PATCH WITH THE DEVIL

PATCH WITH THE DEVIL
PATCH WITH THE DEVIL 31



Beberapa minggu kemudian, Alessa bertemu dengan Leoninko. Leoninko adalah putra mahkota (anak Raja Rafael) yang pernah menyelamatkannya setelah ia diserang secara tidak sengaja. Alessa merasa senang bertemu dengan Leoninko lagi dan berterima kasih atas bantuan yang diberikannya mulai dari pengobatan, pekerjaan, dan tempat tinggal. Namun, akhir-akhir ini Alessa juga merasa aneh dengan sikap Leoninko. Dia merasa ada sesuatu yang berbeda pada putra mahkota tersebut. Leoninko tampak sedikit gugup dan sering tersenyum padanya.


"Hai Alessa, apa kabar? Sudah lama kita tidak bertemu." Leoninko


"Ya, sudah lama sekali. Aku baik-baik saja, terima kasih." Alessa


"Kau luang kan? Mau jalan-jalan bersama ke taman?" tanya Leoninko


"Iya baiklah" Alessa


"Mari.. " Leoninko berjalan beriringan bersama Alessa menuju ke taman


Tiba-tiba saja kaki Alessa terkilir karena tidak terbiasa menggunakan high heels dan dia terjatuh ke pelukan Leoninko dan mata mereka berdua saling bertatapan.


Alsessandra membatin "Alas kaki bangs*t, oh iya ini salahku sendiri. Aku lupa kalau aku ini iblis yang tidak pernah memakai alas kaki seperti ini lalu aku memakainya tanpa berpikir panjang. Ingin sekali aku melepas dan melemparnya ke tempat yang jauh tapi masalahnya Leoninko ada disini dan..." Alessandra menjauhkan dirinya dari Leoninko


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Leoninko


"Iya" Alessa


Alessa duduk dan melepas high heels yang dia pakai. Setelah itu Leoninko berjongkok di bawahnya dan mematahkan hak tingginya. Setelah itu dia melihat Alessa dan berkata kepadanya "Dengan begini kau tidak akan jatuh lagi, kakimu juga tidak akan sakit" ucapnya "Siapa yang memberikan sepatu itu?" tanya Leoninko


"Kalau tidak salah, namanya Rosella" jawab Alessa


"Hmm baiklah. Mau lanjut atau duduk dulu?" tanya Leoninko


"Iya ayo kita lanjut ke taman" Alessa memakai sepatunya dan bangun dari tempat duduknya


Diam-diam Alessandra merasa bahwa Devian dan Xander stalk kebersamaannya dengan Leoninko.


Mereka membuatku tidak nyaman - kata Alessandra dalam hatinya dengan kesal


Sedangkan Devian dan Xander, saat ini kebingungan karena sebelumnya Leoninko meminta bantuan mereka untuk membantunya lebih dekat dengan Alessa.


"Xander, apa kau tahu? Aku tidak paham dengan hal beginian. Aku bukan ahlinya" kata Devian yang terus mengamati mereka


Xander melihat ke layar hp nya lalu berkata "Gawat aku harus segera pergi ke rumah sakit ada pasien yang harus aku urus. Kita diskusikan hal ini nanti saja oke" Xander


"Iya baik. Pergilah" Devian


"Oke Devian, sampai jumpa" Xander langsung berlari meninggalkan Devian


Devian masih mengamati Leoninko dan Alessa dari kejauhan.


"Aneh sekali, baru kali ini Leoninko meminta bantuan untuk menaklukkan hati seorang gadis." gumam Devian, setelah itu dia pergi untuk melakukan aktivitasnya yang lain


Kembali kepada Leoninko dan Alessa yang baru saja tiba di taman.


"Apa kau suka taman ini Alessa?" tanya Leoninko


"Iya, tamannya indah" jawab Alessa


Leoninko memetik setangkai mawar lalu di berikan kepada Alessa "Untukmu"


"Terimakasih" Alessa menerima bunganya dan mencium aroma mawar yang di berikan Leoninko


"Alessa, apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?" tanya Leoninko


"Apa?" tanya Alessa


Duh kenapa aku jadi tegang memimirkan pertanyaanya? - batin Alessandra


"Apa kau pernah jatuh cinta atau menyukai orang lain?" tanya Leoninko blak-blakan. Lalu Leoninko duduk dengan kepala tertunduk karena tidak mau Alessa sampai melihat ekspresi sedih setelah putus dengan Fahira beberapa hari yang lalu.


Alessandra terdiam menatap Leoninko dengan perasaan prihatin. Sebagai seorang iblis dia mampu merasakan apa yang Leoninko rasakan saat ini.


"Aku belum pernah merasakan jatuh cinta, atau pun menyukai orang lain" jawab Alessa


"Begitu ya..." Leoninko mengangkat wajahnya  dan melihat Alessa dengan ekspresi yang ramah penuh senyuman


Alessa, tersentak kaget melihat senyuman palsu yang di tunjukkan Leoninko. Senyuman itu mengingatkan masa lalunya dengan Xander.


Beberapa tahun yang lalu Ibunya Xander (seorang penyihir) di ramalkan akan kehilangan kesadaran dan tidak dapat mengendalikan kekuatannya. Beberapa  penyihir yang lain juga meramalkan bahwa Ibunya Xander bisa berubah menjadi iblis karena di kehamilannya yang ke dua kalinya ini bayi yang ada di dalam kandungannya adalah murni iblis. Dan pada suatu hari ralaman tersebut terbukti benar.


Xander yang saat itu masih kecil di serang oleh Ibunya sendiri yang sudah kehilangan akal sehatnya. Saat itu Ibunya Xander dalam kondisi hamil tua. Ibunya Xander melihat manusia seperti Xander di ibarat sedang melihat makanan lezat yang membuatnya merasa kelaparan dan ingin memakannya.


Sebagai seorang pengasuh Alessandra berusaha untuk melindungi Xander mati-matian. Hingga pada akhirnya Alessandra kalah dan terkapar tak berdaya di depan Xander. Namun itu tidak membuat Xander kecil ketakutan karena dia mewarisi keberanian Ayahnya, Raja Iblis Chains. Dia merasa sedih melihat Ibunya, Xander berpikir bahwa mungkin saja saat ini Ibunya merasa sangat sengsara dan tersiksa dengan kondisinya.


Akhirnya untuk melindungi dirinya sendiri, Alessandra, dan orang-orang tak bersalah lainnya. Xander merapalkan mantra sihir untuk membunuh Ibunya sendiri dan anak yang ada di dalam kandungannya. Akibat perbuatannya banyak Iblis yang membencinya. Tapi tidak untuk Chains, walaupun dia sudah membunuh Ibu dan calon adiknya, Chains masih selalu menyanyangi Xander dan tidak menyalahkan Xander atau memberi label "pembunuh" terhadap Xander.


Sejak kejadian itu Xander, masih menunjukkan senyuman di wajahnya pada Alessandra. Sebagai orang yang mengasuh Xander sejak kecil, Alessandra sangat memahami Xander dan tahu bahwa senyuman Xander adalah senyuman palsu. Bagi Alessandra tersenyum seperti itu sangat menyakitkan akhirnya Alessandra meminta bahkan memohon kepada Xander untuk tidak menahan diri dan melampiaskan semua perasaanya kepadanya.


Kembali kepada Alessa dan juga Leoninko.


"Alessa, apakah kau mau mengobatiku?" tanya Leoninko dengan ramah


"Eeeh?" Alessa


Mengobati? Mengobati perasaanya yang terluka? Dengan memberinya cinta dan kasih sayang, begitu maksudnya? - kata Alessandra dalam hatinya


"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang kok. Aku ingin memberitahumu, saat aku berada di dekatmu aku merasa diriku kembali pulih secara perlahan-lahan" kata Leoninko


Dalam hatinya Alessandra berteriak "APA?! APA MAKSUDNYA?! DIA SUKA PADAKU?! TIDAAAK, INI TIDAK MUNGKIN!"


Malam itu Alessa berdiri sendirian di tepi kolam, mengamati air yang tenang dan jernih. Hatinya penuh kebingungan dan kegalauan. Dia tidak pernah membayangkan bahwa dia akan jatuh cinta pada seorang manusia, apalagi seorang putra mahkota seperti Leoninko.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Alessandra dalam hati. "Aku tidak bisa membiarkan dia terus mencintai aku tanpa mengetahui siapa aku sebenarnya. Tapi aku juga takut dia akan menjauhiku jika mengetahui identitasku sebagai iblis."


Alessandra memejamkan mata dan merenung sejenak. Dia merasa kesepian dan bingung. Dia juga sangat ingin bersama Leoninko, tetapi tidak ingin menyakiti perasaannya. Dia menghela nafas panjang.


"Apa yang akan terjadi jika aku menceritakan semuanya padanya?" tanya Alessandra pada dirinya sendiri. "Akankah dia tetap mencintaiku atau akankah dia menjauhiku?"


Alessandra menggenggam erat jubahnya dan merenung sejenak lagi. Dia tahu bahwa dia harus membuat keputusan, tetapi hatinya terlalu terbebani oleh perasaannya untuk Leoninko.


"Aku tidak ingin membuatnya kecewa," ujarnya dalam hati. "Aku tidak tahu harus bagaimana."


Alessandra terus memikirkan situasinya yang rumit dan bergejolak. Dia tidak bisa memutuskan dengan cepat dan merasa kesulitan untuk memilih jalan mana yang harus dia ambil.


--------- BERSAMBUNG ---------------