Oh Arunika

Oh Arunika
Bab 32



Suara langkah kaki yang terdengar beriringan, menyita perhatian semua orang yang ada di meja makan, yang saat itu tengah makan malam bersama. Semua orang bisa melihat dengan jelas siapa pemilik suara langkah kaki itu karena ruang makan tersebut tidak memiliki sekat.


“Kalian baru pulang?”


Bu Ranti tersenyum penuh arti melihat putra dan istri pertamanya itu bisa pulang bersama. Bisa dipastikan setelah tadi Juna dan Aru baru saja sah menjadi suami-istri, putranya itu segera pergi untuk menemui Nadia yang mungkin sudah mereka sepakati di mana tempatnya.


“Iya, Bu.” Juna yang hendak menuju ruang makan hanya untuk sekedar menyapa Ibunya, ditahan oleh Nadia dan membisikkan untuk langsung menuju kamar saja.


“Kalian tidak makan dulu?” tanya Bu Ranti lagi melihat mereka tidak jadi menghampirinya malah menuju ke lantai atas.


“Kami sudah makan, Bu.” Nadia yang menjawab tanpa melihat Ibu mertuanya itu, menggandeng erat lengan Juna dan menyeretnya dengan terburu-buru seolah takut ada yang akan merebut laki-laki itu dari tangannya.


Bu Ranti, Bu Nita dan Aru melanjutkan kembali makan malam mereka yang tertunda. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. Mereka terpaksa terlambat makan malam karena tadi menunggu kepulangan Juna dan Nadia agar mereka bisa makan malam bersama.


Tetapi lihatlah, setelah tiba di rumah pasangan suami istri itu bahkan pelit meluangkan waktunya untuk berbicara. Seharusnya mereka bertanya mengapa Bu Ranti makan malam sampai setelat ini.


Sambil mengunyah, Bu Ranti memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah ini.


*


Bu Ranti mengetuk pintu kamar yang tertutup sangat rapat. Saat dicoba untuk membuka, ternyata pintu itu dikunci. Bu Ranti mengetuk lagi lebih keras sembari memanggil-manggil nama Juna. Tidak juga dibuka.


Bu Ranti tidak kehabisan akal. Ia mengambil hp yang ada di saku baju tidurnya dan menghubungi nomor hp putranya yang tiba-tiba jadi tuli itu. Bu Ranti yakin, baik Juna ataupun Nadia pasti belum tidur. Terdengar nyaring bunyi hp Juna dari dalam. Bu Ranti tersenyum karena suara derit kursi atau mungkin juga meja terdengar jelas di telinganya.


Bu Ranti tidak kenal menyerah walaupun panggilan dan gedoran pintu diabaikan oleh dua insan yang ada di dalam sana. Ia tetap mencoba menelepon dan menggedor pintu itu, tidak peduli tangannya mulai terasa sakit dan pegal.


“Ada apa, Bu?” Akhirnya Juna membuka pintu kamarnya juga. Mungkin sudah lelah mendengar keributan yang diciptakan Ibunya.


“Kalian sudah tidur?” Bu Ranti balik bertanya. Lebih tepatnya bertanya pada Juna. Ia merasa tidak perlu terlalu respect pada wanita itu. Nadia sendiri yang sudah membentangkan jarak diantara mereka dengan berprilaku tidak sopan sewaktu di rumah sakit dulu.


“Iya, Bu, kami sudah tidur. Ibu sudah mengganggu tidur kami,” jawab Nadia dengan menguap. Bu Ranti tersenyum mendengarnya karena terlihat jelas ranjang yang ada di kamar itu masih rapi. Selimut juga terlipat rapi di tempatnya. “Ada apa Ibu kemari?”


“Juna, apa kamu lupa kalau sekarang kamu sudah punya istri dua?” Bu Ranti tidak mengindahkan Nadia. Karena tujuannya datang kemari bukan untuk mendengarkan apalagi melihat drama wanita itu.


Juna hanya diam sementara Nadia sudah mengepalkan tangan dengan erat.


“Ini adalah malam pertama kamu dengan Aru. Kenapa kamu malah ada di sini? Sana temui Aru di kamarnya!”


Juna menghela napas gusar. Semenjak tadi dirinya sudah lelah mendengar wanti-wanti dari Nadia supaya tidak meninggalkan kamar ini walau sedetik pun, dan dengan alasan apapun. Sekarang Ibunya juga datang memperingatkannya tentang statusnya yang sudah beristri dua.


“Tidak bisa, Bu!” seru Nadia lantang. “Juna akan tidur di sini.”


“Kalau Juna tidur di sini, lalu untuk apa dia menikah lagi?”


“Juna menikah lagi, itu karena keinginan Ibu sendiri. Tidak ada keharusan Juna tidur dengannya. Pokoknya Juna tidak akan ke mana-mana.”


Kepala Juna rasanya mau pecah mendengar perdebatan kedua wanita yang sialnya sangat disayanginya.


Saat Ibunya akan menyaut, dengan cepat Juna menyelanya agar perdebatan ini cepat berakhir. “Aku akan tidur di kamar tamu saja. Biar adil,” ucapnya kesal seraya melangkahkan kaki menuju salah satu kamar tamu.


“Kalau itu maumu, baiklah.” Bu Ranti merogoh saku baju tidurnya lagi untuk mengambil hp. “Pak Agus, tolong siapkan mobil. Malam ini juga kami akan p–”


“Baiklah, Bu. Aku akan menuruti apa mau Ibu.” Juna yang baru melangkahkan kakinya beberapa langkah mengembuskan napas pasrah.