Oh Arunika

Oh Arunika
Bab 21



“Di mana Juna?” batin Bu Ranti sembari menyapukan pandangan pada seluruh ruang yang bisa dijangkau sepasang bola matanya. Ia baru menyadari ternyata putranya itu tidak ada bersama mereka. “Apa anak itu pulang?”


Bu Ranti kesal sendiri dalam hati sebab putranya–Arjuna, malah menghilang tidak meninggalkan pesan apapun pada dirinya. Padahal saat ini laki-laki itu masih dibutuhkan. Beliau tidak terpikir untuk membawa dompet ataupun telepon genggam karena terlampau gugup menghadapi situasi genting tadi.


Sesaat kemudian pandangan Bu Ranti beralih pada Arunika yang kini sudah duduk terpekur tidak jauh dari tempatnya duduk. Gadis itu tergugu pilu, menutup wajahnya dengan tangan.


Bu Ranti tidak mungkin meninggalkan Arunika sendirian untuk pulang, mengambil dompet dengan keadaan yang terpuruk begitu.


Wanita yang mengenakan pakaian tidur berwarna biru dongker tersebut mendekat pada Aru, memberi usapan pada kepalanya, “Aru, jangan menangis terus. Kita harus berpikir positif kalau Bu Nita akan baik-baik saja, ‘ya.”


Bukan hanya kondisi Ibu yang Aru khawatirkan saat ini. Tetapi biaya pengobatan yang Aru perkirakan tidaklah sedikit, menambah beban di pikirannya maupun di hati.


Belum berkurang rasa sesak di dada sebab memikirkan masalah yang terjadi, pintu ruangan yang sejak tadi ditunggui Aru kini terbuka. Gadis malang yang sudah yatim tersebut menghapus air matanya dan bangkit berdiri, menghampiri pria berjas putih yang bisa diprediksi adalah dokter yang menangani Ibu.


“Bagaimana Ibu saya, Dok? Ibu baik-baik saja, ‘kan, Dok?” cecarnya dengan tatapan penuh harap.


Dokter itu sesaat menatap wajah Aru yang bola matanya nyaris tidak terlihat saking bengkaknya. Ia terlihat seperti berat untuk mengatakan sesuatu, sebab melihat keluarga pasiennya sampai terpuruk begitu.


“Dokter?”


Dokter ber-name tag Anwar tersebut membuang napas besar. “Setelah dilakukan serangkaian pemeriksaan, menurut estimasi kami, Ibu Nita mengidap paru-paru basah dan juga jantung bocor. Sepertinya Ibu Nita sudah lama mengidap sakit itu. Apa sebelumnya beliau sudah pernah berobat?”


“A-apa?” Tubuh Aru terhuyung ke belakang mendengar kabar yang seperti sambaran petir di telinganya. Untung saja Bu Ranti dengan sigap menopang, supaya tubuhnya itu tidak benar-benar mendarat di lantai.


“Bu Nita memiliki penyakit itu, Dok?” Sama seperti Aru, Bu Ranti juga terkesiap dengan pernyataan dokter.


“Itu masih diagnosa sementara kami, Bu. Sebaiknya Bu Nita melakukan pemeriksaan Radiologi untuk memastikan penyakitnya. Apa Ibu sudah menyelesaikan administrasinya?”


“Sebaiknya secepatnya, iya, Bu. Agar Ibu Nita segera mendapatkan penanganan lebih lanjut.”


Dokter yang sisiran rambutnya masih rapi itu, berlalu setelah sebelumnya berpamitan dari hadapan kedua wanita beda generasi tersebut.


Tangis Arunika kembali terdengar di pendengaran, lebih kencang dari sebelumnya. “Ibuuuu....”


“Tenang, Aru. Ibu kamu pasti akan sembuh.” Bu Ranti menenangkan sembari membawa tubuh mungil Aru dalam pelukannya.


“Bagaimana saya akan membayar pengobatan Ibu, Bu? Kami tidak punya uang sepeser pun, huuu.”


“Soal biaya, kamu tidak perlu risau, ‘ya. Saya akan membantu semampu saya.”


Mendengarnya, Arunika mengeratkan pelukan pada punggung wanita berhati malaikat itu. Sudah begitu banyak kebaikan yang diberikan pada keluarganya, terutama materi. Entah dengan cara apa nantinya dirinya membayar semua itu.


“Bu.”


Saat mendengar suara laki-laki yang sangat mereka kenal, Bu Ranti mengurai pelukan mereka. Begitupun Aru segera menghapur air mata yang bagaikan mata air, menetes tiada habisnya.


“Dari mana saja kamu? Bisa-bisanya kamu pergi tanpa memberitahu Ibu! ” Bu Ranti memarahi putranya dengan galak. Ingin mencecarnya dengan amukan yang lebih lagi, namun urung dilakukan sebab putranya itu tidak sendirian. Laki-laki itu datang bersama istrinya.


Bu Ranti memindai penampilan putra dan menantunya. Mereka sudah berganti pakaian dan wangi. Dan... rambut mereka terlihat basah.


Bu Ranti mengembuskan napasnya yang sesaat tadi menyesakkan dada. “Ibu perlu ke rumah untuk mengambil ka–”


“Ini, Bu,” potong Juna sembari menyerahkan tas tangan milik Ibunya yang sedari tadi ia pegang. “Di dalam sudah ada gawai dan juga dompet Ibu.”