
“Kamu mau ke mana, Juna?” tanya Bu Ranti saat putranya itu berbalik badan, setelah menyerahkan tas tangan padanya.
“Tentu saja mau pulang, Bu,” jawabnya sekenanya. Tak lupa ia juga menggenggam jari istrinya yang nampak mulus dan putih.
“Pulang?” ulang Bu Ranti. “Tidak bisakah kamu di sini dulu menemani kami?”
Juna yang tadinya enggan untuk berlama-lama di sana, kini ia terpaksa memutar badan dan melihat wajah Bu Ranti yang lelah memelas. “Tidak bisa, Bu,” bantah Juna dengan suara tegasnya. “Aku harus bertemu investor pagi ini. Aku tidak mau mengundurnya lagi untuk bertemu dengan mereka. Bisa-bisa mereka membatalkan kerjasama kami.”
“Kamu ‘kan bisa menemui mereka siang atau sore nanti.” Bu Ranti masih berharap Juna mau untuk tetap tinggal.
“Tidak bisa, Bu,” tegasnya lagi. “Seharusnya pertemuan kami diadakan kemarin. Tetapi karena Ibu ngotot ingin aku dan Nadia pergi menemui dokter pilihan Ibu itu, aku harus membatalkan pertemuan kami. Dan sekarang Ibu mau aku mengundur pertemuan itu lagi?” Juna membuang napasnya ke udara yang terselip rasa kesal akan permintaan Ibu yang dirasanya berlebihan. Untuk apa dirinya tetap ada di sana, sementara ada pekerjaan penting yang tengah menantinya, pikirnya.
“Mereka datang dari luar kota, Bu. Aku tidak mau mereka sampai kecewa dan benar-benar membatalkan kerjasama yang sudah lama kuincar. Lagipula untuk apa aku dan Nadia ada di sini? Bukankah sudah ada dokter yang menangani Ibu itu?”
“Takutnya nanti dokter-dokter itu tidak bisa menangani Bu Nita. Siapa yang akan membawa Bu Nita pindah ke rumah sakit lain kalau mereka tidak mampu mengobati penyakitnya?” ujar Bu Ranti pelan dan juga ambigu, membuat alis Juna menukik demikian juga dengan Nadia. Istri Juna itu menelisik wajah Ibu mertuanya.
“Tidak usah takut, Bu.“ Kini Nadia yang menjawab. “Apa Ibu lupa kalau rumah sakit ini adalah rumah sakit terbesar dan terbaik di kota kita?” Nadia menarik sudut bibirnya karena mengucapkan kalimat yang sama dengan yang diucapkan Ibu mertuanya kemarin. Ia merasa jadi seperti menantu yang jahat namun dirinya tidak peduli. “Alat-alatnya sudah lengkap dan juga canggih. Jadi Ibu tidak perlu khawatir Ibu Nita tidak bisa diobati apalagi sampai di rujuk ke rumah sakit lain. Memangnya Ibu Nita sakit apa sampai Ibu mencemaskannya begitu?”
Entah mengapa Nadia tidak suka melihat mertuanya terlalu cemas pada Bu Nita. Rasa tidak sukanya sama seperti saat tadi pagi suaminya yang tanpa berpikir panjang, berlalu pergi meninggalkannya hanya untuk membantu ART Bu Ranti.
Nadia merasa Aru dan Ibunya seperti akan menjadi bumerang bagi kehidupannya. Perasaan itu hadir ketika ia melihat Aru ada di rumah mertuanya, padahal yang ia tahu selama ini hanya Bu Nita yang bekerja di sana.
Sesaat kemudian, Nadia mengatupkan bibirnya erat setelah mengingat, bahwa ibu mertuanya pernah menyinggung tentang istri kedua untuk Juna, suaminya.
Nadia menyorot tajam pada Aru yang tengah menunduk dengan jemari tangan saling menggenggam. Ia refleks meraih tangan Juna, menggelayutinya seolah ingin menunjukkan bahwa Juna adalah miliknya seutuhnya.
“Kami pergi, Bu,” pamit Juna karena melihat Ibunya sudah cukup lama terdiam.
“Maksud Ibu, Juna yang akan membiayai pengobatannya, begitu?” Nadia tidak habis pikir dengan mertuanya. Ia semakin menatap nyalang pada Aru yang tubuhnya sudah bergetar. Feeling-nya tidak meleset akan kehadiran Aru dan Ibunya di tengah masalah yang saat ini sedang dihadapinya.
“Mereka tidak memiliki uang untuk menanggung biaya berobat. Sanak saudara juga tidak punya. Hanya kita harapan mereka satu-satunya.” Bu Ranti menjulurkan tangan untuk mengelus punggung Aru yang suara isakannya kini terdengar lagi. Gadis yang malang.
“Itu bukan tanggungjawab kita, Bu!” seru Nadia tidak tahan lagi. Bu Ranti seakan menunjukkan pada dirinya dan Juna kalau Bu Nita adalah orang penting dalam keluarga mereka yang patut ditolong.
“Nadia!” Juna membentak istrinya hingga Nadia terdiam. Ia tidak menyangka istrinya bisa bersikap demikian pada ibunya. Laki-laki itu menarik sudut ekor matanya dan menemui Bu Ranti yang raut wajahnya tidak kalah terkejut dengan dirinya.
Selanjutnya Bu Ranti duduk di kursi panjang, memegangi dadanya yang terasa bergetar.
Juna mendekat, berjongkok di hadapan ibunya, lantas menggenggam erat tangan yang telah membesarkannya itu dengan kasih sayang.
“Aku akan mengirimkannya ke rekening Ibu.”
“Kalau kalian keberatan untuk mengeluarkan uang, lebih baik tidak usah. Ibu bisa menjual barang berharga milik Ibu.”
“Tidak perlu, Bu. Aku akan mengirimkannya.”
Bu Ranti diam tak berniat mengimbuhi lagi saat melihat menantunya juga mendekat.
“Maafkan sikap Nadia tadi, Bu.”
“Kalian pergilah!”
Tidak ingin ada keributan diantara ibu dan istrinya, Juna mengajak Nadia untuk segera pergi dari sana. Namun sebelum benar-benar pergi, Juna melirik Aru yang tergugu dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti oleh Nadia. Ya, Nadia memergoki suaminya sedang melihat Aru seperti itu.