
Sesampainya di kota, Alessa menjadi bahan pembicaraan karena kecantikannya yang luar biasa. Leoninko, yang telah mengobati dan merawat Alessa, merasa tertarik dan mulai menghabiskan waktunya bersamanya. Namun, dia tidak tahu bahwa Alessa itu sebenarnya adalah iblis yang menyamar sebagai manusia dengan tujuan untuk bertemu dengan anak asuhnya yakni Xander.
Sekarang, setelah bertahun-tahun tidak bertemu, Alessa merasa rindu pada anak asuhnya itu. Tanpa sepengetahuan siapa pun, ia diam-diam pergi menemui Xander di kamarnya. Xander sangat terkejut dan bahagia melihat Alessa datang menemuinya. Mereka duduk bersama dan mulai mengobrol seperti dahulu kala. Alessa merasa senang bisa berada di sana bersama Xander, seolah-olah masa lalu yang hilang telah kembali lagi.
Namun, Xander tahu bahwa Alessa seharusnya tidak ada di dunia manusia. Meskipun ia merasa terganggu dengan kehadirannya, ia tidak bisa menolak cinta dan kasih sayang yang Alessa berikan padanya selama bertahun-tahun sebagai seorang pengasuh.
Alessa dan Xander duduk bersama di teras rumah Xander, menikmati udara segar di malam hari. Mereka terdiam sejenak, menatap bintang-bintang di langit.
"Kamu masih ingat ketika aku mengasuhmu dulu?" Alessandra
"Tentu saja aku ingat, Al. Kamu selalu menyediakan makanan yang enak untukku dan selalu menjaga aku agar tidak sakit. Aku sangat berterima kasih padamu." Xander
"Aku juga merindukan hari-hari itu. Kamu tumbuh menjadi pemuda yang tangguh dan baik hati." Alessandra
"Terima kasih, Al. Aku juga merindukanmu. Tetapi, apa yang membuatmu datang ke sini sekarang?" Xander
Alessa terdiam sejenak, seolah mencari kata-kata yang tepat. "Aku merindukanmu, Xander. Aku ingin melihatmu lagi dan menghabiskan waktu bersamamu. Apa kamu masih ingin berbicara denganku?"
"Tentu saja, Alessa. Aku juga selalu ingin tahu tentang kabarmu. Tapi, aku juga tahu bahwa kamu seharusnya tidak ada di sini. Apa kamu merasa aman?" Xander
"Iya aku selalu berhati-hati, Xander. Aku tidak ingin menimbulkan masalah. Tapi aku merasa terisolasi di dunia iblis. Dan ternyata hidup di dunia manusia membuatku merasa hidup." Alessandra
"Aku mengerti, Alessa. Tapi, kamu harus ingat bahwa kamu bukan manusia seperti yang kamu klaim. Kamu harus kembali ke dunia iblis suatu saat nanti." Xander
"Aku tahu, Xander. Tapi, aku tidak ingin melupakan masa lalu dan hubungan yang kita miliki. Kamu selalu menjadi orang yang aku sayangi." Alessandra
Xander tersenyum, merasa hangat dalam hatinya.
"Aku juga merasa sama, Alessa. Aku tidak akan pernah melupakanmu. Kami selalu bisa berhubungan dari jarak jauh dan menjaga rahasia tentang identitasmu." Xander
Alessa tersenyum, merasa lega dan bahagia bisa berbicara dengan Xander lagi. Mereka melanjutkan obrolan mereka hingga tengah malam, saling berbagi cerita dan mengenang masa lalu yang indah. Alessa dan Xander menghabiskan waktu bersama-sama, tetapi Alessa tidak bisa lama tinggal di dunia manusia. Dia tahu bahwa ia harus kembali ke dunia iblis di mana ia berasal dan meninggalkan Xander kembali.
Namun saat Alessa mau pulang ke Kerajaan Iblis tiba-tiba, Alessa juga merasa khawatir tentang masa depannya. Alessa memutuskan untuk tetap berada di dunia manusia selama beberapa waktu lagi. Dia ingin merasakan kehidupan manusia selama mungkin dan mengeksplorasi dunia yang belum pernah dia kunjungi sebelumnya. Namun, dia harus tetap berhati-hati agar tidak menimbulkan masalah dan mengungkapkan identitas aslinya.
Kembali kepada Yurisa dan Erick. Saat ini mereka sedang berburu di hutan yang di penuhi dengan berbagai jenis moster, hewan-hewan yang mengerikan, elf, peri, dan yang lain. Di dalam hutan, mereka bekerja sama dengan sangat baik. Yurisa yang memiliki kecepatan dan keahlian memanah yang baik, berperan sebagai pemburu utama. Sedangkan Erick membantu untuk membawa pulang hasil buruan dan mengawasi sekitar agar tidak ada bahaya yang mengancam.
"Erick, kamu lihat buruan yang lewat di sana? Siap-siap ya!" Yurisa mengambil anak panah dari tempat yang saat ini di gendong di punggungnya
"Siap, sayang. Tapi ingat, jangan lupa untuk mengarahkan panahmu dengan baik, aku tidak mau terkena panahmu!" kata Erick
"Haha, tenang saja, aku lebih pandai memanah daripada membuat lelucon." Yurisa
"Iya sayang, aku tahu kamu pintar dalam memburu binatang. Dan aku juga selalu siap membantu kapanpun kamu membutuhkan bantuanku." Erick
"Kamu ini sering berburu di hutan seperti ini ya, Yurisa?" tanya Erick
"Kalau itu sih tidak perlu di tanya, aku sangat suka berburu. Dan aku lebih suka berburu bersamamu." jawab Yurisa
Mereka berdua akhirnya menemukan seekor rusa yang sangat besar dan langka, yang mereka cari-cari. Namun, ketika mereka hendak memburunya, mereka disadari oleh sekelompok pemburu liar yang sudah terlebih dahulu mengincar rusa itu.
Pemburu liar tersebut merasa kesal karena Yurisa dan Erick mendahului mereka dan berusaha memperebutkan rusa itu. Terjadi perdebatan dan adu argumen antara Yurisa dan Erick dengan pemburu liar tersebut, dimana keduanya ingin mendapatkan rusa tersebut.
"Hey, kami juga mencari rusa itu. Kami sudah mengikuti jejaknya selama berjam-jam. Kami berhak memburunya juga!" Yurisa tidak terima
"Tapi kami sudah duluan mengincar rusa ini sejak semalam. Kalian datang kemari dan mencuri buruan kami." Pemburu Liar
"Kami tidak mencuri apapun. Kami hanya ingin berburu bersama-sama. Dan kami berpikir, mengapa tidak bekerja sama untuk mendapatkan rusa ini?" Erick
"Tidak, itu tidak bisa terjadi. Rusa ini adalah milik kami. Kami tidak akan berbagi dengan kalian." Pemburu Liar
"Kami tidak meminta milikmu. Kami hanya ingin berburu bersama-sama, dan jika kami berhasil, kita bisa berbagi hasil buruan secara adil." Yurisa
"Kalian tidak mengerti. Kami sudah mengeluarkan biaya dan usaha yang besar untuk menemukan rusa ini. Kami tidak akan membiarkan kalian datang dan mengambilnya begitu saja." Pemburu Liar
"Baiklah, jika begitu kita harus mencari cara lain. Kami tidak ingin berkelahi denganmu, tapi kami juga tidak akan menyerah begitu saja. Apakah kita bisa mencari solusi yang baik untuk semua orang?" Erick
"Kami bisa membagi hasil buruan denganmu. Jika kita berhasil mendapatkan rusa ini, kita bisa membagi dagingnya secara adil." Yurisa
"Hmm, itu sepertinya adil. Baiklah, kami setuju dengan usulmu. Kita berburu bersama-sama dan membagi hasil buruan secara adil." Pemburu Liar
Dengan demikian, Yurisa dan Erick berhasil menyelesaikan konflik dengan cara yang damai dan akhirnya berhasil membawa pulang rusa itu dengan selamat. Mereka belajar untuk bekerja sama dan menghargai kepentingan satu sama lain dalam perburuan mereka.Setelah berhasil membagi hasil buruan secara adil dengan para pemburu liar, Yurisa dan Erick kembali melanjutkan perburuan mereka di hutan. Mereka menghabiskan sisa hari itu dengan berkeliling hutan dan mencari binatang lainnya.
Saat senja tiba, Yurisa dan Erick memutuskan untuk membuat perkemahan di pinggir sungai. Mereka menyulut api unggun dan mulai memasak daging rusa yang mereka dapatkan tadi siang. Mereka menghabiskan malam itu dengan bercerita dan bercanda di sekitar api unggun, menikmati kebersamaan mereka sebagai suami istri.
"Siapa sangka kita bisa mengatasi konflik dengan pemburu liar tadi. Aku senang kita bisa menyelesaikannya dengan damai." Yurisa
"Aku juga senang. Tapi itu menunjukkan bahwa kita harus selalu berhati-hati dan tidak sembarangan dalam mencari buruan. Kita harus memperhatikan lingkungan sekitar dan mencoba untuk tidak mengganggu orang lain yang juga berburu." Erick
"Betul, itu membuatku berpikir bahwa hidup kami memang penuh dengan tantangan. Tapi, setidaknya kita bisa menghadapinya bersama-sama, bukan?" Yurisa
Tentu saja. Kita berdua adalah tim yang tak terkalahkan. Kita bisa menghadapi apapun yang datang dan menyelesaikannya dengan baik." Erick tersenyum dan merangkul Yurisa. Mereka berdua menatap api unggun yang membara, merasakan hangatnya sinar api yang membuat suasana semakin romantis.
------ BERSAMBUNG ------