PATCH WITH THE DEVIL

PATCH WITH THE DEVIL
PATCH WITH THE DEVIL 33



Xander, langsung masuk ke dalam dan menutup pintunya rapat-rapat lantas berkata kepada Ayahnya dengan ekspresi wajah yang kesal "Ayah, kau tenang saja, Tadi aku sudah bilang bahwa aku akan menggantinya kan?"


"Aku tahu bahwa kau akan menggantinya kok" jawab Chains


"Lalu mengapa kau terus-menerus menggedor pintu? Bagaimana jika penyamaranmu itu ketahuan?!" Xander masih cemas dan khawatir


"Iya aku hanya ingin berbuat jahil supaya dapat melihat wajah kesal putraku" Chains menyentuh kepala anak laki-lakinya.


Setelah itu Xander memberikan pedang Yurisa yang patah pada Ayahnya "Ini, tolong kerjakan dengan baik"


Kembali kepada Yurisa dan Alessandra yang sudah sampai di Istana Kerajaan Shaquille. Mereka berdua mendapat sambutan ramah dari beberapa temannya yang merupakan Jendral besar di negri itu yakni Devian, Athur, dan juga Tohru. Yurisa dan mereka sempat berbasa-basi sejenak, sedangkan Alessandra terlihat sangat tegang dan merasa bahwa pikirannya sangat kacau serta perasaannya juga campur aduk.


Sementara itu, di tempat lain dalam kerajaan, Leoninko sedang menghadiri pertemuan dengan para penasihatnya. Pikirannya juga terbagi antara tugas kerajaannya dan keinginannya untuk bertemu Alessa lagi. Pertemuan berlangsung dengan berbagai pembahasan tentang kerajaan, tetapi Leoninko tidak bisa berkonsentrasi sepenuhnya.


Kembali ke Yurisa dan Alessandra, mereka melanjutkan perjalanan mereka di istana Shaquille, mengunjungi berbagai bagian yang indah. Yurisa berusaha membuat Alessandra merasa lebih nyaman, meskipun Alessandra tetap merasa gelisah. Tiba-tiba, saat mereka berada di taman istana yang indah, Yurisa menyentuh lengan Alessandra dengan lembut. "Alessandra, apakah kamu baik-baik saja? Kamu terlihat agak cemas," kata Yurisa dengan penuh perhatian.


Alessandra mencoba tersenyum dan menjawab, "Oh, aku baik-baik saja, Tuan Putri. Jangan khawatir...."


Yurisa mengangguk, tetapi dia tetap memperhatikan Alessandra dengan cermat. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi dia ingin memastikan bahwa Alessandra merasa nyaman. Ketika Yurisa dan Alessandra masih berbicara, tiba-tiba Leoninko muncul di taman itu, mencari Xander untuk membicarakan hal penting mengenai rumah sakit masyarakat. Benar, selain menjadi Jenderal terbaik di Kerjaan Shaquille, Xander adalah seorang dokter yang bekerja di rumahsakit.


"Yurisa, Alessandra, apakah kalian melihat Xander? Aku harus berbicara dengannya tentang rencana perbaikan rumah sakit masyarakat," kata Leoninko dengan ekspresi serius.


Yurisa mencoba menjawab dengan santai, "Leoninko, kami tadi melihat Xander di tempat penempa pedang. Apa yang terjadi? Apakah ada masalah dengan rumah sakit masyarakat?"


Leoninko merasa khawatir dan gelisah berharap bahwa Xander segera kembali "Ada beberapa masalah mendesak yang harus kita selesaikan secepat mungkin. Saya ingin membicarakan rancangan perbaikan yang diperlukan. Kira-kira kapan dia kembali?"


Alessandra merasa cemas dan panik, tetapi dia mencoba menjawab dengan sebaik mungkin. "Tuan Leoninko, saya yakin bahwa sebentar lagi Jenderal Xander mungkin akan segera kembali. Setelah itu Tuan Leoninko dan Jenderal Xander bisa membicarakan masalah rumah sakit masyarakat bersama-sama nanti."


Namun, Leoninko tetap mencari-cari Xander dengan gelisah. "Saya hanya berharap dia segera muncul dalam waktu dekat. Ini sangat penting."


Yurisa mencoba memberikan dukungan. "Jangan khawatir, Leoninko. Jika dia tidak kunjung datang aku yang akan membawanya untukmu"


Leoninko akhirnya menyerah mencari Xander untuk saat ini. Dia merasa sangat frustrasi, tetapi dia tahu bahwa rumah sakit masyarakat adalah prioritas penting. "Terima kasih, Yurisa, Alessandra. Aku akan segera membahas masalah ini setelah bertemu Xander ."


Setelah Leoninko pergi, Alessandra merasa lega bahwa rahasia Alessandra masih terjaga.


Dalam hatinya Alessandra berkata "Sejauh ini aku penyamaranku masih belum terungkap karena aku bersusah payah menghindari mata ajaib Raja Rafael dan Ratu Hilda."


"Kita akan bertemu dengan Ayah dan Ibuku" kata Yurisa yang masih melangkah menuju ruang pribadi Raja Rafael dan Ratu Hilda.


Langkah Alessandra terhenti. Benar, jika dia menunjukkan dirinya di depan Raja Rafael maka rahasianya akan terbongkar.


"Tuan Putri Yurisa," panggil Alessandra yang berusaha keras mengatasi rasa takutmya


Yurisa berhenti melangkah "Iya?" dia melihat kepada Alessandra yang ada di belakangnya.


"Bolehkah aku menunggu di luar, entah kenapa aku merasa sungkan untuk masuk ke dalam. Bukan hanya itu saja aku juga ada keperluan di luar,  mengambil pedang milik Tuan Putri Yurisa lalu membeli oleh-oleh untuk Malachi dan yang lain." jelas Alessandra


"Begitu ya? Baiklah hati-hati" kata Yurisa


"Baik Tuan Putri Yurisa" Alessandra langsung menghilang dari hadapan Yurisa dengan sihirnya.


Yurisa adalah orang yang peka. Tanpa Alessandra ketahui Yurisa sudah merasakan sesuatu yang janggal dari bawahanya. Dia berpikir bahwa Alessandra merahasiakan sesuatu darinya. "Aku penasaran apa yang kau sembunyikan Alessandra" kata Yurisa dengan suara yang pelan. Dia kembali melanjutkan langkahnya.


Ketika Yurisa sampai di depan ruangan pribadi tempat Raja dan Ratu, ia mengetuk pintu setelah itu masuk ke dalam. Tampaknya di sana Raja Rafael dan Ratu Hilda sudah menunggu kedatangannya. Yurisa menghampiri orangtuanya dan memberi hormat dengan cara membungkukkan tubuhnya sejenak. Raja Rafael dan Ratu Hilda tersenyum melihat sikapnya yang tidak biasa karena selama ini sikap Yurisa kepada mereka seperti sikap kepada teman sendiri.


"Angkat kepalamu Yurisa" kata Raja Rafael yang merasa aneh melihat sikap putrinya yang tiba-tiba menjadi sopan santun.


Yurisa, menuruti apa yang di perintahkan oleh Ayahnya.


"Biar Ayah tebak, kedatanganmu kesini bukan semata-mata bahwa kamu merindukan Ayah dan Ibu kan?" tanya Raja Rafael


Ratu Hilda melihat suaminya "Merindukan kita? Hahahaha itu tidak mungkin. Yurisa pasti punya alasan lain" Ratu Hilda melihat ke arah Yurisa dengan pandangan yang di penuhi rasa penasaran.


"Benar." jelas Yurisa. Dia menggeser kursi dan duduk di depan Ayahnya dan menatapnya dengan serius "Ayah kau pasti tahu kan, apa yang menyebabkan aku datang kemari?" tanya Yurisa pada Ayahnya.


Raja Rafael diam sejenak, lalu menghela nafas panjang dan bertanya balik pada Yurisa "Mengapa kamu menginginkan bahwa upacara pengangkatan Leoninko sebagai Raja harus di percepat?"


"Apa kamu dapat petunjuk lain melalui mimpi?" tanya Ratu Hilda


"Erick," jawab Yurisa


"Erick, memintamu untuk mengatakan hal ini?" tanya Ratu Hilda


"Bukan begitu Ibu, tolong dengarkan dulu penjelasanku. Erick bermimpi, di dalam mimpi tersebut dia melihat jika Shaquille sudah runtuh." kata Yurisa


Raja Rafael dan Ratu Hilda terdiam setelah mendengar ucapan Yurisa. Lalu matanya memandang Yurisa dengan serius. Kemudian, Raja Rafael berkata dengan penuh pertimbangan, "Yurisa, pengangkatan Leoninko sebagai Raja adalah keputusan besar, dan kami harus memastikan bahwa saatnya tepat. Apakah kamu yakin bahwa mimpi Erick adalah pertanda yang benar-benar harus kami ikuti?"


Yurisa merasa teguh dalam keyakinannya, "Ayah, saya tahu pentingnya keputusan ini. Namun, Erick adalah seorang yang bijaksana, dan dia tidak akan mengatakan hal ini tanpa alasan yang kuat. Shaquille dalam bahaya, dan kita harus bergerak cepat untuk menjaga stabilitasnya."


Ratu Hilda juga ikut berbicara, "Kami akan mempertimbangkan permintaanmu dengan serius, Yurisa. Tapi kita juga harus memikirkan konsekuensi dari tindakan ini. Apakah Leoninko sudah siap untuk menghadapi tanggung jawab sebagai Raja?"


Yurisa menjawab dengan penuh keyakinan, "Leoninko telah menunjukkan kemampuannya sebagai pemimpin, Ibu. Dia adalah orang yang tepat untuk tugas ini, dan saya yakin dia akan menjalankannya dengan baik."


Raja Rafael dan Ratu Hilda masih dalam pertimbangan, mereka tahu bahwa keputusan ini tidak bisa diambil dengan gegabah. Keamanan dan stabilitas kerajaan harus menjadi prioritas utama. Setelah beberapa saat, Raja Rafael berkata, "Kami akan berdiskusi lebih lanjut tentang permintaanmu, Yurisa. Kami memahami urgensi situasi ini, dan kami akan mencari solusi yang terbaik untuk Shaquille."


Yurisa merasa lega bahwa orang tuanya mau mempertimbangkan permintaannya. Dia tahu bahwa apa yang dia lakukan adalah untuk kebaikan kerajaan dan semua orang yang tinggal di dalamnya. Bagaimana mereka akan melanjutkan perjalanan ini, dan apa yang akan terjadi selanjutnya dalam perjalanan mereka untuk menjaga Shaquille dari bahaya yang mengancam?


Ratu Hilda menambahkan, "Tapi kita tidak boleh lupa bahwa syarat menjadi Raja Shaquille adalah menikah. Leoninko harus memiliki seorang pasangan hidup sebelum dia bisa diangkat sebagai Raja."


Yurisa merenung sejenak, kemudian berkata, "Saya memahami syarat itu, Ibu. Dan saya tahu bahwa Leoninko telah bertemu dengan seseorang yang sangat istimewa. Namun, situasi mendesak ini mungkin akan memaksa kita untuk mengecualikan syarat tersebut, untuk sementara waktu."


Ratu Hilda menatap Yurisa dengan pandangan yang penuh pertimbangan. "Yurisa, kami memahami urgensi situasi ini, tetapi kami juga harus menghormati tradisi dan perasaan Leoninko dalam hal ini."


Yurisa memahami bahwa Raja Rafael dan Ratu Hilda tidak ingin meninggalkan tradisi yang telah lama ada. Namun, dia tetap memohon, "Ibu, Ayah, saya mengerti betapa pentingnya tradisi bagi kerajaan kita, tetapi saat ini kita juga harus memikirkan keamanan dan masa depan Shaquille. Leoninko dan Farida adalah pasangan yang sempurna, jadi apa salahnya menikahkan mereka berdua secepatnya?."


Ratu Hilda tampak berpikir sejenak, kemudian berkata, "Tapi kami mendengar bahwa Leoninko dan Farida telah putus, Yurisa. Bagaimana bisa kita menikahkan mereka jika mereka tidak lagi bersama?"


Yurisa tersenyum tipis, "Ibu, itu hanya masalah kecil yang bisa diatasi. Saya percaya bahwa mereka masih saling mencintai, dan mungkin ada alasan pribadi yang membuat mereka berpisah. Saya akan berbicara dengan Leoninko, dan saya yakin dia akan setuju untuk melanjutkan rencana pernikahan ini demi kebaikan Shaquille."


Raja Rafael dan Ratu Hilda masih ragu-ragu, tetapi mereka tahu bahwa Yurisa sangat peduli dengan kerajaan mereka. Mereka akhirnya setuju untuk mempertimbangkan kembali rencana ini, tetapi dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi. Keputusan akhir akan bergantung pada pemikiran Leoninko dan persiapan pernikahan yang harus dilakukan.


"Baiklah Ayah Ibu, aku pergi dulu" Yurisa langsung bergegas keluar.


Kini Ratu Hilda merasa cemas setelah Yurisa pergi. Meskipun dia berusaha untuk pura-pura tidak percaya pada mimpi Erick, namun kegelisahan dalam dirinya tetap ada. Bagi seorang penyihir dan peramal yang handal menafsirkan mimpi Ratu Hilda langsung tahu arti mimpi suaminya Yurisa memiliki makna yang memgerikan. Raja Rafael merasa harus memberikan dukungan pada istrinya. "Hilda, tenanglah. Kita pasti menemukan jalan keluar untuk masalah ini"


"Tidak, aku tidak bisa tenang suamiku. Apa yang di lihat Erick bukan mimpi atau bunga tidur, itu penglihatan masa depan" ucap Ratu Hilda


Raja Rafael memegang tangan istrinya "Aku juga melihatnya"


Ratu Hilda melihat suaminya dengan perasaan heran lantas bertanya "Kau melihatnya?"


"Iya, dengan mataku. Tidak semuanya buruk, aku melihat ada sedikit peluang tersembunyi yang perlu di ambil untuk mencegah musibah besar yang akan datang" jelas Raja Rafael


________BERSAMBUNG________