
Sore menjelang malam. Langit terlihat begitu indah saat aku masih setia duduk di bibir ranjang dengan Brian yang berlutut di hadapanku. Tidak ada yang mengalihkan kebisuan ini selain sibuk mengatur perasaan masing-masing. Meski tidak kupungkiri. Sesekali Brian membelai jemari ini dengan lembut.
Memberi hal kecil seperti perhatian yang tidak akan dilepas begitu saja olehnya.
Sayangnya aku tetap mengabaikan hal itu. Perasaan ini hanya sedang mengalamai fase bimbang yang tak menentu. Bertanya-tanya semenyebalkan apa aku di masa lalu? Apakah aku begitu centil sampai membuat Brian muak hanya dengan semua yang pernah aku lakukan?
Tapi kenapa tidak ada yang mengatakan kebenaran apa pun padaku? Baik Papa atau Mama. Mereka masih setia dengan kebisuan. Seharusnya ada orang mengatakannya meski harus menyakitiku. Sebelum aku benar-benar mencintainya. Karena sekarang ataupun nanti hasilnya akan sama saja.
Bedanya, aku tidak tahu harus bereaksi apa. Marahkah? Kecewa atau benci?
Dalam situasi macam ini aku tidak bisa bersikap rasional sementara lelehan air mata tidak mau berhenti.
Aku ingin pergi dan meninggalkan tempat ini. Ke mana saja. Asal jauh. Namun, di sisi yang lain aku tidak bisa melakukannya. Bagaimanapun juga ada dua orang yang sama-sama tersiksa di sini. Baik aku ataupun Brian.
Dia sudah mengatakan semua. Dari awal sampai akhir. Sesaat setelah aku sadar dan pulih dulu, dia tidak mau menunjukkan batang hidungnya di hadapanku karena satu alasan.
Alasan yang ingin sekali kupertanyakan. Apakah semenyesalkan itu? Bukankah dia memang pantas mendapat hukuman yang setimpal dengan mengenggam rasa bersalah selama ini? Tapi kenapa?
Apa karena itu dia tidak ingin menerima perjodohan ini? Melihat bagaimana dia bersikap dingin. Brian merasa bersalah. Atau ada alasan lain yang dia sembunyikan dariku?
♡
Brian masih setia duduk dan menggenggam jemariku sejak setengah jam yang lalu sepertinya. Dia tidak mengatakan apa apa. Hanya diam dan menunggu. Atau lebih tepatnya tidak mengizinkanku pergi atau menjauh dari jangkauannya.
"Aku lelah."
"Istirahatlah kalau begitu."
"Tidak. Aku harus pulang. Pasti semua orang di rumah sedang bertanya-tanya kenapa aku belum kembali sekarang."
"Aku tidak mengizinkanmu pulang."
"Apa maksudmu? Pokoknya aku ingin pulang!"
"Kamu tetap tinggal di sini."
"Jangan paksa aku untuk tetap tinggal, Brian. Aku harus menenangkan diri. Memikirkan kembali."
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
"Kenapa kamu jadi orang super protektif seperti ini?"
"Untuk kali ini aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi. Tidak untuk yang kedua kalinya." Brian mengatakannya dengan tegas.
"Aku tahu mana yang baik dan tidak. Jadi jangan berpikir aku akan mengambil keputusan yang salah nantinya. Brian, dengar. Aku cuma mau sendiri!"
"Aku melarangmu."
"Apa hakmu melarangku?! Jangan membuat ini semakin rumit tau."
"Aku tunanganmu jika kamu lupa."
Aku mendesah lelah sebelum bangkit, sementara Brian ikut berdiri. Kali ini dia berada di samping kanan dengan tangan kami yang saling bertautan. Aku tidak tahu kalau Brian bisa jadi seperti sekarang. Tidak membiarkanku pergi dari sisinya satu jengkal pun.
Namun, sebelum kaki ini melangkah lebih jauh menuju pintu. Brian sudah lebih dulu bertindak. Tanpa kata, tubuh ini langsung terangkat oleh lengan Brian ala bridal style. Dia membawaku kembali untuk duduk ke ranjang--bukan. Lebih tepatnya menidurkanku di atas ranjang berbed cover abu-abu cerah tanpa motif.
"Istirahat."
"Aku ingin pulang. Pulang! Bukannya malah tiduran di sini! Ya Tuhan."
"Kamu mengatakan 'aku lelah', lelah artinya harus istirahat. Dan aku tidak akan mengantarkanmu pulang saat kamu masih lelah dan 'harus tidur'."
Brian malah ikut naik dan berbaring di samping seperti sebelumnya.
"Kenapa malah ikutan berbaring?" omelku.
"Menemanimu."
"Ya Tuhan! Aku benar-benar tidak sanggup lagi berada di kamar ini dengan jelmaan Sun Go Kong yang keras kepala. Apa aku harus memanggil pasukan dewa supaya dia menyingkir dari hadapanku dan membiarkanku pergi?"
Brian malah tertawa menanggapinya. "Sun Go Kong yang tampan."
"Tapi menyebalkan. Aku benar kan?"
"Ya. Oppa kesayanganmu pun kalah dariku."
"Oppa siapa?"
Bukannya menjawab pertanyaanku dia malah melingkarkan lengannya pada tubuh ini dengan sengaja. Brian tidak pernah tersenyum. Namun, dengan situasi seperti sekarang, dia malah tersenyum sangat lebar. Apa dia tahu tindakan itu tidak akan mengubah perasaan ini lebih baik dari sebelumnya.
"Diamlah," bisiknya.
"Brian. Aku benar-benar ingin pulang."
"Tidur."
"Tidak. Aku tidak mau."
"Terserah."
"Hm."
Dia bilang 'terserah' tetapi, bukannya lepas ia malah manarikku lebih dekat. Maunya apa, sih? Brian bahkan tidak peduli saat aku mengatakan, aku ingin sendiri setelah pengakuannya.
Brian melakukan tindakan mencium kening dengan cepat. Sambil bergumam, "Tidurlah."
Aku hanya bisa diam saat Brian menepuk-nepuk pundak sebagai pengantar tidur. Dia pikir aku Clarisa?
"Tidurlah, Azlea."
Bagaimana aku bisa tidur jika dengan posisi seperti ini? Dia terus menatapku sejak tadi. Sedangkan aku berusaha mengabaikannya bahkan berdoa semoga Brian tidak sadar dengan detak jantung ini berdetak tiap kali berada dalam dekapannya atau saat kami saling bersisihan seperti ini.
"Kamu tahu betul caranya membunuhku." Aku berbisik.
"Tidak, Cherie. Kamu yang tahu betul bagaimana membunuhku."
♡
Seharusnya aku bisa mengambil kesempatkan untuk bangun dan pergi meninggalkan Brian yang kini terlelap dalam mimpi. Hari sudah mulai malam. Namun, kamar ini terasa lebih gelap. Samar-samar terdengar suara Clarisa yang mengetuk pintu diiringi dengan percakapan antara gadis itu dengan baby sister.
Apa Brian mengunci pintunya. Aku harus turun dan memastikannya sendiri.
"Mau ke mana, hm?"
Shit! Kenapa dia sudah bangun.
"Kalau kamu mengira aku sudah tidur itu salah besar, Cherìe. Aku bukan pria bodoh yang akan membiarkanmu pergi."
"Aku mau menemui Clarisa."
Lagi dan lagi. Brian tetap melarangku untuk beranjak dari ranjang king size miliknya. Aku tidak mau terjebak di rumahnya apalagi di kamar ini sampai malam.
"Bawa Clarisa ke sini."
Brian langsung menelpon seseorang, kamudian dia bangun dan pergi untuk membukakan pintu. Saat itulah pekikan Clarisa terdengar.
"Papa!"
Tenggelamkan aku Bu Susi! Bagaimana Brian bisa membawa Clarisa masuk sementara aku ada di sini, di ranjang seperti--tidak, tidak. Dasar pria Khong Guan!
"Mama kenapa, Pa?"
"Mama lagi marah. Sudah, naik dan kita tidur bertiga di sini."
"Yee! Jadi, Clalisa boleh tidul di sini?"
Brian tidak menjawab pertanyaan Clarisa. Dia hanya melakukan tindakan dengan mengangkat tubuh kecil putrinya untuk bergabung bersama kami.
Clarisa langsung mengambil bagian di antara aku dan Brian. Saat keduanya masih menata ulang tempat tidur aku memunggungi mereka dengan sengaja. Padahal dalam hati kecilku, sungguh, maafkan aku Clarisa. Ini memang tindakan yang cukup berani, menenggelamkan seluruh tubuh ini ke dalam selimut dan mengabaikan Clarisa yang beberapa detik yang lalu menggoyangkan tubuhku mencari perhatian.
"Papa. Mama malah juga sama Clalisa? Bukannya malah sama Papa? Papa salah apa, sih?"
"Mama tidak marah denganmu. Bukannya sudah Papa katakan, Mama marah denganku."
Aku tidak tahu apa yang tengah mereka lakukan sementara tubuh ini tenggelam di selimut dalam kebisuan. Mereka tidak mengucapkan satu kata pun, kecuali bagaimana ranjang ini seperti baru saja di hantam oleh meteor berulang kali.
"Astaga! Apa yang sedang kalian lakukan--"
Sebuah hantaman bantal guling langsung mendarat di bahu ketika aku bangun dan melempar selimut ke samping.
"Hahahaha."
Tawa mereka menggelegar setelah apa yang keduanya lakukan padaku. Aku meringis mendapati kelakuan mereka.
"Oh! Ceritanya kalian mau perang bantal?"
"Ayo kita pelang bantal," seru Clarisa.
"Aku nggak mau ikutan."
Clarisa malah menarik tangan lalu berseru padaku kalau dia ingin membalas pukulan papanya. Awalnya tetap bilang tidak sampai anak itu berbisik.
Brian mengernyitkan dahi. Saat melihat aku bangun dari ranjang dengan malas. Tanpa persiapan yang matang, aku dan Clarisa langsung memukul Brian dengan bantal.
"Kalian kena!"
Namun, permainan ini seperti sudah direncana oleh pria berkepala hitam. Clarisa malah memukul kami berdua. Di mana Brian melindungi ala super hiro.
"Modus." Aku mencibir Brian setelah dia memelukku dengan alasan melindungi.
Dasar.
♡
Bersambung
Typo di mana-mana.