
Yurisa berjalan dengan langkah cepat di luar istana, merasa kesal dan kecewa. Dia berpikir tentang situasi yang semakin rumit dengan putusnya hubungan antara Leoninko dan Fahira. Yurisa merasa bahwa semua rencana dan harapannya menjadi kacau. Saat dia berjalan sendiri, dia mencoba mencari solusi untuk masalah ini. Yurisa tahu bahwa mempercepat upacara pengangkatan Leoninko sebagai Raja adalah satu-satunya cara untuk menjaga kerajaan dari bahaya yang mungkin terjadi, tetapi dia juga ingin menjaga perasaan Leoninko. Dia merenungkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
Dari sisi yang lain Alessandra kembali mengunjungi tempat penempa pedang. Alessandra mengetuk pintu dan Xander sendiri yang membukanya.
"Xander, kamu masih disini?" tanya Alessandra
"Iya, aku menunggu hingga pedangnya Yurisa selesai di buat sekalian belajar dengan penempa pedangnya mengenai proses pembuatan pedang yang bagus." Xander melempar pedang milik Yurisa ke arah Alessandra.
Alessandra menangkapnya "Oh, begitu ya. Terimakasih"
Xander, menutup pintunya
"Xander!"
Mereka bedua di kejutkan dengan kedatangan Leoninko, putra Raja Rafael itu berjalan dengan langkah kaki yang cepat menghampiri mereka berdua. "Aku mencarimu" dia menarik Xander pergi dari tempat itu
"Tuan Leoninko?" Xander yang di tarik oleh Leoninko kini keheranan mengapa Leoninko mencarinya.
"Iya ini mengenai rumahsakit" kata Leoninko
"Maksud Tuan Leoninko, perbaikan gedung rumahsakit?" tanya Xander
Leoninko berhenti melangkah dan menatapnya "iya"
"Raja sudah membahasnya dengan saya tadi malam" ucap Xander
Leoninko, melepaskan Xander dan sekarang dia mencoba untuk sabar "Sialan, jika tahu begini aku tidak perlu repot-repot menyusulmu kemari"
"Leoninko," panggil Yurisa yang datang bersama Alessandra "Kenapa kau tidak memberitahuku bahwa kau sudah putus dengan Fahira?" tanya Yurisa sedikit lebih kesal
"Iya, aku ini orang yang baik hari dan aku bukan tipe orang yang suka berbagi kesedihan dengan orang lain" jawab Leoninko
Yurisa menatap Leoninko dengan ekspresi campuran antara kekecewaan dan pengertian. "Leoninko, aku mengerti bahwa kamu tidak suka berbagi kesedihanmu, tapi aku ini kekuargamu, dan ada teman-temanmu juga yang peduli padamu. Kami ingin mendukungmu dalam segala hal, termasuk masalah pribadi seperti ini."
Marlina yang datang tiba-tiba menambahkan, "Kami datang ke sini dengan harapan bisa membantumu, Leoninko. Jadi, tolong jangan ragu untuk berbicara dengan kami jika ada masalah."
Leoninko mengangguk, merasa terharu oleh perhatian dan dukungan teman-temannya. "Terima kasih, Yurisa, Merlina dan semuanya. Aku tahu aku bisa mengandalkan kalian."
Yurisa tersenyum lembut. "Sekarang, mari kita bicarakan mengenai rencana pengangkatanmu sebagai Raja. Kami memiliki beberapa ide yang mungkin bisa membantu."
Mereka sekarang kembali ke Castle Shaquille dengan waktu singkat berkat sihir teleportasi Alessandra. Dan saat ini Yurisa dan yang lain berkumpul di ruang diskusi untuk membahas masa rencana yang harus dilaksanakan. Dalam rapat tersebut di hadiri oleh Ratu Hilda, Raja Rafael dan beberapa pegawai serta Jenderal kerjaan. Lagi-lagi Yurisa bertanya-tanya mengenai Alessandra yang menolak untuk masuk ke dalam dan pergi keluar.
Di awal rapat Yurisa menjelaskan mengenai latar belakang mengapa upacara pengangkatan Leoninko sebagai Raja harus di percepat.
"Seperti yang kita ketahui, kita menjunjung tradisi dan budaya yang sudah di wariskan oleh nenek moyang sejak zaman dahulu. Salah satunya adalah syarat bahwa putra mahkota yang hendak di angkat sebagai Raja harus sudah menikah hal ini dilakukan untuk menjamin kestabilan dan kelangsungan kerajaan." jelas Raja Rafael
"Sekarang aku ingin mendengar saran dan penjelasan lebih lanjut dari kalian mengenai solusi alternatif untuk mengatasi masalah ini" kata Ratu Hilda kepada Yurisa dan Leoninko
Yurisa dan Leoninko diam sejenak
"Leoninko baru saja patah hati dan butuh waktu untuk menyembuhkan hatinya yang terluka jadi tidak mungkin aku menjodohkannya dengan gadis lain" kata Raja Rafael blak-blakan
"Astaga, pada situasi seperti ini Raja masih bisa bercanda ya" bisik Devian pada Athur
"Aku tidak keberatan jika upacara pergantian kekuasaan di percepat. Aku akan menikah" kata Leoninko
"Tuan Leoninko, apa anda akan menikahi Alessa?" tanya Devian
"Alessa? Alessandra?" tanya Yurisa keheranan
Xander yang saat itu sedang meminum minuman yang di tuangkan oleh Ren pada sebuah gelas kosong di hadapanya begitu mendengarnya, respect menyemburnya ke arah yang lain. "Maaf, maaf ini sungguh sangat mengejutkan"
"Alessa?" nama yang bagus.
"Jadi bukan Alessandra ya?" Yurisa
"Gadis yang pernah kamu selamatkan itu ya? Jadi dia namanya Alessa, orang-orang membicarakan kecantikannya. Aku jadi penasaran, kenapa kamu tidak memperkenalkan dia kepada Ibu?" tanya Ratu Hilda
"Aku pasti akan membawanya kepada Ayah dan Ibu" kata Leoninko
"Padahal dia beberapa hari ini di castle, tapi kenapa aku tidak pernah bertemu dengannya ya?" tanya Raja Rafael
"Secepat itukah kamu move on dari Fahira?" tanya Yurisa pada Leoninko dengan suara pelan
"Begitulah." Leoniko
Di tempat yang lain,di hutan yang menjadi perbatasan dan menghubungkan dua dimensi atau wilayah antara manusia dan iblis. Alessandra terlihat mondar-mandir memikirkan nasibnya.
__________
Di kerajaan Arallean, Raja Erick bersama Yurisa dan beberapa bawahannya sedang makan malam pada pukul 8. Di tengah-tengah makan malam itu, Yurisa menceritakan apa yang sudah di bahas di Kerjaan Shaquille bersama Ayah dan Ibunya. Sepanjang Yurisa bercerita Alessandra merasa tertekan dan tegang, karena tanpa sepengetahuan mereka dia sudah melakukan kesalahan besar yaitu menysup ke wilayah manusia dan melakukan penyamaran. Malachi yang mengetahui kebenarannya juga merasa khawatir mengenai nasib Alessandra.
Setelah makan malam selesai, ketika Yurisa berjalan menuju ke kamarnya dia tidak sengaja melihat Alessandra yang duduk merenungkan sesuatu, sendirian di luar di bawah sinar bulan purnama. Yurisa membatin ternyata kau memang menyembunyikan sesuatu ya. Lalu Yurisa pergi. Lamuman Alessandra di pecahkan oleh suara anak asuhnya yakni Xander yang melakukan teknik pemanggilan. Teknik itu di ajarkan oleh Chains saat Xander masih kecil. Teknik tersebut hanya berpengaruh kepada Alessandra saja, karena Alessandra pernah menjadi pengasuh dan penjanga Xander. Tanpa berpikir panjang Alessandra langsung teleportasi ke tempat Xander memanggilnya. "Tuan Xander, ada perlu apa Tuan Xander memanggilku?" tanya Alessandra
"Alessandra, ini kacau. Leoninko mengerahkan pasukan dan beberapa Jenderal untuk mencarimu! Leoninko akan menghukum para Jenderal dan pasukannya jika tidak berhasil menemukanmu, Alessa!" kata Xander yang merasa kerepotan dan lelah dengan sikap Leoninko yang mendadak gila karena jatuh cinta dengan Alessa (Alessandra)
"Tuan Xander, aku harus bagaimana? Apa aku mati saja?" tanya Alessandra mulai kebingungan
"Lebih baik sekrang kau berubah menjadi Alessa dan ayo balik ke Istana Shaquille lalu jelaskan semuanya" tegas Xander
Alessandra, langsung melakukan penyamaran sebagai Alessa. Dan mengikuti Xander kembali ke Castle Shaquille. Xander membawanya ke hadapan Leoninko sembari berkata "Tuan Leoninko, aku bertemu denganya di hutan"
Leoninko dengan wajah yang panik dan penuh kekhawatran memegang pundak kanan dan kiri Alessa lalu menatapnya "Alessa, mengapa kamu pergi tanpa mengatakan apapun? Apa yang kau lakukan di hutan malam-malam begini Alessa?"
Alessa (Alessandra) menjawab "Maaf aku... "
Belum selesai bicara, Leoninko langsung memeluknya tanpa ijin dengan pelukan yang erat dan penuh kasih sayang. "Syukurlah jika kau baik-baik saja. Aku tidak tahu bagaimana aku harus hidup jika kau tidak kembali Alessa"
Alessandra (sebagai Alessa, penyamarannya) merasa terkejut dengan pelukan ini, tetapi dia memutuskan untuk tenang dengan kepala dingin. Dia menjawab, "Maafkan aku, Tuan Leoninko. Aku hanya pergi sebentar untuk mendapatkan udara segar di hutan. Aku baik-baik saja, jangan khawatir."
Leoninko melepaskan pelukannya dan memandang Alessa (Alessandra) dengan penuh perasaan. "Aku sangat merindukanmu, Alessa. Aku bahkan memikirkan bahwa sesuatu telah terjadi padamu. Jangan pernah membuatku khawatir seperti ini lagi, mengerti?"
Alessa mengangguk dengan lembut. "Aku berjanji, Tuan Leoninko. Aku akan lebih berhati-hati di masa depan."
Xander yang hadir di sana menjelaskan lebih lanjut, "Leoninko, Nona Alessa membutuhkan istirahat sekarang. Dia pasti lelah setelah perjalanannya"
Leoninko setuju, dan dia mengantar Alessa ke kamarnya.
"Ara ara... Jadi ini yang namanya Alessa?" tanya Ratu Hilda yang saat itu sedang berjalan-jalan dengan Raja Rafael
"Suatu kehormatan dapat bertemu Raja dan Ratu. Saya Alessa, meminta maaf karena baru menyapa Raja dan Ratu" Alessa (Alessandra) mendadak murung dan pasrah mengenai penyamarannya di hadapan Raja Rafael yang terkenal dengan mata ajaibnya. Tamat sudah hidupku ucap Alessandra dalam hatinya.
"Tidak apa-apa, jangan khawatir." kata Ratu Hilda yang ramah
"Seperti yang di rumorkan. Pacarmu memang sangat cantik" kata Raja Rafael kepada Leoninko
Raja mengapa anda pura-pura tidak tahu - batin Alessandra
"Sebenarnya, Alessa belum memberikan jawaban atas perasaanku Ayah." jawab Leoninko
"Begitu ya. Aku kira kalian sudah resmi pacaran. Karena kalau di lihat-lihat kalian berdua itu sangat cocok" Raja Rafael
Alessandra, tersentak kaget mendengar perkataan Raja Rafael yang seperti sebuah dukungan atas hubungan mereka.
"Alessa, apa kau meragukan perasaan dan keseriusan Leoninko?" tanya Ratu Hilda kepada Alessa
Alessa masih diam dipenuhi perasaan bingung sehingga dia tidak tahu harus berkata apa. Dalam hatinya dia berkata sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa mereka bersikap seolah-olah mereka tidak tahu apa-apa?
"Ayah, Ibu. Ini sudah larut malam, Alessa harus segera istirahat" kata Leoninko
"Iya kau benar, kalau begitu antar Alessa ke kamarnya" kata Ratu Hilda
"Baik Ibu" Leoninko langsung menuntun Alessa pergi dari hadapan Ayah dan Ibunya.
________BERSAMBUNG_________