PATCH WITH THE DEVIL

PATCH WITH THE DEVIL
PATCH WITH THE DEVIL 24



Salah satu perawatnya tersebut menyuntik Yurisa sebanyak lima kali di tangannya. Kemudian perawat lain menyusulnya dengan menusukan senjata tajam berkali ke tubuh Yurisa.


"Dia ini manusia, membunuhnya adalah hal yang mudah aku yakin dengan begini dia sudah mati"


"Kita bawa jasadnya ke hutan dan kita bakar sampai habis disana"


Para perawat itu memasukan tubuh Yurisa di kantong jenazah dan membawanya ke hutan melalui jalan rahasia dari bawah tanah. Setelah sampai di hutan mereka menyiram tubuh Yurisa dengan minyak tanah, ketika mereka hendak membakar tubuh Yurisa tiba-tiba datanglah serigala yang dengan cepat mengambil tubuhnya Yurisa dan membawanya pergi. Para perawat itu pasrah, karena mereka berpikir bahwa mengejar serigala yang membawa lari tubuhnya Yurisa adalah hal yang sia-sia.


Serigala tersebut tak lain adalah Erick, dia membawa Yurisa ke rumahnya sebagai Niels.


"Tuan, apa anda akan mengobati lukanya?" tanya Andre yang muncul dengan tiba-tiba di belakang Erick


Erick mengubah dirinya sebagai Niels lalu berkata kepada Andre "Tidak, sebelumnya aku sudah memberikan dia sihir untuk kekebalan tubuhnya dari segala macam racun mematikan atau pun senjata. Sebentar lagi kondisinya akan segera pulih, karena aku menjadikan selep atau obat herbal tersebut hanya untuk mengalihkan perhatiannya" Niels (Erick) memegang tangan Yurisa


Yurisa yang masih belum sadarkan diri lagi-lagi memimpikan sesuatu di alam bawah sadarnya. Di dalam mimpi itu dia melihat Erick sebagai Raja iblis yang menjemputnya untuk pulang bersamanya, "Isteriku sayang, aku sangat merindukanmu. Aku merasa kesepian tanpa kehadiranmu, ayo kita pulang bersama" kata Erick dalam mimpinya.


Setelah itu Yurisa langsung bangun, dia kaget mendapati dirinya sudah berada di tempat tidur yang cukup asing.


"Selamat pagi Yurisa"


Yurisa melihat Niels, berada di sebelahnya dan baru saja bangun. Hal itu membuat Yurisa semakin kaget "NIELS?" sangking kagetnya dia mencoba menjaga jarak dengan Niels dan terjatuh dari ranjang tempat tidur "AAWW!" Yurisa kembali berdiri tegak


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Niels


"Iya aku baik-baik saja, mengapa aku bisa berada di tempat tidurmu Niels?" tanya Yurisa


"Aku malas menceritakannya kepadamu, karena kau tidak akan pernah mau mempercayainya" jawab Niels yang terlihat enggan dan malas lalu menurunkan kakinya ke lantai dan memakai sendalnya


"Kali ini aku akan mempercayai apa yang kamu katakan. Tolong ceritakan apa yang sudah terjadi padaku sebelumnya" pinta Yurisa


"Baiklah, tadi malam kau pingsan. Jendral Xander membawamu ke rumah sakit, dia menggunakan kesempatan itu untuk membunuhmu. Mereka menyuntikkanmu dengan racun dan obat-obatan berbahaya yang lain, bukan hanya itu saja mereka juga menusukmu berkali-kali dan mengambil beberapa organ tubuhmu untuk di jadikan eksperiment atau apa lah pokoknya dia ambil. Kemudian setelah itu para bawahan Xander berniat membakarmu di dekat rumahku, lalu aku datang untuk menyelamatkanmu" jelas Niels


"Kau menyelamatkanku dalam sekejap?" tanya Yurisa keheranan


"Tidak, obat herbal yang kemarin aku oleskan di tanganmu itulah yang menyembuhkan semua lukamu dalam sekejap" jawab Niels


"Niels, siapa kau sebenarnya?" tanya Yurisa dengan ekspresi serius


"Apa maksudmu?" tanya Niels


"Bagaimana mungkin obat herbal semacam itu bisa menangkal kekuatannya jahat dan membuatku regenerasi. Siapa kau sebenarnya?" kata Yurisa


"Aku Niels, aku memiliki kemampuan dalam menggunakan sihir" jawab Niels "Tidak percaya?" tanya Niels balik


"Aku sudah bilang bahwa aku percaya apa yang kau katakan kan tadi?" tanya Yurisa


"Ya, rasanya kau masih tidak percaya padaku" Niels


"Aku percaya. Terimakasih ya Niels" Yurisa


"Iya sama-sama" jawab Niels


"Oh iya kau tidak melakukan apa pun terhadapku kan tadi malam?" tanya Yurisa


"Aku tidak melakukan apa pun padamu kok. Jika aku melakukannya hal yang tidak-tidak aku bisa di bunuh oleh Raja Rafael ataupun Raja Erick" jawab Niels


Yurisa, terdiam menundukkan kepalanya.


"Yurisa, apa kau baik-baik saja?" tanya Niels


"Iya" Yurisa duduk, dia teringat semua penyelidikannya selama ini yang pernah di lakukan "Aku masih belum bisa mengingatnya" ucapnya


"Mengapa kamu tidak menerima dan menjalaninya saja Yurisa? Dengan begitu, pelan-pelan ingatanmu pasti akan kembali" Niels duduk di sebelahnya


"Menerima dan menjalanini begitu saja bukan hal yang mudah bagiku Niels" Yurisa


"Aku akan kembali ke Kota Shaquille dan menangkap Xander setelah itu aku serahkan dia kepada Raja dan Ratu untuk diadili seadil-adilnya. Begitu dia sudah diadili misiku selanjutnya adalah bercerai dengan Erick, lalu membunuhnya" jawab Yurisa blak-blakan


"Begitu ya, semoga usahamu membuahkan hasil Yurisa" kata Niels


"Iya aku juga berharap begitu. Baiklah aku pergi sekarang ya Niels, sekali lagi terimakasih banyak sudah menyelamatkan nyawaku" kata Yurisa


"Iya. Jika tidak keberatan, ajaklah aku juga. Ya, siapa tahu aku bisa berguna untumu" kata Niels


"Baiklah kalau begitu ayo" ucap Yurisa dengan penuh semangat dan langsung menarik Niels


Sesampainya di area castle Shaquille, ketika Yurisa melihat Xander dia langsung menyerangnya secara tiba-tiba. Xander yang sudah mempersiapkan diri sebelumnya pun langsung melakukan pembelaan.


Setelah itu mereka berdua berhenti. Yurisa dan Xander saling bertatapan di halaman castle kerajaan Shaquille. Wajah Xander penuh kemarahan dan mata Yurisa memancarkan tekad untuk melindungi kerajaan dan menjaga perdamaian. Yurisa menatap penuh kepercayaan pada pedangnya yang mengkilat di tangan kanannya. Ia tahu bahwa tugasnya sebagai pahlawan adalah untuk membebaskan dunia dari kekuasaan Raja Iblis, Chains. Sekarang, setelah bertarung habis-habisan dengan Chains, Yurisa merasa lega karena tugasnya sudah selesai.


Namun, kelegaan tersebut tidak bertahan lama ketika Xander muncul di hadapannya. Dalam pandangan pertama, Yurisa menyadari bahwa Xander memiliki wajah yang sama seperti Chains, tetapi matanya penuh dengan kemarahan dan kebencian.


"Kau adalah pembunuh ayahku," kata Xander dengan suara gemetar.


Yurisa memegang pedangnya dengan lebih erat, siap menghadapi apa pun yang akan datang. Dia tahu bahwa dia harus membela diri dan melindungi kerajaan Shaquille dari balas dendam Xander. Ya, mereka mulai saling menyerang dengan pedang mereka yang memancarkan sinar terang. Keduanya sama-sama ahli dalam bertarung, sehingga pertarungan mereka menjadi sengit dan memakan waktu yang lama.


Yurisa menyerang dengan kecepatan dan kekuatan yang luar biasa. Setiap serangannya membawa kekuatan yang cukup besar, tetapi Xander juga mampu mengimbangi serangan-serangan tersebut dengan keahlian bertarungnya. Xander membalas serangan-serangan Yurisa dengan gerakan yang terampil dan akurat. Dia menghindari serangan-serangan tersebut dengan gerakan yang cepat dan lincah. Xander juga memiliki kekuatan fisik yang cukup besar, sehingga dia dapat menahan serangan-serangan Yurisa dengan mudah.


Saat pertarungan berlangsung, mereka saling berhadapan dengan pedang mereka yang masih terkunci dalam serangan yang intens. Tangan mereka saling berpegangan erat dan saling mendorong, mencoba untuk mengalahkan satu sama lain. Namun, mereka sama-sama memiliki kemampuan yang luar biasa, sehingga tidak ada yang bisa mendominasi pertarungan tersebut. Keduanya saling menyerang dengan berbagai macam gerakan dan teknik yang terampil, tetapi tidak ada yang berhasil mengalahkan lawannya.


Ketika matahari mulai terbenam, mereka masih terus bertarung dengan semangat yang sama. Sering kali, mereka terlibat dalam pertarungan yang sangat dekat, di mana pedang mereka hanya berjarak beberapa sentimeter dari tubuh lawannya. Akhirnya, setelah berjam-jam bertarung, Xander tergelincir dan kehilangan keseimbangan.


Melihat Xander terkapar di tanah, Yurisa berdiri dengan pedangnya di tangan. Dia siap untuk menghabisi nyawa Xander, namun tiba-tiba muncul Marlina. Dia menghentikan Yurisa dengan cepat dan menempatkan dirinya di antara Yurisa dan Xander.


"Berhenti!" kata Marlina dengan suara tegas. "Tidak perlu lagi ada darah yang tercurah. Kau telah membunuh Chains, itu sudah cukup."


Yurisa memandang Marlina dengan tatapan tajam. Dia tidak tahu bahwa Marlina adalah kekasih Xander, jadi hal itu tidak menghalanginya untuk menjalankan tugasnya. Namun, Yurisa juga tidak ingin membunuh orang yang tidak bersalah.


"Apa maksudmu, Marlina?" tanya Yurisa.


Marlina menatap Yurisa dengan tajam. "Ayah Xander adalah Raja Iblis yang jahat," kata Marlina. "Dia telah memanipulasi Xander sejak kecil dan membuatnya menjadi dia sekarang ini. Tapi Chains telah dimusnahkan dan dunia kini sudah aman. Tidak perlu lagi ada kekerasan." ucapnya Marlina dengan tegas.


Yurisa terdiam sejenak, memikirkan kata-kata Marlina. Dia menyadari bahwa apa yang Marlina katakan adalah benar. Xander mungkin tidak bersalah atas perbuatannya, dan membunuhnya hanya akan menambah dosa yang lebih besar. Maka dengan hati-hati, Yurisa menarik kembali pedangnya dan menempatkannya kembali di sarungnya. Dia menatap Marlina dan Xander dengan penuh perhatian.


"Kau benar, Marlina," kata Yurisa. "Kita harus menempatkan masa lalu di belakang dan memulai hidup yang baru. Mari kita bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik."


Mendengar kata-kata Yurisa, Marlina tersenyum lega dan memeluk Xander. "Xander," kata Marlina dengan lembut, "sudah waktunya untuk mengakhiri perjalananmu untuk balas dendam."


Xander menatap Marlina dengan bingung. "Apa maksudmu, Marlina?"


"Kematian Chains memang sangat menyakitkan," kata Marlina. "Namun, membunuh Yurisa tidak akan membawamu kebahagiaan atau kedamaian. Bahkan, itu hanya akan menciptakan lebih banyak penderitaan."


Xander merenungkan kata-kata Marlina. "Aku tidak tahu bagaimana cara melupakan dendam ini," ujarnya.


Marlina tersenyum lembut. "Dendam adalah api yang akan terus membakar hatimu sampai kamu memadamkannya," katanya. "Xander, kamu tidak perlu melupakannya. Kamu hanya perlu melepaskan dendam itu dan memilih untuk hidup dengan hati yang penuh kedamaian."


Xander menatap Marlina dengan penuh perhatian. "Bagaimana caranya melepaskan dendam itu?"


"Mulailah dengan memaafkan dan merelakan Chains," kata Marlina. "Meskipun dia telah melakukan banyak kejahatan, memaafkan dia akan membantu kamu untuk melepaskan dendam itu. Setelah itu, fokus pada masa depanmu dan jangan biarkan masa lalumu menghantuimu. Temukan kebahagiaan dan kedamaianmu di sana"


Marlina melanjutkan, "Percayalah bahwa hidupmu tidak hanya ditentukan oleh dendam dan kebencian. Kamu memiliki kesempatan untuk membangun hidup yang lebih baik dan menciptakan kesuksesanmu sendiri. Jadilah seseorang yang terhormat dan bijaksana, yang memiliki cinta dan kasih sayang di dalam hatinya. Ingatlah bahwa kebaikan dan keindahan ada di sekelilingmu, jadi jangan biarkan dendammu mengaburkan penglihatanmu dan menghalangimu untuk melihat keindahan itu. Teruslah melangkah maju dengan penuh kepercayaan diri dan tekad, dan jangan biarkan dendam membatasi potensimu."


"Dan satu lagi," Marlina menambahkan, "Jangan biarkan dendammu membuatmu menjadi seperti Ayahmu. Jangan ikuti jejaknya dan jangan biarkan kebencianmu mempengaruhi hidupmu. Kamu adalah manusia yang memiliki pilihan, dan pilihlah untuk memilih jalan kebaikan dan kebahagiaan. Kehadiranmu di dunia ini adalah untuk memberikan kontribusi positif, bukan untuk membawa penderitaan dan kehancuran. Maka, lepaskanlah dendammu dan mulailah hidupmu dengan kedamaian dan kasih sayang."


Xander merenungkan kata-kata Marlina dan menyadari bahwa dia telah salah memandang hidupnya selama ini. Dia menyadari bahwa dendam dan kebencian hanya akan membawanya ke arah yang salah, dan satu-satunya jalan keluar adalah dengan memaafkan dan melepaskan dendam itu. Dia bertekad untuk mengikuti nasihat Marlina dan memulai hidup baru dengan kedamaian dan kasih sayang.


......---------- BERSAMBUNG ---------......