PATCH WITH THE DEVIL

PATCH WITH THE DEVIL
PATCH WITH THE DEVIL 27



Hari itu Leoninko yang tak sengaja lewat di depan kamar Yurisa mendapatinya keluar kamar bersama Erick. Leoninko tercengang melihat mereka satu detik, dua detik, tiga detik, empat detik, lima detik, Leoninko baru paham bahwa ingatan Yurisa sudah kembali.


Pantas saja mereka berdua akur, karena sebelumnya Yurisa sangat ingin membunuh Suaminya- batin Leoninko


"Leoninko, kau menghalangi jalan" Yurisa


"Ah ya, kau benar. Aku penasaran bagaimana bisa ingatanmu kembali?" tanya Leoninko


"Entahlah" Yurisa


"Tapi, baguslah kalau begitu. Kenangan berharga yang selama ini sudah kita buat tidak terbuang dan hilang begitu saja" Leoninko kemudian pergi dari hadapan mereka berdua


Yurisa, dan Erick berjalan-jalan santai di castle sambil berbincang-bincang setelah mereka berdua tidak bersama semenjak Yurisa menukar ingatannya dengan kekuatan Olivia


"Erick, seperti yang di katakan Leoninko. Aku ingat semuanya sekarang. Aku ingat tentang kita dan kisah cinta kita." kata Yurisa


"Akhirnya, Yurisa. Aku senang kau ingat semuanya. Aku sangat merindukanmu." Erick


"Aku juga merindukanmu, Erick. Aku merasa bodoh karena lupa semua tentang kita." Yurisa


"Jangan merasa bodoh. Kau tidak salah apa-apa Yurisa, mulai saat ini kita akan hidup bersama-sama lagi, dan aku akan membuatmu bahagia selamanya." Erick


"Aku tahu kau akan melakukannya, Erick. Kita akan menghadapi masa depan bersama-sama dan membangun dunia yang lebih baik untuk kita dan anak-anak kita nantinya." Yurisa


"Aku mencintaimu, Yurisa." Erick


"Aku juga mencintaimu, Erick" Yurisa


Mereka berdua berciuman dan ciuman mereka tetap berlanjut ketika Devian mau lewat. "Astaga" kata Devian yang langsung balik badan dan mencoba mencari jalan yang lain "Mereka seharusnya mengkondisikan tempat yang tepat untuk bermesraan" lanjutnya.


"Selamat pagi Devian" sapa Xander


"Selamat pagi. Tunggu Xander, jangan lewat sana" Devian menghentikan perjalanan Xander


"Kenapa?" Xander mulai keheranan


"Tidak apa-apa, ikuti saja perkataanku" Devian membalikkan tubuh Xander ke arah yang lain lalu mendorongnya pergi bersamanya melalui jalan yang berbeda "Kita lewat sini saja Xander" kata Devian.


Kembali kepada Yurisa dan Erick, sekarang ini mereka sedang menghadap ke Raja Rafael dan Ratu Hilda.


"Aku senang sekali kau sudah bisa mengingat semuanya lagi Yurisa" Rafael merasa lelah mengetahuinya, diam-diam dia teringat betapa keras kepalanya Yurisa saat di beritahu ini dan itu ketika ingatan masa lalunya belum kembali. "Dulu kau sangat keras kepala, tidak menerima pendapat, saran, dan setiap informasi dari orang lain yang mencoba membantumu mengingat masa lalu" lanjut Rafael


"Iya begitulah" Yurisa


"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? Ikut bersama Erick ke kerajaan iblis atau tetap disini sebagai seorang Jenderal?" tanya Hilda


"Ibu, aku akan ikut dengan Erick" jawab Yurisa


"Baiklah jika itu adalah keputusanmu" Hilda


"Erick tolong jaga Yurisa ya. Ya dia memang kuat sih, tapi terkadang aku masih merasa khawatir tentang keselamatannya. Kau pasti tahu kan, jika Yurisa akan mencoba untuk melakukan segala hal yang nekat untuk mencapai tujuannya" Rafael


"Iya Raja Rafael, aku akan menjaga dan melindungi Yurisa dengan baik" Erick


"Oh iya, Yurisa tidak pernah melakukan hal yang jahat kepadamu kan Erick? Misalnya seperti, KDRT" tanya Hilda kepada Erick


"Ibu, Ibu bicara apa sih? Mana mungkin aku melakukan hal yang jahat seperti itu kepada Erick?" Yurisa


"Tidak Ratu Hilda, Yurisa sangat baik" Erick


"Ya, mengetahui betapa premannya Yurisa yang sangat keterlaluan ini siapa tahu hal semacam itu terjadi padamu Erick" Hilda


"Ibu... " Yurisa


Menurut Erick Yurisa tidak seperti apa yang di ceritakan oleh Ratu Hilda dan teman-teman Yurisa yang lain. Memang benar, saat di luar penampilan dan pakaian Yurisa seperti seorang preman selain itu sikapnya juga dingin dan juga kaku. Berbeda saat dia bersama Erick di kerajaan iblis, Yurisa menjalankan perannya sebagai istri yang baik dan patuh kepada suaminya. Penampilannya, pakaian yang di kenakan serta sikapnya juga lebih feminim.


Setelah menghadap ke Rafael dan Hilda, tanpa menunggu lama Erick langsung mengajaknya teleportasi ke Kerajaan iblis. Disana semua tentara iblis beserta Jenderalnya sudah berbaris dengan rapi menyambut kedatangan Erick dan Isterinya. Ketika Erick bersama Yurisa berjalan melewati mereka, para tentara iblis dan Jenderalnya tersebut langsung membungkukkan tubuhnya sebagai bentuk penghormatan sekaligus kepatuhan mereka terhadap Raja iblis bersama Isterinya.


"Selamat datang kembali Tuan Erick dan Tuan Putri Yurisa" sapa Andre dengan ramah


"Iya Andre" Yurisa


Erick dan Yurisa melanjutkan langkah kaki mereka, Yurisa melihat bahwa di Istana itu ada beberapa perubahan dan ruang tambahan seperti ruang beracun sebuah ruangan yang penuh dengan gas beracun yang hanya bisa dihirup oleh makhluk-makhluk yang tahan terhadap racun. Di ruangan ini, terdapat cairan-cairan beracun dan perangkat-perangkat yang digunakan untuk menyerang musuh. Kemudian ada taman Kematian. Taman ini mungkin berisi pohon-pohon besar yang dikenal sebagai pohon penjahat, yang memiliki akar berbentuk manusia dan menghisap darah dari para pengunjungnya. Raja Iblis mungkin menggunakan taman ini untuk menghukum tawanan yang dianggap melanggar hukum.



"Astaga, ini memalukan. Aku ingin kabur dan ganti baju yang biasanya aku pakai" batin Yurisa menahan rasa kesal sekaligus rasa malunya


"Yurisa" panggil Erick


"Iya?" tanya Yurisa


"Siapa yang memilih baju renang itu?" tanya Erick


"Malachi, kenapa?" tanya Yurisa


"Dia pandai memilih. Itu sangat cocok untukmu" Eirick memperhatikan penampilan Yurisa


"Berhenti menatapku seperti itu Erick. Ini memalukan!" Yurisa merasa kesal


Erick memegang pinggulnya Yurisa dan menarik ke dekatnya "Grab" sekarang tidak ada jarak lagi di antara mereka berdua.


"Yurisa, berkata seperti itu karena Yurisa tidak pernah memakainya. Jika boleh jujur, penampilanmu sungguh menggoda" Erick mencium leher Yurisa


Setelah itu Erick dan Yurisa berjalan ke tepi kolam dan bersiap untuk melompat ke air yang segar.


Erick memandang Yurisa, "Ayo, jangan takut. Aku akan membantumu berenang jika kamu mau mencoba."


Yurisa tersenyum tipis dan menjawab, "Maaf, Erick. Aku tidak bisa berenang. Aku takut air."


Erick mengerti kekhawatiran Yurisa, jadi dia mencoba untuk menenangkan Istrinya. "Tidak masalah. Kamu bisa duduk di tepi kolam sementara aku berenang sebentar."


Namun, Yurisa tetap tidak yakin, "Tetapi aku merasa kurang berguna. Aku hanya duduk di tepi kolam sementara kamu berenang."


Erick menarik tangannya, "Kamu selalu berguna bagiku, Yurisa. Kamu selalu menemani dan memberiku semangat. Jadi, tunggu saja di tepi kolam. Aku akan segera kembali."


Setelah Erick berenang beberapa putaran di kolam, ia kembali ke tepi kolam dan duduk di samping Yurisa. "Bagaimana rasanya melihatku berenang, Yurisa?"


Yurisa tersenyum, "Kamu sangat pandai berenang, Erick. Tapi aku masih tidak yakin bisa melakukannya."


Erick memeluk Yurisa dengan lembut, "Tidak apa-apa. Kita semua punya ketakutan. Tapi kamu tahu, aku akan selalu ada di sampingmu dan mendukungmu, bahkan ketika kamu berhadapan dengan ketakutanmu."


Yurisa tersenyum dan bersandar pada bahu Erick, merasa aman dan dicintai. "Aku sangat beruntung memiliki kamu, Erick. Terima kasih telah selalu menjadi pendamping dan sahabat terbaikku."


Erick tersenyum dan mencium kening Yurisa. "Kita selalu akan berada bersama-sama, Yurisa. Tak peduli apa yang terjadi, kita akan melewatinya bersama."


Mereka berdua mulai berenang bersama-sama. Erick mengambil pelampung dan berenang di samping Yurisa. Dia mengajari istrinya teknik-teknik dasar berenang dan memberinya semangat untuk terus mencoba.


"Kamu melakukannya dengan sangat baik, Yurisa," kata Erick


Yurisa tersenyum dan menanggapi, "Terima kasih, Erick. Kamu membuatku merasa seperti aku bisa melakukan apa saja."


Setelah berenang, sore itu mereka melakukan kegiatan yang lain. Erick, Raja iblis yang tampan dan berkuasa, duduk di sebuah ruangan yang luas di dalam istananya. Di sebelahnya, Yurisa, istrinya yang cantik dan cerdas, duduk bersama-sama di depan sebuah papan catur besar. Mereka sedang dalam permainan yang sengit dan menarik, yang mereka mainkan di waktu luang mereka. Sebelumnya Erick dan Yurisa sering bermain game strategi ini sebagai cara untuk mengasah kemampuan mereka dalam merencanakan dan mengimplementasikan strategi dalam memerintah. Mereka menikmati ketegangan yang timbul saat mereka berusaha untuk mengalahkan satu sama lain.


Dalam permainan ini, mereka berperan sebagai pemimpin tentara mereka sendiri dan berusaha untuk menghancurkan pasukan musuh mereka. Di sekitar papan catur, mereka meletakkan miniatur pasukan mereka dan merencanakan gerakan-gerakan mereka dengan cermat. Mereka mempertimbangkan setiap kemungkinan dan berusaha untuk menemukan kelemahan dalam strategi lawan mereka.


Erick dan Yurisa saling melemparkan pandangan tajam ketika mereka mempertimbangkan gerakan-gerakan mereka yang selanjutnya. Meskipun mereka saling berlawanan di dalam permainan, namun keduanya saling menghargai kecerdasan dan kemampuan strategi satu sama lain.


Permainan berlangsung dengan seru dan cermat. Keduanya sama-sama ingin memenangkan pertandingan ini dan menjadi pemimpin yang lebih baik bagi kerajaan mereka masing-masing. Akhirnya, setelah beberapa jam bermain, Erick berhasil mengalahkan Yurisa dengan strateginya yang brilian. Namun, Yurisa tetap tersenyum dan memberikan pujian kepada suaminya karena keberhasilannya dalam mengalahkan dirinya.


"Kamu hebat Yurisa, aku hampir saja kalah" ucap Erick


"Jangan merendahkan dirimu, Erick," Yurisa balas memberikan semangat pada suaminya, "Kamu selalu menjadi musuh yang tangguh dan permainan yang menyenangkan."


Erick dan Yurisa berpelukan, dan Erick mengucapkan terima kasih kepada istrinya karena waktu yang menyenangkan. "Kamu selalu tahu cara membuatku terhibur dan mengalihkan perhatianku dari tugas-tugas berat sebagai raja," ujarnya.


"Kami berdua harus beristirahat, Erick," kata Yurisa, "Esok hari kami harus fokus pada tugas-tugas kami sebagai pemimpin, dan kita perlu tidur untuk mendapatkan kekuatan dan energi yang diperlukan."


Erick setuju, dan mereka berdua berjalan bersama ke kamar tidur mereka. Di tengah jalan, Erick berhenti dan memeluk Yurisa dari belakang. "Kamu tahu, aku sangat bersyukur memiliki kamu di sampingku, Yurisa," kata Erick dengan penuh kasih sayang.


"Dan aku, Erick," Yurisa membalas, "Kamu adalah raja yang bijaksana dan sayang pada rakyatmu, dan aku bangga bisa menjadi istrimu."


Mereka berciuman dengan lembut.


...***--- BERSAMBUNG ---***...