
Pesta pertunangan berakhir sesaat setelah aku memakaikan cincin di jari manis Brian. Semua orang tersenyum penuh antusias dan sebagian besar dari mereka bertepuk tangan mengiringi, tidak terkecuali Papa dan Mama. Tidak banyak yang kami undang. Hanya beberapa kerabat dan juga teman terdekat.
Aku dan Brian menyapa banyak orang dan dia memperkenalkanku pada beberapa teman satu kampus di Australia dulu, lalu kami berpisah untuk menyapa para undangan yang lain, terlebih saat Vinda datang bersama Ryan untuk mengucapan selamat atas pertunangan kami.
Dengan sengaja Vinda menarikku untuk menjauh dari Brian.
"Aku ingin menjauhkanmu dengan Brian di pesta pertunangan, tidak di pesta pernikahanmu nanti. Karena aku tidak bisa menjamin calonmu akan memberimu waktu setelah ini."
"Maksudnya apa, Vin?"
"Polosnya sahabatku ini ...." Vinda menggelengkan kepala tidak percaya bahwa aku tidak mengerti perkataannya.
"Intinya, ya. Saat kamu sudah bertunangan dan akan menikah. Artinya kamu tidak bisa melakukan apa pun yang kamu sukai tanpa persetujuannya," lanjutnya.
"Lalu?"
"Lupakan. Intinya aku senang kamu akan menikah. Suatu saat nanti kita semua akan sibuk dengan keluarga masing-masing. Aku akan merindukanmu, Lea."
"Aku pasti merindukanmu juga," ungkapku sambil memeluknya.
"Oh ya! Katamu waktu itu dia punya putri yang sangat menggemaskan? Dia di mana?"
"Dia sedang bersama Kak Martha."
Saat Vinda berbisik ingin mengambil minuman aku mencari keberadaan Brian, dia berada di sekumpulan kolega dan tersenyum tipis sebelum tenggelam dalam pembicaraan. Sedangkan aku berada di antara kerabat dan beberapa teman untuk melepas rindu sekaligus reuni dadakan.
Saat mengingat Brian, sekarang aku tahu kalau dia adalah direktur utama di SS Group. Itulah sebabnya lima hari sebelum pertunangan ini Brian harus mengambil banyak pekerjaan untuk mengosongkan jadwal pada hari H.
"Brian."
Aku lihat, seorang wanita yang nampak cantik dengan dress merah maron yang dia kenakan langsung tersenyum dan menyapa Brian.
Sekilas aku memperhatikan wanita itu dari jauh--salah. Maksudku tidak terlalu jauh, nyatanya aku bisa mendengar suaranya.
Apa dia juga tamu undangan Brian?
Saat fokusku teralihkan dengan teman satu kampus yang lain untuk sejenak, aku mendapati Brian berbincang serius dengannya.
"Aku tidak percaya kamu melakukan ini," ungkapnya pada Brian.
Samar-samar aku mendengar nada suaranya yang tidak terima. Apa maksudnya? Aku tetap mengawasi sampai Brian memergokiku tengah memperhatikannya, dia langsung menarik wanita tersebut menjauh dari keramaian. Siapa dia? Untuk apa Brian membawanya pergi?
Aku harus ke sana dan mencari tahu sendiri. Akan tetapi ....
"Selamat ya, Lea. Aku nggak nyangka kamu akan bertunangan sebelum wisuda," kata Dina memecah perhatianku.
Dina langsung memelukku erat. Tenangkan dirimu, Azlea.
"Terima kasih sudah mau datang, Din."
Aku membalas Dina dengan senyuman dan mengabaikan Brian meski ada beberapa pertanyaan yang terlintas, setelah itu aku bersikap seolah tidak terjadi ada apa-apa dan kembali berbincang dengan yang lainnya.
Dari kejauhan aku bisa melihat seseorang berdiri memperhatikanku, dia orang yang pernah mengatakan perasaannya padaku. Andre? Kupikir dia tidak akan datang karena pernah membuatnya malu atas penolakanku dulu.
Sekarang dia malah mendekat dengan senyum persahabatan yang kentara. Entahlah. Andre pandai membohongi perasaannya agar orang melihatnya terlihat baik-baik saja. Aku tahu dia seperti apa jauh dari siapa pun.
"Aku tahu kamu memang cantik," ungkap Andre.
"Mulutmu memang sangat manis sejak dulu," balasku.
Andre tersenyum. Wajahnya memang tidak menggambarkan betapa terlukanya ia di balik itu semua. Hanya saja, suara yang agak bergetar yang keluar dari bibirnya dapat aku rasakan. Dia terluka lebih dari yang aku bayangkan.
Dulu, Andre adalah salah satu teman terdekatku setelah Vinda. Bahkan Lihatlah sekarang. Dia memang sama populernya dengan ketua BEM. Aku tidak pernah menyangka dia mampu menjadi orang seperti sekarang, sukses dalam kariernya. Padahal kami sama-sama belum wisuda.
"Bagaimana kabarmu?"
"Tidak lebih baik daripada dirimu," balasnya.
"Ayolah, Dre. Itu udah lama berlalu sejak kita pertama bertemu--"
"Masa lalu. Kamu benar. Apakah kamu sama sekali tidak pernah ada rasa denganku?" tanya Andre.
Aku menggelengkan kepala. "Tidak."
"Kenapa?"
"Jujur, Dre. Aku menganggapmu seperti seorang Kakak. Tidak lebih. Lagi pula, ada banyak gadis di luar sana yang suka denganmu, mengagumi bahkan memujamu."
Andre terkekeh, "Itu karena cuma kamu yang tidak menyukaiku, Lea. Mereka memuja sedangkan kamu tidak," balas Andre.
"Jadi, menurutmu aku seperti tantangan. Begitu?"
Ia menggelengkan kepala dengan cepat, "Tidak. Aku hanya berpikir, apa yang membuatmu tidak tertarik denganku."
"Entahlah."
Saat itu aku memang tidak ada niatan untuk menerima siapa pun. Tidak tertarik dengan siapa pun. Tidak ada. Setelah percakapan kami selesai dengan damai, akhirnya Andre memelukku sebagai salam perpisahan. Sebelum dia pergi, Andre berbisik padaku.
"Kamu belum tahu siapa yang menjadi tunanganmu, Lea. Brian bukanlah pria yang saat ini kamu lihat. Dia menutup semua topeng untuk bisa memilikimu."
"Jangan berbicara omong kosong, Dre. Aku nggak suka."
"Aku mengatakan apa yang kutahu, Lea."
"Kamu tahu aku seperti apa, bukan?"
"Oke. Aku nyerah. Kamu memang punya pendirian yang besar. Lagi pula masih ada kesempatan selagi janur kuning belum belengkung," bisiknya.
Aku tertawa kesal dan dengan sengaja memukul lengannya. "Pergi sana. Yang jauh, Dre."
"Tidak akan."
Sebelum pergi, dia kembali dan menatapku tenang.
"Aku tidak pernah main-main, Lea. Suatu saat kamu akan tahu bagaimana dia sebenarnya."
"Dan kamu akan tahu bagaimana aku memilih jalan ini. Maka, konsekuensi itu harus aku tanggung," balasku.
"Kamu akan menyesal."
Tidak. Aku tidak akan menyesal. Kami akan bahagia sebagaimana Mama dan Papa. Tidak lebih dari itu. Karena aku tidak ingin pernikahan sesempurna dongeng pengantar tidur yang berakhir setelah terbangun.
♡
Ketika menjauh dari semua orang, aku menyadari satu hal. Brian belum kembali. Kemana dia pergi? Siapa wanita itu? Kenapa Brian tidak mengatakan sesuatu atau sekadar memperkenalkan wanita itu padaku?
Saat bertanya pada Kak Dimas dan Kak Martha mereka sama-sama bilang tidak mengetahui keberadaan Brian. Aku mendesah kecil. Apa yang sedang dia lakukan? Ya Tuhan. Apakah aku mulai resah akan ketidakadanya dia di sini?
"Lea, ayo masuk," ajak Kak Martha.
"Tunggu sebentar, Kak. Aku harus mencari Brian."
"Udah. Masuk aja, udara malam nggak baik buat kamu," kata Kak Dimas menambahkan.
"Aku tahu perasaanmu, Lea. Kita tunggu sampai di sini biar Dimas yang mencari Brian," kata Kak Martha.
"Kok aku?" tanya Kak Dimas.
"Terus siapa lagi?"
"Sayang, sekali pun kamu mengomeliku berulang kali. Aku lebih suka itu daripada kamu diam tapi bawa pisau. Kamu tahu alasan kenapa aku mencintaimu? Karena kamu benar-benar mampu menunjukkan betapa pedulinya dirimu padaku."
"Heleh! Gombal."
"Beneran. Aku berani bersujud untukmu," ungkap Kak Dimas.
Aku hanya memutar kepala sambil membayangkan. Apa bisa, Brian seperti itu? Pasti tidak. Dia adalah pria bermuka datar.
"Nah! Itu orang yang kamu cari, Lea. Dari mana saja dia?" celetuk Kak Dimas.
Brian datang dengan senyum yang kentara. Saat melihatnya datang pertanyaan yang sempat hilang datang lagi. Apakah aku bisa mempercayakan diriku padanya. Memberinya peluang untuk memberiku cinta dan memberinya seluruh kesetiaanku?
Dia bisa melukaiku kapan saja.
Aku tidak boleh bersikap seperti barusan. Meragukan Brian. Papa selalu menekankanku untuk percaya pada orang yang saat ini berdiri di hadapanku. Jikalau memang dia menyembunyikan sesuatu, mungkin suatu saat dia akan bercerita sendiri tanpa kuminta.
Yang pasti aku akan menunggu Brian percaya, bahwa aku bisa menjaga hatinya. Percaya bahwa aku akan menjadi orang yang tetap di sisinya dan menjadi orang pertama yang mendukungnya.
"Mencariku?"
Aku mengangguk. Akhirnya Brian menarik tubuh ini lebih dekat dan dia langsung memeluk tubuh ini di hadapan para undangan. Sekilas aku bisa melihat wanita itu berdiri cukup jauh di belakang orang yang tersenyum pada kami.
Wajahnya begitu dingin. Tangan lentiknya mengepal dan dia seperti bergumam aneh. Saat pandangan kami bertemu dia menatapku dengan tajam. Sarat akan ketidaksukaan. Memangnya apa yang sudah aku lakukan?
"Brian," bisikku. Mengabaikan perasaan tak menentu dan lebih memilih menatap mata Brian.
"Hm?"
"Jika ada yang kamu rahasiakan dariku. Berceritalah suatu saat nanti. Aku ingin kamu mempercayaiku, karena dengan itu aku bisa mempercayakan diriku padamu."
"Kamu meragukanku? Katakan dengan jujur, Azlea."
"Kalau kamu, apa meragukanku?"
Bukannya menjawab pertanyaannya dengan sengaja aku mempertanyakan hal yang sama padanya.
"Kamu selalu memutar pertanyaan, Azlea."
Dia juga.
"Itu semua tergantung pada jawabanmu, Brian. Kamu yang menentukan mau membawa ke mana arah hatimu. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu jika kamu sudah memutuskannya."
♡
Tidak ada yang perlu dirisaukan. Kami baik-baik saja, bahkan Clarisa tersenyum lebar ketika neneknya bilang kalau aku akan menjadi mamanya. Akan tetapi, tetap saja Clarisa bersikukuh kalau aku memang mamanya. Jadi, untuk apa pesta pertunangan itu? Tanyanya. Saat ini, gadis mungil itu tengah bermain bersama Tante Maretha.
"Brian?"
Brian berdiri dengan tenang saat aku melangkah lebih dekat padanya. Sudah dua hari berlalu, dan aku masih agak canggung padanya. Sekarang, aku tidak tahu ini dorongan dari mana. Yang pasti aku ingin belajar banyak darinya. Sesuatu yang tidak bisa aku lihat dari diri Brian. Aku ingin mengenalnya.
"Ada apa?"
Dia mengambil kedua tangan ini dan menarikku untuk berpartisipasi, menyentuh tubuh tegapnya. Memerintahkanku untuk merasakan detak jantungnya.
"Aku selalu bertanya-tanya, Brian. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"
Setiap kali aku melihatnya. Seolah ada hal yang terlewatkan olehku. Tapi apa?
"Kita?"
"Entahlah. Hanya saja, caramu memanggilku cukup familier. Itulah kenapa aku berspekulasi bahwa aku pernah melupakan seseorang. Jawab aku, Brian. Please," pintaku.
"Tidak," ungkap Brian, "kita belum pernah bertemu sebelumnya."
Aku mematap Brian. Tidak tahu apakah dia mengatakan dengan jujur atau tidak. Suaranya, bahkan mata onyx itu membuat kilasan hitam putih datang silih berganti, membuat kepala ini berdenyut sakit. lntinya, aku tidak tahu siapa yang ada dalam momori itu.
"Siapa Andre?"
"Andre? Dia teman," jawabku.
Brian hanya mengangguk. Lalu mencium pipi ini dengan lembut sebelum seruan Kak Dimas mengagetkanku. Saking kagetnya dengan sengaja mendorong Brian sampai dia hampir tumbang ke lantai. Jika hal itu terjadi, bisa dipastikan malu adalah nama depannya sekarang. Untungnya Brian bergerak cepat.
"Saran dariku, jauhi dia, Lea. Sebelum kamu jadi santapannya. Dia--punya nafsu makan yang banyak," ceteluk Kak Dimas.
Nafsu makan?
"Maksudnya dia mudah lapar, begitu?"
"Ya, hampir miriplah. Lebih tepatnya dia itu mes--mhhhpp."
Brian langsung membungkam Kak Dimas sebelum aku mendengar kelanjutannya, bahkan mereka saling bermain mata. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan.
"Berhenti bersikap konyol. Atau aku akan menjadikan istrimu seorang janda," cetus Brian.
"Oke. Aku menyerah!"
Aku tersenyum melihat sisi lain dari mereka. Kak Dimas benar-benar suka menggoda Brian. Sedangkan Brian memang agak pemarah jika Kakaknya terus menggangu dirinya. Dia sebal karena kelakuan jahil kakaknya.
"Kalau boleh tahu, Kak Dimas. Apa kesukaan, Brian?" tanyaku dengan sengaja.
Padahal aku bisa bertanya langsung ke Brian. Dasar!
Sayangnya, jawaban dari Kak Dimas membuatku menatap Brian tidak percaya. Bahkan Kak Dimas langsung pergi begitu saja sebelum Brian kembali mengeluarkan tendangannya, ia menyelamatkan diri.
"Brian suka bercinta, Lea!" serunya lagi, " ingat itu."
Kak Dimas tertawa menang.
Sedangkan Brian terlihat biasa saja, akan tetapi dia terus menatapku. Seolah menyakinkan lewat mata jika apa yang Kak Dimas katakan hanyalah gurauan semata.
"Sepertinya aku harus pulang. Lagi pula, Clarisa sedang istirahat."
"Tunggu."
Brian mencengkal pergelangan tangan untuk menghentikanku.
"Apa?"
"Tidak ada kecupan sebelum pergi?"
Aku menggeleng, "Tidak sebelum kita menikah, Brian."
"Jangan dengarkan perkataan Kak Dimas. Dia hanya--"
"Kalau pun iya, tidak apa. Nyatanya kamu sudah membuktikan itu dengan kehadirannya Clarisa."
Brian langsung melepaskan tangannya dari pergelangan tanganku. Saat aku tersenyum dan ingin menyentuh wajahnya, Brian seperti menyadari sesuatu.
"Aku tidak bisa bercerita banyak," bisik Brian.
"Apanya? Aku tidak mengerti."
"Kamu tidak harus mengerti, Azlea."
Dia memelukku lagi. Rasa ini. Detak jantung ini. Aku seperti kembali pada masa lalu. Hanya saja, kenapa begitu sulit untuk mengingatnya kembali.
♡
Bersambung