
♡
"Attala! Mama belum selesai ngomongnya. Kamu jangan main kabur dulu!"
"Aku punya kerjaan penting, Ma!"
"Halah! Alasan."
Aku tidak dalam keadaan fokus untuk mengerti jalan cerita drama korea ini sekarang. Jika pikiran ini terus berlarian, tentang bagaimana hubungan kami selanjutnya. Mungkinkah kami akan selesai? Berakhir begitu saja?
Sedangkan di rumah, Mama dan Attala terlibat pertengkaran kecil yang selalu mengiringi hari. Kalau tidak memperebutkan kue bolu paling memarahi kelakuan Attala yang bandel seperti biasanya.
"Nonton apaan, sih Kak Lea? Sampai nangis kek gitu."
Attala mendekat dan melihat layar laptop yang masih menunjukkan drama korea yang belum rampung.
Menangis? Oh! Aku tidak sadar jika ada air mata yang jatuh di pipi. Dengan cepat aku menghapus air mata lalu bersikap galak seperti biasanya.
"Serah kakaklah, mau nangis, mau jungkir balik kek atau ketawa. Kok kamu rempong!"
"Aneh aja gitu. Ceritanya nggak lagi sedih kakak malah mewek. Kan lucu."
Kamu benar Attala. Aku lucu. Masa nangis cuma gara-gara nonton film action doang.
"Kakak kan cuma--"
"Aku tahu." Attala langsung memotong.
Wajah adikku ini lama kelamaan semakin dekat dan dekat. Kupikir aku sudah ketahuan ternyata tidak. Hufh! Syukurlah.
"Kak," panggilnya. Attala berjongkok dan memegang jemariku. Dia mau ngapain? Kok jadi geli gitu lihatnya?
"Bantuin aku ya? Please."
"Bantuin apaan? Tumben kamu minta bantuan ke kakak. Kek bukan kamu."
"Ini beda ceritanya. Darurat banget pokoknya."
Attala langsung bercerita. Kalau ia lagi suka sama cewek yang masih duduk di kelas 3 SMA. Namanya Naya Ershaleea, cewek yang punya kepribadian ceria yang konon katanya mirip denganku.
"Mirip kek kakak kalau gitu, hmm? Pasti suka ngomel," komentarku.
"Mana aku tahu!"
"Adikku yang jelek--"
"Tampan kek gini dibilang jelek. Kakak tuh jangan durhaka sama Tuhan yang udah ciptain adik kek aku."
"Mau dengar aku ngomong nggak?"
Dia hanya mengangguk sebagai respon atas pertanyaanku.
"Attala, mau cari cewek cantik kek apa pun kalau cuma dipacarin. Mending kagak usah. Buang waktu. Kecuali kalo kamu serius."
"Kak, please deh. Aku nggak lagi bercanda."
"Loh! Emang wajah kakakmu yang cantik ini lagi bercanda?"
Aku langsung menangkap reaksi bingung. Mungkin bingung mau cari alasan atau bingung pada keinginannya sendiri.
"Soalnya kakak takut kamu nyakitin dia, Attala. Sebenarnya aku nggak akan menentang kamu mau pacaran sama siapa. Tapi, kakak nggak mau kalau kamu cuma datang lalu pergi."
"Dih. Kakak dramatis banget."
Bukannya dia mengerti penjelasan dariku, anak itu malah nyelonong begitu saja.
Namun, sebelum tangan Attala sampai di depan pintu lalu menyentuh angsel. Suara bell dan juga ketukan terdengar.
"Permisi! Ada orang nggak? Hello."
"Delfina, jangan teriak-teriak kek gitu? Malu dengernya tau."
"Naya, Please deh. Kamu nggak tahu aja bagaimana tingkah Attala kalau dia datang ke rumah buat nemuin Abang-abang gue."
Seperti suaranya Delfina. Tanpa menunggu waktu lagi aku langsung bangkit dan mendekat.
"Kakak mau ngapain?"
"Buka pin--"
"Jangan!"
Huh?
"Pokoknya jangan."
"Emang kenapa? Itu Delfina sama temannya datang, Attala."
Aku jadi bingung. Kenapa Attala bisa gugup begitu? Memangnya Delfina datang dengan siapa, sih? Apa jangan-jangan ....
"Apa dia cewek yang namanya, Naya Ershaleaa," ujarku sambil mencuri alias mengintip di balik tirai jendela. Sembari menggoda Attala. Diam-diam aku tertawa jahat. Hahaha.
♡
Aku melirik Attala yang dari tadi cuma berdiri kaku. Apa Naya punya pesona yang luar biasa sampai Attala tidak berkedip sekali pun? Astaga! Dia sedang dalam masa hormon remaja atau bagaimana?
"Dia cantik," bisikku. Menghentikan banyangan-banyangan di otaknya dengan cepat. Supaya sadar, kalau dia sedang berkhayal.
"Siapa? Delfina?" Attala tertawa.
"Bukan. Tapi, Naya. Calon adik ipar kakak. Dia cantik."
"Kapan aku bilang bakal jadian sama dia?"
"Mana aku tahu! Kalau aku tahu, aku bakalan jauhin dia darimu. Mimpi apa si Naya sampai bisa disukai sama bocah macam kamu ini."
Dia langsung menggerutu tapi tidak marah-marah seperti biasanya.
"Mimpi apa, Kak Brian sampai bisa dijodohin sama kakak."
Sebenarnya aku ingin marah saat dia berkata demikian. Tapi tidak. Untuk apa aku harus marah?
"Kak Brian udah relain jam kerjanya buat datang ke rumah tanpa memberitahumu, Kak. Kemudian dia terus menelponku dua jam sekali hanya untuk bertanya bagaimana keadaan kakak yang lagi marahan sama dia."
"Atta--"
"Kakak nggak lihat bagaimana Kak Brian melihatmu?"
"Sudah cukup Attala. Aku tidak mau dengar apa pun tentang dia hari ini."
Dada ini rasanya sakit. Sakit sekali. Aku tidak tahu harus melakukan apa? Seandainya Brian mau bercerita padaku sebelum semua ini di mulai. Pasti aku tidak akan terluka seperti sekarang.
"Kakak mencintainya."
Aku menggelengkan kepala menolak untuk percaya dengan pernyataan Attala.
Cinta?
♡
Bersambung
Makasih udah baca sampai di part ini. Jangan lupa komen. Karena komen adalah ide.
Tanpa komentar hidup itu nggak semenarik Indomie. 🤣
See you next part, guys.