Oh Arunika

Oh Arunika
Bab 48



“Iya, Bu, tidak perlu. Aru belum butuh itu.” Arunika tersenyum seakan senyumnya itu bisa dilihat oleh lawan bicaranya di telepon. “Aru, ‘kan, tiap hari ada di rumah, jadi Aru bisa menghubungi Ibu dari telepon rumah kapan saja atau Ibu yang menghubungi Aru,” tuturnya lagi dengan panjang untuk meyakinkan Bu Ranti.


“Ya, sudah kalau begitu,” kata Bu Ranti akhirnya menyerah setelah beberapa kali membujuk menantu kesayangannya itu untuk dibelikan ponsel. “Oh, iya, di mana Nadia? sejak tadi Ibu menghubungi ponselnya tapi tidak dijawab.”


“Mbak Nadia....” Arunika bingung mau menjawab apa. Kalau ia menjawab jujur Nadia pergi bersama Juna, takutnya Bu Ranti curiga. Dan Aru tidak mau itu terjadi. Biarlah masalah rumah tangganya ia hadapi sendiri.


“Iya, Nadia ke mana?” tanya Bu Ranti lagi.


Arunika menarik napas supaya kegugupannya tidak diketahui sampai ke seberang sana. “Tadi ada teman Mbak Nadia datang. Mbak Nadia diajak pergi untuk membeli sesuatu, Bu. Katanya mereka hanya pergi sebentar.” Arunika berdoa dalam hati supaya Bu Ranti percaya dan tidak curiga.


Butuh beberapa detik bagi Bu Ranti untuk membalas ucapan Aru. “Oh, begitu,” katanya pada akhirnya. “Kamu tetap di rumah, ya. Jangan ke mana-mana. Banyak virus di luar.”


Arunika mengangguk diiringi dengan senyumnya. “Iya, Bu. Aru akan tetap di rumah. Tidak akan pergi ke mana-mana.”


Masih teringat jelas saat dirinya dulu pergi dari rumah tanpa pamit untuk mencari pekerjaan. Tentu saja dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, yang membuat orang-orang yang menyayanginya mencemaskannya.


Setelah pembicaraan di telepon berakhir, Aru melanjutkan kembali pekerjaannya. Setidaknya setelah mendengar kabar ibunya yang baik-baik saja di desa bisa menjadi bekal penyemangat baginya dalam mengurus rumah besar ini.


*


Nadia berjalan dengan langkah panjang memasuki rumah. Cara berjalannya tidak seanggun saat dirinya pergi tadi pagi. Ia sampai melepas high heels-nya demi agar segera bisa bertemu dengan orang yang selalu membuat hatinya kesal. Pun dengan wajahnya yang ditekuk sangat masam.


Suara sekumpulan kunci yang diletakkan dengan kasar di atas meja mengagetkan Arunika yang kala itu sedang meneguk minuman di ruang belakang. Saat ini ia tengah menyetrika pakaian.


“Apa yang sudah kau katakan pada ibu?” tanya Nadia penuh emosi saat Arunika baru saja membalikkan badan. “Berani sekali kau mengatakan aku pergi keluar karena dijemput oleh temanku!”


Arunika tertunduk.


Ingin rasanya Nadia mencekik Aru hingga gadis itu kehilangan napasnya. Tetapi tidak mungkin dilakukannya karena bukan tidak mungkin ia juga akan kehilangan napasnya di tangan Bu Ranti.


“Kau tahu, tidak, karena kau berkata seperti itu, Bu Ranti jadi memarahi aku dan Juna habis-habisan.”


Ya, saat tadi pagi dirinya sedang melakukan serangkaian terapi di klinik alternatif yang sebelumnya sudah membuat janji terlebih dulu, ponsel miliknya berdering tiada henti. Membuat Juna yang tengah menemaninya terpaksa harus menjawabnya.


Mendengar Juna yang menjawab panggilannya, Bu Ranti langsung berpikiran negatif bahwa Juna dan Nadia membohongi Aru untuk pergi bersenang-senang, dan sengaja meninggalkan Aru di rumah sendirian.


“Maafkan saya, Mbak. Saya tidak tahu harus menjawab apa saat Bu Ranti menanyakan Mbak.”


Nadia menghela napas. Salahnya memang tidak memberitahu akan pergi ke mana, karena tadi pagi terlalu senang dan bersemangat untuk membuat Arunika sedih dengan menceritakan kemesraannya dengan Juna tadi malam.


Ia juga tidak sampai berpikiran kalau Bu Ranti akan menelepon. Nadia pikir dirinya akan hidup tenang jika Bu Ranti jauh dari mereka.