya Joya.


"Nggak ada apa-apa. Aku hanya lagi malas."


Tidak mungkin bercerita pada cowok itu. Percuma. Lagi pula Joya hanya bergumam 'oh' lalu duduk dan membuka beberapa menu tanpa tahu apa yang aku pikirkan. Dia jelas sibuk dengan makanan.


Aku masih berpikir akan memutuskam datang atau tidak. Berpura-pura duduk santai dan menunggu yang lainnya datang. Meski pada kenyataannya aku tidak bisa lagi berpura-pura. Karena Papa terus menerorku tanpa henti.


"Tahu tidak? Kali ini Andre bakal datang," ungkap Joya.


"Andre?"


Joya mengangguk, "Kamu 'kan tahu bagaimana dia. Aku berani bertaruh jika dia masih menyukaimu."


"Berhenti mengatakan hal itu lagi, Jo. Atau aku akan memukulmu."


"Oke, oke. Jangan galak-galak. Aku cuma ngomong gitu doang."


Dering telepon langsung menjadi perhatianku. Pasti Papa lagi.


"Kenapa nggak diangkat?"


"Papa."


"Ya, angkat dong. Nggak baik kek gitu."


Aku memutar mata dengan malas.


"Loh, mau ke mana?" tanyanya.


"Sepertinya ini hari paling melelahkan. Sorry Jo, aku harus pergi sekarang. Soalnya ada janji mendadak."


"Janji? Dengan siapa?"


"Kepo," cibirku.


"Gebetan baru?"


"Idih. Sejak kapan pamor Azlea jadi kek gitu."


"Kali aja. Kamu udah dapat cowok yang pas dan sekarang lagi masa pendekatan gitu."


"Sotoy kamu."


"Cuma nebak-nebak doang. Siapa tahu benar."


"Pokoknya aku harus cepat-cepat pergi. Kalau nggak, Papa bakal marah. Bye, Joya."


Aku sungguh merasa bersalah padanya, dan tentu yang lain juga. Mau bagaimana lagi. Dari pada Papa terus menerorku setiap menit. Akhirnya aku berpamitan bertepatan dengan datangnya beberapa teman dari satu angkatan.


"Loh, mau ke mana, Lea? Kok udah mau pulang aja."


"Aku ada janji mendadak dengan seseorang. Sorry ya, Din. Sepertinya aku nggak bisa ikut acara kumpul-kumpul seperti biasanya."


Seharusnya malam ini aku bisa berkumpul dengan mereka. Akan tetapi, aku tidak bisa mengabaikan pesan dan telepon Papa untuk yang kesekian kali. Papa jelas tahu titik terlemahku dan menggunakan kesempatan itu untuk malam ini. Dengan malas aku memesan ojek online tinggal menunggu sampai beberapa menit.



Oke. Sekarang tujuanku adalah restoran bergaya klasik Eropa yang terletak di Jalan Pemuda no 06, di mana Brian sudah duduk bersama gadis kecil yang menggemaskan sambil sesekali memainkan makanannya. Saat aku tiba di sana, seorang pelayan datang dan mengantarkanku ke dalam dengan sopan.


Bisa kulihat, Brian mengenakan setelan kemeja hitam serta dasi yang senada. Melihatnya malam ini, membuat penilaianku sedikit melucu, dia seperti mendatangi acara pemakaman daripada acara makan malam dengam seorang gadis. Tidak sesuai sama sekali. Atau memang itulah gayanya.


Seakan memberiku kesan menyeramkan? Dia memang sengaja melakukan itu. Terlebih ada putrinya. Apa tebakanku benar? Entah.


Apa dia berpikir aku pantas mendapatkan hal seperti itu? Walau pun tidak ada daftar dalam agenda hidupku yang biasa-biasa saja ini. Akan ada seorang pria yang memperlakukanku layaknya gadis terhormat. Menjadikanku seorang gadis paling beruntung. Setidaknya dianggap olehnya.


Sedangkan dia tetap tak acuh bahkan setelah aku duduk tepat di depannya.


Eksistensiku malah teralihkan pada putrinya. Setidaknya dia lebih baik daripada Papanya yang kaku. Gadis itu mengenakan dress merah bergaris dengan bando lucu berwarna merah polkadot. Sesekali aku tersenyum simpul saat dia mengalihkan perhatiannya pada makanan dan lebih memilih untuk melihatku.


"Hai cantik," sapaku.


Dia langsung tersenyum. Aku bersyukur Brian membawa putrinya. Setidaknya aku tidak akan mati kutu di hadapannya. Berusaha membuka topik pembicaraan yang isinya hanya bermonoton ria. Di mana akulah orang yang akan menahan malu saat dia tetap diam ketika aku bertanya. Itu akan menjadi kejadian yang paling mengesalkan.


"Jangan berlagak ramah," cetus Brian dingin dengan wajah datar. Nah 'kan! Apa aku bilang. Belum apa-apa dia sudah seperti ibu-ibu kompleks.


"Nggak usah sesinis itu!"


Aku langsung membalas tatapannya tidak kalah dingin dan datar. Pria di hadapanku ini jelas menunjukkan ketidaksukaannya sekarang. Oh! Genius, Man. Dia pikir aku akan terisak karena perbuatannya? Lalu pergi begitu saja? Paling tidak tersingung karena ulahnya? Enak saja! Akan kubuat dia berpikir kalau aku bukanlah gadis seperti itu.


"Aku baru tahu caramu merayu Clarisa dengan senyuman," katanya sekali lagi.


"Oh ya?"


Dia hanya diam. Sudah jelas dia mengabaikanku dan lebih memandang Clarisa yang tengah mengunyah makanan. Clarisa ya? Nama yang cantik.


"Kurasa, seperti inilah caramu membuat wanita yang duduk di kursi yang sama dengan dirimu menyerah. Dengan adanya Clarisa," cetusku pelan.


"Aku punya cara sendiri agar mereka menyerah tanpa membawa Clarisa."


"Tapi kali ini kamu menggunakan Clarisa," balasku tidak mau kalah, "aku benar, 'kan?"


Aku mengangkat tangan memberi kode pada pelayan, sambil tersenyum manis pada Brian sebelum seorang pelayan datang menawarkan beberapa menu terbaik. Dia tidak akan mudah mengacuhkanku.


Tidak dengan caranya yang menyebalkan.


"Oh! Tenang saja, Tuan Sombong. Tidak ada niatan sama sekali untuk merayu putrimu agar menarik perhatianmu. Setidaknya dia lebih menarik daripada Papanya. Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak."


Dahinya berkerut. Aku tahu dia tidak suka dengan perkataanku. Tujuanku hanya satu, supaya dia mengerti. Bahwa tidak semua yang terlontar dari mulut orang asing sepertiku punya niatan buruk. Terutama pada putrinya.


"Tante."


"Ya, Sayang?"


Eh! Ya ampun. Kenapa kamu memanggil Clarisa dengan sebutan Sayang, Azlea?! Duh. Ini semua karena kebiasan Papa saat memanggilku seperti itu jadi, secara spontan mengatakan hal yang sama. Aku langsung membungkam bibirku saat Brian melihat. Taruh otakmu di dengkul, Azlea. Kamu malu-maluin!


"Tante cantik seperti Plincess Aulola."


"Benarkah?"


Clarisa mengangguk penuh antusias, tidak lupa memberi senyuman manis. Seandainya Attala itu perempuan. Pasti dia akan seimut Clarisa saat masih kecil.


"Tante senang mendengarnya. Soalnya Papa dan Mama Tante tidak pernah bilang kalau aku ini cantik."


"Telus?"


"Mereka selalu bilang kalau aku jelek. Dan mereka juga sering marah-marah nggak jelas," balasku dengan nada dibuat dramatis.


"Kamu memang jelek," celetuk Brian tiba-tiba. Aku merengut kesal.


"Aku yakin kamu pasti katarak. Cantik kek gini dibilang jelek. Ariel Tatum aja pasti nganan kalau lihat Azlea Maheswari," balasku dengan pongah.


Masa bodoh kalau dia ilfeel. Masa iya dibilang jelek bakal diam saja? Aiss.


"Papa juga seling gitu sama Clalisa. Kata Papa, Clalisa jelek sepelti bulung hantu," celetuknya dengan suara cadel khas anak kecil.


Aku berpura-pura melotot dan Clarisa malah tertawa.


"Benarkah?"


Clarisa mengangguk antusias.


"Tante yakin Papamu pasti buta. Masa gadis kecil menggemaskan sepertimu dibilang jelek. Kamu dengar barusan, Sayang? Papamu juga bilang kalau aku jelek."


Jujur saja aku tidak setuju. Teganya mereka--para orangtua mengatakan hal itu pada putrinya sendiri.


"Tante."


"Ya?"


"Bolehkah," ucap Clarisa menggantung. Sekilas Clarisa memandang Brian--menatapnya penuh harap. Namun, sebelum pria itu angkat bicara aku langsung menyentuh ujung kepalanya dengan lembut.


"Ada apa? Bilang ke Tante, Sayang. Kamu mau makan sesuatu? Atau kebelet pipis?"


Clarisa tetap diam lalu melirik kami bergantian, "Aku suka Tante memanggilku, Sayang."


Brian langsung menarik tubuh mungil Clarisa dan mengatakan sesuatu dengan bahasa Jepang yang jelas tidak kumengerti. Aku langsung merengut kesal.


"Kalian dengan kompaknya membuatku seperti orang bodoh. Jangan gunakan bahasa planet lain, dong! Ini nggak adil namanya."


Clarisa malah tertawa sampai pipinya menenggelamkan kedua matanya. Rasanya aku ingin menyubit pipi itu dan menciuminya sampai dia meminta ampun.


Aku ikut tertawa setelahnya. Terhibur dengan keceriaan Clarisa. Dia benar-benar mampu mengeser ketakutanku dalam sekejap. Mampu menjauhkan ketidakinginan untuk mengenal lebih jauh sosok Brian.


"Bolehkah Clalisa memanggil Tante, Mama?"


"Clarisa!"


Aku dibuat kaget bukan karena permintaan Clarisa tapi, karena bentakan Brian pada putrinya. Bisa dipastikan Clarisa menangis dan baru kali ini aku melihat betapa takutnya Brian. Dia terus meminta maaf dan menenangkan Clarisa.


Karena ketidaktahuanku soal menenangkan bayi atau pun anak kecil seusia Clarisa, tanpa babibu aku langsung bangkit memukul pelan bahu Brian dan meminta lewat mata agar dia melepaskan lengannya dari Clarisa. Secara spontan saja. Lagi pula aku tidak tega melihatnya menangis.


"Hei, Sayang. Sudah jangan menangis," bisikku padanya.


Tidak lupa mengelus kepala dan punggung, lalu menggendongnya.


Lengan mungil Clarisa langsung memeluk leherku dengan erat, dan perlahan tangisannya mereda. Meski masih terdengar isakan kecil darinya.


"Kamu ini 'kan Papanya. Jangan galak-galak gitu, Brian. Lihat, dia sampai menangis. Kamu bisa ngomong baik-baik, bukan? Nggak perlu membentaknya," omelku.


"Berhenti mengomeliku."


"Kenapa? Kamu nggak suka sama perempuan yang suka mengomel? Syukurlah. Dengan begitu aku punya peluang untuk membuatmu merasa ilfeel."


"Cukup Azlea."


"Apa?"


"Dia putriku."


"Oh ya! Kalau kamu Papanya, harusnya tahu apa yang baik untuk dia. Nggak semua harus dengan bentakan."


"Kamu nggak ngerti."


"Apanya yang nggak aku ngerti?"


"Terus marahin Papa, Ma." Perkataan Clarisa langsung menghentikanku.


Tunggu. Ma ... itu maksudnya Mama? Dia barusan memanggilku begitu? Kiamat. Oh tidak! Maksudku, dia--gempa!


Brian? Dia menatapku dengan intens kali ini. Sedangkan aku seperti ikan yang kehabisan air. Malu dan di mana oksigen sekarang? Wajahku rasanya semakin memanas. Jangan sampai dia berpikir aku berusaha mengambil kesempatan untuk merayu.


"Jangan berpikir aku melakukan ini u--"


"Lakukan," potong Brian.


"Apa?"


"Lalukan apa yang Clarisa minta, Azlea."


Maksudnya memarahinya lagi. Begitu?


"Oke. Aku harus memarahi dia lagi?" tanyaku entah pada siapa. Clarisa mungkin.


Saat melirik Clarisa, dia mengangguk antusias. Brian? Lagi-lagi dia hanya diam sambil menunggu aksi apa yang akan aku lakukan. Ah! Ya. Aku tahu. Tidak mau kehilangan kesempatan terakhir aku langsung menginjak kaki Brian setelah mendudukan Clarisa di kursi.


"Mama hebat!"


"Hei. Aku bukan Mamamu," bisikku.


Kenapa sekarang malah jadi serumit ini? Seharusnya aku tidak membuka diri dan berusaha menyakinkan padanya kalau aku tidak sama dengan gadis yang dia kenal. Harusnya aku berpura-pura tidak peduli, dengan begitu dia akan yakin jika aku tidak cukup baik.


"Mama?"


Bahkan sekarang apa yang sudah kuperbuat? Sadar saat Clarisa terus memanggilku dengan sebutan mama.



Bersambung