
Nadia yang sedari tadi diam mendengarkan drama yang ada di hadapannya, dengan malas meletakkan sendoknya dan meminum air putih miliknya pertanda ia sudah selesai dengan sarapannya.
Isi piringnya masih ada separuh lagi, namun karena telinga dan matanya sudah tidak tahan lagi untuk mendengar juga menyaksikan keakraban antara Bu Ranti dan Arunika, ia memutuskan untuk segera pergi saja dari sana.
“Aku selesai,” beritahunya sembari bangkit dari kursi yang ia duduki.
“Loh, kenapa tidak dihabiskan?” tanya Bu Ranti saat melihat piring Nadia.
Arunika seketika menegang. Apakah Nadia tahu kalau beberapa lauk yang ada di meja adalah masakannya?
Mengingat Nadia berkali-kali memberi ultimatum padanya supaya jangan pernah memasak. Takutnya nanti Nadia datang marah-marah dan melakukan sesuatu yang tidak baik terhadapnya.
Tetapi mau bagaimana lagi. Aru juga tidak tega melihat ibunya berlama-lama berdiri di depan kompor. Sehingga dia berinisiatif untuk melanjutkan memasak.
Biasanya Bu Ranti juga ikut membantu. Tetapi wanita yang masih terlihat muda di usianya itu tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk diam dan termenung.
Arunika tidak berani walaupun hanya sekadar menegur. Aru tahu betul bagaimana kecewanya ibu mertuanya itu saat tahu bahwa dirinya belum hamil. Tetapi dia hanyalah seorang Arunika yang tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengabulkan keinginan Bu Ranti.
“Aku sudah kenyang, Bu,” kata Nadia namun matanya melirik ke arah Arunika yang juga tengah memandangnya. Membuat pikiran Aru menjadi kalut karena sorot mata Nadia itu seperti memberinya peringatan.
“Aku juga sedang terburu-buru mau pergi, mau menemui teman. Boleh, ‘kan, Bu?”
“Pergilah.” Bu Ranti memberi izin tanpa perlu berpikir lama. Karena setahunya selama ini Nadia tidak pernah pergi ke mana-mana. Sudah pasti menantunya yang sangat cantik itu bosan berada di rumah terus. “Sebelum pergi minta izinlah pada suamimu dulu.”
“Aku sudah minta izin pada Juna. Kalau begitu aku pergi.”
Nadia mencium pipi ibu mertuanya itu dengan malas. Selanjutnya mencium pipi Juna.
“Aku pergi dulu Bu Nita, Aru.” Nadia tersenyum.
Semua orang membalas senyuman dan lambaian tangan Nadia, tetapi tidak dengan Aru. Baginya senyuman itu bagai ancaman yang menakutkan.
*
Juna mengempaskan tubuhnya pada sandaran kursi dengan frustrasi. Ia baru saja menelepon pengacara yang menemani Bu Ranti mengatasi masalah di kampung. Katanya semua masalah sudah beres dan tidak ada masalah lain lagi yang perlu dikhawatirkan.
“Kalau sudah tidak ada masalah lagi, kenapa ibu terlihat sedih?” tanya Juna pada dirinya sendiri.
Juna meraih kembali ponselnya. Ia akan bertanya pada Nadia. Barangkali istri tercintanya itu tahu penyebab ibunya murung.
Namun saat hendak menekan tombol memanggil, ia urungkan ketika melihat jam di pergelangan tangannya. Saat ini jadwal wanitanya itu melakukan terapi yang pastinya tidak akan bisa memegang ponsel.
Ya, seperti yang sudah disepakati bersama, Nadia dan Juna tidak memberitahu Bu Ranti kalau Nadia sedang menjalankan program hamil di klinik alternatif. Biar nanti jadi kejutan, begitu kata Nadia.
Arjuna membuang napasnya dengan panjang karena terlampau lelah menerka-nerka apa penyebab Bu Ranti murung. Percuma saja dirinya datang ke toko kalau dari tadi pagi ia hanya mengurung diri di ruangannya.
“Sepertinya aku harus memaksa ibu berbicara,” ucapnya lagi sembari berdiri.
*
“Ibu saya ada di mana?” tanya Juna pada Bu Nita yang sedang menyapu teras depan rumah, yang sedari tadi memandangnya bingung dengan kedatangannya.
“Ada di kamarnya.”
Kamar yang dimaksud adalah kamar rumah Bu Ranti sendiri.
Arjuna terpaksa harus menghabiskan waktu yang lama di perjalanan. Saat tadi pulang ke rumahnya, kata Aru, Bu Ranti dan ibunya ternyata sudah pulang.
Kalau tahu begitu, Juna akan langsung ke rumah ibunya saja yang hanya memakan waktu dua puluh menit dari toko.
“Bu.” Juna membuka pintu kamar ibunya saat tidak mendapat sahutan walau sudah diketuk beberapa kali.
Saat baru melangkahkan kaki, sayup-sayup terdengar suara tangis. Suara itu sudah pasti milik si empunya kamar.
Juna melangkah lebih dalam lagi dan terlihat ibunya tengah meringkuk di kursi meja rias.
Dengan langkah cepat, Juna menghampiri ibunya.
“Bu!”
Suara Juna membuat Bu Ranti menoleh dengan wajah penuh air mata.