
Seperti yang dikatakan oleh Nadia, ternyata benar mencari seorang art yang baik dan jujur sesuai kriteria yang diinginkan tidak mudah.
Terhitung hingga sampai hari ini, hampir satu bulan lamanya Bu Ranti belum menemukan art untuk bekerja di rumah putra dan kedua menantunya itu.
Selain melihat dari cara kerjanya, faktor kesehatan pun menjadi penyebab utamanya. Covid yang semakin merajalela menyerang siapa saja membuat Bu Ranti was-was untuk menerima pekerja baru.
“Bu, waktunya kita makan malam.” Ajakan Nadia membuyarkan lamunan Bu Ranti yang kala itu tampak melamun memandang keluar melalui jendela.
“Oh, sudah waktunya makan, ya?” balas Bu Ranti tersenyum meski sempat terkejut. Setelah kejadian Julia tidak bekerja lagi di rumah itu, Bu Ranti dan tentunya juga Bu Nita hampir setiap hari datang ke rumah itu dan tak jarang menginap juga.
Dari yang dipantau Bu Ranti, kehidupan rumahtangga putra bersama kedua menantunya semakin hari semakin baik.
Nadia terlihat ramah menyapa siapa saja, baik kepada Bu Nita maupun Arunika. Wanita itu telah berubah sama seperti saat pertama Juna membawanya ke hadapan Bu Ranti.
Nadia pun turut membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Sesuatu yang belum pernah dilihat oleh Bu Ranti sebelumnya. Bu Ranti yakin bahwa Nadia sudah menerima kehadiran Aru dalam rumahtangganya dengan lapang dada.
Dan yang paling membuat Bu Ranti senang adalah, Nadia dengan ikhlas mengizinkan Juna tidur di kamar Arunika dengan catatan bergantian setiap harinya.
Tidak sadarkah Bu Ranti bahwa itu semua hanya tipu muslihat semata?
Kedua sudut bibir Bu Ranti melengkung ke atas dengan sempurna saat melihat Arunika yang baru saja menyerahkan piring berisi nasi kepada Juna.
“Besok dan beberapa minggu ke depan sepertinya saya dan Bu Nita tidak bisa berkunjung kemari.” Bu Ranti mengutarakan apa yang harus dikatakannya pada putra dan menantu-menantunya saat ia sudah selesai menghabiskan isi piringnya.
“Lho, kenapa, Bu?” Nadia terkejut, bahkan sangat terkejut dan hampir tersedak oleh makanan di mulutnya karena tidak pernah mertuanya itu barang sehari pun untuk tidak menunjukkan diri di rumah itu.
Namun selanjutnya hatinya bersorak gembira akan perihal itu. “Bila perlu selamanya,” ucapnya tetapi hanya dalam hati.
“Ada masalah tentang kepemilikan tanah kita di desa. Jadi Ibu harus ke sana untuk mengurusnya.”
“Tanah yang mana, Bu?” tanya Juna heran. Karena setahunya tanah warisan nenek-kakeknya memiliki sertifikat yang sah.
“Tanah kita yang berbatasan dengan tanah milik Pak Budiman. Katanya ukuran tanahnya salah.”
Juna tetap mengernyitkan keningnya dengan bingung. Selama ini tidak ada masalah yang seperti itu. “Biar aku ikut, Bu.”
“Tidak perlu. Ibu pergi ke sana dengan pengacara keluarga kita juga. Ibu bisa mengurusnya. Lagipula Ibu ingin memberikan waktu sendirian untuk kalian bertiga. Kamu, Nadia dan Aru yang akur, ya.”
“Iya, Bu. Ibu tenang saja. Kami pasti akan hidup dengan akur.” Nadia menyunggingkan senyumnya.
Berbeda dengan Nadia yang senang, Aru menatap Ibunya dengan sendu. Bagaimana tidak sedih, dirinya tidak akan bertemu dengan Ibunya dalam kurun waktu yang lama.