
Bu Ranti melirik Juna yang dengan cekatan menarik salah satu kursi untuk diduduki oleh istrinya. Kemudian membantu Nadia untuk duduk dengan hati-hati supaya tidak ada apapun yang melukai tubuh istrinya itu, terutama bagian perut.
Dan dengan santainya Juna menarik kursi untuk dirinya sendiri. Lantas mengambilkan sarapan untuk Nadia dan juga dirinya.
Bu Ranti menatap kesal putranya. Laki-laki itu seperti tidak melakukan kesalahan fatal saja. Malah terlihat menikmati sarapannya. Tidak ada niat di wajahnya untuk meminta maaf pada ibu yang anaknya sudah ia buat malu.
Ya, Arunika saat ini pasti merasa malu atau bahkan kecewa pada keluarga mereka sehingga gadis itu pergi, begitu yang ada di benak Bu Ranti.
*
*
*
Mereka sudah duduk di tempat masing-masing di dalam mobil. Bu Ranti, Juna dan Nadia akan menuju rumah sakit.
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu karena mereka akan memeriksa embrio di rahim Nadia setelah beberapa minggu lalu melakukan serangkaian proses bayi tabung.
Juna melirik Nadia yang semenjak tadi diam. Kentara sekali jika wanita itu masih kesal dan marah padanya. Padahal Juna sudah menjelaskan mati-matian bahwa kejadian di kamar mandi tadi tidak di sengaja.
Ia takut dengan emosi Nadia seperti ini, akan mempengaruhi perkembangan embrio hasil transfer yang ada di perut istrinya itu.
Tetapi sikap Nadia yang begini lebih baik. Tadi istrinya itu sampai histeris dan memukul-mukul dirinya. Nadia sungguh tidak terima Juna yang notabennya suami yang sangat dicintai melihat tubuh wanita lain yang sedang polos.
Jadi lebih baik Juna diam saja daripada mencoba membujuk istri yang sedang merajuk itu, ujung-ujungnya malah akan membuat suasana hati Nadia tambah buruk.
Tidak jauh berbeda dengan Nadia, Bu Ranti pun memasang wajah marah. Itu terlihat dari kaca spion yang ada di atas kepala Juna.
“Juna, seharusnya tadi kamu–”
“Bu, tolong,” sela Juna cepat karena tahu apa yang akan dibahas ibunya itu, “Saat ini kita sedang menuju rumah sakit untuk melihat hasil yang selama ini kita nantikan. Aku tidak mau membicarakan hal lain selain kehamilan Nadia.”
Dan kalimat panjang itu berhasil membuat ibunya terdiam karena apa yang dikatakan Juna benar adanya. Saat ini seharusnya adalah waktu yang mendebarkan karena akan mengetahui bagaimana perkembangan embrio di rahim Nadia.
*
“Sayang, dokter-dokter itu pasti salah,” ujar Nadia di sela-sela air matanya yang turun berderai. “Lebih baik kita pergi ke rumah sakit yang lain saja atau bila perlu ke luar negeri sekalian.” Nadia terus mengguncang lengan suaminya yang sudah nampak frustrasi.
Bagaimana tidak frustrasi, tim dokter yang menangani proses bayi tabung mereka menyampaikan bahwa embrio di rahim Nadia tidak berkembang. Jangankan berkembang, menempal pada dinding rahim saja tidak. Kejadian ini sama persis seperti bayi tabung mereka yang pertama.
Juna semakin mendesahkan napas frustrasi. Ia dibayang-bayangi dengan janjinya pada Bu Ranti jika bayi tabung ini gagal lagi.
Tanpa sadar ia menghentakkan tangannya hingga tangan Nadia terlepas dari sana. Membuat tangis Nadia semakin terdengar pilu.
“Ran, yang sabar, ya.” Dokter Mala, satu-satunya dokter yang tertinggal di ruangan itu mencoba menghibur Bu Ranti.
Sama seperti Juna, Bu Ranti pun merasakan kecewa yang teramat dalam. Setelah dokter menyatakan bayi tabung itu gagal, Bu Ranti langsung terduduk lemah dan tidak berkata apapun lagi.
“Dokter, aku ingin semua berkas-berkas bayi tabung kami diberikan padaku, S E M U A N Y A!” Karena didiamkan oleh Juna, Nadia datang menghampiri Dokter Mala yang duduk tidak jauh di belakang bersama Bu Ranti. Ia mengatakannya dengan menggebu-gebu.
“Lho, untuk apa?” tanya Dokter Mala heran.
“Aku yakin hasil pemeriksaan kalian salah. Aku akan pergi ke rumah sakit lain untuk membuktikannya. Kalau hasilnya berbeda, aku akan menuntut rumah sakit ini.” Entah apa yang merasuki Nadia hingga berkata seperti itu.
Didiamkan oleh Juna dan Bu Ranti membuatnya berpikir bayi tabung itu gagal karena dirinya.
“Kamu ini bicara apa, Nadia.” Dokter Mala mencoba menenangkan Nadia yang tiba-tiba marah. Sementara Bu Ranti menatap tidak percaya pada menantunya itu.
“Aku sudah menjaga kesehatan dan tubuhku dengan baik seperti yang kalian sarankan. Tapi hasilnya apa? Kalian mengatakan embrionya tidak menempel?!” Nadia tertawa getir. “Kalian bilang rahimku bermasalah, kan! Sudah tahu bermasalah, tetapi kalian tidak bisa mengobatinya. Apa jangan-jangan peralatan medis di rumah sakit ini abal-abal?!” Nadia semakin berbicara ngawur, membuat Dokter Mala mengusap dada.
“Nadia!” seru Juna dan Bu Ranti bersamaan. “Jaga sikap dan bicaramu pada orang yang lebih tua!” sambung Bu Ranti lagi. Menantu yang ia kenal santun dan menghormati orang yang lebih tua, sekarang dilihatnya bersikap kurang ajar.
“Kamu tidak perlu mencoba mengalihkan perhatian Ibu pada hal lain karena itu tidak mempan. Mau tidak mau kalian harus setuju dengan yang pernah Ibu bicarakan dulu.”
Tadinya Bu Ranti merasa iba pada Nadia karena gagal kembali untuk bisa hamil. Tetapi karena melihat sikap menantunya yang sudah di luar batas, rasa iba itu menguar begitu saja.