Oh Arunika

Oh Arunika
Bab 36



Arunika menatap bingung pada Nadia yang duduk dengan santai sambil memainkan kuku-kuku cantiknya.


Sudah lebih dari lima belas menit Aru diam berdiri di tempatnya sejak mereka masuk ke dalam ruangan ini. Ya, berdiri.


Nadia sama sekali tidak menawarinya untuk duduk. Jangankan menawari duduk, meliriknya saja pun tidak. Atau mungkin Nadia menganggapnya tidak ada di sana.


Dan Arunika sendiri pun cukup tahu diri untuk menjaga sikapnya. Nadia yang sekarang berbanding terbalik dengan Nadia saat Bu Ranti ada di rumah itu.


Aru jadi mempunyai pikiran kalau wanita itu hanya berpura-pura baik di hadapan semua orang. Ia kira Nadia sudah menerimanya dengan lapang dada karena sikap dan sifatnya yang berubah baik.


“Apa yang—”


“Jangan mengatakan apapun!” seru Nadia cepat dengan penuh peringatan dengan menegaskan jari telunjuknya di depan wajah Aru. Tubuhnya sampai tertarik ke depan menandakan kalau dirinya serius dalam ucapannya. “Di rumah ini kamu hanya perlu menunggu, mendengar dan menuruti semua perintah yang aku berikan. Kamu harus sadar dirimu itu siapa!”


Arunika menundukkan kepala.


Sedangkan Nadia memutar bola mata jengah sambil merapikan rambutnya yang ikut terjulur ke depan. Kemudian menyandarkan kembali tubuhnya di sandaran sofa sembari menarik napas panjang.


Tidak berselang lama, suara ketukan sepatu yang membentur lantai terdengar jelas di telinga. Nadia berdiri.


“Ada apa? Kenapa kamu memintaku pulang ke rumah?” Suara itu jelas suara Juna. Laki-laki beristri dua itu bergantian melihat Nadia dan Aru. Aura di sekitar sana terasa mencekam membelai kulit.


“Di mana Ibu?” tanyanya lagi saat menyadari Bu Ranti tidak ada di sana. Karena biasanya di mana ada Aru pasti ada Ibunya. Atau sebaliknya, di mana ada Ibunya pasti ada Aru.


“Ibu sudah pulang,” jawab Nadia sambil berjalan mendekat pada suaminya.


“Pulang?” Juna tidak percaya Ibunya pulang tanpa memberitahunya. Tadi pagi pun Bu Ranti tidak mengatakan apa-apa.


“Ada hal penting yang akan aku sampaikan.” Nadia meminta suaminya untuk duduk. Sementara dirinya pergi ke sudut ruangan, mengambil sesuatu dari dalam laci bufet.


Aru menerimanya dengan bingung. Belum satu baris ia membaca, suara Nadia terdengar lagi dengan ketus.


“Isinya, seandainya nanti kamu hamil dan melahirkan, kamu harus menyerahkan anak itu pada kami. Dan kamu harus pergi jauh, jauh sejauh-jauhnya dari sini.” Seketika Aru menatap Nadia dengan terkejut begitupun dengan Juna.


“Kamu menerima tawaran Ibu untuk menikah dengan Juna karena utangmu sudah terlalu banyak, jadi kamu tidak enak hati menolaknya, bukan? Nadia tersenyum congkak. “Atau... kamu merasa bangga karena bisa menikah dengan pria kaya meskipun hanya menjadi istri siri?” Nadia mencondongkan tubuhnya, berbicara di dekat telinga Aru.


Arunika menggenggam kertas yang dipegangnya dengan kuat.


Juna menghela napas. “Nadia, aku tidak percaya kamu memintaku pulang untuk mendengarkan ini. Lebih baik aku kemba—”


“Iya, Sayang, maaf.” Nadia menghampiri Juna dengan gaya gemulainya dan duduk dengan elegan di samping laki-laki itu.


“Seperti yang aku katakan tadi, kalau nanti kamu benar-benar melahirkan anak Juna, kamu harus menyerahkan anak itu kepada kami. Setelahnya kamu harus pergi dan jangan pernah kembali ke kota ini lagi dengan alasan apapun.


Jika kamu melanggarnya kamu akan mendapat sanksi seperti ditulis di kertas itu. Dan sebagai imbalannya, utang-utang kamu yang banyak itu kami anggap lunas. Apa kamu mengerti?”


Juna geleng-geleng kepala melihat tindakan istri pertamanya itu. Entah mengapa Nadia terlihat konyol di matanya saat ini. Siapapun tahu, ia hanya mencintai istrinya itu. Tidak mungkin dirinya menyentuh Aru karena ia tidak kekurangan kasih sayang dari Nadia.


Berbeda dengan Arunika yang menatap nanar kertas di genggamannya. Bagaimana mungkin dirinya sanggup menyerahkan anaknya sendiri pada orang lain dan meninggalkannya.


“Kamu mengerti, tidak?!” Nadia geram.


Arunika menelan ludah. Hatinya berdenyut nyeri. Tetapi mengingat bahwa Juna tidak mungkin akan menyentuhnya, ia mengangguk pelan.


Nadia melempar pulpen di atas meja yang ada di depannya, “Sekarang, tandatangani surat perjanjian itu!”


*****