
♡
Kami sempat bertengkar. Atau lebih tepatnya aku yang mengomel padanya. Dan saat kami kembali ke villa, kami sama-sama diam membisu. Meski Brian lebih memilih mengalah dan mencoba mengajakku berbicara.
"Azlea. Kemarilah."
Langsung saja menjatuhkan tubuh ini di pinggiran ranjang saat Brian bersandar sambil membuka sisi selimut untukku.
"Masih ngambek?" tanyanya.
Daripada ngambek aku lebih memikirkan malam ini. Ya, mengingat bagaimana Brian menggodaku sepulang dari reuni tadi.
Semua perkataan yang pernah teman-teman ucapkan membuatku meringis ngilu. Ini pengalaman pertama. Tapi kenapa tubuh ini sangat tegang dan canggung. Astaga! Aku tidak bisa membayangkan lebih dari sekadar berciuman.
Entah sudah berapa kali aku menghela napas. Mungkin Brian menyadari itu.
Saat Brian berbisik jika tidak malam ini ia masih bisa menunggu malam selanjutnya. Intinya, Brian memberiku pilihan.
"Aku tidak akan menyakitimu," janjinya lirih.
Bayangan tentang rasa sakit dan darah terngiang dalam pikiran ini. Takut untuk mencoba. Atau lebih tepatnya aku takut pada kenyataan.
"Aku tidak takut padamu. Hanya saja," sahutku menggantung.
Brian mendekat bersamaan dengan bibirnya yang lembut menyentuh permukaan bibir lembab ini, perlahan dan menggoda. Ia memeluk dengan santai sementara bibirnya memangut bibir ini sampai aku merasakan bagaimana bibir Brian terbuka saat aku menyambut lumatannya.
Aku menghela napas gemetar dan perlahan bersandar ke dadanya yang tegap. Tanganku melingkari leher Brian yang kuat. Aku yakin Brian merasakan betapa dingin tangan yang menyentuh kulitnya itu.
Brian mengangkat kepala sedikit untuk menatap diriku. Ya Tuhan! Bagaimana bisa aku mengabaikan mata itu? Mata yang penuh gairah yang ingin lepas tak terkendali. Seolah hanya dengan mata itu, Brian sudah melucuti tubuh ini.
"Ingin melanjutkan?" Brian menggodaku lagi.
Ia mengecup bibir ini sekali lagi. Bedanya ciuman-ciuman kecil itu malah meledakkan gairah di antara kami.
Tiba-tiba, Brian meraih pinggulku, mengarahkannya ke bukti gairahnya. Aku terkesiap, menggigil oleh sesuatu yang asing. Pikiran ini kosong seketika akibat kontak yang begitu intim.
"I-itu ...." Belalai gajah! Bukan.
"Ya, kamu tahu apa itu, ya kan, Sayang?" desis Brian di telingaku.
Pelukannya mengencang dan bibirnya ******* dengan sangat intens.
"Kamu ingin merasakannya dalam dirimu?" bisiknya.
Ugh!
Kaki ini mulai dirambati getaran-getaran kecil yang aneh dan menggelikan. Secara tak terduga tubuhku merapat pada tubuh Brian sambil menautkan lengan sekali lagi untuk merangkul lehernya.
Secara otomatis, tubuh ini terangkat seperti rela mati demi mendapatkan Brian di sisiku.
Brian merespon tindakan yang telah kulakukan. Ia menyudahi ciumannya lalu menatap mata ini dengan napasnya yang panjang.
Aku mengerang pelan ketika jemari Brian berkeliaran dari tulang selangka lalu turun ke bawah. Ia menemukan sesuatu yang menarik saat aku mencoba menghalanginya.
"Ssst ...."
Dia menginginkanku. Sekarang. Malam ini di atas ranjang ini. Mendengar tentang gagasan bahwa tubuh Brian begitu mendamba membuat sebagian pengendalian ini runtuh.
Seharusnya aku takut. Tapi mengapa? Aku malah menyambutnya dengan rengkuhan.
♡♡
Dalam keremangan Brian menarik sampul baju tidur dengan giginya. Sial! Itu membuat siapapun di posisi ini meleleh.
Bahkan aku pun bisa merasakan bagaimana Brian membuka kait bra yang hampir membuatku berhenti bernapas persekian detik.
"Tarik napas, Sayang."
Malam masih panjang. Karena alasan itu Brian terlihat berlama-lama dalam setiap sentuhan. Ia menjelajahi, menggoda dan mencicipi. Sementara aku mengerang dan terisak saat gelombang sensasi datang.
Aku menginginkan dia. Kami sama-sama ingin memiliki. Mengklaim bahwa aku miliknya.
Brian melepas kain pada tubuhnya sedangkan aku sudah dalam keadaan tak berdaya di bawahnya.
"Ingat pertanyaanku tadi?"
Bibir Brian bergerak lembut di antara kedua bibir ini seraya menggesekkan tubuhnya.
Aku terkejut!
"Aku bertanya apakah kamu ingin merasakan diriku di dalam dirimu." Suara Brian terdengar seperti menahan sesuatu.
"Kamu mau, bukan?" sergahnya.
"Brian ...!" pekiku, gemetar sambil mencengkeram salah satu lengan Brian.
Ada sesuatu yang menekan di area sana. Sesuatu yang mencoba masuk dengan sesekali membelai permukaan. Menggoda dengan cara yang paling tabu untukku.
Aku menggelengkan kepala. "Berhenti bergerak, Brian!!"
"Kamu suka?" Brian tertawa melihat reaksiku.
"Rasanya ... aneh."
Brian tersenyum dalam keremangan. Bahkan ia merileksasi tubuh ini ke dalam kecupan penuh gairah. Napas kami sama-sama tersengal oleh debaran.
"Kita akan menyatu. Aku tidak akan buru-buru ataupun kasar. Aku akan berhati-hati dan tidak akan menyakitimu, Sayang. Santai. Santai saja."
Aku mengambil udara. Sedangkan ia terdiam dalam diam lalu terdengar 'amin' setelahnya.
Brian bergerak perlahan, dengan sensual, dan aku merasakan desakan lembut yang nyata. Tubuh kami sama-sama tegang.
"Kamu merasakannya?" bisiknya.
Seperti ada sebuah batas yang memisah. Aku merasakannya, di mana selaput dara itu berdenting sesaat setelah desakan Brian semakin intens.
Aku mencengkeram lengan Brian kuat-kuat. Tidak ada rasa sakit seperti kata mereka. Aku hanya merasa tersentak. Terkejut dan takjub.
Ada yang menerobos. Besar dan hangat. Pipiku merona lalu mata ini berkaca-kaca.
"Aku ... merasakanmu," bisikku.
"Aku juga merasakanmu. Kulit selembut sutra, payudara yang lembut, bibir yang manis. Aku ... ingin lebih dekat lagi, Azlea!"
Aku merasakan hal yang sama. Sambil merintih aku menyebut nama Brian seiring sensasi kenikmatannya memuncak. Ia bergetar nikmat setiap kali aku mendesah. Rasanya luar biasa!
Bibir Brian ******* bibir ini saat bergerak makin dalam. Aku bergetar. Aku bisa merasakan Brian menyatu denganku. Brian begitu ... kuat.
Bibir Brian kembali menelusuri leherku dengan rakus. "Aku bisa membuatnya lebih baik lagi!"
Awalnya aku tidak mengerti, sampai tubuhku meledak dalam kenikmatan tak terkira.
Samar-samar aku mendengar bisikan Brian di telinganya, serak, keras dan penuh kelembutan, "Beri aku bayi yang cantik sepertimu, Azlea ...!"
Seperti meledak berkeping-keping oleh hasrat, jerit kenikmatan tanpa daya bergulung dari kerongkongan ini saat aku tak sadarkan diri selama sepersekian detik.
Ketika tersadar kembali, aku mendengar Brian mengerang di telinga, dan aku merasakan tubuh kuat Brian gemetar ketika ia mencapai puncak.
Rasa hangat mengalir di dalam rahim. Sesuatu yang begitu euforia dalam puncak malam ini.
Akhirnya Brian terkapar dalam dekapanku, degup jantungnya menggetarkan tubuh ini yang lembap karena keringat. Sesaat aku bisa melihat Brian tersenyum lalu mengecup pipi dan berlanjut ******* bibir.
Mengirim pesan tanpa kata. Ada beban yang hilang dan menyisakan kelegaan.
"Aku ingin menggodamu di dapur, ruang tamu ataupun saat di kamar mandi lalu bercinta. Aku ingin melakukannya," kata Brian.
Sebelum aku merespon Brian lebih dulu mengecupku sekali lagi.
"Lalu mengajakmu bercinta di atas meja kerja."
Aku menganga tidak percaya.
"Atau melakukannya di alam bebas?"
Bayangan-bayangan itu seperti film dokumenter yang berulang kali terputar.
"Mau melakukannya?"
Brian terdiam menungguku memberi jawaban.
"Itu terdengar sangat menantang," balasku tanpa berpikir panjang.
Dengan cepat Brian menatapku. "Kamu yakin?"
"Ugh! Berhenti menggodaku."
Brian terkekeh. Ia merengkuh tubuh ini setelah menarik selimut untuk menutupi tubuh kami yang telanjang.
"Satu lagi, Sayang," bisik Brian, "saat pagi aku tidak bisa tahan jika kamu tidak mengenakan apapun ketik aku bangun."
"Haruskah aku memakainya?"
"Kalau begitu jangan."
"Kenapa?"
"Karena esok pagi aku pasti menginginkannya," bisiknya lirih.
♡
Bersambung
Typo di mana-mana. 🔞🔞
Sumpah. Gue tegang sendiri ngetiknya. 😤😤