Oh Arunika

Oh Arunika
Bab 15



Arunika berpamitan kepada Ibunya setelah beberapa menit yang lalu, ia turut menyaksikan mobil yang ditumpangi Bu Ranti, Juna dan istrinya dan juga wanita berkacamata yang kata Bu Ranti adalah seorang dokter sekaligus teman lamanya, pergi meninggalkan halaman rumah. Dari percakapan yang sempat didengar oleh Aru, katanya mereka akan pergi ke rumah sakit.


“Memangnya kamu mau pergi ke mana?” tanya Ibu heran.


“Mau ke rumah temen, Bu. Aru mau tanya kerjaan. Siapa tahu ada lowongan kerja.”


Kening Ibu berkerut. Pasalnya selama 3 tahun anak gadisnya itu bekerja, Aru tidak pernah mengenalkan atau pun bercerita kalau ia memiliki teman. Namun akhirnya Ibu memberi izin juga, “Oh, iya sudah. Kamu hati-hati di jalan. Pulangnya jangan lama. Eh, tunggu dulu! Ambil maskermu dulu!”


“Oh iya, lupa.” Arunika yang sudah berbalik dan bersiap untuk pergi terlihat cengengesan. Padahal saat rapat tadi, Kabag-nya sudah mewanti-wanti untuk terus menggunakan alat penutup hidung dan mulut itu bila keluar rumah.


Ia hendak pergi ke kamar untuk mengambil masker, namun seketika langkahnya terhenti karena mengingat sesuatu. “Bu, apa obat batuk Ibu masih ada? Kalau sudah habis biar nanti Aru belikan.”


“Tidak perlu, Aru. Batuk Ibu sudah sembuh.”


Senyum di wajah gadis itu terkembang, “Syukurlah,” katanya seraya mengembuskan napas lega.


*


Aru menuntun sepedanya dengan bahu lemas dan juga langkah yang gontai melewati gerbang rumah besar milik Ibu Ranti. Siluet senja yang hampir tenggelam sama seperti wajahnya, muram. Tidak ada keceriaan di sana.


“Ibu sedang apa?” sapanya tidak bersemangat saat menghampiri Ibunya yang berkutat di dapur. Hobi sekali Ibunya di dapur, pikirnya.


“Menurutmu sedang apa?” balas Ibu tanpa melihat putrinya. Tangan yang mulai keriput itu lihai memetiki kacang panjang menjadi kacang yang pendek. Tidak lama kemudian Ibu berdiri dari duduknya, membalik sesuatu di dalam wajan yang sedang digorengnya.


Aru memperhatikan ada banyak jenis bahan makanan di atas meja yang akan dimasak.


“Memangnya ada tamu yang akan makan di sini, Bu?” tanya Aru sembari melanjutkan yang dikerjakan Ibu tadi, memotong kacang panjang. Tetapi terlebih dulu ia mencuci tangannya setelah ditegur Ibu.


Aru melirik telepon genggam milik Ibunya yang ada di atas meja, tidak jauh dari jangkauan matanya. Telepon genggam yang diberi Bu Ranti saat mereka pindah ke rumah itu. Katanya biar mudah menghubungi Ibu.


Arunika tersenyum miris. Teringat dengan telepon pintar-nya yang dicuri dan dijual Bapak. Seandainya ponsel itu masih ada, dirinya tidak perlu menahan rasa sakit selama berjam-jam karena menduduki sadel sepeda yang sudah tidak layak pakai. Ia tidak perlu menghabiskan banyak waktu di luar sana, demi menanyai orang-orang yang dikenalnya tentang lowongan pekerjaan.


Sesaat kemudian Ibu duduk di kursi di samping Aru. Beliau tampak menyeka peluh yang jatuh dari pelipis ditingkahi dengan batuk-batuk kecil. Lantas membenarkan maskernya supaya menutup hidung dan mulut dengan benar.


“Batuk Ibu belum sembuh?” Arunika memerhatikan wajah Ibunya dengan seksama. Walaupun yang terlihat hanya bola mata dan kening, Aru merasa kondisi Ibunya sedang kurang baik.


“Tadi sudah tidak lagi. Entah kenapa sekarang kambuh lagi. Mungkin karena menghirup asap makanan yang Ibu masak.” Ibu batuk lagi membuat kening putrinya berkerut.


“Biar Aru saja yang menyiapkan bahan masakannya, Bu,” ujar Aru saat Ibunya hendak mengambil satu papan tempe. “Ibu duduk saja. Biar Aru yang mengerjakan ini semua dan memasaknya. Ibu cukup memberitahu Aru mau dimasak seperti apa.”


“Iya sudah. Tapi sebelum jam 7 harus sudah selesai.”


Aru mengangguk. Dirinya yakin Ibunya pasti kelelahan. Terlihat dari Ibu yang sesekali menyeka peluh di keningnya. Entah pekerjaan apa yang dikerjakan Ibunya saat ia tadi pergi. Ia jadi menyesal karena pergi terlalu lama.


Tidak lama kemudian, Ibu menggeser kursi yang didudukinya ke belakang lalu bangkit berdiri.


“Ibu mau ke mana?” tanya Aru.


“Mau mengangkat daging ayam di penggorengan. Itu sudah masak.”


“Ibu duduk saja. Biar Aru yang mengerjakan.” Aru berdiri dan mengangkat lauk yang kata Ibu sudah matang.


Saat Ibu hendak duduk kembali, beliau merasa dadanya sesak. Ibu merintih tanpa suara sembari memegangi dadanya yang seperti dihimpit oleh batu besar. Namun sayang, Aru tidak mengetahu Ibunya yang sedang menahan sakit. Ia tengah sibuk memasukkan potongan-potongan daging ayam yang tersisa ke dalam penggorengan.