
Sejak awal, pernikahan kami memang di rancang dengan dua konsep tradisional dan internasional. Oleh karena itu, aku duduk di belakang tirai dengan detak jantung yang tidak mau berhenti bertalu sejak Mama berbisik kalau Brian sudah datang. Kami semua sudah ada di aula yang di bagi menjadi dua bagian.
Brian berada di balik tirai. Di hadapanku! Ini pasti ulah Papa dan Mama. Merancang pernikahan model beginian.
Tenangkan dirimu, Azlea. Brian tengah duduk di depan penghulu dengan air muka tegang sekarang. Tidak, tidak. Aku yakin seratus persen. Brian tidak akan menunjukkan ketegangannya. Pria dingin itu pandai menyembunyikan ekspresi dari semua orang.
Sedangkan aku sendiri, tersenyum tanpa sebab. Situasi seperti ini pernah aku lihat di film Ketika Cinta Bertasbih. Benarkan? Atau berbeda? Intinya ada sekat yang memisahkan.
Selama beberapa menit terlewati, aku hanya bersimpuh dengan pikiran berkeliaran di mana-mana. Sampai lima detik pengucapan ijab qobul. Aku tersadar. Semua orang berseru SAH dengan sangan lantang.
Suasana berubah menjadi riuh tak terkendali. Tidak terkecuali Mama dan ketiga sahabatku. Mereka tidak bisa berhenti tersenyum jahil diiringi cubitan gemas yang kuterima dengan perasaan membuncah ruah.
Aku sudah sah menjadi istri. Apakah ini mimpi? Apakah aku sedang terlelap sekarang?
"Sekarang temui suami tercintamu," bisik Mama.
"Mama!"
"Loh. Kenapa? Kalau nggak mau biar Mama aja yang nemuin mantuku yang gantengnya nggak ketulungan."
"Mama nih kenapa. Suka banget godain aku? Aku nggak bisa nemuin dia, Ma."
Aku memperhatikan sekali lagi Clarisa dan ketiga sahabatku. Sepertinya mereka tengah sibuk menjawil pipi temben Clarisa.
"Kenapa nggak bisa? Udah sah gitu kok."
Meski sudah sah. Kenyataannya aku masih malu. Kenapa juga harus aku yang datang. Harusnya Brian yang menjemputku.
Mama cuek. Lalu pergi begitu saja. Meninggalkan putrinya sendiri.
Sebelum tirai pemisah di tarik berlawanan. Seseorang telah menarikku ke suatu tempat. Di antara banyak orang. Brian-lah pelakunya.
"Brian. Ada banyak orang yang melihat kita," bisikku.
"Bagus."
Bagus? Dia baru saja bilang begitu?
"Brian."
"Ya, Sayang."
"Iss ...."
Brian membawaku ke tempat di mana semua orang sudah siap berdiri di luar. Aku tidak tahu ada bagian di mana aku melempar bunga. Ah! Aku tahu sekarang. Jadi, selama ini yang aku tahu hanya sebagian kecilnya saja? Dari sekat, konsep indoor and autdoor ini pun sebagian besar ide orang lain atau ide Brian sendiri?
"Aku belum bilang kalau kamu cantik, kan?"
"Huh?"
Tanpa komando, Brian langsung mencium keningku di hadapan semua tamu undangan. Tidak terkecuali Clarisa. Bahkan dengan kompak, ketiga sahabatku menutupi mata gadis kecilku.
Ada dua fotografer yang berkeliaran di antara banyak tamu. Mereka fokus menjepret kami.
"Udah! Lanjutin nanti malam, Brian! Sekarang selesain ini dulu. Dasar," seru Kak Dimas.
Aku bisa mendengar desisan Brian sebelum dia manarik diri. Dia kesal dengan intrupsi kakaknya. Sedangkan aku terkekeh pelan.
"Kita lanjutin nanti," bisik Brian dengan sengaja.
Kali ini malah Brian yang terkekeh setelah melihat aku merengut sebal.
♡
Pesta resepsi di mulai tepat jam 8 malam di gedung yang sama. Ayah dan ibu tengah berbincang dengan Papa dan Mama.
Mereka begitu memancarkan kebahagian yang sangat kentara. Attala yang berdiri tidak jauh dari mereka pun sesekali menguap bosan.
Sedangkan Clarisa asyik bermain dengan beberapa anak sebayanya.
Saat aku melihat siluet Joya dan teman kampus lainnya. Aku melambai ke mereka.
Hampir satu ribu orang yang kami undang. Entah kolega kedua keluarga, teman dan juga sanak saudara.
Sejak kemarin sebenarnya aku mencari Ravi. Seminggu lebih aku tidak melihatnya.
Terakhir kali aku bertemu adalah hari di mana Ravi dan Brian beradu otot untuk yang kedua kalinya. Bisa kalian bayangkan bagaimana paniknya aku saat itu.
"Nyariin siapa?"
"Ravi."
Tanpa kusadari Brian terdiam sebelum aku sadar apa yang sudah kukatakan padanya.
"Dia datang."
Huh?
Brian menunjukkan padaku lewat matanya. Ke arah jam 12. Sosok Ravi yang mengenakan setelan jas hitam terlihat mendekat.
Melihat bagaimana Ravi tersenyum membuat bagian terdalam dariku bersedih. Bagiku dia adalah seorang kakak.
Kakak yang selalu ada untuk adiknya. Kakak yang melindungi dan menjaga. Memang benar, dulu aku pernah berkeinginan untuk menikah dengannya. Akan tetapi, perasaan ini tidak bisa berubah begitu saja. Dari rasa sayang seorang adik ke rasa sayang seorang perempuan pada lelaki.
Pada akhirnya. Rasa sayangku padanya adalah rasa yang seorang adik pada kakaknya. Tidak lebih.
"Selamat. Aku senang kamu bahagia," ungkapnya.
"Ravi ...."
"Katakan pada suamimu. Jika dia melukaimu untuk yang kedua kalinya dia harus pergi. Itu janjinya padaku."
Ravi sama sekali tidak melirik Brian barang sedetik pun. Kupikir permusuhan mereka sudah mereda. Tapi aku lupa bagaimana kerasnya mereka.
"Kenapa nggak katakan langsung padanya?"
Ravi terkekeh. "Yakin? Kalau kami beradu otot lagi gimana?"
Aku mendelik.
"Kamu mau nangis lagi kek waktu itu? Aww! Sakit, Lea."
Tanpa ampun aku menyubit lengannya.
"Kalau aku nggak nangis. Kalian pasti udah mati," semburku.
"Nggak apa. Malah seneng kalo kamu nggak jadi nikah sama tuh balok es."
Sialan!
Sebelum tangan ini meluncur untuk meraih lengan Ravi sekali lagi. Brian sudah lebih dulu menarik pinggang dan mencium bibirku.
Semua orang berseru heboh melihat aksi tidak terduga Brian.
"Sekali menjadi milikku, selamanya akan tetap menjadi milikku."
Brian memberi satu pernyataan itu entah pada siapa. Namun, hanya ada Ravi di sini.
"Ck! Tidak berubah sama sekali," cetus Ravi.
Ravi menepuk pundak Brian. "Jaga dia. Tidak ada kesempatan lain jika Lea terluka karenamu."
"Hem. Terima kasih."
"Untuk apa terima kasihmu? Aku tidak butuh."
"Untuk segalanya."
Setelah itu Ravi pergi. Sedangkan Brian menatap mataku yang tengah menatap punggung Ravi.
"Sejak kapan kalian baikan?" tanyaku.
"Hari ini mungkin."
"Brian. Jangan pegang-pengang ih!"
Geli saat tangan Brian berkeliaran di mana-mana. Apa dia lupa jika kami berada di tengah-tengah ratusan pasang mata?
"Cuma iseng."
"Iseng?"
Brian mengangguk.
"Tapi nggak harus di tempat umum, Brian," bisikku penuh penekanan pada kalimatnya.
"Jadi. Kalau di tempat tertutup boleh. Begitu?" goda Brian.
Sial!
♡
Bersambung
See you next time. Aishiteru minna-san! 😘