
Malam terus berjalan Yurisa mengajak Erick keluar untuk membeli es krim, diam-diam Yurisa berpikir seperti apa tipe gadis yang Erick suka, Yurisa ingin sekali bertanya tapi di tahan karena malu. Mereka berdua hanya diam duduk di kursi taman. Erick mencoba bertahan dalam mode menjadi laki-laki yang culun, dia ingin sekali segera pulang dari rumah dan mengeluarkan wujud aslinya.
"Aku tidak pernah se bergairah ini sebelumnya" kata Erick dalam hatinya
"Erick..." panggil Yurisa
"Iya?" tanya Erick ramah
"Apa kau pernah... Pa pac apa kau pernah pac pa kau pernah... Pernah pacuan kuda?" tanya Yurisa yang kesal dengan dirinya sendiri. Dia ingin bertanya apakah Erick pernah pacaran? Tapi pada akhirnya dia tidak bisa mengatakannya.
"Tidak pernah" kata Erick
"Sudah ku duga kapan-kapan aku akan mengajarimu, rasanya sangat menyenangkan loh" kata Yurisa
"Yurisa..." panggil Erick dengan tatapan mata tajamnya kepada Yurisa, secara sadar kepribadian Erick yang sebenarnya muncul. Ya, sifat maskulin yang kuat, yang dingin, penyayang, suka melindungi.
Yurisa heran melihatnya, dalam hatinya bertanya Sudah ku duga auranya memang berubah dan energinya juga menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Ada apa dengan Erick saat ini?
Dalam hatinya Erick berkata "Sial pada akhirnya aku tidak bisa menahan diriku. Wujud asliku mulai keluar, gawat tandukku bisa saja muncul dan mengejutkan banyak orang"
"Erick? Apa yang terjadi?" tanya Yurisa penasaran
"Aku akan pulang... Terimakasih banyak untuk malam ini" kata Erick
Yurisa kaget karena nada dan cara bicara berbeda dari sebelumnya, Erick yang saat ini terlihat jauh lebih keren, percaya diri, jantan dari sebelumnya.
"Baiklah..." ucap Yurisa singkat dan bingung atas sikapnya Erick
Kemudian Erick membungkukkan badannya sebagai bentuk rasa hormat sekaligus terimakasih kemudian dia pergi meninggalkan Yurisa. Yurisa masih menatapnya dari jauh hingga Erick sudah tak terlihat, Yurisa merasa bahwa ada yang Erick sembunyikan darinya, dia kembali teringat dengan energi yang sudah di rasakannya.
Keesokan hatinya ketika Yurisa pergi ke kampus semua anak-anak menggosipkan dirinya, mereka semua berpikir bahwa Yurisa dan Erick sudah jadian tadi malam.
"Siapa yang bilang begitu?" tanya Yurisa kesal lalu melihat Leoninko. Namun Leoninko sendiri justru berpura-pura tidak tahu.
"Leoninko" panggil Yurisa dengan suara seperti monster
"Bukan aku yang menyebar berita hoax itu" kata Leoninko
"Lalu siapa?!" tanya Yurisa yang hampir menarik pedangnya
Mereka terdiam sejenak dan teringat dengan seseorang, siapa lagi kalau bukan Devian. Ketika Yurisa mau keluar untuk menemui Devian, Erick masuk ke dalam kelas dia tersenyum kepada Yurisa sejenak lalu duduk.
"Erick kau benar berpacaran dengan Yurisa?" tanya Rosella yang mulai penasaran
"Itu tidak benar" jawabnya Erick sembari tertawa kecil
"Tapi tadi malam aku melihat kalian berdua kencan" Rosella
"Kencan? Kebetulan aku saat aku mencari makan di luar aku bertemu dengan Erick ya sudah aku mentraktirnya makan sekalian iya kan Erick" ucap Yurisa yang merangkul Erick dengan akrab
"Iya itu benar sekali" kata Erick yang tetap ramah kepada teman-temannya
"Eh begitu ya" Rosella
"Kenapa kalian berdua tidak jadian saja? Menurutku kalian sangat cocok?" kata Leoninko yang asal bicara melihat Erick dan Yurisa
Yurisa agak menjauh dari Erick
"Masa sih?" sahut teman mereka yang lain bernama Jhonson
"Menurutku tidak, Erick adalah sosok yang lemah lembut. Sementara Yurisa itu terlalu bar-bar" kata Alex
"Tapi selama ini aku tidak pernah melihat Yurisa berbicara kasar kepada Erick" sahut Kai
"Ah iya itu benar! Dia selalu berbicara hal-hal yang baik dan lemah lembut HANYA pada Erick kan?" Alex
"Tentu saja, karena Erick ini sangat polos dan lugu dia tidak tahu apa-apa" kata Rosella duduk di samping Erick dan merangkulnya serta menatap wajahnya dengan sangat dekat "Orang seperti Erick itu harus di berikan kasih sayang tidak boleh di kasar" ucapnya lagi
Yurisa yang melihat sikap Rosella yang dekat-dekat dengan Erick berusaha untuk bersabar, diam-diam Yurisa juga membatin "Kenapa Erick tidak ada reaksi seperti tadi malam ya? Aaah aku ingin sekali melihat energi dan aura seperti yang tadi malam"
"Erick tipe cewek yang kau suka itu seperti apa?"
"Eh?" Erick bingung menjawabnya dia kepalanya masih terngiang-ngiang Yurisa yang tadi malam mengajaknya makan. Walaupun waktunya singkat Erick masih belum bisa melupakanya. Yurisa lah yang membuat dia berdebar-debar untuk pertama kalinya, Yurisa juga yang mampu membuatnya bergairah serta membangkitkan kekuatannya.
"Aku tidak tahu" jawab Erick
"Yurisa kenapa kamu terlihat begitu lemas? Kau sakit?" tanya Leoninko
"Aku sedikit kesal dengan jawaban Erick, kenapa tidak tahu? Masa iya sih kau tidak pernah jatuh cinta?" tanya Yurisa blak-blakan dan penuh rasa penasaran "Erick katakan saja siapa tahu dia bisa membantumu menemukan orang yang kau suka" lanjutnya
"Rahasia. Aku tidak butuh bantuan Yurisa atau kalian semua, Karena aku sudah menemukannya" kata Erick dengan nada pelan
"Eeeeeh? Siapa-siapa?" Kai
"Siapa dia?" Alex
"Apa kau sudah berbicara dengannya?" Rosella
"Apa dia kuliah di sini juga?" Johnson
"Hey! Kalian tidak tahu apa kalau Erick tidak mau mengetakanya. Sudah jangan memaksanya!" kata Yurisa agak kesal
Sebenarnya Yurisa juga merasa sakit hati tapi dia mencoba untuk menutupinya, dia mendekat ke Erick "Begitu ya? Bagusalah jika kau menemukannya. Aku harap dia wanita yang baik untukmu Erick" kata Yurisa menepuk bahunya kemudian tersenyum lalu pergi
"Oi, Yurisa kau mau kemana? Sebentar lagi Dosen akan masuk, Yurisa balik nggak?!" Rosella
Tapi Yurisa terus berjalan, Leoninko merasa bahwa perasaan Yurisa sedang tidak bagus, diam-diam Erick berpikir apa yang sudah terjadi pada Yurisa? Kenapa auranya mendadak buruk sekali?
Di sisi lain Tohru masih memperhatikan Yurisa dari kejauhan, Yurisa pergi ke atap gedung Fakultas Sejarah di sana dia menendang kaleng minuman kosong hingga kaleng tersebut terpental ke tempat yang jauh.
"Sialan! aku menyesal sudah menyukaimu Erick. Kenapa perasaan jatuh cinta harus muncul segala sih?!" kata Yurisa kesal
"Oh kamu yang namanya Yurisa itu kan?"
Yurisa melihat ke belakang, ada dua orang gadis cantik yang tidak di kenalnya
"Siapa kalian?" tanya Yurisa
"Aku Lucy dan ini Zela, kami adalah Kakak tingkatmu jurusan sejarah, kenapa kau tidak masuk? Bukankah hari ini kau ada jadwal kuliah?" tanya Lucy
"Aku tidak ikut" jawab Lucy
"Kalau begitu apakah kau bersedia membantu kami?" tanya Zela
"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Yurisa
Lucy dan Zela saling melihat kemudian mereka langsung menarik Yurisa, membawanya ke sebuah ruangan yang penuh dengan busana yang bagus, aksesoris yang cantik dan juga make up.
"Yurisa maukah kau menggunakan pakaian yang ini?"
"Maaf aku tidak suka pakaian seperti itu, aku tidak mau memakainya. Aku juga tidak terlalu suka dandan, ya aku memang aneh sih tapi begitulah kenyataannya" Yurisa menolak secara tegas.
Dia bertanya-tanya tempat apa ini? Apakah ada organisasi kecantikan? Dia terus mengamati dan melihat-lihat tempat itu ketika Yurisa melihat ke belakang Yurisa sangat shock melihat dua sosok monster yang menyeramkan.
Monster itu menyerang Yurisa dengan gerakan yang sangat cepat dan berhasil menggores wajah Yurisa, Yurisa merasa kewalahan menghadapi dua monster yang mempunyai kekuatan yang sangat besar. Dia berlari ke luar ruangan itu dan pergi ke atap gedung Fakultas Sejarah.
Di sana Tohru datang.
"Kenapa kau datang?! Aku akan menghadapinya dan mengalahkannya sendiri!" kata Yurisa kepada Tohru dengan sangat kesal karna keseruannya sudah di rusak.
"Baiklah" kata Tohru yang mundur dalam pertempuran itu.
"Sebenarnya mereka ini siapa sih? Kenapa mereka bisa menjadi monster?" tanya Yurisa penasaran. Dia molompat ke atas ketika salah satu monster hendak melukainya, kemudian Yurisa mengeluarkan pedangnya dan kembali berlari dengan langkah kaki yang cepat mendekat ke arah monster itu, mereka berdua memang sama-sama kuat.
Tohru merasa bahwa Yurisa berkembang sangat cepat. Ketika Yurisa sedang serius bertarung dia terjatuh tubuhnya mendadak sangat lemah "Kenapa? Kenapa menjadi begini? Ada apa dengan diriku?" batin Yurisa yang shock
"Tuan putri!" panggil Tohru dengan suara yang keras
Yurisa melihat ke dua monster itu sudah bersiap untuk membunuhnya, tapi Tohru berhasil menghancurkannya dalam sekejap, Yurisa pingsan lalu Tohru mengangkatnya dan membawanya pulang.
Di ruangan Raja Rafael...
"Sayang apa yang terjadi dengan anak kita? Sebelumnya hal seperti ini tidak pernah terjadi padanya" Hilda panik dan khawatir
"Monster itu menyerap sihirnya. Sepertinya monster itu muncul dengan sendirinya, secara alami" kata Rafael
"Jadi Yurisa tidak bisa menggunakan sihir lagi?" tanya Hilda
"Begitulah..." Rafael
"Tapi dia anakmu, harusnya sihir yang ada dalam dirinya tidak bisa hilang begitu saja kan?" tanya Hilda
"Kau benar. Tapi di lihat dari kejadian barusan, Yurisa tidak akan bisa menggunakan sihir, kalaupun dia belajar, dia tetaplah tidak akan bisa menggunakanya. Kau tahu maksudnya kan? Manusia tidak mempunyai ilmu sihir, dia memanglah anakku tapi Yurisa lahir sebagai manusia sepenuhnya hanya saja dia bisa berumur panjang dan awet muda sepertiku" kata Rafael
"Astaga, teori macam apa lagi ini" Hilda berusaha untuk memahami ucapan suaminya.
......***--- BERSAMBUNG ---***......