
"Kamu harus percaya tentang cinta. Sekali pun dia pernah melukaimu. Membuatmu hampir gila sekalipun. Karena pada akhirnya dialah orang yang paling mencintaimu lebih dari siapapun."
♡
Keesokan harinya, aku bangun dalam keadaan masih setengah sadar ketika ada tangan mungil yang melingkar di perutku. Butuh waktu beberapa detik untuk memantapkan pagi sebelum kembali ke aktifitas seperti biasa. Ketika tersadar sepenuhnya aku mendapati sosok malaikat kecil yang masih terlelap di sampingku.
Dia begitu damai. Meski ada sedikit aliran sungai di sudut bibirnya. Bolehkah aku tertawa sekarang? Ya Tuhan, ini pagi yang menyenangkan seperti pagi saat Attala baru lahir. Itu sudah sangat lama bukan?
Aku tersenyum dan mengecup puncak kepala Clarisa sambil mengambil helaian rambut yang menutupi wajahnya.
Sesaat sebelum bangkit, gerakan pelan dari samping langsung menjadi fokusku.
"Morning, Sayang."
Senyumnya langsung merekah tanpa halangan. Dia begitu bersemangat menyambut sapaanku, walau ia nampak menahan kantuknya.
"Mamaa ... Clalisa masing ngantuk," akunya. Benar, kan?
"Kalau gitu tidur lagi. Ini masih pagi, Sayang."
Suara Clarisa terdengar agak serak khas baru bangun tidur. Namun, sebelum dia melanjutkan tidur lagi aku menarik ujung selimut sekaligus membenarkan kepala Clarisa yang agak miring ke kanan.
Hari ini tidak ada kegiatan apa pun selain bersantai di rumah. Bedanya aku punya banyak daftar apa saja yang akan aku dan Clarisa lakukan sepanjang hari di dalam angan ini.
Dari bermain, memasak berdua atau menanam bunga di halaman belakang. Atau paling tidak mendandani bocah itu dengan segudang aksesoris yang aku miliki. Dari bando, jepit sampai menata rambutnya.
Kemudian mengajak Clarisa ke Mall, tentu berbelanja sesuatu yang menarik. Pasti menyenangkan.
Suara notifikasi smartphone sedikit membuatku berdecak karena berhasil membuyarkan beberapa planning hari ini. Terutama, bagaimana kalau Clarisa bangun? Lagi pula ini masih pukul 5 pagi. Matahari belum menampakan diri.
Ketika aku membuka akun WhatsApp, ada beberapa pesan dari Vinda, Dina dan Joya. Sedangkan pesan yang kutunggu kedatangannya tak juga ada. Siapa? Tahulah! Malas mau nyebutin namanya.
Kali ini Vinda mengirimiku sebuah gambar villa di Bali. Ia menulis dengan sangat manis. Kalau di Villa itu cocok untuk hari berlibur sebelum aku dan Brian menikah nanti.
Tempatnya begitu asri dengan dikelilingi banyak pohon. Jujur. Aku belum memikirkan untuk berlibur atau honey moon di mana. Boro-boro sampai kepikiran acara macam begituan. Untuk fitting baju pangantin saja harus di tunda.
Sedangkan Vinda? Dia jelas tidak mau tahu. Meski aku sudah mengatakannya. Karena reaksi Vinda hanya mengatakan, "Sabar. Nanti akan indah pada waktunya."
Dia bahkan sudah memberiku banyak rekomendasi dari pelosok kota atau pun desa. Bahkan mengirim berbagai destinasi luar biasa di Borodudur atau di luar Indonesia. Dia memang sahabatku yang paling luar biasa bersemangat jika bicara pernikahan.
[Berhenti mengirimiku gambar-gambar villa ala Honey Moon-mu, Vinda.]
Selang beberapa menit sebuah balasan langsung aku terima.
[Anggap saja itu sebagai referensi jika kalian ingin mencari tempat dan suasana yang mendukung.]
[Wew. Kamu pikir aku nggak memikir hal begituan?]
[Sudahlah. Jangan boong. Aku tahu kamu kek gimana, Lea-ku Cayang.]
[Masa? Kamu tahu nggak, kalau aku ingin bulan madu ala Anastasia Steel?]
[Oh my God! Jangan mengingatkanku pada Mr. Grey.]
Aku terkekeh membaca reaksinya.
"Pagi, Sayang. Nyenyak tidurmu? Nggak ada gangguan kecil kan?"
Aku langsung mematikan smartphone dan beralih untuk menjawab pertanyaan Mama. Meski aku sendiri agak bingung.
Gangguan kecil?
"Maksud Mama, gangguan apa?"
"Kali aja Clarisa minta ke kamar kecil atau tiba-tiba nyariin Brian. Soalnya anak kecil biasanya kek gitu."
"Nggak tuh," balasku sambil membuka kulkas.
"Masa sih?"
Aku hanya mengangguk dan tersenyum sebelum melangkah pergi menuju ruang tamu. Pokoknya, hari minggu ini biarkan Mama bermasak ria di dapur.
♡
Sesampainya ruang tamu, entah sejak kapan Attala sudah duduk manis di depan televisi ditemani sekotak kerupuk udang. Wew. Sayangnya aku paling tidak suka sama jenis kerupuk udang dalam bentuk apa pun. Tidak peduli bentuknya seperti apel ataupun bunga.
"Nonton Dragon Ball lagi? Nggak bosen gitu sama si Kameha-meha," cibirku.
Sialan! Dia mengabaikanku.
"Attala! Ganti dong, aku mau nonton TvN atau Fox Movies Action."
"Kakak tuh datangnya paling akhir minta duduk paling depan. Nggak salah tuh?"
"Nggak ada yang salah buat cewek. Kamu tahu hukumnya, perempuan selalu benar."
"Itu hukum yang nggak ada pasalnya," bantah Attala.
"Gampang. Aku bikin pasal sendiri nanti."
Bukannya menyerah, Attala malah mengancam akan membuka aibku pada Brian. Dia bahkan dengan percaya diri akan mengatakan langsung kalau Brian sudah pulang dari Jepang.
"Kakak tuh mau nikah. Sekali keliatan manis kek biar calonnya jadi makin cinta. Bukannya urakan macam anak urakan yang lagi PMS."
Mendengar nama Brian disebut, aku ingat semalam dia langsung mengirim satu chat kalau ia akan menghubungiku via Vidio Call dengan alasan, Clarisa akan mencarinya di tengah malam.
Aku tahu itu terdengar seperti alasannya saja.
Lagi pula dengan seribu alasan yang sama, aku siapkan, meski alasan itu langsung hilang begitu saja saat dering pertama dari benda persegi yang tergeletak di nakas, membuatku harus menahan diri untuk beberapa detik kemudian.
Mau tak mau aku menyambut sapaannya. Aku yakin, Jepang juga sudah malam saat Brian tersenyum saat kami saling bertatap. Ini mengingatkanku pada kisah Vinda dam Ryan yang harus LDR-an selama satu bulan. Mereka akan menghabiskan tiap jam untuk saling bertukar kabar.
"Kak, ada tamu."
"Kak!"
"Apaan, sih?" Aku pun ikut menaikan satu oktaf untuk membentak Attala. Buyar sudah.
"Ada tamu Kakakku yang cantik. Kakak nggak lagi tuli kan? Masa bell sekenceng loncengnya Malaikat Israfil nggak bikin Kakak sadar."
"Sejak kapan Malaikat Israfil pakai lonceng? Ngawur kamu. Adanya pakai kendang."
"Kita sama-sama sinting. Jangan main ejek."
Attala hanya nyengir setelah mengatakan itu. Kemudian mengedikkan bahu dan kembali menonton Dragon Ball dengan tenang.
"Pagi, Bayi Kukang-ku yang jelek," sapa Ravi.
Dari serentetan daftar teman yang aku punya, entah kenapa hanya satu orang yang katanya playboy akut di negeri Gedung Putih itu tidak memperlihatkan sosok Cassanova ala-ala film Hollywood.
"Pagi. Hm ... tumben joging?"
Ravi mengenakan kaos hitam dengan celana polo. Kali ini dia mengenakan sepatu biasa. Tidak seperti saat aku melihatnya untuk pertama kali di bandara.
"Bukan tumben, tapi ini udah jadi kebiasan sejak masih orok, Lea. Aku ke sini mau minta air. Capek banget."
Alasan.
Tetapi tetap saja, aku membiarkan dia masuk. Kalau tidak, apa yang akan terjadi nanti. Aku kenal siapa Ravindra Lee. Dia bakal kek comberan kalau sudah bicara ini itu dengan Mama.
"Pagi, Tante," sapa Ravi pada Mama.
"Pagi. Wah! Nak Ravi, kalau Tante lihat lebih dekat kamu udah ganteng sekarang makin ganteng. Meski dulu kamu kecilnya segini."
Mama menunjukkan jari kelingking pada Ravi, lalu mengukur kembali dengan ingatan samar-samar yang tergambar jelas dari wajah Mama sekarang.
"Maksudnya sepundak Tante. Dulu kamu pendek," ungkap Mama.
"Yang penting sekarang udah besar, Tante," kata Ravi dengan diiringi tawa.
♡
Sepuluh menit setelah itu, Ravi ikut bergabung bersama Attala nonton Dragon Ball dan membentuk kubu anti Kpop. Saking kesalnya, saat itu juga aku bangkit menuju kamar. Memilih untuk mengintip sebentar keadaan Clarisa daripada harus berada di antara dua orang penggila Kameha-meha.
"Mau ke mana?"
"Yang pasti bukan di hatimu," balasku santai. Meski aku sedikit menyelipkan tatapan geli pada Ravi.
Sudah pukul 7, mungkin Clarisa bangun dalam keadaan bingung karena tidak ada siapa pun. Namun, sebelum aku sampai di depan pintu suara bell kembali berbunyi. Kali ini seruan Ravi menggema di rumah ini. Pasti Attala tengah menggerutu ketika harus membuka pintu.
Paling siapa.
"Good morning, Mama."
Aku di buat kaget ketika membuka pintu dan mendapati Clarisa sudah ada di hadapanku dengan rambut sedikit acak-acakan. Dia terlihat seperti anak singa di film The Lion King, Simba. Eh! Salah. Maksdunya, Nala. Menggemaskan.
"Pagi, Sayang. Udah kelar mimpinya?"
"Clalisa nggak mimpi, Mama."
Aku memandangi Clarisa sebelum tersadar, kalau gadis kecil ini sudah cuci muka meski masih blepotan ke mana- mana.
"Mama."
"Ya?"
"Ada suala Papa," ucap Clarisa.
"Nggak mungkin, Sayang. Papa masih di Jepang. Atau masih dalam perjalanan pulang? Mama nggak tahu."
Mana mungkin Brian sudah ada di Indonesia, maksudku dia memang sudah memberi satu chat kalau ia akan pulang. Akan tetapi tidak sepagi ini, kan?
Saat aku dan Clarisa berada di anak tangga atas, samar-samar aku mendengar dua suara yang berbeda. Mereka sama-sama mengatakan sesuatu sambil menyebut namaku. Papa? Tidak. Apalagi Attala. Masa iya Ravi dan Attala berantem?
"Aku yang akan mengakatakan semua padanya."
"Benarkah?"
Mengatakan apa? Pada siapa?
"Brian, Ravi sudah cukup!"
Kali ini suara Papa. Tunggu! Brian?
"Om tidak mau ada keributan. Selesaikan masalah kalian nanti, tapi tidak sini, saat Azlea ada di rumah."
Kenapa kalau aku ada di sini? Atau jangan-jangan? Aku melihat Clarisa sejenak sebelum mendapati senyum manisnya sambil berkata, "Apa aku bilang, Ma? Itu suala Papa."
Oh! Shit. Apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini sekarang. Mama dan Papa hanya berdiri di dekat mereka berdua saat aku dan Clarisa sudah menuruni tangga. Maksudku Ravi dan Brian. Mereka kenapa?
Ravi terlihat menahan diri dengan mengepalkan kedua tangannya. Sedangkan Brian tetap stay cool dan berlagak seperti biasa. Aku tahu Brian itu terlalu datar dan tidak pedulian.
Namun aku bisa pastikan, ada ketegangan yang asing.
Attala menjadi saksi awal mula perang dingin antara mereka. Aku harus tahu apa yang terjadi nanti.
"Wait. What happened?"
Semua orang seperti kompak menyembunyikan sesuatu dariku. Aku tidak bisa menebak apa yang berusaha mereka tutup-tutupi.
"Papa! Clalisa lindu," ungkap Clarisa menjadi pemecah kecanggungan tidak berdasar ini.
Ravi langsung mendekat dan menarik tanganku untuk menjauh dari ketegangan itu. Dia bahkan berbisik bahwa tidak seharusnya aku berada di sana di waktu yang salah.
"Apanya yang salah? Jelaskan padaku, Ravi."
"Tidak." Ravi menggelengkan kepala dan menatap mata ini dengan ketegasan yang membuatku sedikit gemetar.
"Ravi--aku sungguh tidak tahu apa yang membuat kalian sampai memperlihatkan ketegangan seperti tadi. Bahkan Brian menahan sesuatu. Seolah dia ingin membunuhmu dalam satu kali tatap. Please, katakan sesuatu. Apa kalian menyembuyikan sesuatu dariku?"
Sebelum aku kembali bertanya pada Ravi. Aku merasakan sebuah tarikan dari arah belakang. Brian? Oh! Tentu saja itu dia.
"Tidak ada yang perlu kamu tahu, Azlea. Tidak sekarang." Brian berbisik.
Aku tidak tahu kenapa. Dada ini rasanya sakit. Seperti ada luka. Tapi kenapa? Untuk apa aku merasa seperti dikhianati?
"Lepas nggak!" Aku membentak Brian untuk menjauhkan lengannya dariku.
"Kalian tidak ingin mengatakannya padaku, bukan?"
Aku memandang keduanya dengan marah. Kesal dan bingung.
"Kalau begitu jangan pernah menghalangiku untuk mencari semuanya. Apa yang kalian sembunyikan dan apa yang--"
Astaga! Tiba-tiba tubuhku terangkat dan sepasang lengan melingkar di pinggulku. Brian pelakunya. Aku sempat terkejut saat Brian mengangkat tubuh ini ke pundaknya layakanya karung beras.
"Brian! Apa yang kamu lakukan, huh?"
"Brian!"
Aku terus memukul-mukul punggung Brian agak lebih keras dari sebelumnya. Namun sia-sia saja.
"Ravi! Help me, please!"
Ini namanya penculikan. Sial!
"Kamu mau nyulik anak orang? Mau bawa aku kabur ke mana? Brian!"
Brian masih tetap kukuh dengan pendiriannya. Diam seperti batu candi.
"Kamu akan turun. Tapi tidak di sini, Azlea."
Aku mendengkus mendengar perkataannya.
"Turunkan aku!"
Clarisa yang duduk bersama Papa hanya melongo dengan mata sedikit membulat. Baik Attala dan Mama juga menatap kami penuh keterkejutan dan takjub atas perbuatan tak terduga Brian. Aduh! Bukan saatnya mereka semua bersikap seolah ini scane drama Korea.
"Papa! Brian mau menyulikku, Pa. Dia mau membunuhku!"
Aku terus berseru heboh tidak peduli bagaimana gelak tawa Attala dan juga ringisan Mama melihat bagaimana putrinya begitu tidak berdayanya sekarang.
"Kenapa kalian diam saja?!"
Dengan sengaja Brian membenarkan letak tubuhku. Lalu dia memanggil Clarisa dengan lambaian tangannya yang bebas.
"Loh! Aku mau di bawa ke mana ini?" Aku kebingungan.
"Selamat bersenang-senang, Sayang. Kami menyayangimu. Sungguh!"
What the hell? Mama!
"Aku sudah meminta izin Papa dan Mamamu semalam," ungkap Brian.
"Apanya?"
Dia langsung menurunkan aku tepat di dekat mobil hitam miliknya.
"Sekarang. Masuk dan pakai seat belt dengan benar."
Huh?
♡
Bersambung