
♡
Semua orang sudah bersiap dan menunggu giliran untuk di panggil. Tidak ada yang memperlihatkan wajah sedih atau murung. Mereka semua terlihat antusias, tersenyum bahagia dan bersemangat. Namun, entah bagaimana nanti. Setelah acara ini selesai. Pasti akan berbeda.
"Bentar lagi giliranmu, Lea," bisik Annisa.
"Rasanya nggak semenakutkan saat bertatap muka dengan Pak Rektor, Nis. Bikin dag dig dug, padahal beliau cuma ngasih komentar doang," balasku.
Perempuan yang mengenakan jilbab cokelat itu terkekeh. "Inget, Pak Rektornya udah punya lima cucu. Dan suka banget bikin mahasiswa ketar-ketir."
Aku tertawa pelan. Takut menghancurkan suasana tegang di antara calon wisuda-wisudawati.
"Dari tadi kamu diem terus. Tumben. Biasanya kalau nggak Vinda pasti kamu yang banyak ngomel tentang ini itu karena tegang." Pernyataan Annisa tepat sasaran.
"Lagi malas ngomong soalnya."
Atau lebih tepatnya malas melakukan apa-apa. Kalau bicara situasi saat ini, sepertinya bukan hanya aku saja yang tegang. Namun, aku sendiri malah memikirkan satu orang sambil bertanya-tanya. Apakah dia akan datang? Apakah dia lupa hari ini? Atau dia memang ingin pergi begitu saja dariku? Dia tidak terlihat di mana pun.
Mungkin dia memang tidak akan datang. Untuk apa? Setelah semua yang pernah kukatakan padanya. Memintanya untuk pergi. Sementara aku, seperti baru saja terkena kutukan. Demi Tuhan. Aku merindukannya!
Bagaimana tidak? Semalam dia tidak lagi mengirim pesan. Tidak mencoba menghubungi atau datang ke rumah meski aku tidak pernah mau turun untuk menyambutnya.
Dia menghilang bak ditelan bumi. Sedangkan aku terlalu sangsi untuk memulai dari awal lagi. Semisal mengirim pesan balik. Ya Tuhan! Kenapa jadi rumit seperti ini?
Apa aku harus menerima rasa rindu ini lebih lama lagi? Bagaimana jika Brian benar-benar pergi?
Aku bisa gila karena itu.
♡
Setelah acara wisuda selesai. Hampir semua orang berdiri di halaman gedung lalu menyambut pelukan orang tua. Ada yang menangis, memukul putranya dengan bangga, ada juga yang menciumi putrinya berulang kali sampai wajah anaknya memerah antara haru dan malu.
Semua terasa begitu mengharukan. Terutama saat Dina, Vinda dan Annisa berseru padaku sesaat setelah mencium Mama dan Papa, aku langsung berpamitan dengan mereka. Juga mengabaikan Attala yang tetap berdiri di samping Mama seperti anak baru kemarin sore.
Joya yang di dampingi keluarganya pun menyapa.
"Kita udah nyiapin perayaan. Pertama kita makan besar, kek daging panggang sampai salad dan makanan lainnya. Tapi kenapa wajah kalian terlihat murung kek gitu?" tanya Joya.
Dia melempar topi toganya ke atas meja. Lalu memperhatikan sekali lagi manusia bernama hawa yang sejak kedatangan mereka sama-sama terlihat murung. Termasuk aku sendiri. Kalau Dina dan Vinda entah apa yang membuat mereka mendesah panjang sejak beberapa puluh menit yang lalu.
Berbeda dengan Annisa. Sepertinya dia tengah murung karena kabar yang baru kudengar dari Dina, kalau Annisa tengah bertaaruf dengan pria yang selama ini dia anggap kakak.
Hidup itu mamang susah ditebak ya. Siapa sangka jika orang yang selalu ada di sisi kita memiliki rasa sedemikian rupa padanya.
"Nanti kita nggak bakalan bisa ngumpul-ngumpul bareng lagi. Tau nggak gimana rasanya, Jo? Sedih," ungkap Vinda.
Sedangkan Dina tersenyum tipis. "Setelah ini aku bakal ikut Ayang Beib ke Surabaya."
"Huh?! Ke Surabaya? Beneran, Din?" tanya Vinda heboh.
"Lagi pula ada group di WhatsApp. Kita bisa saling tukar kabar di sana. Nggak usah bingung. Kalau rindu bisa kontek-kontekan."
Kami semua mengangguk dengan pernyataan Annisa. Pada akhirnya sebuah lembaran harus berganti. Namanya pertemuan dan perkenalan pasti akan ada perpisahan. Meski terdengar sangat menyedihkan. Akan tetapi, itulah hukum alam.
Awal yang baru dan kisah baru akan di mulai.
"Joya! Fotoin cewek-cewek ketjeh kek kita dong," seru Dina memecah suasana.
"Ayolah Joya," pintaku. Seraya tersenyum manis.
Akhirnya Joya mengangguk. "Ini untuk, Lea. Jarang-jarang dia bersikap manis, kan?"
Joya terkekeh sambil merogoh kamera smartphone miliknya dari saku.
"Jangan lupa pilih angel-nya yang keren ya, Jo," seru Vinda sekali lagi.
Sepertinya, hari ini cuma Vinda yang terlihat lebih cerewet dari sebelumnya daripada aku dan Dina.
Joya sudah bersiap mengambil foto. Menghitung mundur sambil sesekali melirik kami berempat namun, sebelum Joya hampir selesai menghitung, satu seruan dari Vinda membuat kami terbelalak kaget.
"Kamu hamil?!" Kami berseru heboh.
Sekaligus tidak percaya jika Vinda bisa berbadan dua. Ya Tuhan. Sekarang aku tahu, bagaimana pun juga. Mereka sudah merencanakan bayi itu sejak ibunya Ryan terus meneror mereka tentang cucu. Sulit dipercaya memang.
Saat kami tengah berbincah serius tentang bagaimana dan kapan Vinda tahu kalau ia hamil, Joya malah tertawa saat melihat hasil jepretannya.
Saking penasaran, kami langsung memburu Joya dengan banyak pertanyaan, juga mengambil paksa ponselnya. Hasilnya? Sunggu. Jelek sekali! Namun, kami berencana tidak akan menghapus foto itu. Karena terlihat unik.
"Sekarang fotoin lagi. Aku nggak mau tau, pokoknya harus bagus. Kalau tidak, kita berempat bakal bikin kamu jadi tempe bacem." Aku langsung menyerahkan kembali smartphone pada Joya.
Dia hanya mendesah lalu menggelengkan kepala pasrah. Begitulah, Joya. Akan tetap jadi pria yang menurut. Karena baginya, perempuan itu istimewa. Maka harus diperlakukan istimewa pula. Meski, ada saatnya Joya merutuki hal tersebut.
"Kita doain nanti kamu punya istri yang sama cerewetnya seperti kita, Jo. Karena hidupmu itu terlalu membosankan. Akan lebih baik jika nanti istrimu bisa menjadi melodi setiap kamu pulang ke rumah," celetuk Dina.
"Tidak. Aku tidak mau punya istri seperti kalian. Cukup di kampus saja seperti babu. Jadi, aku sudah punya target sendiri untuk mencari istri yang kalem dan manja daripada cerewet," tungkas Joya menanggapi celetukan Dina.
Joya memberi kode untuk segera berpose. Tanpa diminta untuk yang kedua kali, kami sudah siap. Namun, kali ini bukan karena seruan Vinda yang menghentikan Joya untuk menghitung.
"Biar aku yang mengambil foto. Kamu, bergabunglah dengan mereka."
"Tapi--"
"Santai saja," potongnya cepat.
Tetapi karena kehadiran Brian.
Jika bukan karena senggolan Vinda aku pasti sudah terlihat seperti orang yang mendapati hantu di siang bolong. Brian meminta tanpa kata pada Joya untuk pergi darinya lalu membiarkan ia bertindak sebagai fotografer dadakan.
Bahkan Brian membawa kamera sungguhan! Dia memang sudah berniat datang ternyata. Ke sini. Di acara wisudaku.
Benarkah? Bolehkah aku berlari lalu memeluknya? Oh. Tidak. Apa yang baru saja kamu pikirkan, Azlea?
Mungkin karen gugup, aku tidak lagi fokus pada lensa kamera yang mengarah pada kami. Jika aku malakukan itu, sama saja seperti menatap langsung pada sepasang mata hitam legam milik Brian.
"Sayang," panggil Brian tiba-tiba.
Vinda, Dina dan Annisa langsung menatap Brian dengan pandangan, wow girl?! So sweet.
"Cherìe. Tukar tempat dengan sahabatmu."
**♡
Next part 25