
“Bu, kenapa Ibu menangis?” tanya Juna cemas sembari menatap wajah ibunya dengan intens. Ternyata ini jawaban perasaan tidak enaknya semenjak tadi.
Bukannya menjawab, air mata Bu Ranti semakin banyak yang luruh, membuat Juna tambah kebingungan.
“Bu, jangan menangis. Jangan membuat aku jadi bingung, Bu.”
Arjuna menyapu setiap linangan air mata ibunya dengan jari-jari tangannya. Tetapi tetap saja tidak kering sebab ibunya itu terus menangis.
Bu Ranti bukannya tidak malu dipergoki Juna menangis seperti ini. Seumur hidupnya baru ini ia kedapatan menangis oleh Juna. Bagaimana lagi, sesuatu yang merasuki pikirannya sejak tadi malam membuatnya sedih dan akhirnya kesedihan itu tidak dapat dibendung lagi.
Bukan hanya sejak tadi malam, tetapi sejak mengetahui Juna dan Nadia susah mendapatkan keturunan. Pikiran itu sering muncul di benaknya namun segera ditepis karena para dokter menyatakan tidak ada masalah pada kesuburan Arjuna.
Dan kini usia pernikahan Juna dan Aru sudah hampir empat bulan, tetapi Arunika belum hamil juga. Siapa yang tidak berpikiran sama dengan Bu Ranti kalau Juna-lah yang mandul.
“Ibu sedih karena kamu belum berhasil juga membuat kedua istri-istrimu itu hamil.” Akhirnya Bu Ranti menjawab dengan ketus. Bukan tanpa alasan Bu Ranti bersuara seperti itu. Ia ingin menyudahi tangisannya yang bisa membuat Juna sedih juga.
Juna mengerutkan kening mendengarnya. Absurd sekali jawaban ibunya itu.
“Ya, ampun, Bu. Aku kira kenapa.” Dengan kesal Juna menjauh dari ibunya dan duduk di tepi ranjang.
Di dalam hatinya yang terdalam ia pun merasa sedih sekaligus kesal. Sudah hampir dua bulan Nadia menjalani program hamil di klinik alternatif yang katanya ampuh dan dalam waktu satu bulan akan ada hasilnya. Tetapi lihatlah, tidak ada yang terjadi pada perut Nadia.
Mungkin karena sudah terlalu sering menjalani program hamil dan tidak ada hasilnya, membuat Juna tidak percaya lagi dengan pengobatan-pengobatan apapun.
“Kamu hanya bilang aku kira kenapa?” Bu Ranti menghapus sisa-sisa air matanya lalu berjalan mendekat pada Juna sembari menatap putranya itu kesal.
“Kamu mau jika besok Ibu mati, lalu kamu akan mendengar orang-orang mengatakan Ibu hanya meninggalkan satu anak laki-laki dengan dua istrinya tanpa ada satupun diantaranya yang memiliki anak, mau?!” seru Bu Ranti ketus.
“Ck.... Ibu kenapa jadi bicara ngawur begini,” balas Juna tak kalah kesal. Bagaimana bisa ibunya itu berbicara asal seperti itu.
Juna bangkit. Karena jika dirinya masih tetap berada di sana perang mulut itu tidak akan berakhir.
“Mau membuat anak.”
“Makanlah dulu. Bu Nita pasti sudah selesai memasak.” Karena siapapun orangnya yang pernah merasakan masakan Bu Nita, tidak akan menolak bila diajak makan.
“Aku tidak lapar, Bu.”
“Juna, tunggu sebentar.” Bu Ranti menghentikan langkah Juna yang nyaris akan melewati pintu.
“Cobalah periksakan dirimu pada dokter lain. Mungkin karena selama ini dokter yang memeriksa kamu dan Nadia adalah dokter-dokter kenalan kita, bisa saja mereka menyembunyikan sesuatu. Mungkin saja mereka tidak tega menyampaikan kodisi kamu yang sebenarnya.”
“Maksud Ibu, aku mandul?”
Yang tadinya Bu Ranti menatap dalam putranya itu, kini wajah itu tertunduk lemah. Dan Juna sudah tahu apa jawabannya.
“Kenapa Ibu bisa berpikiran seperti itu, Bu?” tanya Juna lagi dengan tidak habis pikir.
“Kamu sudah menikah dengan Nadia selama tujuh tahun tetapi belum dikaruniai anak. Dan sekarang kamu sudah menikah dengan Aru juga belum ada tanda-tanda kehamilannya. Jika ternyata benar kalau kamu-lah yang tidak subur, Ibu merasa bersalah pada Nadia karena memaksamu menikah lagi.” Bu Ranti kembali tertunduk.
Arjuna mengembuskan napasnya. “Bu, aku tidak pernah menyent—”
Juna segera membungkam mulutnya karena hampir saja kelepasan bicara. Jika ia sampai memberitahukan kalau ia tidak pernah menyentuh Arunika sama sekali, yang ada masalah akan bertambah.
“Tidak pernah apa?”
“Tidak ada apa-apa, Bu. Aku pulang.” Juna menyalam dan mencium pipi ibu tersayangnya itu.
“Pikirkan dan lakukanlah yang Ibu sampaikan tadi.”
Juna mengangguk sembari memikirkan semua yang diucapkan ibunya tadi. Benarkah dirinya mandul hingga tujuh tahun lamanya berumah tangga belum ada satu orang anak pun yang hadir di tengah-tengah keluarganya?