PERFECT (Brian & Azlea)

PERFECT (Brian & Azlea)
Part 34



Bagaimana jika nanti aku benar-benar jatuh? Apakah ada orang yang akan membantuku sebagaimana pria itu hadir?



Padang rumput yang membentang jauh di depanku saat ini adalah salah satu hal yang paling kukagumi. Tempatnya dipenuhi dengan bunga-bunga dan juga rerumputan liar. Ada sungai kecil di ujung sana. Bahkan ada dua pohon setinggi tiga meter.


Aku tidak percaya Brian bisa melakukan ini. Maksudku, jikalau pun aku menyebutkan seperti apa padang rumput itu. Aku tidak yakin bagaimana menggambarkannya. Yang pasti, tempat ini sangat indah.


"Dulu, saat masih kecil aku tidak pernah berpikir untuk mencari tahu alasan untuk apa membenci orang lain. Saat dewasa aku sempat mempertanyakan tentang banyak hal. Salah satunya sesuatu yang kamu sukai."


Kami melangkah lebih jauh menuju dua pohon kembar yang memiliki dedaunan lebat. Di sanalah kami beristirahat. Sementara Brian mengambil beberapa bekal yang sudah ia minta kepada beberapa pelayan sebelum aku benar-benar bangun tadi pagi.


Brian meminta lewat mataku untuk mendekat padanya. Sementara dirinya membatuku merapikan tempat untuk kami berteduh.


"Brian--"


Ia langsung memotong panggilanku dan melanjutkan ceritanya yang sempat tertunda. Dengan rasa antusias aku menjadi pendengar yang baik untuknya. Karena, dengan cara itu aku bisa melihat banyak hal yang jarang Brian perlihatkan padaku selama ini.


"Di sinilah aku memikirkan banyak hal tanpa adanya campur tangan beberapa orang yang menekanku. Baik Ayah atau pun orang lain. Semua kulakukan untuk menjernihkan pikiran dan mengambil keputusan yang tepat."


Aku membantu Brian mengangkat sekotak bekal. Sesaat setelah itu dia memposisikan tubuhnya terlentang menatap ke atas. Memperhatikan ranting yang perlahan bergesekan dengan ranting yang lain saat terpaan angin datang.


Bagaimana aku memperhatikan setiap lekukan dari mata, hidung dan juga bibir itu. Ada percikan aneh saat tatapan kami bersirobok.


"Kenapa kamu membawaku ke sini coba?" tanyaku.


"Kupikir kamu akan suka."


Aku tersenyum dan meraih tangannya. Ikut terlentang di sisinya. Aroma pohon pinus dan mint yang menguar dari tubuh Brian saat lengannya menekan tubuhku untuk lebih dekat. Aku bersandar di dadanya. Sementara tangannya yang lain meraih rambutku dan memainkannya.


"Kumohon," bisik Brian. "Maukah kamu berbaring denganku di sini? Di atas alas pikni ini. Aku ingin--"


Brian tidak sempat melanjutkannya karena dengan cepat aku menjauh dari rengkuhannya. Aku langsung merengut dan meminta Brian tetap di tempat dengan sekali gelengan.


"Kamu meminta aku untuk berbaring di sini? Di padang rumput ini? Kamu gila!"


Dia tidak sempat menjawab pertanyaan aku sudah lebih dulu melontarkan pertanyaan lain padanya. Bukannya apa. Aku hanya sedikit was-was. Kami berada di tempat yang sangat terbuka. Berbaring dengannya bukan pilihan yang tepat. Akan tetapi sebuah godaan yang besar. Aku ingin dia ada di sisiku.


Bercumbu dan mengutarakan isi hati. Namun, di sisi yang lain aku harus bersikap rasional. Bagaimana jika ada penduduk desa yang tidak sengaja berada di bukit ini?


"Kita tidak akan melakukannya di sini. Tidak akan," balas Brian sambil terkekeh.


Dia bangun lalu menyandarkan punggungnya pada batang pohon. Aku sama sekali tidak bisa berhenti untuk tidak memperhatikannya. Bagaimana dia merengkuhku, menjaga dan melindungiku.


Tidak ada yang salah jika aku menyambut kecupannya. Tidak akan ada yang berani menghentikan kami. Dia milikku dan aku miliknya. Kami sudah terikat.


Aku bisa melihat bagaimana Brian menatapku. Siapa pun akan melihat caranya melihatku. Bagaimana mata itu memuja dan berbinar saat aku membalas pelukannya.


"Setiap saat, setiap waktu aku selalu memikirkan dirimu. Hal gila apa yang sudah kamu lakukan, hm? Bagaimana bisa kamu membuatku seperti ini. Menjadikanku pria yang hanya mencintai satu wanita."


"Apakah itu kesalahan?" tanyaku.


"Tentu saja kesalahan, Cherìe. Kesalahan terbesarmu. Mulai hari ini dan seterusnya, kamu tidak akan pernah pergi dariku. Tidak akan."


Brian tidak mencium bibir ini. Dia hanya mengucup pipi.  Brian bisa melihat sendiri bagaimana aku memalingkan muka. Takut kalau dia menyadari perubahan wajah ini dengan sangat jelas.



Hari beranjak siang saat kami kembali melewati semak-semak belukar. Brian membantuku melewati bebatuan dan berakhir bertemu Troya yang tengah berdiri di dekat pohon dengan mulut yang habis mengunyah rerumputan.


Tidak ada pembicaraan serius selain sedikit pertanyaan seputar Villa yang kami tempati. Bodohnya aku. Ternyata villa tersebut adalah bagian dari properti milik Brian yang ia bangun sejak empat tahun.


Sedangkan Pak Gede adalah orang yang Brian percayai untuk mengurus usahanya selama ini.


"Kupikir kita ke sini karena ada pekerjaan penting," ujarku.


"Ya. Memang ada. Tapi nanti sekitar jam delapan malam. Sebelum itu, kita harus bersiap."


"Bersiap untuk apa?"


"Sekarang kamu itu istriku. Artinya, ke mana pun aku pergi di sana ada kamu."


Hanya dengan satu kalimat sederhana yang keluar darinya saja aku sebahagia ini. Bagaimana bisa Brian menunjukkan sikapnya yang selama ini begitu dingin itu berubah menjadi sebalok es yang mencair.



Tidak ada hal yang menarik perhatianku sesampainya di ball room hotel. Tempat di mana kami akan bertemu dengan beberapa teman Brian. Satu hal yang mengalihkan semua sudut pandangku adalah saat kehadiran wanita anggun yang menyapa kami.


Tapi kenapa? Firasatku mengatakan wanita itu punya ketertarikan dengan Brian.


"Azlea."


"Ya?"


Sementara tangannya yang bebas menarik lenganku sambil berbisik.


"Jangan biarkan suamimu ini diambil orang."


Sialan!


Antara ingin marah atau tertawa. Dia memang bisa membuat perasaanku lebih baik tanpa kusadari.


Aku tersenyum saat beberapa pria yang sempat Brian kenalkan sebagai seniornya dulu menyapa selayak teman yang baru berjumpa setelah sekian lama.


"Ah! Awalnya aku nggak percaya saat Davin bilang kalo kamu udah menikah," ujarnya.


"Hm."


Aku meringis kecil melihat respon Brian yang kelewat dingin.


"Oh iya, siapa namamu tadi?"


"Azlea," balasku.


"Bagaimana dia?"


Hah? Bagaimana apanya?


"Maaf, suami saya suka kepo. Hehehe."


Aku mengangguk.


"Yang sabar pokoknya kalo sama Brian ya," lanjutnya.


"Memangnya kenapa?" Kulirik Brian yang membalas lirikan ini lalu aku kembali menatap mata istri teman Brian.


"Kata Reza, Brian tuh orangnya kek balokan es gitu. Kalo sekali ngomong bikin naik darah."


Kami mengakhiri perbincangan saat putra mereka rewel minta puding susu. Kami menjauh lalu mencari meja.


"Tunggu di sini ya."


"Mau kemana?"


"Ke toilet."


"Nggak boleh."


"Ih. Udah diujung nih," bisikku.


"Cium dulu."


Gila. Masa di sini?


"Nggak mau."


"Pilih yang ini atau yang ini," tunjuknya pada pipi dan bibir.


Brian belum sempat buka suara aku lebih dulu kabur. Sempat-sempat dia menggodaku. Ugh!!


Setelah menjauh beberapa langkah kulihat seseorang menghampirinya. Seorang pria bermata biru cerah seperti langit. Namun, begitu aku fokus ke depan sebuah bahu menabrak tanpa sengaja.


"Ah maaf."


"Tidak apa," ucapku.


Aku kembali berjalan.


"Tunggu--"


Dia menghentikanku secara mendadak.


"Ya?"


Dia seperti memperhatikanku dari atas sampai bawah lalu tersenyum datar.


"Kukira dia menikah dengan wanita seperti apa. Ternyata hanya anak kecil," celetuknya.


Dahi ini mengernyit tak suka. Dia berkomentar seenak jidat. Anak kecil dia bilang?


"Maksud ibu apa ya?"


"Ibu kamu bilang!" Bibir yang awalnya merekah penuh ambisi itu langsung terkatup.


"Anda siapa ya?" tanyaku.


"Aku? Aku ini--"


"Ah! Saya tahu." Aku langsung memotongnya.


"Anda pasti salah satu wanita yang sering SUAMIKU bilang tante-tante gila."


"A-apa--"


"Atau bisa aku sebut wanita murahan?" bisikku.


"Kau!"


"Hehehe ... maaf ya. Biasanya wanita tua emang mudah darah tinggi. Faktor umur."


"Huh! Kalo saja dia masih hidup. Aku yakin bukan kamu yang berdiri bersamanya. Padahal di lihat dari mana pun kamu tuh hanya seorang wanita yang tidak tahu apa-apa."


Apa maksudnya coba? Sial. Mendengar dia mengatakan itu membuat amarahku bergejolak.


"Sayang," panggil Brian menghentikan beberapa rencana untuk membalas wanita aneh satu itu.


"Kuingatkan untuk terakhir kali. Tutup mulutmu!" Aku terkejut saat Brian melingkarkan lengannya padaku.


"Brian--"


"Ayo kita kembali, Istriku."



"Siapa lagi dia. Mantanmu? Kekasih gelap atau wanita sewaan? Kupikir hanya cukup satu kali aku lihat suamiku didatangi wanita sesaat setelah pernikahan seperti waktu itu."


Akhirnya kami pulang lebih awal. Aku marah.


"Ternyata masih ada. Emangnya ada berapa deret sih? Bikin kesal. Tau gitu aku tidak usah sok kalem. Apa harusnya kutarik tuh rambut model ekor kuda?"


Brian terkekeh.


Aku langsung memukul lengannya dengan tas.


"Aww!"


"Ini nggak lucu!"


Seandainya dia sedikit mengerti. Maksudku bukan hanya pembelaan saat di depan wanita itu. Setidaknya sekarang dia menjelaskan sesuatu tanpa diminta. Tapi apa? Dia hanya diam! Bahkan menertawakan kekesalanku.


Bersambung