
“Apa? Julia sudah tidak bekerja di sini lagi?!” seru Bu Ranti terkejut saat ditanyai tentang keberadaan wanita itu yang tak kunjung terlihat semenjak kedatangannya.
Kemarin Bu Ranti sudah merasakan cemas dengan menghilangnya Arunika. Sekarang ia dibuat terkejut lagi dengan kabar Julia yang sudah tidak bekerja di rumah anaknya itu. Baru satu hari ia meninggalkan menantu mudanya bersama menantu lain, tetapi sudah dua kali mendapat kabar tidak baik.
“Temanku mendadak membutuhkan dia untuk menjaga anaknya yang masih balita.” Nadia menyebutkan nama temannya itu dan kebetulan Bu Ranti mengenalnya juga. Memang benar orang itu sedang membutuhkan seseorang untuk menjaga anaknya.
“Ibu tahu sendiri, ‘kan, jaman sekarang ini susah untuk mencari art yang baik dan jujur. Dan juga karena pandemi yang sekarang terjadi, aku tidak mau asal-asalan menerima orang. Takutnya nanti orang itu membawa virus di rumah ini,” tutur Nadia panjang lebar dengan sangat meyakinkan.
“Lalu siapa yang akan mengurus rumah kalian?”
“Ibu tidak perlu khawatir begitu. Untuk sementara aku dan Arunika yang akan mengerjakan pekerjaan rumah sampai aku mendapatkan art baru. Bukan begitu Aru?”
“Iya, Bu Ranti. Kami yang akan mengurus rumah ini. Bu Ranti tenang saja. Mengerjakan pekerjaan rumah tidak sulit.” Arunika menjawab dengan gamblang sembari tersenyum seolah tidak ada yang terjadi pada dirinya. “Oh, iya, apa yang Ibu bawa ini?” Ia melepas rangkulan tangannya dari sang ibu yang semenjak tadi menempel di sana, berganti dengan mengangkat susunan rantang yang dibawa oleh ibu dan ibu mertuanya.
“Itu pepes ikan dan sayur lodeh. Kami sengaja membawanya kemari untuk sarapan kita. Kalian belum sarapan, “kan?”
“Iya, Bu, kami belum sarapan.“ Juna yang semenjak tadi diam, menjawab dengan semangat sembari bangkit dari duduknya di sudut sana. Ia pikir akan terjadi percekcokan, itu sebabnya ia menjauh.
Suara perut Juna yang berbunyi sebab mencium aroma yang menguar dari rantang, sudah membuktikan bahwa makanan itu enak. Itulah hasil masakan Bu Nita. Siapapun orangnya, dengan hanya mencium aromanya saja sudah pasti orang itu tidak mampu untuk menolaknya.
*
*
*
“Apa yang kamu lakukan kemarin?” tanya Bu Nita saat kini ia hanya tinggal berdua dengan putri semata wayangnya.
“Maksud Ibu?” tanya Aru tidak mengerti dengan pertanyaan Ibunya.
“Ibu tahu kemarin kamu pergi dari rumah.” Mata Arunika terbelalak tidak percaya. Padahal Bu Ranti tidak memberitahukan pada Ibunya itu tentang kepergiannya. “Kamu pergi mencari kerja, ‘ya?” Mata Arunika semakin terbelalak dengan tebakan Ibunya.
“Kenapa kamu mau mencari kerja?” Mata Bu Nita yang sayu bercampur sedih membuat hati Aru tercabik-cabik.
“Aru... Aru hanya berpikir tidak mungkin Aru hanya diam di rumah saja, Bu. Ibu tahu sendiri, ‘kan, Aru tidak bisa begitu.”
Bu Nita menatap putrinya begitu dalam. Membuat Aru tidak sanggup bertatapan begitu lama sampai akhirnya ia memutusnya dengan menundukkan wajah.
“Apakah Nadia masih memperlakukanmu dengan tidak baik?”
“Maksud Ibu apa?” tanya Arunika lagi karena tidak mengerti.
“Ibu tahu di malam-malam itu Nadia yang tidur di kamar kamu dengan Juna, dan kamu tidur bersama Julia. Ibu melihatnya.”
Setitik air mata berkumpul di sudut mata Aru mendengar pengakuan yang diketahui Ibunya itu. “Bu....,” lirihnya hampir tidak terdengar.
Bu Nita yang tidak kalah sedih menghapus air matanya yang hampir luruh. “Lebih baik kita bicarakan ini dengan Bu Ranti. Ibu tidak mau—”
“Tidak, Bu. Jangan!” tolak Aru menahan tangan Ibunya yang hendak pergi. “Bu Ranti sudah begitu baik pada kita. Jangan sampai ada pertengkaran lagi di keluarga ini karena Aru. Kasihan Bu Ranti, Bu.”
“Tapi kamu terluka, Nak.”
“Tidak apa-apa, Bu. Yang Aru hadapi saat ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan perlakuan Bapak dulu.”
Bu Nita diam namun tetap menatap wajah putrinya dengan sendu.
Aru membawa kedua tangan ibunya dan menggenggamnya erat. “Tolong jangan khawatirkan Aru, ya, Bu. Aru akan baik-baik saja di sini. Ibu hanya perlu menjaga kesehatan Ibu untuk Aru. Dan Aru mohon jangan mengatakan apa pun pada Bu Ranti,” pinta gadis itu dengan sorot mata memohon.
“Kalau kamu sudah tidak sanggup lagi di rumah ini, bicaralah pada Ibu.”
Aru tersenyum, “Iya, Bu.”