Oh Arunika

Oh Arunika
Bab 23



Nadia menatap kesal pada suaminya yang kini tengah membubuhkan tanda tangan pada sehelai kertas. Kertas yang menjadi bukti kalau biaya pengobatan Bu Ranti sudah dibayar dengan lunas oleh lelaki itu berikut dengan obat-obatnya.


Saat hendak pulang mereka melewati bagian administrasi, dan tidak sengaja mendengar percakapan dua orang yang berjaga di sana, tentang biaya rumah sakit Bu Nita yang tak kunjung ada orang untuk membayarnya.


Nadia kesal bukan karena jumlah uang yang dikeluarkan oleh suaminya itu yang jumlahnya sungguh fantastis untuk ukuran Arunika. Dirinya bukan orang pelit atau tidak mau membantu orang yang kesusahan. Ia kesal mengapa Arunika dan Ibunya yang harus ditolong oleh mertua dan suaminya.


Sedari tadi subuh saat dirinya ditinggalkan begitu saja oleh Juna, pikirannya sudah dibayangi dengan pertanyaan seperti itu. Kehadiran Aru dan Ibunya akan menjadi ancaman bagi rumah tangganya, begitu yang dikatakan hatinya.


“Kalau ada lagi biaya yang lain, kalian bisa menghubungi nomor ini.”


Pesan Juna pada dua orang staff itu sembari memberikan kertas berisikan sederet angka di sana.


Mereka kembali berjalan hingga akhirnya tiba di parkiran rumah sakit. Juna membuka pintu mobil untuk bagian kemudi, sementara Nadia di bagian sampingnya. Tidak lama kemudian kendaraan beroda empat itu melesat ke jalan raya dan berbaur dengan kendaraan lainnya.


“Kenapa kau menatapnya seperti itu?” Akhirnya yang sedari tadi mengganggu hati dan pikiran, diungkapkan oleh Nadia.


“Apa maksudmu?” Juna melirik istrinya sekilas, namun tak urung tetap fokus pada setir mobil yang harus ia kendalikan.


“Kau menatap gadis itu seolah-olah kau ingin memeluknya. Apa kau sudah setuju dengan permintaan Ibu untuk menikah lagi? Apa kau tertarik dengan gadis–?”


“Nadia, cukup!”


“Kenapa semenjak ada gadis itu sekarang kau jadi suka membentakku?!”


Karena tidak ada yang cedera di tubuh ataupun lecet pada kendaraannya, si pemotor yang tidak menggunakan helm itu berlalu pergi namun sebelumnya masih sempat memberikan umpatan lagi pada Juna.


“Kenapa ke sini?” tanya Nadia. Bukannya melanjutkan perjalanan menuju toko kue milik mereka, suaminya itu malah membelokkan setir menuju sebuah minimarket yang ada di sekitar sana.


“Menurutmu apa aku masih bisa mengemudi saat semua orang memarahiku?” Juna meradang.


“Ck, kau terlalu kekanakan! Kalau begitu biar aku saja yang menyetir.” Nadia sudah bersiap untuk turun untuk menggantikan posisi suaminya yang sedang naik pitam itu. Namun suara tawa Juna yang terdengar mengejek, membuat ia berbalik dan menatap nyalang suaminya itu.


“Kau bilang aku kekanakan?” Juna tertawa mengejek, namun itu hanya sesaat karena di kalimat berikutnya ia berbicara dengan suara mengintimidasi. “Mana yang lebih kekanakan, ngambek karena hanya ditinggal sebentar untuk mengantar orang ke rumah sakit, atau marah karena tuduhanmu yang tidak masuk akal itu!”


“Aku tidak asal menuduh!” balas Nadia tak kalah sengit. “Siapapun orangnya yang melihat dirimu begitu memperhatikan ibu dan anak itu akan berpikiran yang sama denganku. Apalagi mereka cuma pembantu Ibu!”


Juna membuang napasnya melalui mulut yang terasa panas di dada. Tadi pagi ia sudah menjelaskan pada istrinya itu bahwa ia melakukannya karena rasa kemanusiaan. Entah ada apa dengan istrinya itu. Selama ini ia juga kerap berbuat baik pada orang lain yang butuh pertolongan dan istrinya itu tidak mempermasalahkannya sama sekali.


“Kenapa kau diam?”


“Nad. Aku tidak mau bertengkar denganmu hanya karena aku memberi perhatian pada mereka.” Suara Juna melunak. Ia menatap lurus ke depan. “Apa kau tahu siapa yang mendonorkan darah untuk Ayahku yang saat itu kritis?” Nadia terdiam. Yang paling disesalinya dalam kehidupan rumah tangganya adalah tidak bisa menjenguk ayah mertuanya yang dua tahun lalu kritis akibat kecelakaan hebat. Bahkan hingga mertua laki-lakinya itu mengembuskan napas terakhir pun, ia tidak diizinkan pulang karena terikat dengan kontrak kerja.


“Yang mendonorkan darah untuk Ayahku adalah Bu Nita. Saat itu Bu Nita baru dua hari bekerja dengan Ibu. Tetapi dia dengan senang hati tanpa mau menerima imbalan, rela memberikan darahnya pada Ayah yang pada saat itu butuh banyak darah.” Juna terlihat mengenang dengan sorot mata menerawang.


“Dan dengan tuduhanmu yang tidak masuk akal itu... aku mengerti posisinya, sangat mengerti, Nad. Seorang anak melihat orangtuanya sekarat, menurutmu bagaimana perasaannya sekarang? Menurutmu bagaimana perasaanya saat tahu ibunya mengidap penyakit komplikasi?”