Oh Arunika

Oh Arunika
Bab 50



“Aru....” Bu Ranti menyentuh tangan Arunika yang mendadak kaku dan bergeming di tempatnya.


“Bu....” Arunika bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin dirinya menjawab jujur kalau selama ini tidak ada kontak fisik antara dirinya dan Juna, seperti yang dilakukan pasangan suami istri pada umumnya. Jika Aru sampai mengatakannya, sudah pasti Bu Ranti akan marah atau bahkan murka.


Kembali Arunika menelan ludah saat melihat binar-binar penuh harap bersinar di kedua mata Bu Ranti. Tidak tega rasanya meredupkan sinar itu. Namun, mau bagaimana lagi, tidak mungkin juga ia berkata dusta.


“Be-belum, Bu. Aru belum hamil,” ujarnya lirih kemudian menundukkan kepala, tidak sanggup melihat lebih lama lagi kekecewaan di wajah Bu Ranti.


Di satu sisi Aru bersyukur karena Juna tidak pernah menyentuhnya yang artinya dia tidak akan hamil. Jika itu sampai terjadi, maka mau tidak mau Aru harus menyerahkan anaknya itu pada Nadia seperti isi surat perjanjian yang ditandatanganinya dulu. Tentu saja Arunika tidak ingin hal itu sampai terjadi. Dan di satu sisi lainnya Arunika tidak tega melihat Bu Ranti sedih seperti ini.


“Oh, belum, ‘ya.”


Padahal Bu Ranti sudah sengaja pergi dalam waktu lama dengan harapan akan mendengar kabar baik saat pulang. Tetapi harapan tinggal harapan.


Arunika menatap sedih tangan Bu Ranti yang bergerak menjauh dari tubuhnya.


Bukan hanya Bu Ranti saja yang sedih mendengar itu, seorang ibu yang lain pun yang berdiri di luar pintu merasakan perih yang teramat sangat. Bu Nita yakin hingga detik ini Juna belum menganggap Aru sebagai istrinya.


Malangnya nasibmu, nak!


*


Pagi harinya keluarga itu sarapan bersama. Arjuna Wijaya heran karena ibunya sedari tadi kebanyakan diam. Lebih tepatnya kebanyakan melamun. Seperti bukan ibunya saja yang banyak bicara. Biasanya Bu Ranti akan heboh apalagi mengenai makanan yang dimasak Bu Nita.


“Bu,” tegur Juna saat melihat Bu Ranti hanya memainkan sendok saja.


Nadia? Jangan ditanya. Wanita yang hatinya tidak secantik wajahnya itu tidak terlalu ambil pusing dengan perubahan Bu Ranti.


Yang dipikirkannya saat ini, bagaimana supaya pengobatan yang dijalaninya sekarang membuahkan hasil, sehingga dia bisa membalaskan dendam.


Ya, rasa sakit di hati Nadia begitu dalam. Hanya karena dirinya tak kunjung hamil, mertuanya itu dengan tega menyuruh Juna menikah lagi tanpa memikirkan perasaannya.


Pasien-pasien Mbah Ning banyak yang berhasil memperoleh keturunan. Kebanyakan dari mereka yang sudah belasan hingga puluhan tahun berumah tangga tidak kunjung diberi momongan. Itu sebabnya Nadia begitu optimis bisa segera hamil dalam waktu dekat ini.


“Ibu.” Juna menepuk pelan pundak Bu Ranti yang duduk di sampingnya.


“Ya? kenapa? kamu mau berangkat, ‘ya?” Bu Ranti refleks menyodorkan tangannya di hadapan Juna.


Juna menatap dalam wajah ibunya yang jelas sekali tengah memikirkan sesuatu. Dan Juna yakin sesuatu itu penting karena sudah membuat Bu Ranti uring-uringan begini.


“Ibu kenapa dari tadi melamun? apa yang Ibu pikirkan?” tanya Juna khawatir sembari memberi usapan lembut di pundak ibunya itu. Kemarin saat ibunya kembali dari kampung terlihat ceria dan bersemangat, tetapi sekarang malah sebaliknya.


“Tidak ada apa-apa. Ibu hanya merindukan ayahmu saja. Sudah lama, ya, kita tidak pernah ke makam ayahmu. Arunika dan Bu Nita juga belum pernah ke sana. Bagaimana kalau....”


Kalimat Bu Ranti yang selanjutnya tidak terdengar lagi di telinga Juna, karena ia fokus memikirkan apa kira-kira yang disembunyikan Bu Ranti.


Juna yakin saat ini Bu Ranti tidak baik-baik saja. Itu terlihat dari kantung matanya yang menghitam, yang artinya tadi malam ibunya itu tidur dengan waktu yang tidak cukup.