
Yurisa, terkejut dari kejauhan dia seperti baru saja melihat Cecila yang berjalan-jalan di Istananya Erick. Dia berlari mencari Cecila, dalam hatinya dia berkata "Bukankah dia kekasihnya Niels? Mengapa dia berada di sini? Tunggu, jika wujud asli Niels adalah Erick itu artinya Erick selingkuh dariku. Tidak! Tidak mungkin Erick menghianatiku, aku harus mencari tahu" langkah kaki Yurisa terhenti setelah melihat Cecila yang mondar mandir di depan ruangan pribadinya Erick
Saat Yurisa berjalan mendekatinya, Erick keluar dari ruangan pribadinya. Cecila langsung menempelkan tubuh seksinya ke Erick lalu berkata sesuatu dengan manja dan merengek seperti anak kecil "Rajaku Malachi, Alessandra, Kairos, dan Orion jahat Raja. He... He... He... Mereka tidak mau membantuku, katanya aku lebih cocok jika tetap seperti ini. Raja tolong aku... Aku tidak mau seperti ini terus"
"Erick, jelaskan padaku maksud semua ini?!" ucap Yurisa dengan sangat kesal
"Yurisa, tenanglah" Erick
"Raja?" panggil Cecila
"A--- baiklah" Erick memegang pundak Cecila lalu mendorongnya agar menjauh darinya "Jadilah Zarael" ucapnya.
Cecila, langsung menjadi Zarael. Yurisa masih terdiam di tempatnya memahami apa yang baru saja dilihatnya.
"Raja, terimakasih banyak sudah mengembalikan wujud asli saya. Kalau begitu saya permisi" Zarael langsung pergi meninggalkan Erick bersama Yurisa
"Sekarang kau sudah paham kan?" tanya Erick
"Iya, maaf sudah meragukan kesetiaanmu" Yurisa
"Jujur, aku tidak suka jika kau meragukan kesetiaanku" Erick melipat kedua tangannya di depan dadanya dengan ekspresi wajah kesal dia memalingkan wajahnya dari hadapan Yurisa ke arah yang lain.
"Tadi aku kan sudah minta maaf Erick. Aku nggak tahu kalau tadi itu Zarael" Yurisa merasa bersalah dia tidak menyangka bahwa Erick akan bersikap seperti itu padanya "Erick," panggil Yurisa namun Erick tetap diam tidak merespon Yurisa juga enggan melihat wajah istrinya. Setelah itu Yurisa mencium pipinya Erick, kemudian Erick memalingkan wajahnya untuk melihat pesona Yurisa.
"Ingat baik-baik, aku hanya mencintaimu Yurisa dan aku tidak pernah bosan mencintaimu" tangan kiri Erick memegang pinggang Yurisa dan menarik Yurisa kedekatannya hingga dada mereka berdua saling menempel. Lalu, tangan kiri Yurisa memegang bahu kiri Erick, sedangkan tangan kanannya di pegang oleh Erick.
Wajah Yurisa merona merah "I-iya Erick" ucap Yurisa yang mulai gugup dengan posisi yang seperti itu. Rasa malunya mulai bertambah ketika ada pelayan Istana atau prajurit yang tidak sengaja lewat dan melihat mereka "Erick... " Yurisa berniat untuk menjauhi Erick tapi pegangan Erick terlalu kuat
"Biarkan aku mengatakannya padamu sekali lagi, aku... Aku selalu mencintaimu Yurisa!" ucap Erick tegas
"Iya baiklah, kalau begitu lepaskan aku" Yurisa
"Tidak mau, karena hari ini aku berniat untuk mengajakmu berburu" Erick mengangkat tubuh Yurisa "Ayo sayang" ucap Erick
"Aku bisa berjalan sendiri" Yurisa
"Kita akan terbang" Erick
Yurisa, langsung mengalungkan tangannya di leher Erick.
Dari sisi yang berbeda, hari itu Xander sedang mengobrol bersama beberapa pemuda seusianya di luar gedung pabrik pembuatan segala macam jenis senjata.
"Jenderal Xander, apa yang anda lakukan disini? Kenapa tidak masuk dan menunggu di dalam saja Jenderal?" tanya Eliana, gadis desa yang kebetulan lewat di sana
"Tidak, di dalam sangat panas" jawab Xander
"Begitu ya, baiklah kalau begitu sampai jumpa lagi Jendreal Xander" Eliana melambaikan tangannya lalu pergi meninggalkan Xander bersama yang lain
"Oh iya Xander, pacarmu yang bernama Marlina sudah pulang ke desanya?" tanya Jhon
"Iya begitulah" Xander
"Eh ngomong-ngomong aku dengar Tuan Leoninko putus dengan Fahira ya?" tanya George
"Serius? Perasaan beberapa hari yang lalu mereka sempat liburan bersama? Foto-foto kebersamaan mereka juga di posting di Instagram" Jhon
"Iya tapi sudah di hapus" George
"Sulit di percaya" Xander
"Itu benar. Aku bicara seperti ini karena adik perempuanku adalah teman curhat Fahira, katanya Fahira sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi sama Leoninko, Fahira suka sama cowok lainnya karena itulah mengapa Fahira mutusin Leoninko" jelas George
"Sial, aku jadi penasaran banget cowok yang Fahira suka kayak gimana. Leoninko kurang apa lagi coba? Leoninko punya semua loh" Xander
"Sebentar, kemarin adik aku send photo Fahira sama pacar barunya" George
"Coba lihat" Jhon
George langsung mengambil hp di kantong saku celananya lalu menghidupkan layarnya "Sebentar-sebentar... " George membuka galeri hpnya dan mencari photo yang kemarin di kirim oleh adiknya "Ini dia" George menunjukkan photo tersebut kepada Jhon dan juga Xander
"Kalau di lihat-lihat si cowok kelihatannya bad boy, iya nggak sih?" tanya George kepada Xander dan Jhon
"Iya aku juga berpikir seperti itu" Jhon
Tiba-tiba Xander mencium bau yang tidak biasa. Dia merasa tidak enak dan mulai mencari asal bau tersebut. Lalu Xander melihat sebuah bayangan hitam yang berdiri di balik pohon besar di kejauhan. Dia merasa curiga dan meminta George dan John untuk bersiap-siap.
"Hei, lihat itu" kata Xander kepada George dan Jhon
George dan Jhon melihat apa yang di lihat oleh Xander.
"Bersiaplah teman-teman" Xander mulai waspada
Bayangan tersebut semakin mendekat dan Xander merasa siap untuk bertarung. Ternyata bayangan hitam itu adalah Athur yang sedang bersembunyi dari kejaran temannya yang bernama Devian. Devian adalah teman baik Athur sejak kecil dan mereka selalu bermain bersama di desa. Namun, kali ini Devian marah besar pada Athur karena tanpa sengaja ia memotong rambut panjang gadis desa saat beraksi dalam kompetisi masak-masak yang di selenggarakan oleh kepala desa. Athur berlari dan mencoba menghindari kejaran Devian. Ketika ia menemukan Xander, George, dan John di luar pabrik senjata, ia meminta perlindungan dan menceritakan tentang masalahnya.
"Jadi, temanmu marah karena kamu memotong rambut seorang gadis?" Xander
"Ya, aku tidak bermaksud melakukannya. Ini hanya kecelakaan" Athur
"Tapi, mengapa dia begitu marah sampai mengejarmu ke hutan?" George
"Aku tidak tahu. Mungkin dia merasa sangat marah karena bisa jadi itu gadis yang dia suka" Athur
"Apa kamu punya ide bagaimana cara menyelesaikan masalah ini?" Jhon
"Aku pikir aku perlu berbicara dengan Devian dan meminta maaf. Saya yakin kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik" Athur
"Baiklah. Tapi, kita harus mengambil senjataku terlebih dahulu. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti" Xander
"Oke, mari kita masuk ke pabrik dan ambil senjata itu" George
"Athurrr!!!" Devian berlari ke arah Athur
"Devian, tunggu aku bisa menjelaskannya" Athur berlari menghindari kejaran Devian
"Hadeeeh" Jhon
"Athur pasti bisa menyelesaikan masalah ini" Xander
Pembuat senjata kemudian datang dengan membawa senjata yang mereka pesan. Setelah itu mendapatkan senjatanya masing-masing tiba-tiba Xander mencium bau yang sebelumnya. Xander memandang ke arah teman-temannya yang masih berdiri di sana. "Kalian, pergilah terlebih dahulu. Aku punya urusan penting yang harus kutuntaskan sebelum pulang."
George dan Jhon saling pandang, lalu memandang Xander dengan tatapan khawatir. "Apa yang terjadi, Xander? Apakah ada masalah?" tanya George
Xander menggelengkan kepala. "Tidak ada masalah. Aku hanya butuh waktu untuk menyelesaikan urusan penting ini. Kamu jangan khawatir, aku akan baik-baik saja."
George mengangguk setuju. "Baiklah, kalau begitu kita akan pergi lebih dulu. Hatimu-hatilah, Xander."
Xander mengangguk sebagai balasan, kemudian ia melihat teman-temannya berjalan pergi. Lalu Xander kembali ke tempat pembuatan senjata untuk menemui orang yang baru saja membuatkan senjata untuknya. Ketika ia tiba di sana, ia merasakan bau yang sangat familiar. Bau yang ia kenal sejak kecil.
"Kamu..." ujar Xander, kemudian ia mencium bau itu lagi.
Orang yang baru saja membuatkan senjata untuknya itu berbalik, dan terlihat terkejut ketika melihat Xander.
"Kau... anakku," ujar orang itu dengan nada yang bergetar.
Xander memandang orang itu dengan tatapan tajam. "Kamu... Ayahku?"
Orang itu mengangguk, kemudian ia menjelaskan semuanya. Bahwa ia adalah Raja Iblis yang pernah di bunuh oleh Yurisa, tetapi ia berhasil kembali ke dunia manusia dengan menyamar dan menjadi seorang pandai besi. Ia membuat senjata untuk manusia dan Iblis, tanpa mengungkapkan jati dirinya yang sebenarnya.
Xander merenung sejenak, kemudian ia mengeluarkan sebuah kalung yang tersembunyi di balik bajunya. "Ini untukmu. Aku tahu, kamu sudah tidak memiliki kekuatan lagi."
Orang itu memandang kalung itu dengan perhatian. "Terima kasih. Kamu... kau sangat baik padaku."
Xander tersenyum, kemudian ia merasa lega. Ia berhasil menyelesaikan urusannya dengan Chains, Ayahnya yang pernah lama hilang. Sekarang, ia punya banyak pertanyaan dan banyak hal yang harus dipelajari dari Chains.
"Mari kita bicara lebih banyak," ajak Xander, kemudian ia duduk di dekat Chains yang masih terpaku dengan kalung yang baru saja diterimanya.
----------- BERSAMBUNG -----------