
Brian bilang, aku adalah gadis keras kepala yang pernah membuatnya merasa bersalah. Maksudnya apa?
♡
"Dia tidak mengatakan hal yang aneh 'kan?" tanyaku pada Joya.
"Kamu kok tahu?"
"Memangnya dia mengatakan apa padamu?"
Joya langsung berbisik padaku.
"Awalnya baik-baik saja. Setelah aku bercerita banyak yang menjawab bukan kamu, Lea. Aku kaget setengah mati dan berpikir kalau hp-mu hilang."
"Terus?"
"Sampai dia menjawab pertanyaanku. Katanya dia suamimu."
"Apa! Kamu yakin?"
Joya mengangguk bingung.
"Dia siapamu? Kok dia yang megang hp-mu? Aneh."
"Bukan siapa-siapa," balasku.
"Pasti gebetanmu. Ya 'kan? Yang aku tahu, sebagian besar cewek model kek kamu tuh selalu berbohong saat menjawab dengan kata 'baik-baik saja' dan bukan siapa-siapa' atau 'tidak terjadi apa-apa'. Jangan bohong, Azlea. Aku nggak salah 'kan?"
"Sotoy kamu, Jo."
"Ngaku aja, udah."
"Nggak!
Yang terpenting adalah bagaimana Brian bisa mengatakan hal gila seperti itu dengan ceroboh. Atau dia memang sengaja melakukannya?
"Azlea," panggil Joya, "dia siapamu?"
Saat aku membuang muka ke arah lain dengan sengaja. Aku tahu, Joya pasti tersenyum jahil sekarang. Dia mengatakan kalau pemilik suara itu cukup asing baginya.
Jadi, Joya menebak kalau pria yang mengaku sebagai suamiku bukan anak kuliahan. Dia menebak ciri paling mendasar dari seorang pria lewat suara Brian.
"Suaranya agak berat, aku yakin dia sangat tegas. Karena dia to the poin saat mengatakan kalau dia suamimu. Tanpa berpikir panjang. Suaranya kek Ikang Fawzi lagi nge-Rock-er di atas panggung."
Hah! Ikang Fawzi? Joya memang sok tahu. Ikang Fawzi dari mananya? Brian lebih pas kalau di sebut Deddy Corbuzier. Ya, meski cara bicara tidak seblak-blakan presenter Hitam Putih, dan tentu saja tidak segundul pesulap itu. Pasti akan lebih cocok kalau Brian di sebut lebih mirip seperti Oppa Kim Woo Bin. Secara garis lintang kuadrat begitulah, ya. Hahaha.
"Kalau lihat Andre yang tampan kek artis Korea Lee Min Ho saja ditolak. Apa yang satu ini kek artis Song Joon Ki?"
What the hell? Lee Min Ho dan Song Joon Ki dia bilang? Aku punya teman begitu-begitu banget ya? Parah tak tertolongkan.
"Kamu ingin aku nikah sama duda?"
"Duda itu keren, Lea. Kata Emak, duda lebih berpengalaman soal hidup."
"Duda-duda palamu peyang!"
"Loh. Kok marah. Santai, Lea. Yang penting tuh kamu nggak nikah beneran sama duda. Nggak usah ngegas," kata Joya dengan santai.
"Kalau ternyata nanti aku nikah sama duda gimana reaksimu?"
"Bagus dong!"
Huh! Dia tuh lihat dari apanya yang bagus?
"Bagus dari mananya? Kamu aneh."
"Bagus di ranjang. Pasti lebih hot--"
"Edan tenan nih orang," gumamku.
"Ayo ngaku. Apa karena dia, kamu langsung berpamitan dan mengatakan ada janji dadakan. Padahal aslinya mau dinner. Cieee," goda Joya.
"Kemarin itu memang ada janji dadakan tapi dengan Papaku, Jo. Berhenti membuat gosip!" Aku berbohong. Masa bodoh!
"Aku nggak percaya. Pokoknya nanti aku bakal ngasih tahu, Andre. Kalau dia harus move on. Soalnya cewek yang dia suka sudah punya suami."
"Mulutmu, Jo! Berhenti membawa nama Andre di sini. Kamu hanya memperkeruh keadaan saja," cetusku.
Joya langsung diam saat aku menatapnya dingin. Aku paling tidak suka jika dia membawa nama Andre dalam pembicaraan yang tidak ada hubungannya dengan dia. Apa aku membenci ketua futsal itu? Tidak. Aku hanya tidak ingin membuat rumor menyebar seperti virus flu **** di tahun lalu. Itu saja.
Cukup hubungan kami yang merenggang. Aku tidak mau menambah masalah lagi.
♡
Mungkin dia tahu, aku akan marah. Akan tetapi kemarahan ini bertambah besar ketika Brian menjemputku. Dia bersandar pada mobil sambil memainkan smartphone. Brian terlihat sibuk, tapi meluangkan waktu untuk menjemputku. Apa itu membuatku terkesan? Ayolah. Aku lagi kesal dengannya, terkesan macam apa kalau kamu ingin sekali memukulnya keras-keras.
Sialnya! Saat aku lihat ke sekeliling, semua orang menatap Brian penuh dengan pertanyaan seputar siapa dia? Apa yang dilakukan dia di sini? Sampai bisikan-bisikan betapa kerennya dia.
Kalau dia tidak membawa mobil hitam metaliknya yang mahal, tapi membawa motor buntut aku yakin tidak ada satu pun yang akan meliriknya. Meski punya wajah yang tampan sekali pun.
Aku berusaha mengabaikan Brian dengan berlalu begitu saja. Berpura-pura tak mengenalinya. Sayangnya dengan sangat tak terduga Brian langsung menarik pergelangan tangan ini dan ia memandang ke sekeliling. Dia tahu kalau semua orang memperhatikan kami.
"Masuk," perintah Brian. Aku menolak dengan isyarat mata.
"Masuk, Azlea."
"Kamu pikir aku ini sopir? Duduk depan. Bukan belakang, Azela."
"Aku mau duduk di sini," balasku malas.
"Kalau masih keras kepala aku akan menciummu di sini," ancamnya.
Ya Tuhan! Aku bisa mati kalau begini terus. Lihat. Dengan sangat percaya diri Brian membukakan pintu untukku. Mengabaikan tatapan tidak percaya para mahasiswi kalau dia datang hanya untuk gadis sepertiku. Mengagumkan? Tidak juga.
"Pakai seat belt, Azlea."
Aku sedang berusaha memakainya sebelum ada tangan lain yang membantuku dalam kebisuan. Saat ini aku bisa melihat Brian sangat dekat. Bagaimana rambutnya membingkai wajahnya dan caranya menatapku. Jangan sampai kamu jatuh, Azlea. Ingat itu.
"Aku tidak tahu jika gadis sepertimu akan terlihat lebih cantik saat marah," bisiknya.
Gombal.
"Kenapa diam?" tanyanya.
Aku tidak akan menjawab. Lalu Brian menyerahkan gawai milikku setelah mobil berjalan dengan pelan saat lampu merah menyala.
"Kamu gila," gumamku.
"Gila?"
"Ya!"
"Siapa?"
"Kamu, Brian! Kamu."
"Aku masih waras jika kamu tidak tahu."
"Kalau kamu masih waras harusnya tidak melakukan hal gila! Aku kesal padamu. Bagaimana bisa kamu melakukannya? Mengaku sebagai suamiku pada Joya."
"Joya?"
"Teman kampus!"
"Hm."
What? Dia cuma bergumam doang?
"Kamu nggak mau jelasin gitu? Alasan kenapa mengakatan hal ceroboh seperti itu."
Brian terkekeh pelan sambil mengfokuskan tatapannya pada jalan. Hanya saja, dia melirik sekilas dan mengatakan kalau itu hanya iseng.
"Iseng?!"
"Anggap saja aku baru saja membantumu," kata Brian enteng.
"Membantuku? Dalam hal apa?"
"Menjauhkan lelaki hidung belang."
Huh? Aku tidak percaya ini. Dia menyebut Joya lelaki berhidung belang? Aku ingin tertawa sekarang.
"Intinya kamu gila."
"Setidaknya temanmu tidak akan pernah mengulangi hal konyol lagi."
"Maksudnya?"
"Hm," gumamnya.
"Ya Tuhan! Setidaknya kamu jangan mengatakan itu. Ais! Kamu gila!"
Aku menghentakan kaki, sampai menimbulkan suara berisik mengiringi deru mobil mahal miliknya.
"Berhenti, Azlea."
"Nggak!" Aku semakin menjadi.
"Azlea."
"Nggak akan!"
"Azlea!"
Suara rem mendadak mengagetkanku. Tanpa persiapan tubuhku sedikit terhuyung ke depan, jika tidak ada seat belt pasti akan terbentur dashboard dan jantung ini langsung berdetak sangat cepat saking terkejutnya.
"Kamu ingin kita mati?"
"Ya."
"Oh! Tega sekali."
"Kamu benar-benar membuatku gila, Azlea," geram Brian.
Mati aku.
Kamu cari-cari masalah dengan singa, Azlea.
♡
Bersambung