PERFECT (Brian & Azlea)

PERFECT (Brian & Azlea)
part 25




"Cherìe. Tukar tempat dengan sahabatmu."



Hampir saja aku tersedak saat Brian sengaja memanggil dengan panggilan Cherie di hadapan semua orang. Demi Tuhan! Apakah Brian sengaja melakukannya? Dia benar-benar membuatku mati kutu. Atau malu lebih tepatnya.


Bedanya, jantung ini berdebar sangat cepat. Sampai-sampai aku harus mengabaikan tiap kali tatapan Brian mengarah padaku.


"Aku tetap di sini," putusku.


Mengabaikan perintah Brian adalah hal pertama yang kulakukan. Memangnya kenapa, sih? Lagi pula berdiri di sisi mana pun sama saja.


"Azlea. Tukar tempatmu--"


"Memangnya kenapa?" Aku langsung memotong perkataannya. Tidak mau memberi kesempatan untuk Brian kembali memberi perintah.


"Karena kamu terlalu dekat dengan Pria Hidung Belang."


Joya yang merasa terpanggil pun melirikku. Sebelum Joya mengungkapkan pendapat tentang sebutan untuknya aku sudah lebih dulu menepuk bahunya pelan.


"Pria Hidung Belang," godaku.


"Azlea," Brian memanggilku sekali lagi.


"Aku tetap tidak mau, Brian."


Astaga. Kukira dia tidak akan memberi nama dengan asal-asalan seperti itu lagi. Ternyata tidak. Brian masih saja menyebut Joya dengan sebutan yang sama. Sabar, Azlea. Sabar.


Sabar menghadapi pria seperti dirinya.


"Jika tidak. Aku bisa marah. Jika marah artinya apa?"


"Apa!" Aku menantang.


"Artinya aku cemburu!"


Untuk pertama kalinya, Brian mengakui bahwa dia bisa cemburu hanya karena hal sepele seperti ini.


"Aku tidak suka kamu dekat dengan pria lain selain diriku, Sayang."



Selama aku dan Brian berdebat, mereka semua meninggalkanku tanpa mengatakan apa pun. Dan selama itu pula, Brian selalu berada di sisiku. Menjauhkan para mahasiswa yang ingin berfoto atau mengucapkan kalimat selamat juga pelukan seperti mahasiswa lainnya dengan sekali tatap.


Brian bertingkah seperti bodyguard. Namun, secara bersamaan tingkahnya seperti suami yang over pada istrinya. Aku tidak tahu, bagaimana sosok Brian bisa melakukan sesuatu di luar kebiasaannya.


Meski sikap dingin dan caranya mengintimidasi masih ada. Brian membuang sedikit rasa apatis yang ia miliki, lalu mengubahnya menjadi sikap peduli.


"Kita pulang sekarang, Cherìe."


"Tunggu." Aku mencegah Brian membawaku pergi.


"Ada apa?"


Apa yang harus aku katakan? Jika bukan Brian, setidaknya aku harus memulainya lagi. Mau bagaimanapun akulah yang sudah berkata kasar padanya.


Saat aku mendongak untuk menatap matanya, Brian sudah lebih dulu membingkai wajah ini dengan kedua telapak tangannya.


"Maafkan aku."


"Tapi tetap saja. Maaf."


"Please, Sweetheart, don't say sorry when it was entirely my fault."



Sepulang dari acara wisuda, Mama dan Papa tidak mengatakan apa pun. Begitu juga dengan Attala. Mereka hanya memperhatikan bagaimana aku duduk tenang sambil menatap kaca mobil. Semuanya terasa aneh. Tanpa kehadirannya, ada bagian dari diriku yang hilang.


"Ada apa Attala?" tanya Mama sesaat setelah melirik kami.


Attala hanya menggelengkan kepala. Tumben dia cuma diam jika sedang ditanya Mama.


"Kak," panggil Attala.


"Hm?"


"Aku mau tanya sesuatu padamu, Kak."


Aku langsung memutar tubuh dan memperhatikan Attala. Apa yang ingin dia tanyakan? Hm ... mungkinkah cara menaklukkan hati seorang perempuan? Atau cara hm ... menyatakan cinta?


"Kak."


"Oh!"


"Kakak lagi mikirin apa?"


"Tidak ada." Aku melambaikan kedua tangan sebagai isyarat.


"Kak," panggilnya sekali lagi.


"Kamu tuh mau ngomong apaan, Attala?"


"Itu--aku bingung mau bertanya apa sama Kakak."


"Terus?"


"Tadi aku masuk ke kamarnya Kak Lea--"


"Apa?! Ngapain?"


Mama dan Papa melirik kami setelah berhenti perempatan lampu merah. Kemudian kembali fokus ke depan, mengabaikan aku dan Attala.


"Tidak sengaja aku menemukan surat berwarna biru," bisik Attala.


Surat? Surat apa? Apa jangan-jangan ... oh tidak. Itu pasti surat pemberian Tante Maretha. Bagaimana aku lupa tidak membukanya? Azlea!


"Kak." Attala menatapku sebelum menghembuskan napas pelan.


"Aku melihat sesuatu dari surat itu. Awalnya kupikir isinya hanya tulisan tangan--tapi tidak. Ada isi lain selain itu."


"Maksudnya, kamu udah buka surat itu?"


Attala mengangguk. "Kakak akan kaget sama sepertiku setelah membukanya."


Surat itu. Memangnya apa isinya?


Bersambung


Semoga kalian suka. Jangan lupa komen di sini. Komen kalian adalah ide. Yeah, meski udah ada beberapa yang komen. Satu atau dua. Oke, see you next time. 😘