Oh Arunika

Oh Arunika
Bab 38



Arunika menelan kunyahannya yang terakhir, lalu meminum air putih untuk membantu makanan itu tertelan dan cepat turun ke perutnya. Perut yang kecil itu terasa begitu penuh bahkan makanan yang dimakannya terasa masih menyangkut di tenggorokan saking banyaknya ia makan.


“Bagus,” ucap Nadia sinis sembari bangkit dari tempatnya duduk. Wanita itu sengaja tetap tinggal di sana untuk memastikan Aru menghabiskan semua nasi goreng itu. Dia tidak membiarkan Aru memakan makanannya dengan tenang. Terus mendesaknya supaya semua nasi goreng itu habis dengan cepat tanpa ada yang tersisa.


Aru yang merasakan perutnya kenyang luar biasa itu ikut berdiri dari duduknya dengan susah payah.


“Besok masaklah lagi makanan yang ada batunya. Sekalian batu yang besar biar kamu bisa makan lagi dengan sepuasnya.” Nadia semakin mengembangkan senyuman sinisnya sebelum akhirnya pergi dari sana, naik ke lantai atas menemui Juna yang tidak turun-turun sejak tadi.


“Bu, Ibu tidak apa-apa?” tanya Julia cemas setelah kepergian Nadia. Ia tidak menyangka majikannya yang dikenalnya baik itu bisa melakukan hal seperti tadi.


“Saya kekenyangan sekali, Mbak.” Aru menyentuh perutnya yang seakan mau pecah. Semenjak kecil dirinya pernah bahkan sering sekali menahan rasa lapar yang membuat perut terasa melilit dan perih. Tetapi merasa kekenyangan begini juga ternyata tidak enak.


“Ibu Nadia keterlaluan sekali,” lirih Julia sambil menatap kasihan pada Aru. Sedikit banyaknya ia sudah tahu mengapa Aru menikah dengan majikan laki-lakinya. “Sebentar, ya, Bu, saya buatkan minuman hangat dulu. Biar perutnya enakan.”


Aru tersenyum. Bersyukur ada yang memperhatikannya di rumah ini.


*


*


“Julia!” Teriakan Nadia terasa memekakan telinga bahkan terdengar menggema di kamar mandi. Saat ini Aru dan Julia sedang ada di kamar mandi.


“Iya, Bu,” sahut Julia. “Bu, sebentar dulu, ya. Saya menemui Ibu Nadia dulu,” ucapnya pada Aru yang sedang menunduk, membersihkan mulutnya di bawah kucuran air.


Ya, pada akhirnya gadis malang itu memuntahkan makanan yang melebihi kapasitas perutnya, setelah meminum teh hangat buatan Julia. Mau bagaimana lagi, desakan ingin muntah tidak bisa ia tahan.


“Julia!” Teriakan Nadia semakin menggelegar membuat Julia datang dengan tergopoh menghampirinya. “Kamu darimana saja? Dari tadi aku panggil-panggil tidak datang!” bentak Nadia galak. Karena dari tadi dia memang memanggil Julia.


“Membantu apa?”


“Itu—”


Hoek!


Nadia yang jaraknya tidak jauh dari kamar mandi belakang, mendengar dengan jelas suara seseorang sedang muntah dan itu sudah pasti Arunika. Ia berjalan mendekat ke arah sana untuk melihatnya sendiri.


Tampak di dalam sana Arunika memuntahkan isi perutnya. Bukannya merasa kasihan, Nadia tampak tersenyum.


“Kamu sungguh tidak tahu diuntung sekali, ya. Sudah diberi makan sampai kenyang kamu malah memuntahkannya. Apa perutmu sangat terkejut karena tidak pernah diisi sampai kenyang?” ujar Nadia mengejek. Tidak peduli dengan wajah Aru yang terlihat pucat.


Aru yang mendengarnya hanya menunduk diam. Sementara Julia merasa semakin tidak mengenali majikan perempuannya itu.


Puas tersenyum, Nadia mengingat tujuannya mencari Julia. “Aku tidak menemukan gaunku yang berwarna putih. Di mana kamu menyimpannya?” tanyanya pada sang asisten.


“Maaf, Bu, saya masih menyimpannya di ruang menyetrika.”


Wajah Nadia yang tadinya terlihat senang karena menyaksikan Aru tersiksa, kini tampak memerah. “Masih di ruang menyetrika katamu?!” serunya marah. “Aku lihat semenjak Ibu datang dan menginap di sini, kamu jadi malas-malasan.”


“Maafkan saya, Bu.” Julia tertunduk.


“Apalagi yang kamu tunggu. Pergi dan ambilkan sekarang!”