PERFECT (Brian & Azlea)

PERFECT (Brian & Azlea)
part 13




Orang pertama yang menyambut kepulangan kami dari bandara adalah Mama. Aku tidak tahu kenapa beliau sangat antusias saat aku memutuskan akan menjemput Ravi tadi pagi.


Mungkin karena Tante Resna dan Paman Lee sedang sibuk di luar kota. Mama dan Papa tidak mungkin, mereka punya urusan di jam itu.


Lalu, apa hubungannya keluarga kami dengan keluarga Ravindra Lee? Tante Resna adalah sepupu Mama. Paman Lee sendiri asli orang Korea. Ah! Beruntungnya tante, bisa dapat orang Korea.


"Astaga, Nak Ravi! Kamu makin tinggi dan cakep kek Oppa-oppa Korea, loh."


Papa yang berdiri tidak jauh dari Mama hanya menggelengkan kepala lalu menarik lengan Ravi sebelum Mama berhasil memeluknya.


Attala orang pertama yang menertawakan kekonyolan mereka di siang bolong ini. Alhasil? Jangan ditanya bagaimana reaksi berbeda dari keduanya. Mama yang merengut kesal dan Papa yang terkekeh karena berhasil menjauhkan niat buruk Mama untuk yang kesekian kali.


Sedangkan Ravi sendiri hanya bisa tersenyum bingung. Ah! Kasihan. Begitulah nasib kalau punya wajah sebelas dua belas sama artis Korea. Di mana-mana hanya ada emak-emak yang bakal datang dan ingin memeluknya.


"Mama cuma mau meluk Nak Ravi doang. Gitu aja udah baper, sih papa," omel Mama.


"Mama tuh udah tua, ingat umur," balas Attala tanpa takut.


Secara tidak langsung mewakili apa yang ingin Papa mengatakan.


Kadang, hal kecil inilah yang membuatku begitu mengerti arti keluarga yang sebenarnya. Rumah adalah istana. Beberapa orang mungkin sering mengatakan itu. Namun, Papa dan Mama tidak. Mereka menyebut rumah adalah dinding. Ingin tahu kenapa? Namanya keluarga itu selalu ada pertengkaran dan juga perselisihan. Itu wajar.


Karena kenyamanan itu tercipta dari kebersamaan bukan layaknya atau tidak sebuah rumah itu sendiri.


Boleh menyebut rumah adalah istana. Akan tetapi, cinta yang Mama dan Papa perlihatkan padaku dan Attala selama ini adalah sesuatu yang paling berharga.


Mereka mengajarkanku tentang menghargai. Kalau istana itu pantas dimiliki saat kamu mampu menjaganya.


Maka, setiap ada masalah alangkah baiknya tidak di bawa keluar. Dunia tidak perlu tahu. Cukup dinding, lemari dan jam yang jadi saksi. Karena seperti apa pun bentuknya, jika bersama orang yang dicintai semua terasa berbeda.


Ah! Bicara apa aku barusan.


"Tangkap Attala, Lea. Mama mau menjewernya!"


Papa dan Ravi tertawa melihat bagaimana Attala terus berlari menjauhi Mama. Sedangkan aku mendesah maklum. Keluarga ini memang sangat luar biasa. Luar biasa gilanya.


"Nanti Mama kurusan gimana?"


"Biarin. Mama malah seneng," balas Mama masih tidak mau kalah.


Aku tahu apa yang akan terjadi setelah itu. Attala bakal habis di tangan Mama. Herannya, adikku itu tidak ada capek-capeknya membuat Mama marah. Dia malah dengan bangga mengatakan hal menggelikan di sela omelan Mama.


"Mama tuh wanita paling cantik yang Attala tahu. Bahkan kakak yang katanya kek Lisa BlackPink saja kalah saing. Mama tuk ngemesin, minul-minul kek bakpo yang sering Papa beli."


Idih! Apa-apaan tuh. Bawa-bawa Lisa segala. Tunggu. Ngomong-ngomong aku mirip Lisa Blackpink nggak, sih? Bukannya Ariel Tatum ya? Apa pun itu. Dua orang artis itu beda jauh dariku kali. Soal cantik pasti cantikan aku. Kata Papa, sih. Muehehe.



Saat semua orang sibuk aku menyempatkan untuk mengambil smartphone dari saku. Mengharapkan sesuatu yang tidak akan terjadi. Karena aku tidak menemukan apa pun yang menarik. Brian seperti tertelan bumi atau bagaimana? Dia bahkan tidak mengabariku.


"Kak Lea!"


Seruan Attala memecah gendang telinga, bersamaan dengan suara bel berbunyi lebih dulu mengalihkan etensiku. Dengan sangat lantang Mama menyuruh Attala.


"Kakak loh cuma duduk dari tadi," ujar Attala.


"Bukain pintunya."


"Nggak!"


Huh! Kenapa mereka kek jadi anak kecil begitu, sih? Attala juga. Dia berpura-pura merajuk lagi. Padahal sudah besar. Heran. Makan apa tuh anak.


Di tambah, Mama. Kenapa ia juga ikut-ikutan kek anak kecil. Membuatku jadi sependapat dengan Dina, kalau anak cowok lebih mirim kek ibunya daripada bapaknya.


Seperti kami, hanya aku dan Papa yang tetap tenang meski Attala dan Mama membuat kehebohan.


"Biar aku yang bu--"


"Mama nggak ngizinin. Pokoknya biar Attala yang buka, Lea."


"Daripada nungguin kalian selesai berdebat, mau ngunggu jam berapa?"


"Pokoknya biar Attala. Itu hukuman untuk adikmu, Lea. Titik."


Di saat Mama dan aku masih berdebat pelan, tiba-tiba sebuah suara ceria yang familier itu datang. Bukan Ravi pelakunya.


Mana mungkin suara khas anak kecil itu dari Ravi? Impossible.


Yang aku tahu, Ravi hanya membukakan pintu tanpa diminta namun, ia langsung menatap bingung bocah yang menerobos setelah pintu terbuka lebar. Terlebih bagaimana dia berlari dan memelukku dengan tawa yang membuat siapa pun pasti akan tersenyum. Atau terkejut?


"Mama!"


"Hai, Sayang," balasku. Tidak lupa menepuk-nepuk pelan kedua pipinya.


Aku tidak tahu bagaimana rekasi mereka sekarang. Yang pasti aku langsung menarik tubuh Clarisa agar anak itu duduk di sebelahku. Dia seperti titik fokus sekarang.


"Sama siapa?"


Sebelum bibir mungil Clarisa terbuka untuk menjawab. Suara lain mengintrupsi. Kamu kira siapa yang akan datang, Azlea? Brian? Jangan menghalu deh.


Ya Tuhan. Sepertinya aku akan gila. Perang batin ini tidak akan selesai. Yeah! Harus kuakui mulai sekarang.


Aku memposisikan diri sebagai tunangan. Menganggap Brian lebih dari sekadar teman atau orang baru dalam hidup.


Dia yang akan menjadi tempatku pulang, nanti.


Jadi, aku sempat berpikir dia yang datang. Ternyata bukan. Ya. Meski itu hal yang impossible banget. Tidak mungki Brian ada di sini kalau pesawat butuh beberapa jam untuk landing. Kecuali dia Iron Man. Lagi pula aku tidak tahu berapa hari dia tinggal di Jepang.


Apa aku merindukannya? Hm ... mungkin. Tidak. Aku tidak akan mengakui hal itu di hadapan Brian. Mau dibawa ke mana muka ini?



Ketika ingin menyapa dan meminta Kak Dimas untuk duduk.


Ada sesuatu yang tidak dapat kupahami. Ravi yang beberapa menit lalu membukakan pintu terlihat menjatuhkan tatapan dingin pada Kak Dimas. Mereka punya jenis tatapan yang tidak bisa aku tebak.


"Kak Dimas sendirian?" tanyaku.


Menghentikan tatapan keduanya sebelum seulas senyum terbentuk di masing-masing bibir keduanya.


Kak Dimas langsung mengangguk dengan ramah. Tidak lupa menyapa Papa dan Mama selayaknya tamu. Sedangkan Papa berbicara tentang banyak hal, yah! Sekadar basa-basi.


"Sorry, Lea. Clarisa merindukanmu. Tidak biasanya di mencari orang lain, padahal Brian yang ke LN. Dia sudah tersaingi sekarang. Biasanya mau siapa pun yang dia cari pasti Papanya." Kak Dimas terkekeh.


"Brian?" tanya Ravi. Dia menatap aku dan Kak Dimas bergantian.


"Aku dan--"


"Lea sudah bertunangan dengan Brian," potong Kak Dimas cepat.


Ada apa sebenarnya? Aku seperti merasakan aura-aura aneh di antara mereka. Lalu, kenapa jawaban Kak Dimas seperti menunjukkan kalau Ravi mengenal Brian? Apakah mereka sudah saling kenal satu sama lain?


"Kalian pernah bertemu?" tanyaku.


"Tidak!" jawab mereka dengan kompak.


"Beneran?" Aku melirik keduanya, "Kalian nggak bohongkan?"


Lagi-lagi aku menerima jawaban secara bersamaan. Seperti menunjukan sesuatu padaku atau--entahlah. Bahwa mereka sama sekali belum pernah bertemu.


"Kalian tuh kek sepasang kekasih yang putus di tengah jalan tol. Saat bertemu kek sekarang jadi agak canggung," ungkapku.


Setelah memperhatikan tingkah laku keduanya aku kembali pada Clarisa. Dia tengah bermain dengan dress dan susu kotak yang ia bawa.


"Paman harus pergi dulu, Clarisa," pamit Kak Dimas.


Sebelum itu ia meminta Clarisa untuk mendekat dan membisikkan sesuatu. Sampai gadis kecil itu mengangguk antusias. Lalu, Clarisa membalas bisikan Kak Dimas dengan bisikan.


"Lea," panggik Kak Dimas.


"Ya?"


Tanpa banyak bicara Kak Dimas langsung mengambil fotoku. Apa-apaan?


"Brian berpesan padaku semalam. Dia merindukanmu," ungkap Kak Dimas.


"Terus?"


"Entahlah. Aku kurang tahu. Pokoknya, dia ingin kamu juga merindukan dirinya."


Dih. Jadi karena itu, dia tidak menghubungiku sama sekali? Pria sialan!


"Karena dia tahu. Kamu nggak akan mau memulainya. Jadi, nikmati hari terberatmu."


"Hari terberat?"


"Yup! Merindukannya."


Sekali lagi. Kak Dimas mengatakan kalimat dengan sangat jelas di hadapan banyak orang. Aku yakin, Ravi dan semuanya mendengar hal itu. Ini sangat memalukan. Sungguh.


Jadi? Apakah kamu merindukan Brian, Azela? Aku? Bisa tidak, bisa iya. Atau aku memang merindukannya?


"Oh ya, Lea. Brian tadi memberiku pesan untuk mengatakan--"


Kak Dimas mendekat dan membisikan satu kalimat yang membuat bulu kudukku langsung merinding.


"Jangan lupa memimpikannya malam ini. Itu pesan Brian untukmu."


Brian brekele!


Tidak. Aku tidak akan memimpikan atau merindukannya. Aku hanya mulai terbiasa akan ke hadirannya, dan sekarang ketidakadanya kabar darinya membuatku sedikit--entahlah. Paling tidak, seharusnya Briam memberiku satu pesan meski berupa satu titik.


Nyatanya tidak. Brian Nanendra Wijaya. Pria itu benar-benar sangat menakutkan. Maksudku, dia bisa membuatku seperti gadis remaja yang baru saja di tinggal pacarnya LDR-an.



Bersambung