
"Bagaimana bisa Papa melakukan ini padaku?"
Rasanya aku ingin menangis saat itu juga. Ketika mendengar pengakuan seseorang yang akan menjadi calon suamiku. Ini sungguh luar biasa. Aku sempat memandang Papa dan Mama dengan mata berkaca-kaca sebelum kabur ke kamar. Sementara Attala hanya berdiri di antara mereka. Mungkin dia tidak tahu harus melakukan apa selain diam.
Tidak sampai setengah jam aku bisa dengar pintu kamar terbuka. Ah! Sepertinya para tamu sudah pulang.
Samar-samar aku mendengar Mama dan Papa berbisik siapa yang akan berbicara denganku lebih dulu. Mereka berdebat dan aku tahu siapa yang akan mengalah.
"Papa aja, Mama nggak mau ikut-ikutan."
"Kan kamu Mamanya," ujar Papa.
"Apa? Kamu juga Papanya. Bukan aku aja orangtuanya."
"Bukan itu maksud Papa, Ma. Setidaknya kalian sama-sama perempuan--"
"Oh! Jadi sekarang mau ngelimpahin amarah anak padaku? Kan kamu yang bikin keputusan itu dari awal," omel Mama.
"Oke. Papa salah."
"Nah! Gitu dong. Mama nggak mau kalau kita semua ribut. Papa tahu gimana Mama, kan?"
Sepertinya Papa menyerah meminta Mama untuk membujukku. Aku tahu Papa tidak akan meminta Mama kalau sudah mengomel. Papa cari aman.
Untuk sesaat keheningan adalah satu-satunya yang membuatku nyaman. Hanya saja, aku tahu. Papa akan mengatakan sesuatu.
"Dengar Lea," ucap Papa. Ya kan. Papa mudah sekali ditebak.
"Papa sudah memutuskan ini agak lama. Lagi pula Nak Brian adalah pria yang baik."
"Itu karena dia duda," celetuk Mama tiba-tiba.
"Biar pun dia duda dan punya seorang anak. Papa cukup tahu bagaimana Nak Brian, Ma. Papa nggak mungkin mendorong Lea untuk menikahi pria yang sama sekali tidak baik untuknya."
Aku ingin sekali bilang TIDAK MAU pada mereka akan tetapi, kuurungkan begitu saja. Tetap bersikukuh membisu. Mengabaikan mereka dengan berpura-pura tidur. Akan tetapi mereka malah berdebat.
"Mama tahu. Papa nggak mungkin tega sama, Lea. Cuma bayangin dikit, Pa. Masa iya putri kita menikah dengan duda?"
Selanjutnya aku tidak mendengar apa pun.
Hening.
Sebelum suara Papa kembali terangkat, aku dengar mereka seperti baru saja berbisik-bisik tidak jelas. Anehnya, suara kekehan Mama malah samar-samar terdengar.
"Lea," panggil Papa.
"Kami tahu, ini keputusan yang sulit. Yang pasti kami akan mengatur pertemuan kalian dengan tujuan, baik kamu atau pun Nak Brian bisa saling mengenal. Soal nanti kalian memutuskan untuk tidak melanjutkannya. Terserah. Papa nggak akan menekanmu, Sayang. Papa janji."
Apa-apaan ini?
Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang. Ketika Papa dan Mama pergi dan menutup pintu, aku langsung bangun. Memukul dada dengan pelan dan mendesah panjang sampai suara Attala mengaketkanku.
"Hai Ta," panggilku.
Adikku mengangguk tanpa membalas sapaan. Paling tidak dia mendekat dan duduk di pinggir ranjang sambil memandangku lekat-lekat. Dia membuatku takut tetapi, aku terlalu malas untuk angkat bicara satu kata pun saat ini.
"Tenang, Kak. Aku nggak mau Kakakku yang manis ini menikah dengan pria jahat seperti di sinetron yang sering Mama tonton. Jadi aku bakal diam-diam cari tahu siapa dia."
Aku mendengkus. Bisa-bisanya dia menyamakanku dengan drama semacam itu. Melihat Attala terkekeh membuatku ingin memukul lengannya.
"Idih. Kamu kira Kakakmu ini bakal selemah ala-ala film-film taubat?"
"Bisa aja. Kakak pan suka nyiksa adek sendiri."
"Pokoknya kalau kamu tahu sesuatu dan tidak segera memberitahuku, aku bakal memukulmu keras-keras, Ta," ancamku sebelum dia menutup pintu.
"Percaya amat, sih Kak. Mana Kakak tahu aku tahu apa nggak? Jangan asal main pukul."
"Biarin!"
Dia hanya memberiku isyarat tangan 'OK' sebelum menjulurkan lidahnya ke arahku.
♡
Hari berikutnya aku masih melancarkan aksi ngambek pada mereka. Tidak peduli jam berapa pagi itu, aku langsung pergi dengan motor ke kampus seperti biasa. Atau mampir ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Sampai Vinda menghubungiku dengan suara penuh antusias seperti biasanya. Ujung-ujungnya kami janjian bertemu di kelas. Dia benar-benar kepo soal cerita lengkapnya bagaimana aku mengabaikan Mama dan Papa.
"Tunggu! Kamu bilang apa barusan?"
Vinda langsung menggeser snacks kentang jauh-jauh dan memandangku dengan tatapan bertanya. Setelah mengungkapkan kejadian kemarin malam.
Wajahnya yang oval serta mata yang agak sipit mengingatkanku pada seorang aktris Hollywood berdarah Tionghoa entah siapa namanya. Aku lupa. Vinda memang memiliki kulit putih bersih, sekilas bisa kulihat anak rambut yang membingkai wajahnya sedikit mempertegas betapa dewasanya dia. Meski dibalik itu semua, dia sama sepertiku. Kekanak-kanakan.
"Aku nggak mau mengulanginya, Vin."
"Ayolah! Ceritakan lagi, Lea. Aku masih sangat-sangat kepo. Jadi," katanya menggantung, "kamu, dijodohkan dengan pria duda. Begitu?"
Dengan terpaksa aku mengangguk.
"Ya Tuhan! Apa bibirku ini begitu ajaibnya? Sampai-sampai Tuhan mengabulkan perkataan yang keluar dari mulut emberku? Sekarang cubit aku."
Dahiku mengernyit. Tidak paham dengan arah pertanyaannya. Sampai dia kembali mengomel tidak jelas betapa dia tidak sengaja mengucapkan hal itu padaku. Tentang pria duda beranak lima yang pernah ia cetuskan kemarin di kafe.
"Itu hanya kebetulan, Vin."
"Kebetulan apanya? Itu artinya Tuhan mengirim pertanda lewat mulut comberku, Lea. Kamu nggak percaya?"
"Nggak ada alasan untuk percaya, Vin. Itu hanya kebetulan," ucapku bersikukuh.
"Kebetulan yang luar bisa."
Ya. Tepat sekali. Itu adalah kebetulan yang luar biasa. Sampai aku ingin pingsan saat itu juga jika saja aku tidak sadar ada lima pasang mata yang memperhatikanku.
"Kamu nggak kaget gitu?"
Tentu saja aku kaget! Siapa yang tidak terkejut saat tahu kedua orangtuamu ingin kamu mengenal lebih jauh pria yang tanpa perasaan mengatakan kalau dia sudah memiliki putri. Ya, setidaknya dia bisa mengatakan lebih baik daripada kemarin. Menatapku dengan dingin. Seolah menunjukkan padaku dengan cara tidak langsung ketidaksukaannya.
"Terus gimana? Kamu akan menolaknya 'kan? Jujur saja, Lea. Aku nggak mau kamu berakhir dengan pria duda. Kamu tahu 'kan apa yang aku maksud?"
"Hufhh. Lebih baik kita lupakan sejenak soal perjodohanmu, Lea. Kamu mau datang tidak ke kafe biasa kita ngumpul sama anak yang lain? Ya, setidaknya untuk menghilangkan sejenak kegelisahanmu."
"Keknya aku ikut. Kamu?"
"Sorry. Aku ada acara lain sama Ryan. Mau ke rumah ibu mertua. Seperti biasa," bisik Vinda sambil terkekeh pelan.
Sepertinya aku akan berangkat sendirian besok. Maksudku tanpa Vinda. Padahal masih ada teman yang bakalan datang. Dina dan Joya atau bahkan Andre akan datang juga?
♡
Sepulang kuliah, entah bagaimana aku bisa berakhir di toko swalayan sambil membawa beberapa jenis snacks kentang. Aku memilih beberapa cemilan untuk menjadi kawan keresahanku nanti. Mengunci pintu dan memutar musik sampai malam.
Saat akan mengambil cemilan ada tangan lain yang lebih dulu mengambilnya. Oke, tidak masalah. Akan tetapi ketika aku berbalik dan memastikan siapa yang sudah menyerobot padahal tahu aku masih di sini. Maksudku, dia tidak mau mengantre.
"Tante?"
"Hai, Lea," sapa Tante Maretha.
Oh my God! Benar apa kata Vinda. Dunia ini hanya seluas daun kelor. Dari semua toko, kenapa kami bisa bertemu di sini.
"Sendirian?"
"Iya. Kalau Tante?"
"Tante bersama Brian."
Sial! Sial.
"Tuh dia anaknya. Brian! Sini, ada calon istrimu."
Calon istri? Aku menatap Tante Maretha tidak percaya.
Sekarang aku harus cepat-cepat berbalik dan kabur menuju rak yang lain. Yang penting bersembunyi.
Sebelum aku berhasil kabur, tangan ini sudah dicekal oleh Tante Maretha. Membuatku harus mengambil banyak udara untuk menenangkan diri. Sementara Brian berjalan mendekat.
"Tante, maaf banget. Sepertinya aku harus cepat-cepat pulang dan--"
"Nanti dulu. Lagi pula ini kali pertama kamu bisa bertemu Brian. Udah, jangan malu," potong Tante Maretha.
Kami berakhir di sebuah kafe tidak jauh dari toko. Saat Brian duduk dengan ekspresi tak terbaca, dan saat itu juga Tante Maretha langsung bangkit dan mengatakan akan pesan sesuatu untuk dirinya sendiri. Aigoo!
"Ngobrol ya. Jangan main diem-dieman. Nggak enak."
Selama beberapa menit berlalu kami masih sibuk dengan dunianya masing-masing. Jika Brian sibuk membalas pesan maka aku sibuk memainkan jus apel. Lalu teringat akan bocah yang kemarin hadir di saat-saat terakhir.
"Hm ... di mana putrimu?"
Bukannya menjawab pertanyaan dia malah mengangkat kepala dan menatapku. Dia benar-benar mampu membuatku terlihat tak nyaman saat duduk di hadapannya.
"Bukan urusanmu."
Patung hidup!
"Dia memang bukan urusanku. Setidaknya hargai pertanyaanku, Tuan. Aku hanya bertanya," cetusku.
Aku cemberut saat mendengar jawabannya yang dingin. Saat mengalihkan sejenak dari jus ke Brian aku mendapatinya tengah memandangiku dalam diam.
Kami hanya di pisahkan oleh meja. Namun dia terlihat semakin dekat dan dekat, wajah Brian semakin jelas. Dia menelengkan kepala dan dengan sengaja mengulurkan tangannya padaku. Apa yang akan dia lakukan? Setelah berhasil menyentuh ujung bibirku, aku sadar dia tengah membersihkan bekas jus. Cerita lama. Lalu Brian tersenyum manis. Aku tidak tahu apa yang tengah dia lakukan sebelum bisikan lirih terdengar.
"Jangan pernah berpikir kalau aku tertarik denganmu, Azlea."
Dahiku mengernyit. "Apa maksudmu?" tanyaku tidak mengerti.
"Kamu tahu apa yang aku maksud."
Jadi, dia berpikir aku tengah berusaha merayunya, begitu? Itu terdengar seperti aku gadis tidak tahu malu di sini.
"Ingat ya, Tuan Sombong! Pertemuan ini adalah ketidaksengajaan. Jadi jangan berpikir kalau aku mengambil kesempatan untuk mendekatimu. Lama-lama aku jadi kesal sendiri."
Aku bangkit sebelum sebuah telapak tangan menggenggam tanganku. Brianlah pelakunya. Aku tidak mengerti jalan pikiran pria yang satu ini. Dia malah dengan terang-terangan menarik tubuhku lebih dekat dan memelukku di hadapan semua orang yang berada di kafe. Dia memainkan aksi drama yang luar biasa.
Kurasa, dia memang cocok jadi pemeran utamanya.
"Senang bisa bertemu denganmu, Azlea."
"Sayangnya aku tidak senang bertemu denganmu. Lepaskan!"
"Tidak."
"Apa?!" Dia benar-benar membuatku kesal. Ini memalukan. Bagaimana orang-orang melihat kami sekarang.
"Lepaskan aku, Brian. Aku nggak main-main," bisikku.
Brian malah dengan sengaja mendorong kepalaku pelan ke dadanya sampai aku bisa mendengar detak jantungnya yang berdetak teratur.
Tanpa menunggu waktu lama aku langsung menginjak kakinya yang berbalut sepatu hitam. Dia mendesis sebelum melepaskan lengannya dariku.
"Kamu tidak bisa pergi begitu saja, Azlea."
"Aku mau pergi. Sudah cukup kamu membuatku malu? Mudah banget ya, kamu ngomong kek barusan. Yang terpenting adalah aku tidak tertarik denganmu, Brian! Tidak sama sekali! Jadi berhenti menuduh orang sesuka hati."
"Kalau begitu. Tolak perjodohan itu."
Jika pepatah bilang wanita itu cengeng memang benar. Aku mengakui itu sekarang. Bukan perkataannya yang membuatku marah. Melainkan tindakan tidak terduganya. Dia memelukku! Aku ingin menangis. Akan tetapi amarah terlalu besar saat ini.
"Kamu akan mengerti suatu saat nanti, Azlea. Aku melakukan ini untuk kebaikanmu."
Untuk kebaikanku? Sok pengertian sekali dia. Barusan dia bilang aku berusaha menarik perhatiannya. Sekarang dia mengatakan bahwa dia melakukannya untuk kebaikanku.
Pria macam apa yang Papa jodohkan denganku? Aku tidak mengerti bagaimana dia berpikir. Seolah mudah sekali mempermainkanku.
♡
Bersambung