
Sekitar pukul 3 malam, Yurisa tidur pulas. Dalam tidurnya dia bermimpi melihat Xander yang berhadapan dengan Raja Iblis yang bernama Chains, setelah itu mereka berdua berpelukan dan menghilang. Mimpi tersebut membangunkan Yurisa. Dia mulai berpikir bahwa mimpi itu adalah sebuah petunjuk.
Keesokan harinya Yurisa pergi seorang diri menuju ke pasar untuk mencari peramal atau orang yang bisa menafsirkan mimpi. Dalam masa pencariannya di pasar, dia bertemu dengan Rosella.
"Yurisa, kau sedang bertugas ya?" tanya Rosella
"Tidak, aku sedang mencari shaman" jawab Yurisa yang sibuk melihat ke kanan kirinya
"Mengapa kau sampai repot mencarinya di tempat seperti ini? Bukankah Ibumu bisa menafsirkan mimpi apa pun?" tanya Rosella
"Maksudmu Ratu Hilda? Dia seorang shaman?" tanya Yurisa
"Ratu Hilda itu adalah seorang penyihir yang hebat, dia juga bisa menafsirkan mimpi" jawab Rosella
"Begitu ya. Terimakasih sudah memberi tahuku Rosella" Yurisa, langsung pergi ke castle dan menemui Ratu Hilda.
"Leoninko" panggil Yurisa
"Iya?" tanya Leoninko yang berhenti melangkahkan kakinya dan melihat ke arah Yurisa
"Dimana Ibumu?" tanya Yurisa blak-blakan
Mendengar kalimat yang baru saja di tanyakan oleh saudara kembarnya membuat Leoninko sedikit kesal "Oi Yurisa, berapa kali aku mengatakannya padamu? Kita ini bersaudara dan Ratu Hilda adalah Ibumu juga!" ucap Leoninko dengan sedikit tegas
"Berisik, bukan itu jawaban yang aku dengar darimu" Yurisa
"Aaah aku tidak tahu, memangnya ada perlu apa kau mencari Ibu?" tanya Leoninko
"Rahasia" Yurisa langsung pergi meninggalkan Leoninko dan kembali berjalan-jalan sembari melihat kesana kemari mencari Ratu Hilda. Dalam hatinya dia berkata, aku masih belum tahu pasti tentang Xander tapi apa salahnya hati-hati dan berjaga-jaga?
"Yurisa?" panggil Ratu Hilda
"Ratu Hilda, apakah Ratu punya waktu luang saat ini? Ada yang ingin aku katakan dengan Ratu" kata Yurisa.
Supaya rahasia ini tetap aman maka aku harus berbicara menggunakan kode atau sandi - batin Yurisa
"Iya aku sedang luang, ada apa Yurisa?" tanya Ratu Hilda
"Tadi malam aku pergi ke perpustakaan, aku menemukan sebuah buku yang berisi kumpulan karya sastra, aku membacanya dan itu sungguh sangat indah. Lalu hatiku tergerak untuk membuat sebuah karya sastra yaitu puisi, aku ingin Ratu Hilda membacanya dan memberikan tanggapan untukku" Yurisa langsung memberikan gulngan surat kepada Ratu Hilda
Benar, surat itu berisi tentang mimpiku tadi malam - batin Yurisa
Ratu Hilda membuka gulungan kertas tersebut, begitu tulisan tersebut di baca ekspresi Ratu Hilda langsung berubah menjadi lebih serius dari sebelumnya. Setelah itu kertas tersebut di bakar hingga habis dengan menggunakan sihirnya sambil berkata kepada Yurisa "Yurisa, jika boleh jujur puisimu itu sungguh sangat buruk"
Maksudnya, arti mimpiku itu sangat buruk? - batin Yurisa
"Sudah ku duga" kata Yurisa
"Tapi kau tenang saja aku akan mengajarimu, ikutlah denganku Yurisa" kata Ratu Hilda
Tanpa Yurisa ketahui, Ratu Hilda mengajaknya pergi ke ruangan pribadinya Rafael. Di ruangan tersebut Leoninko dan Devian juga ada di sana.
"Sayang, ini gawat" Hilda berjalan mendekati Rafael dan "Xander adalah anaknya Chains" ucapnya secara blak-blakan
Mata Rafael terbelalak setelah mendengarnya. Leoninko dan Devian juga langsung shock.
"Yurisa, mendapatkan petunjuk melalui mimpinya tadi malam. Dan aku baru saja mengartikannya tadi, itu sangat mengejutkan" ucap Hilda
"Ibu, Ibu mengartikan mimpinya Yurisa dengan baik kan?" tanya Leoninko
"Leoninko, jika itu sudah berkaitan dengan tafsir mimpi Ibu tidak pernah main-main" Yurisa
"Mungkin Yurisa terbawa mimpi, soalnya tadi malam saat kami sedang mengobrol, kami membicarakan Xander" Devian
"Tidak, saat aku memimpikannya rasanya itu seperti nyata" Yurisa meyakinkan mereka
"Aku percaya" Raja Rafael
"Raja Rafael, apa yang harus kita lakukan?" tanya Yurisa
"Tenang saja Yurisa, aku punya rencana yang bagus" Raja Rafael
Setelah berdiskusi dengan Raja Rafael Yurisa terlihat bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat. Dimana lagi kalau bukan ke hutan? Tempat favoritnya untuk latihan, mencari keseruan, kesenangan dan ketenangan.
"Sekarang, aku adalah seorang Jendral perang. Aku bebas melakukan apa pun selagi itu tidak merugikan orang lain. Tidak ada yang bisa menghentikanku sekarang" Yurisa langsung menaiki kudanya dan pergi menuju ke hutan
Setelah dia sampai di hutan, Yurisa merasa bahwa ada sosok lain yang sedang menatapnya dari tempat persembunyian sejak tadi. Memang benar tanpa Yurisa ketahui sosok itu menunjukan senyum smirk nya, tampak puas sekali melihat kedatangan Yurisa di hutan. Dalam hatinya dia membatin aku harus terus waspada. Yurisa mulai merasa bahaya mendekat ke arahnya.
Yurisa turun dari atas kudanya. Dia mengikatkan tali kudanya pada salah satu pohon. Begitu Yurisa membalikkan badannya dia terkejut mendapati Xander sudah ada di sana secara tiba-tiba.
"Apa yang kamu lakukan disini Xander?" tanya Yurisa
"Aku sedang melakukan investigasi" Xander mengeluarkan hp nya lalu menunjukkannya kepada Yurisa "Aku bisa mengantarmu ke tempat ini, mungkin kau bisa mengingatnya nanti. Kabari aku lagi jika kau sudah menetukan tanggalnya ya" Xander menunjukkan beberapa foto kepada Yurisa "Aku juga ingin menunjukkan tempat yang bagus di hutan ini untukmu dalam melakukan meditasi" Xander kembali mengantongi hp nya
"Xander, aku menghargai usaha yang sudah kau lakukan. Tapi... " Yurisa
"Yurisa, aku membantumu dengan tulus" Xander memotong ucapan Yurisa
"Aaah baiklah kalau begitu lakukan sesukamu" Yurisa
"Baiklah Yurisa, kalau begitu aku pergi dulu ya. Aku mau ke rumah sakit" Xander
"Kau sakit?" tanya Yurisa
"Tidak, sebenarnya aku juga bekerja disana sebagai seorang Dokter" jawab Xander
"Eeh apa kau serius?" tanya Yurisa tidak percaya bahwa ternyata Xander tidak seperti orang yang dia pikirkan. Ya, Xander sangat hebat.
"Begitulah, aku duluan ya Yurisa" Xander
"Oh iya, hati-hati" Yurisa melihat kepergian Xander yang semakin jauh hingga tak terlihat dari pandangan matanya "Ya ampun, apa dia yang menyuruh komplotan seperti kalian untuk menghajarku?" tanya Yurisa, dia membalikan tubuhnya dan melihat sekelompok preman yang sudah bersiap-siap untuk menyerangnya.
Yurisa langsung melakukan teknik kuda-kuda dan bersiap menarik pedang dari sarung pedangnya. Tanpa ragu berkata kepada mereka "Majulah"
Pertarungan antara Yurisa dan sekelompok orang tak di kenal yang jumlahnya sekitar 10 orang berlangsung sangat sengit. Mereka semua sama-sama hebat, namun pada akhirnya tetap saja Yurisa yang menjadi pemenangnya. Sekelompok orang itu kabur sebelum Yurisa mengajukan beberapa pertanyaan untuk mereka.
"Sialan!" ucap Yurisa kesal. Dia melihat bahwa tanpa dia sadari tanganya sempat tergores. Hal itu menyebabkan moodnya semakin memburuk.
"Apa kamu baik-baik saja Yurisa?" orang tak di kenal mendatanginya
"Kau ini siapa lagi? Apa kedatanganmu kemari juga salah satu dari rencananya Xander untuk membunuhku?!" tanya Yurisa yang masih merasa kesal
"Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan, aku hanya seorang pemuda yang jarang berinteraksi dengan orang lain dan hidup sebatang kara di gunung ini. " ucap pemuda tersebut, dia memetik beberapa dedaunan di sekitarnya yang bisa di jadikan obat herbal
Yurisa terdiam sejenak dan mencoba melihat aura dan energi yang di miliki oleh pemuda itu. Setelah dia mengetahui bahwa pemuda gurung tersebut memiliki energi serta aura yang bagus dan tidak punya jahat Yurisa pun merasa menyesal karena sudah menuduhnya.
"Oh, maafkan aku karena sudah salah sangka padamu" kata Yurisa
"Tidak apa-apa" pemuda itu menatap Yurisa "Mau mampir ke rumahku? Tidak jauh dari sini kok" tanya pemuda tersebut
"Iya, karena aku sudah di sini apa boleh buat" Yurisa
Sepanjang perjalanan mereka berdua hanya diam, setelah sampai di rumah pemuda yang belum di ketahui namanya itu Yurisa di persilahkan masuk dan duduk.
"Ulurkan tanganmu" kata pemuda tersebut
"Ehh?" Yurisa
"Ulurkan saja" Pemuda gunung
Yurisa mengulurkan tangannya, setelah itu pemuda gunung mengoleskan sebuah selep pada Yurisa. Selep tersebut adalah selepnherbal buatannya yang sudah di tumbuk dengan halus sebelumnya, setelah itu pemuda gunung membalut lukanya dengan menggunakan kain.
"Kau bisa membukanya nanti sore, aku bisa jamin bahwa lukamu akan sembuh. Bekas lukanya juga hilang" kata Pemuda gunung
"Terimakasih banyak, sepertinya obat buatamu sangat manjur ya?" Yurisa
"Iya seperti itulah" Pemuda gunung
"Oh iya, siapa namamu? Dan bagaimana kau bisa mengetahui namaku?" tanya Yurisa
"Hampir semua orang di dunia tahu siapa kamu, orang yang pernah membunuh Chains. Dan untuk namaku, panggil saja Niels" kata pemuda gunung yang memperkenalkan dirinya sebagai Niels
"Niels, nama yang bagus" kata Yurisa
"Oh iya tunggu sebentar" Niels masuk ke dalam rumahnya tak lama kemudian dia kembali dengan membawa beberapa menu makanan yang enak "Ini, coba makanlah. Aku tidak bisa menghabiskannya sendiri" lanjutnya
"Kebetulan sekali sejak tadi pagi aku belum makan" Yurisa menganbil sendok dan garpu yang sudah di persiapkan "Selamat makan" Yurisa menyantap makanan tersebut "Umm... Enak juga ya masakanmu" Yurisa mengunyah makanan di dalan mulutnya
"Terimakasih" Niels
Tiba-tiba saja Yurisa mendapatkan penglihatan dari masa lalunya, yaitu gambaran dari gedung Universitas Olympus Kota Shaquille.
Aku mulai ingat secara perlahan-lahan - batin Yurisa
"Niels, apa kau tidak ingin pergi ke Kota di sana ada banyak sekali lapangan pekerjaan loh. Kau tidak kesepian apa tinggal sendirian di gunung? Kau tidak takut jika tiba-tiba saja orang jahat atau ada iblis jahat yang tiba-tiba mendatangimu?" tanya Yurisa sambil menikmati makanya
Ekspresi wajah Niels mendadak lebih serius dan sedikit lebih tegang dari sebelumnya. Begitulah, Niels menyembunyikan sesuatu dari Yurisa. "Entah kenapa aku lebih suka di sini" jawab Niels
"Iya, aku hanya heran. Karena dari segi usia sepertinya kita sepantaran. Kebanyakan anak-anak muda yang aku temui di luar sana mereka itu sangat modis, mereka moderen, mereka menempuh pendidikan sampai ke perguruan tinggi, dan mereka juga gengsi dengan hal-hal yang kuno atau ketinggalan zaman. Kau pasti mengerti apa maksudku kan?" Yurisa
"Iya aku bisa memahaminya" jawab Erick
"Tapi semua orang memiliki prinsip yang berbeda dan tidak bisa di paksakan" kata Yurisa lagi
"Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan di hutan? Berburu?" tanya Niels
"Entahlah aku suka sekali dengan hutan" jawab Yurisa
"Begitu ya. Kalau kau tidak keberatan jika kamu datang ke hutan, mampirlah kemari" kata Niels
"Iya, terimakasih Niels" Yurisa
...----- BERSAMBUNG -----...