PATCH WITH THE DEVIL

PATCH WITH THE DEVIL
PATCH WITH THE DEVIL 23



Setelah Yurisa kembali ke Kota Shaquille sore menjelang malam, Niels bersandar pada salah satu pepohonan besar. Dari wajahnya dia terlihat sangat murung.


"Ah~ aku ingin bersamanya lebih lama lagi" ucap Niels


"Tuanku, bukankah Raja Rafael sudah melarang supaya tidak menemui Tuan Putri Yurisa?" tanya Andre


"Aku tidak bisa Andre, aku tidak mampu melakukannya. Aku sangat merindukan Yurisa, aku selalu merindukannya setiap saat. Hati dan pikiranku hanya ada Yurisa saja" jelas Niels (Erick)


"Tuan Erick, mengapa anda melakukan penyamaran dan memperkenalkan diri sebagai Niels?" tanya Andre


"Karena di masa ini Yurisa masih belum bisa mengingat kembali masa lalunya. Dalam kondisinya yang sekarang ini Yurisa sangat membenci iblis, aku tidak mau ada pertarungan di antara kami berdua" jelas Niels (Erick)


"Baiklah saya mengerti sekarang, kalau begitu mari kita pulang Tuanku" Andre


"Iya Andre" Niels


Mereka berdua langsung menghilang dengan teknik teleportasi ke dimensi yang berbeda.


Jadi sesampai di kerajaannya, Erick duduk di kursi kebesarannya. Semua iblis memberinya hormat.


"Ada yang ingin aku tanyakan kepada kalian berlima, yang pernah menjadi Jenderalnya Chains" Erick melihat Malachi, Kairos, Zarael, Orion, dan Alessandra. "Apa Chains memiliki keturunan seorang manusia?" tanya Erick kepada mereka berlima


"Setahuku Chains itu hanya bersenang-senang dengan para wanitanya entah itu dari kalangan manusia ataupun iblis. Jika mereka hamil, bayinya akan langsung di makan" kata Malachi


"Kecuali jika itu adalah anak dari wanita yang dia nikahi. Dia akan berubah menjadi seorang Ayah yang sangat penyayang dan bijaksana" tambah Alessandra


"Jadi sebenarnya selama ini Chains itu sudah pernah menikah atau belum?" tanya Erick


"Dia pernah menikahi Putri Aria" jawab Zarael


"Aku juga tahu yang itu. Maksudku sebelum dia menikahi Putri Aria" Erick


"Sudah" jawab Alessandra


"Iya itu benar. Dia pernah menikah dengan gadis manusia yang berasal dari kalangan penyihir dan memiliki satu anak laki-laki" tambah Orion


"Menurut rumor yang beredar anak tersebut lahir dengan mewarisi semua kekuatannya. Ya bisa di bilang bahwa anaknya lahir menjadi iblis" timpal Kairos


"Terakhir kali aku melihat anaknya saat berusia tujuh tahun, menurutku dia seperti anak manusia biasa pada umumnya" Alessandra


"Apa mungkin Raja Chains menutupinya? Ya, bisa jadi anaknya adalah manusia lalu di besarkan sebagai iblis. Walaupun begitu manusia tetaplah manusia" kata Orion


"Alessandra, apakah kau mengenalnya?" Erick memunculkan avatar yang menyerupai Xander


Alesaandra terdiam sejenak memperhatikan avatar tersebut. Suasana mendadak hening dan di penuhi ketegangan.


"Raja, dia adalah anaknya Chains" kata Alessandra


"Hei, apa kau serius?!" tanya Zarael kepada Alessandra


"Dulu waktu dia masih kecil aku pernah menjadi pengasuh sementara untuknya" kata Alessandra


"Begitu ya, baiklah sekarang semuanya sudah jelas kita lihat saja langkah berikutnya. Aku ingin tahu seberapa pintar dan kuat anaknya Chains dalam menjalankan misi rahasianya itu" kata Erick


"Memangnya kenapa Tuan Erick?" tanya Andre


"Dia berniat melukai Istriku" jawab Erick


Dari sisi yang lain, malam itu di cafe & bar tempatnya berkumpul dengan teman-temannya seperti biasanya Yurisa memikirkan beberapa hal yang sudah bisa di ingat. Yang pertama dia ingat pertarungannya dengan Christina, tapi dia belum tahu sepenuhnya sebab dari pertarungan tersebut. Yang kedua adalah dia seorang mahasiswa di Universitas Olympus Kota Shaquille.


"Yurisa" sapa Athur yang kemudian duduk di sampingnya


"Ya... " Yurisa mengeluarkan hp nya dan langsung login ke gamenya "Aku dengar Isterimu hamil?" tanya Yurisa


"Iya, anak pertama kami" jawab Athur


Lalu bartender menyuguhkan dua gelas minuman mahal di hadapan mereka berdua.


"Maaf, aku belum pesan apapun" kata Athur kepada bartender tersebut


"Itu dariku, terima saja" Leoninko


"Apa yang kau lakukan disini Leoninko? Tidak seharusnya kau berada di sini" ucap Yurisa yang masih sibuk bermain game


Leoninko, mengeluarkan hp nya dan dia melakukan hal yang sama dengan Yurisa yakni login ke game nya setelah itu dia mulai bermain. "Sudah seminggu aku tidak bermain" ucap Leoninko


"Apa kalian tahu pemuda yang tinggal di gunung seorang diri?" tanya Yurisa yang masih fokus bermain game


"Pemuda?" tanya Leoninko


"Memangnya ada?" tanya Athur


"Tidak mungkin di zaman sekarang ada anak muda yang repot-repot atau memilih untuk tinggal di gunung sendirian, apa dia sudah gila?" tanya Leoninko


"Atau jangan-jangan dia adalah seorang buronan? Karena itulah mengapa dia menjauhi keramaian" sahut Athur


"Jadi kau menyukainya?" Athur meneguk minuman di depannya


"Yurisa, ingat! Kau itu sudah menikah dengan Erick. Sebaiknya kau berhenti menemuinya" kata Leoninko sambil memainkan gamenya


"Leoninko, tolong jangan bahas itu lagi!" Yurisa


"Yurisa, keegoisanmu dan ketidakpercayaanmu terhadap orang-orang yang selama ini menyayangimu bisa membuat situasi dan kondisi kehidupan ini menjadi kacau. Aku menyarankanmu untuk menemui Erick dulu lalu... " Leoninko


"Tidak!" ucap Yurisa tegas "Raja iblis itu adalah musuhku, jika dia di biarkan hidup suatu saat hal yang sama seperti peperangan dan kesengsaraan akan terjadi lagi. Untuk mencegah hal itu agar tidak terjadi maka aku lah yang akan membunuhnya!" Yurisa


"Yurisa, Erick itu sangat baik" kata Athur


"Tidak ada iblis yang baik, semua iblis sama saja. Mereka berdusta untuk menyesatkan manusia, mereka menjadi baik dengan maksud tertentu!" Yurisa


Mereka bertiga diam sejenak


"Ah sialan aku kalah dalam game ini. Kemampuanku langsung anjlok setelah tidak main seminggu" Leoninko melihat Yurisa yang bermain game dengan serius dan fokus


"Yurisaaaa"


Mereka semua melihat ke arah sumber suara kecuali Yurisa yang sibuk bermain game.


"Marlina?" tanya Leoninko


Marlina berlari ke arah mereka dan langsung memeluk Yurisa dari belakang dengan sangat erat "Yurisa, kau tahu? Aku sangat merindukanmu Yurisa. Sudah lama sekali kita tidak bertemu" ucap Marlina


"Hey, lepaskan aku tidak mengenalmu" Yurisa mencoba melepaskan pelukannya Marlina dengan salah satu tangannya sedangkan tangannya yang lain di gunakan untuk memegang hp nya "Aku sedang sibuk, tolong jangan mengganggu konsentrasiku" ucapnya sedikit kesal


Marlina melepaskan pelukannya, dia menghela nafas panjang menatap Yurisa yang sifatnya tidak ada bedanya saat ingatannya belum hilang.


"Kau ada keperluan apa di Shaquille?" tanya Leoninko kepada Marlina


"Aku, hanya ingin bertemu dengan pacarku kok. Dia bekerja di kota ini" jawab Marlina


"Siapa pacarmu?" tanya Athur


"Rahasia" jawab Marlina


"Aku baru tahu kau punya pacar" kata Leoninko "Kau sudah lama pacaran dengannya?" tanya Leoninko lagi yang mulai merasa penasaran mengenai hubungan Marlina dengan pacarnya


"Iya sudah lama" jawab Marlina "Oh iya aku baru tahu kalau ternyata Yurisa sudah menikah, dan suaminya adalah... "


"Berhenti!" Yurisa memotong ucapan Marlina


Itu membuat Marlina terkejut dan mencoba untuk memahami sebab Yurisa kesal saat suaminya sedang di bahas. "Baiklah" Marlina terdiam sejenak "Apa kau sudah hamil?" tanya Marlina blak-blakan


Mendengar pertanyaan tersebut Athur yang tadi sedang menikmati minumannya langsung tersedak "Uhuk-uhuk-uhuk"


"Aku tidak menikah dengan siapa pun jadi aku belum hamil" ucap Yurisa dengan tenang


"Ya ya baiklah, terserah kau saja dasar perempuan keras kepala" Marlina


###


Setelah dari cafe & bar serta mengobrol banyak hal bersama teman-temannya, Yurisa pergi ke perpustakaan untuk mencari tahu masa lalunya sendiri melalui artikel popular yang di publish di media masa, foto-foto yang sudah menyebar di internet dan yang lainnya. Dia mulai berpikir bahwa semua data yang dia dapatkan selama ini sama seperti apa yang telah di katakan oleh orang-orang di sekelilingnya. Walaupun begitu Yurisa masih belum bisa mengingatnya.


"Mungkin aku harus pergi ke Universitas Olympus, siapa tahu dari sana aku bisa mendapatkan penglihatan masa lalu?" Yurisa mematikan komputer perpustakaan tersebut lalu pergi ke Universitas Olympus.


Setelah sampai di depan gerbang Universitas Olympus, Yurisa langsung masuk dan berjalan menuju ke Fakultas Sejarah. Langkahnya terhenti setelah dia merasakan ada semacam sengatan di kepalanya yang membuatnya merasa pusing. Seperti dugaannya, Yurisa mendapatkan penglihatan mengenai masa lalunya. Kali ini yang dia ingat adalah teman-teman yang satu kelas dengannya, namun tidak semuanya.


"Akh, kepalaku semakin pusing. Aku akan melanjutkanya besok" Yurisa pergi meninggalkan Universitas Olympus


Di tengah perjalanannya pulang menuju castle Shaquille, dia tercengang melihat orang asing yang berdiri di hadapannya dan menghalangi jalannya. Saat itu pandangan mata Yurisa sedikit kurang jelas karena merasa bahwa pusing di kepalanya semakin parah sehingga penglihatannya pun terganggu dan menjadi samar-samar.


Karena hal itu Yurisa mencoba untuk memperhatikan secara detail siapa orang yang ada di hadapannya. Setelah Yurisa tahu siapa dia, Yurisa tersentak kaget dan langsung menarik pedangnya.


"Chains?!" Yurisa


Sosok yang di sangka Chains langsung berlari,  Yurisa terus mengejarnya. Dalam hatinya Yurisa berkata Mustahil, mustahil jika dia masih hidup. Aku yakin sekali bahwa saat itu aku sudah membunuhnya.


Ketika Yurisa berlari melewati tikungan tajam dia menabrak seseorang dari arah yang berlawanan "BRAK"


"Sialan!" Yurisa hampir saja terjatuh karena tabrakan mereka cukup keras. Dia juga memegangi kepalanya, dalam hatinya berkata Menyebalkan, berlari membuat kepalaku tambah pusing saja. Pandangan mataku juga mulai di penuhi kegelapan.


"Yurisa?"


Ya, aku kenal suara itu. Itu suaranya Xander - batin Yurisa


Yurisa, pingsan dan jatuh di pelukan Xander. Tanpa sepengetahuan orang lain, Xander membawa Yurisa pergi ke rumah sakit tempatnya bekerja. Di sana Yurisa langsung di serahkan kepada para perawatnya. Para perawat itu adalah orang-orang yang menyerang Yurisa di hutan sebelumnya. Sepertinya mereka berniat untuk melakukan sesuatu terhadap Yurisa.


......-----------BERSAMBUNG--------------......