Oh Arunika

Oh Arunika
Bab 31



Bu Ranti tersenyum memandangi wajah cantik Arunika dari pantulan cermin yang ada di hadapan mereka. Sentuhan make-up flawless terlihat sempurna di wajah Arunika yang tidak pernah tersentuh oleh alat kecantikan apapun. Begitupun kebaya putih yang membalut indah tubuh ramping, atau lebih tepatnya tubuh kurus Arunika.


“Kamu cantik,” puji Bu Ranti kagum pada calon menantu keduanya itu.


Arunika sendiri hanya tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat. Senyuman itu bukan berarti karena tersipu atas pujian Bu Ranti. Itu adalah senyum mengejek pada diri sendiri.


Dalam pikirannya tidak pernah terlintas akan menikah seperti ini. Menikah dengan anak majikan Ibunya yang sudah beristri.


Apalah daya seorang Arunika untuk menolak pernikahan ini. Gadis miskin yang bahkan untuk menyambung hidup saja harus menumpang di rumah besar milik Bu Ranti.


Seperti yang pernah ditekadkannya dalam hati ketika Ibunya telah sembuh karena dibiayai oleh Bu Ranti. Ia akan melakukan apa saja untuk membalas kebaikan Bu Ranti dan keluarganya. Namun tidak pernah dia bayangkan, ternyata caranya membalas kebaikan itu, dia dinikahi hanya untuk melahirkan keturunan mereka.


*


Bu Ranti dengan penuh semangat menuntun Arunika yang kini sudah sah menjadi menantunya, untuk memasuki sebuah rumah yang tidak kalah besar dari rumahnya. Bahkan rumah yang ada di hadapan mereka saat ini terlihat lebih megah dan modern.


Ya, Bu Ranti memboyong menantu dan Bu Nita ke rumah milik Juna. Ia mengajak Bu Nita untuk menginap di sana selama beberapa hari. Katanya biar ada teman Aru mengingat rumah ini belum pernah dikunjungi oleh gadis itu. Dan juga untuk memastikan menantu barunya itu diperlakukan dengan baik oleh si empunya rumah.


“Kamu lelah Aru?” tanya Bu Ranti saat mereka sudah duduk di ruang tamu. Sudah seperti dia saja ibu si gadis yang mengkhawatirkan keadaannya.


“Tidak, Bu.” Karena tubuh Arunika memang tidak lelah. Hatinya yang lelah memikirkan bagaimana nasib rumahtangga yang tidak diinginkan ini ke depannya.


“Julia, tolong bawakan minuman dingin dan cemilan, ya,” pinta Bu Ranti pada pembantu yang sedari tadi sudah siap menerima pekerjaan apa saja dari orangtua majikannya.


“Biar saya bantu.”


“Tidak, Bu Nita!” seru Bu Ranti dengan menahan tangan renta besannya itu. “Biar Julia saja.”


Mau tidak mau Bu Nita dengan terpaksa duduk kembali di tempatnya semula. Ia merasa enggan hanya duduk saja di sofa empuk ini.


Jika ada yang bertanya di mana keberadaan Nadia dan Juna.


Hari ini Nadia tidak kelihatan batang hidungnya karena dia memang sudah mengatakan pada Bu Ranti tidak akan menghadiri pernikahan suaminya.


Siapa yang sanggup melihat suami sendiri bersanding dengan wanita lain. Dan Bu Ranti tidak mempermasalahkan itu. Yang penting wanita itu sudah memberi izin walaupun dengan sangat terpaksa.


Dan Juna?


Laki-laki itu segera pergi entah ke mana setelah kata sah keluar dari mulut para undangan yang jumlahnya sangat sedikit. Ya, sedikit.


Bayangkan saja, lebih banyak jumlah jari di kedua tangan kita daripada jumlah tamu undangan di pernikahan tadi. Karena itulah syarat yang diberikan Juna. Pria berwajah datar itu tidak ingin orang lain tahu bahwa dia menikah lagi.