
♡Surat Dari Tante Maretha♡
Ada yang pernah mengatakan padaku.
"Bahwa masa lalu tidak akan pernah datang saat kamu sudah berdamai dengannya. Namun, itu tidak berlaku saat kamu hanya melupakannya."
Apa itu artinya masa lalu bisa kembali padaku kapan saja?
--♡--
Aku tidak begitu mengenal seperti apa Tante Maretha selain bagimana beliau dulu suka membuatku menangis. Tante Maretha adalah ibu luar biasa saat Mama bercerita banyak hal padaku beberapa hari ini.
Kemarin, tiba-tiba Tante Maretha datang dan menemuiku untuk menyerahkan sebuah surat. Saat aku bertanya apa isi suratnya, beliau hanya tersenyum. Aku masih menyimpannya di bawah kolong. Katanya, aku boleh membuka surat itu saat aku siap menerima Brian.
Menerima Brian?
Harusnya bukan itu saja. Yang benar itu bisakah kami sama-sama menerima satu sama lain. Biar tidak berat sebelah.
Terus, yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah apa aku siap? Oh tidak! Maksudku apakah kami siap? Karena sebuah pernikahan tidak satu tangan yang bertahan. Harus ada dua tangan yang menguatkan.
Brian Nanendra Wijaya. Pria itu sangat luar biasa. Tampan? Kaya dan juga sombong pastinya. Dia juga sedikit angkuh untuk beberapa saat.
Kupandangi surat itu sejak beberapa puluh menit yang lalu. Apa isinya? Sumpah aku tidak tahu dan belum ingin tahu apa pun. Meski ada sedikit rasa penasaran yang menyeruak tentang tulisan macam apa di dalam surat itu. Ah! Pasti bukan surat cinta. Mana mungkin Tante Maretha memberiku surat seperti itu. Konyol sekali kamu, Azlea!
"Kak Lea!"
Attala terus mengetuk pintu diiringi seruan! Dia tuh sebenarnya kenapa, sih? Hobi banget membuat kehebohan? Tidak bisakah dia datang tanpa berteriak.
"Kak Lea!"
"Iya, iya. Bawel, ih! Sekarang apa?" semburku.
Dia langsung diam saat aku membuka pintu untuknya. Tadi, saat aku di dalam dia berseru heboh. Sekarang dia terlihat seperti anak kecil yang baru diomelin emaknya. Maunya tuh apaan?! Astaga. Aku mendesah kesal menghadapi Attala yang semakin hari semakin usil saja.
"Apa Attala?"
"Ada Kak Brian di bawah."
Tunggu!
"APA!"
Opss! Aku langsung membungkam mulutku dengan telapak tangan. Azlea, kamu tidak bisa mengkondisikan teriakanmu apa? Aku benar-benar terkejut. Sekarang memang belum terlalu malam. Hanya saja untuk apa dia datang?
"Parah," ucap Attala sambil menggelengkan kepala geli, "Kakak lebih parah dariku. Tahu tidak, teriakan Kakak itu lebih keras. Aku yakin Kak Brian pasti mendengar--"
"Diam Attala," potongku cepat.
"Sudah sana. Keknya Papa lagi asyik berbincang dengannya."
"Memangnya dia mau ngapain ke sini?"
"Mana aku tahu. Tanya sendiri sana."
"Dasar nggak berguna! Kerjaannya cuma usilin orang mulu," pintaku.
"Sesuatu yang baik pasti akan berakhir baik, Kak."
Ais ... apa-apaan barusan? Dia sok jadi motivator dadakan saja. Kagak nyambung juga.
Ketika aku mau menutup pintu Attala sudah lebih dulu menarik lenganku untuk keluar dari kamar.
"Ngapain?"
"Ada tamu kok malah masuk. Keluar, sambut dia. Kalau Mama tahu Kakak bakal diomelin kek Kakak ngomelin aku."
Ya Tuhan! Apa dia tidak tahu kalau aku butuh ganti baju? Masa iya turun dengan baju piama putih bergambar doraemon? Ini tidak lucu. Sayangnya Attala sudah menarikku terlalu jauh dan kami saling tarik menarik seperti anak kecil, bahkan aku baru sadar jika kami hampir sampai ke tangga. Di bawah sana, Papa dan Brian langsung mencari asal keributan karena ulahku dan Attala.
♡
"Duduk sini, Sayang."
Papa menepuk-nepuk sisi kanan sofa yang jaraknya cukup dekat dengan Brian. Saat aku akan duduk Attala sudah lebih dulu menduduki. Aku menatap sebal sampai Papa terkekeh kecil melihat betapa jahilnya Attala, lalu memintaku untuk duduk satu sofa dengan Brian.
Papa!
"Sudah. Duduk sana," perintah Papa.
"Oh ya, Nak Brian. Sepertinya Om harus ke belakang sebentar, biar Attala dan Lea yang menemanimu."
Halah. Aku tahu itu hanya alasan Papa doang. Bilang saja kalau aku harus menemaninya di sini.
"Aku jadi bawang gosong, Kak Lea. Tenang aja. Nggak nganggu kok," tambah Attala setelah Papa bangkit.
Attala tersenyum misterius padaku. Senyum apaan tuh? Tak jelas.
Aku duduk dengan tenang di samping Brian, berpura-pura nyaman padahal tidak tahu harus melakukan apa. Bingung dan juga canggung. Sedangkan Attala sudah bermain dengan dunia games. Saking seriusnya dia begitu mendalami sampai orang lain diabaikan.
"Aku tahu Ibu datang menemuimu," ucap Brian to the poin.
Ibu? Tante Maretha?
"Ah! Ya. Tante Maretha menemuiku kemarin. Ada apa?"
Brian terlihat datar saat menatapku. Oh, tidak. maksudku memang agak datar, namun masih ada sedikit sisi lembut dari matanya. Sedikit sekali. Sampai aku butuh kaca pembesar untuk memastikannya.
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku sedang mencari surat berwarna biru. Kupikir Ibuku memberikannya padamu," ungkap Brian.
"Surat?" tanyaku.
Tiba-tiba aku ingat perkataan Tante Maretha sebelum beliau pulang. Dia berpesan, "Brian tidak tahu soal surat ini. Jadi, Tante mohon, berpura-puralah tidak tahu saat dia bertanya soal surat ini."
Tante Maretha ingin aku membohongi Brian.
"Surat apa?" tanyaku.
Brian tidak menjawabnya.
Kami kembali pada heningan. Saat-saat itulah aku berharap Attala mulai bertingkah jahil atau melakukan hal konyol lainnya. Setidaknya aku tidak akan membeku di dekat Brian. Ini membuatku seperti daging di kutub selatan.
Tiba-tiba Attala bangkit dan mengomel tidak jelas pada temannya sesaat setelah game selesai.
"Dev, harusnya kamu mengalah dikit sama aku. Ck! Gimana, sih kamu! Peraturannya nggak gitu," omelnya.
Samar-samar aku bisa mendengar suara balasan.
"Kamu aja yang nggak jago, Ta. Jangan salahin aku. Namanya permainan harus ada yang kalah dan menang."
Dasar! Tuh anak maunya sendiri. Lain kali aku akan bilang sama Devon, serang terus! Buat dia kalah sampai kesal. Hahaha.
Kemudian aku sadar, jika Attala meninggalkan kami. Aku tersenyum manis saat Brian melihat sendiri gelagat adikku yang agak kocak sedikit. Atau parah?
"Jika Ibuku memberikan surat padamu, jangan pernah membukanya, Azlea?"
"Kenapa?"
"Tidak ada alasan."
Dia pikir aku bocah dua tahun yang bisa dia bohongi.
"Sesuatu yang dilarang pasti punya alasan. Dan kamu bilang tidak ada alasannya. Aku tidak percaya."
Sial! Sekarang aku ingin tahu isi surat itu dan mengetahui alasan Brian melarangku.
"Kamu ingin tahu alasan yang sesungguhnya?"
"Ya."
Brian mendengkus pelan, "Mendekatlah."
"Aku?"
"Siapa lagi?"
"Tidak. Aku tidak mau!"
"Kamu ingin tahu alasannya. Maka mendekatlah."
Jangan Azlea. Jangan! Kamu akan masuk perangkapnya seperti waktu itu.
"Kalau kamu tidak mau, maka aku yang mendekat padamu," bisik Brian tepat di telingaku.
Tunggu!
"Alasannya adalah ...."
Alasannya? Brian menggantungkan kalimat itu sampai aku terjebak dalam alunan melodi dengan suasana romansa. Detak jantung ini. Aku bisa merasakannya kembali.
"Apa?"
"Kamu," lanjutnya.
Hah? Aku?
Brian menatapku intens saat aku membalas tatapannya. Bedanya aku menatapnya penuh tanya.
Kenapa aku menjadi alasannya? Dia benar-benar pandai menggunakan teka-teki yang harus aku pecahkan.
"Alasannya adalah kamu, Azlea."
"Aku? Bagaimana bisa aku jadi alasan yang nggak masuk a--"
"Kamu nggak perlu tahu banyak. Cuma tahu dalam artian yang sebenarnya. Bahwa semua itu memang ada alasannya. Dan alasan itu kamu. Itu cukup untuk mengurangi rasa penasarmu?"
"Cukup, Brian. Bisa jelaskan padaku dengan lebih gamblang?"
Brian tidak menjawab. Dia hanya mendekat dan dengan sengaja menarikku ke dalam pelukan hangat.
Aku mendongak supaya bisa melihat sepasang mata hitam miliknya. Dia menatapku cukup dalam. Sampai aku terhanyut ke dalamnya.
"Suatu hari, Azlea. Kamu akan tahu semuanya. Aku janji."
Dia sudah berjanji padaku. Ingatkan aku untuk memintanya suatu saat nanti.
♡
Bersambung