
Siang ini Yurisa mengerjakan tugas kelompok bersama Rosella dan Erick, sejak tadi mereka hanya diam dan tidak mengatakan apapun.
"Akhirnya selesai juga" kata Rosella yang mengambil bekal makanannya dan kemudian ia memakannya "Yurisa, tolong buat PPT nya ya? Maaf, aku sibuk gak bisa bantu kamu lebih banyak lagi" ucapnya lagi sambil makan
"Serahkan saja padaku" Yurisa menutup laptopnya dan memasukannya kedalam tasnya.
Erick terus memperhatikan Yurisa, dia masih merasa jika Yurisa saat ini benar-benar marah dan cemburu atas kejadian tadi pagi.
"Oh ya Erick, tadi pagi itu kau benar-benar sangat menakutkan" kata Rosella sembari menyantap makanannya
"Benarkah?" tanya Erick
"Ya! Itu benar, dan gadis yang bernama Christina itu memang bukan pacarmu ya?" tanya Rosella penasaran
"Dia bukan pacarku" jawab Erick
"Dia bilang kalian selalu bersma sejak kecil apa itu benar?" tanya Yurisa
"Benar" kata Erick
Lalu Rosella melihat teleponnya yang bergetar "Ah maaf aku harus pergi, aku ada janji dengan pacarku. Sampai jumpa lagi ya" Rosella pergi dengan buru-buru membawa bekal makan siangnya setelah itu meninggalkan mereka berdua.
Erick menggeser kursinya di dekat Yurisa dan menggenggam tangannya dengan halus "Maafkan aku atas kejadian tadi pagi ya" ucapnya melihat Yurisa
"Gadis itu... Dia membuatku kesal dan iri. Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu lagi Erick" kata Yurisa pelan melihat Erick
"Kau akan segera mengetahuinya tanpa aku menceritakan diriku padamu sayangku" kata Erick
"Bukan seperti itu yang aku inginkan, akan lebih jelas bila aku mendengar langsung darimu" ucap Yurisa
"Aku akan menceritakan tentang diriku tapi tidak di sini" kata Erick
"Kalau begitu di mana?" tanya Yurisa
"Di... Di... Di... Entahlah" Erick
"Erick menyebalkan ya?" tanya Yurisa yang masih bersikap bijaksana
"Eh? Masa sih?" tanya Erick membelai rambut Yurisa
"Erick menyembunyikan sesuatu dariku" ucap Yurisa
Yurisa merasa ada sesuatu yang aneh dengan diri Erick, bukan hanya ketika malam hari saja Erick berubah tapi saat ini ketika dia ada di dekatnya Yurisa sikap Erick berubah menjadi lebih dewasa, romantis, percaya diri, penuh kharismatik, keren, berani dan sangat tampan.
Di sisi lain Rafael memperhatikan Yurisa dan Erick dari cermin di depanya, dia berharap bahwa tidak ada yang mengetahui hubungan mereka berdua, diam-diam Rafael melindunginya karena baginya mereka sangat berharga. Dengan kekuatan matanya, Rafael bisa melihat sesuatu yang baik dari hubungan Yurisa dan Erick.
Sementara itu Christina menemui Kakak kandungnya yakni Tohru di sebuah cafe dekat universitasnya, mereka berdua mengobrol cukup serius.
"Bagaimana? Apa kau menikmati pekerjaanmu?" tanya Christina yang mengaduk-aduk kopinya
"Mereka membuatku kesusahan tapi aku sangat menikmatinya. Dan oh iya aku juga sudah di kalahkan" jawab Tohru mengingat pertarungannya dengan Yurisa
"Kau sudah di kalahkan?!" tanya Christina kaget mendengar pernyataan tersebut. Dia ternganga menatap Kakaknya dengan raut wajah tidak menyangka, Christina semakin penasaran dengan seberapa besar kekuatan Yurisa, itu membuat Christina ingin menantangnya.
"Christina, apa kau masih menyukainya?" tanya Tohru penasaran. Sudah jelas bahwa yang di maksud oleh kakaknya adalah Erick.
"Entahlah" jawab Christina yang menundukkan pandangannya
###
Sore itu Christina menghadang Yurisa saat berjalan menuju rumahnya, Yurisa bertanya-tanya ada perlu apa gadis itu dengannya?
"Aku menantangmu" ucap Christina blak-blakan
"Apa?!" tanya Yurisa kaget
"Karena aku dengar kau ini cukup kuat" ucap Christina
Yurisa diam mempertimbangkan ajakan Christina. Tiba-tiba dia tercengang melihat Christina yang sudah bersiap-siap untuk menyerangnya, Yurisa yang merasa tidak ada pilihan lain pun langsung bersiap untuk menerima tantangan Christina. Setelah itu mereka bertarung di hutan satu lawan satu. Energi, gemuruh dan keributan dari pertarungan mereka berdua di rasakan oleh Athur yang saat itu jalan-jalan santai. Athur langsung mencari dari mana sumber energi yang sangat kuat itu.
Teman-teman Yurisa yang merupakan orang-orang gunung juga menyaksikan secara diam-diam. Awalnya Yurisa dan Christina sama-sama seimbang, tapi kemudian Yurisa merasa dirinya sangat kewalahan menghadapi Christina. Yurisa mundur dan mengatur nafasnya ssmbari menatap Christina dengan sangat kesal kemudian dia membatin Akh dia sangat kuat, aku tidak yakin bisa menang darinya.
Aku tidak boleh meremehkan Yurisa- batin Christina
Kemudian keduanya maju dan saling menyerang, kali ini Yurisa mendapatkan beberapa luka pada tubuhnya atas serangan Christina. Serangan Yurisa mendadak sangat cepat, Christina merasa bahwa dia tidak bisa melihat serangan secepat itu. Lalu Yurisa menendang Christina dengan tendangan yang sangat keras, Christina terjatuh menahan rasa sakit. Itu adalah pertama kalinya dia mendapat serangan yang cukup hebat, dia merasa beberapa organ dalamnya ada yang rusak.
Athur bersembunyi dan melihat mereka berdua, tiba-tiba saja Yurisa terjatuh dia merasa sangat lemah dan tidak berdaya, itu karena efek gerakan cepat yang tadi dia lakukan. Christina kembali bangun dan langsung menghajar habis-habisan Yurisa.
Kemudian Tohru datang menghentikan Christina, Tohru langsung menyerang Christina dengan sekali serangan itu Christina terlempar ke tempat yang sangat jauh hingga tak terlihat.
"Aku akan menghajarnya setelah dia kembali nanti" ucap Erick dengan suara yang pelan
Tak lama kemudian Yurisa bangun dari sadarnya dan mengagetkan Erick yang saat itu mengantuk dengan teriakan yang sangat kencang.
"SAAAAAAAAAAAKIIIIIIIIIIIITTTTTTT BANGEEEEET! AWAS KAU AKAN KU BALAS PERBUATANMU ITU PADAKU!" ucap Yurisa keras
"Yurisa kau sudah bangun?" tanya Leoninko yang datang ke kamarnya
"Sepertinya beberapa hari ke depan aku tidak bisa masuk" ucap Yurisa yang mencoba menahan rasa sakitnya
"Istirahatlah, kesembuhanmu jauh lebih penting" ucap Leoninko
Kemudian Leoninko melihat Erick dan duduk di sampingnya setelah itu Leoninko bertanya kepada Erick "Apa kalian berdua pacaran?"
Erick dan Yurisa hanya diam dan saling melihat.
"Hemmm jadi kalian sudah berpacaran ya? Erick apa kau tahu Yurisa itu sebenarnya sangat pemalu dengan orang yang dia sukai" ucap Leoninko
"Ya sepertinya begitu" ucap Erick melihat Yurisa
"Naaah kan?! tapi terkadang dia itu sok keren gimana gitu. Aku selalu berharap hubungan kalian baik-baik saja kau pasti tahu kan Yurisa itu anak nakal, terkadang aku juga khawatir jika kau di perlakukan tidak baik... Jadi kalau ada apa-apa bilang padaku ya..." ucap Leoninko
"Duak" Yurisa menendang Leoninko dengan rasa kesalnya "Hei jaga bicaramu! aku tidak pernah menyakiti dan melukai Erick" ucap Yurisa yang bangun dan berdiri di atas tempat tidurnya menatap Leoninko dengan sangat kesal.
Leoninko bangun dan tersenyum kepada Yurisa, dia merasa sangat puas karena berhasil menjahili dan membuat Yurisa kesal. "Dalam keadaan seperti itu tendanganmu mantap juga ya, baiklah kalau begitu aku pergi dulu ya" ucap Leoninko yang meninggalkan kamar Yurisa
Kemudian Yurisa duduk dan menghala napasnya panjang, dia terkejut melihat Erick yang berdiri
"Mau kemana?" tanya Yurisa memegang tangan Erick
"Tenang saja aku tidak akan pergi kemana-mana kok aku akan mengambil makanan untukmu" ucap Erick
kemudian Yurisa melepaskan tangannya dan berkata "Cepatlah kembali ya"
Kemudian Erick keluar dan tersenyum melihat Rafael yang berjalan menuju kamar Yurisa, di situ Rafael juga membalas senyuman Erick.
Sesampai di dalam Yurisa bertanya apakah Ayahnya ingin menyembuhkan lukanya? Kemudian sang Ayah menjawab bahwa kali ini dia tidak akan menyembuhkan luka Yurisa
"Kenapa?" Yurisa bertanya apa alasan Rafael tidak menyembuhkan lukanya
"Aku ingin kau tetap di sini dan tidak kelayapan kemana-mana" ucap Rafael dengan kesal
Setelah itu Yurisa diam dan menghela nafas panjang, tiba-tiba Yurisa kaget melihat Rafael tersenyum dengan penuh kepuasan.
"Ada apa Ayah?" tanya Yurisa penasaran
"Aku tidak menyangka kau berpacaran dengan Erick" jawab Rafael
"Begitulah. Aku juga masih belum bisa memahaminya sih, sikap dan energinya itu selalu berubah-ubah aku benar-benar penasaran" kata Yurisa
"Jaga baik-baik hubunganmu denganya ya" kata Rafael yang melangkahkan kakinya ke luar kamarnya Yurisa
"Eh?" Yurisa tidak menyangka bahwa sang Ayah sangat mendukung hubungannya.
Tak lama Erick masuk membawa makanan untuk Yurisa, dia duduk di samping Yurisa. Mata mereka saling bertatapan satu sama lain, dan wajah Yurisa mendadak memerah menahan malu lalu dia langsung mengalihkan wajahnya ke arah lain.
"Setelah makan, kau harus tidur" ucap Erick pelan
"Letakkan saja di situ, akan ku makan nanti" ucap Yurisa yang kemudian kembali melihat ke arah Erick
"Tidak, aku akan menyuapimu" ucap Erick, dia mengambil makanan dari sendoknya dan berniat menyuapi Yurisa. Yurisa masih diam dan belum melihat ke arahnya, seperti yang di katakan Leoninko sebelumnya Yurisa sangat pemalu. Erick tersenyum melihat wajah merahnya Yurisa.
"Berhenti melihatku seperti itu" kata Yurisa sedikit kesal sembari menutupi wajahnya dengan selimut.
"Kenapa? Yurisa, sangat imut" salah satu tangan Erick menurunkan tangan Yurisa yang menutupi wajahnya dengan selimut "Ayo sayangku makanlah" Erick hendak menyuapi Yurisa
Akhirnya Yurisa pun mau makan. Setelah Yurisa makan malam dan melihat Yurisa sudah tertidur, Erick melihat langit dari jendela kamar Yurisa bahwa malam ini adalah malam bulan purnama. Dia juga mendengar suara lolongan serigala dari kejauhan.
Setelah itu Erick keluar, Yurisa bangun dan sepertinya dia pura-pura tidur. Dia merasa bahwa energi yang di rasakanya dari Erick mulai bangkit, kemudian Yurisa berlari mencari Erick.
Sementara Erick sendiri berlari melompati benteng castle Raja Rafael, Yurisa tercengang melihatnya. Bagaimana mungkin anak laki-laki selugu itu bisa melompat selincah tadi? Dia tidak menyangka bahwa Erick bisa melakukan hal semacam itu, Yurisa berpikir apa itu karena energi aneh yang di miliki sudah bangkit?
"Tuan putri, silahkan kembali ke kamar dan tidurlah" Tohru berjalan mendekati Yurisa
........-----*** BERSAMBUNG ****------.... ...