Oh Arunika

Oh Arunika
Bab 42



pov Arunika


Seperti biasa aku bangun awal. Mengerjakan pekerjaan rumah yang biasa aku lakukan di pagi hari.


Hari masih gelap saat aku sudah selesai mengerjakan semuanya, kecuali memasak.


Aku masih ingat, nyonya rumah ini melarangku untuk tidak memasak. Tetapi mengingat Mbak Julia tidak ada lagi di rumah ini aku jadi bingung sendiri.


Setelah lama menimang-nimbang, kuputuskan untuk memasak saja. Siapa lagi yang akan menyiapkan sarapan kalau bukan aku. Kalau nanti mereka tidak mau memakannya, aku akan memberikannya pada tetangga atau pada orang di luar sana yang belum makan.


Aku memeriksa lemari es dan mendapati ada ikan, daging-dagingan dan bermacam-macam sayur di dalamnya. Ternyata bahan makanannya lengkap padahal sebelumnya tidak. Mungkin kemarin saat aku tidak ada di rumah, Mbak Julia pergi berbelanja.


Kuambil bahan-bahan yang akan dimasak dan mencucinya hingga bersih. Jangan sampai ada batu lagi atau benda lain ikut termasak seperti kejadian kemarin.


Lama berkutat, akhirnya masakanku selesai juga. Aku menatanya sedemikian rupa di meja makan supaya tuan dan nyonya rumah ini tergugah seleranya saat melihatnya.


*


pov Arjuna


Indra penciumanku menangkap aroma masakan yang membuat perut semakin keroncongan. Saat ini tenagaku sudah sangat minim. Nadia tadi malam seperti bukan dirinya yang minta dipuaskan berkali-kali. Bahkan pergulatan itu kami lakukan sampai dini hari.


“Kenapa dia memasak?” Nadia yang selalu setia menggandeng tanganku setiap kami akan turun ke lantai bawah, ternyata mencium aroma masakan itu juga. Sudah pasti dia juga lapar.


“Dia siapa?” tanyaku tidak mengerti sambil menatap wajahnya yang terlihat marah.


“Siapa lagi kalau bukan istri keduamu itu!” hardiknya marah sembari melotot.


Aku baru tersadar kalau Julia tidak bekerja di sini lagi. Perutku sedang lapar. Aku sudah tidak punya tenaga untuk meladeni kemarahannya.


Ikan goreng, ayam goreng dan sayuran yang banyak jenisnya dimasak jadi satu. Mungkin namanya capcai, terhidang dengan rapi di atas meja. Aroma dan warna masakannya membuat perutku semakin lapar. Namun, mengingat kejadian kemarin saat ada batu di makananku, jadi timbul rasa ragu untuk memakannya.


“Dari mana kamu!” hardik Nadia


pada gadis itu setelah akhirnya muncul juga.


“Maaf, saya di belakang menjemur pakaian.” Seperti biasa dia selalu menunduk saat berbicara dengan kami.


“Bukankah sudah aku katakan, kamu itu tidak usah memasak. Kamu tidak punya telinga, ya.” Nadia mengomel membuat kepalaku pusing mendengarnya.


“Maafkan saya. Mbak Julia tidak ada jadi saya pi–”


Nadia menggeram marah membuat gadis itu tidak melanjutkan kalimatnya dan semakin menunduk dalam.


“Habiskan semua masakanmu itu, sekarang juga!”


Aku melotot terkejut. “Nadia!” bentakku karena tidak menyangka dia bisa berucap begitu. Nasi dan lauk-pauk yang ada di meja tidaklah sedikit.


“Jangan melarangku!” balasnya dengan balik menatapku tajam. “Kemarin dia memberi batu pada makananmu. Kali ini mungkin saja dia memberi racun pada makanan itu supaya kita mati.”


Aku geleng-geleng kepala mendengar ucapan ngawur Nadia.


“Tunggu apa lagi? cepat habiskan se—”


Ucapan Nadia harus terpotong karena suara deru mobil yang berasal dari depan rumah. Dari suaranya, itu seperti mobil milik Ibu.