
♡
Selama satu minggu bisa dipastikan bukan? Kami tidak akan bertemu. Namun, ada bagian di mana Brian datang dengan suka rela dua hari yang lalu. Dia mengatakan semua keburukan, kejelekan dan juga dosa terbesarnya.
Dia mengetuk jendela dan tersenyum saat aku terperangah dengan kelakuan tidak terduganya.
"Astaga Brian. Apa kamu lakukan di jendela?"
Awalnya aku tidak bisa percaya dengan semua yang dia ungkapkan. Brian mengatakan dengan gamblang. Bahwa ia tidak pernah mencintai wanita mana pun. Termasuk mantan istrimu? Tidak. Pada akhirnya pertanyaan itu hanya terlontar dalam hati tanpa mau terucap langsung.
"Lalu, di mana ibunya Clarisa?"
"Dia sudah meninggal."
Aku langsung bungkam. Tidak ingin bertanya lebih banyak. Meski ada banyak pertanyaan. Dari kenapa, sampai alasannya menceritakan masa lalunya padaku. Lagi pula aku tidak tahu seperti apa ibu kandung Clarisa. Tidak ada foto atau apa pun yang memberiku sedikit pengetahuan tentang penggambarannya.
"Ceritakan padaku tentang dia. Aku ingin tahu."
"Kamu yakin?" tanyanya.
Aku mengangguk.
"Beneran nggak akan cemburu?"
"Apaan sih!"
"Mending nggak usah."
"Ya udah. Nggak usah cerita!"
Padahal aku ingin tahu bagaimana Brian bisa berakhir dengannya. Dia bilang aku akan cemburu? Ya iyalah! Sekarang aku tidak akan menyembunyikan perasaan ini. Aku pasti akan cemburu.
"Dia gadis biasa yang mendapat beasiswa di Australia sejak umurnya baru 15 tahun." Brian meyakinkanku sekali lagi bahwa dia aku tidak akan marah. Dan aku pun demikian.
"Lanjutkan," ujarku.
"Setelah lulus, ia diterima di universitas yang sama denganku. Bedanya, dia mengambil jurusan fakultas kedokteran. Namanya, Syeina. Aku tidak begitu mengenal baik dirinya. Sampai undangan terbuka untuk para alumni High School. Kami bertemu dan baru pertama kali juga, telibat dalam perdebatan."
Perdebatan membawa gejolak. Atau apa lebih tepatnya?
Brian mengambil napas. Sedangkan aku menahan napas. Paru-paru ini serasa penuh. Dia menceritakan bagaimana ia terlambat menyadari kesalahannya. Aku tidak mau mendengar detailnya.
Kuakui, kebebasan mereka dapat saat jauh dari keluarga dan rumah. Rentan sekali. Aku tidak bisa menyalahkan bagaimana dulu Brian bergaul. Karena akhir dari itu Brian menghabiskan malam dengan gadis yang bahkan tidak ia kenal namanya.
"Kami tidak pernah mengatakan perasaan satu sama lain. Yang kami yakini adalah melindungi sesuatu yang hadir di antara kami. Dia tidak menuntut apa pun selain melahirkan Clarisa."
"Dan kamu peduli padanya."
"Ya."
Peduli itu cukup untuk hidup bersama. Karena berawal dari peduli seseorang bisa jatuh hati.
"Terutama pada Clarisa, Azlea. Bagaimanapun juga, dia adalah putriku. Walau aku tidak pernah mencintai ibunya. Sejak ia lahir, dialah duniaku setelah kamu."
Aku mendengkus setelah mendengar kalimat terakhirnya. Aku dunianya? Dia bahkan tidak ada saat aku terluka, saat terpuruk dan sekarang, dia mengatakan aku adalah porosnya. Menjengkelkan. Sedikit. Selebihnya aku seperti di bawa terbang olehnya.
Sialan!
"Sejak hari itu. Adakah sedikit rasa selain peduli untuknya?" Brian terdiam. Memikirkan jawaban akan pertanyaan yang kulontarkan.
"Entahlah," balas Brian. Dia terlihat ragu.
Mungkin ini yang pertama bagiku. Memeluk Brian lebih dulu. Karena aku tidak tahu harus melakukan apa. Mungkin aku cemburu.
"Tumben," bisiknya.
"Aku lagi badmood."
"Bisa badmood ternyata."
"Kalau cewek badmood artinya dia lagi kesal, Brian. Hampir sama kek kamu, kalau kesal artinya apa coba?"
"Cemburu."
"Itu kamu tahu."
"Jadi kamu lagi cemburu?"
"Nggak usah pake acara tanya jawab deh!" omelku.
Brian membalas rengkuhanku. Bahkan aku bisa mendengar detak jantungnya seirama dengan milikku. Ya Tuhan. Aku sungguh ingin hidup dengannya. Tidak peduli bagaimana masa lalunya. Bagaimana dia melukaiku. Bagaimana ia membawakanku malaikat kecil bernama Clarisa.
Aku tidak harus cemburu dengan Syeina. Tidak harus marah saat tahu bagaimana kehidupan Brian di Australia. Kecuali, satu hal. Aku sedikit iri dengan Syeina. Karena ia melahirkan Clarisa.
"Aku mencintaimu, Azlea." Brian berbisik.
Sedangkan aku malah menangis di pundaknya. Aku cengeng sekali. Membayangkan bagaimana hidup bersamanya saja sudah membuatku ingin menangis lebih keras.
Apalagi menikah dan menemani Brian sampai tua nanti. Aku tidak bisa membayangkan lebih jauh dari sekadar mencintai pria itu dengan tulus.
"Jangan menangis, Cherìe."
"Aku nggak nangis," elakku.
Dengan cepat menghapus air mata yang sempat jatuh. Setidaknya aku bisa tunjukkan padanya Brian bahwa aku bukan perempuan lemah.
"Maaf," ucapnya setelah kami menarik diri.
"Untuk apa?"
"Maaf karena aku tidak akan pernah membiarkanmu jauh lagi mulai sekarang."
"Gombal!"
"Maaf juga, nanti jangan marah kalau kamu jadi gemuk setelah menikah denganku."
"Brian!"
"Janji?"
"Kenapa harus janji? Bagus dong kalau aku gemuk."
"Bagus."
"Terus?"
"Nggak usah cari cara buat gemukin badan."
"Nggak ada hubungannya."
"Kamu mau ngomong apaan, sih sebenarnya?"
Brian tersenyum. Aku malah jadi takut sendiri.
"Nanti kita langsung bikin adonan, baby."
Huh?
Maksudnya? Loading.
Bayi?
"Mesum!" seruku.
"Hahahaha." Dia malah tertawa.
Lama kelamaan aku bisa tertular mesum. Aigoo! Pasti wajahku memerah kek kepiting rebus sekarang!
"Lea! Kamu belum tidur, Nak?"
Suara ketukan terdengar diiringi dengan seruan Mama.
Sedangkan di dalam kamar, aku menarik lengan Brian untuk bersembunyi di kolong. Tapi tidak.
"Sekarang pulanglah!"
Brian tahu, bisa gawat jika Mama tahu calon mantunya menyelinap masuk ke kamar anak gadisnya. Bisa berabe. Bisa berbuntut panjang nanti.
Setelah memastikan Brian sudah turun dengan aman, aku mengambil napas untuk merileksasikan diri sebelum membuka pintu sambil berlagak bangun dari tidur.
"Ada apa, Ma?"
Mama langsung masuk dan melihat kesuruhan kamarku dengan tatapan ingin tahu.
"Nggak ada apa-apa. Cuma ingin tahu. Kali aja tebakan Mama benar."
"Tebakan?"
"Yup! Tebakan kalau calon mantuku masuk kamarmu."
Duh! Apa jangan-jangan Mama tahu?
"Kalau seandinya calon mantunya Mama datang ke kamar ini gimana?"
"Nggak apa."
"Mama nggak takut gitu?"
Mama malah tertawa. "Buat apa takut. Nanti kalau kamu sama Nak Brian ehem-ehem Mama malah happy."
Astaga!
"Lagi pula, Nak Brian nggak akan berani megang-megang putri Mama ini sebelum sah. Kecuali kalau kalian udah penah ciuman. Mama nggak tahu."
♡
"Lagi inget apaan, sih? Sampai senyum-senyum kek orang gila," tegur Dina mengagetkanku.
Sejak kapan dia ada di sini? Apa aku tidak sadar akan kedatangannya. Atau jangan-jangan Dina tahu kalau dari tadi aku keingat Brian?
"Ngelamunin apa lagi? Keknya sekarang hobimu ngelamun daripada ngomelin orang."
"Ada angin apa sampai kamu tumben-tumbenan datang ke sini?" tanyaku.
"Jadi aku tamu yang nggak diterima nih?"
"Bukan gitu. Cuma aneh aja. Nggak biasanya datang sendiri."
"Oh!"
"Terus?"
"Kami udah rundingan satu hari sebelum wisuda kemarin--"
"Rundingan? Kok aku nggak dikasih tahu," semburku. Tidak peduli bagaimana reaksi Dina seperti ingin makan piring.
"Dengerin! Intinya, kami udah sepakat akan bergantian nemenin kamu tidur sampai hari H."
"Huh?! Ngapain?"
"Biar kalian nggak diem-diem ketemuan."
"Jangan main curigaan gitu, Din."
"Cuma antisipasi doang. Kita nggak tahu gimana calon suamimu. Kalau kamu mah, aku yakin nggak akan sampai hati loncat balkon buat nemuin si Brian ke rumahnya."
Ck!
"Udah. Nurut aja. Lagi pula ini ide dari Mamamu juga," bisiknya.
Ya kan? Udah bisa aku tebak sekarang. Kenapa Azlea? Apakah kamu mengharapkan Brian bakal datang lagi gitu? Kek dua hari lalu lewat jendela.
Keknya aku harus tidur. Semoga ini hanya mimpi.
"Cuma berapa hari kok. Nanti bakal setiap hari, sampai bosan tidur sama dia mulu," ujar Dina menyemangati.
"Curhat ya?"
"Sialan! Tahu aja kamu, Lea."
Kami tertawa.
"Din."
"Hm?"
"Bener nggak sih, kalau hamil bisa bikin tubuh gemuk?"
"Keknya iya. Lihat aja Vinda. Udah gemukan sekarang. Emang kenapa?"
"Nggak ada." Aku menggelengkan kepala cepat. Takut membuat Dina berpikiran lain akan pertanyaanku.
♡
Bersambung
Holahopilah!